Anda di halaman 1dari 27

SEDIAAN PARENTERAL

Aristha Novyra Putri, M.Farm., Apt


GUIDLINES
1. Sejarah Medikasi secara Parenteral
2. Perkembangan Kemasan Sediaan Parenteral
3. Pengembangan Rute Pemberian
4. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Parenteral
5. Bentuk Sediaan Parenteral
6. Penetapan volume injeksi dalam wadah
7. Pengawet yang digunakan dalam formulasi injeksi
8. Metode manufaktur
9. Karakteristik khusus dan persyaratan sediaan parenteral
SEJARAH MEDIKASI SECARA PARENTERA
William Harvey, seorang dokter dan ahli fisiologis Inggris mendeskripsikan
tentang sirkulasi darah dalam tubuh manusia. Harvey berkeyakinan bahwa
Th. 1616
kematian akibat gigitan ular beracun terjadi krn racun daibsorpsi melalui
vena dan disirkulasikan ke tubuh

Sir Christoper Wren berhasil menidurkan anjing dengan cara menyuntikkan


Th. 1665 opium ke dalam (melalui) vena kaki belakang dengan bantuan jarum (dari
bulu angsa) yang disambungkan pada kantong kemih (bladder) hewan.
Prosedur ini selanjutnya dicobakan pula ke manausia.
Lafarque, seorang ahli bedah Peracis merobek kulit dengan piasau bedah
Th. 1836 kecil yang telah direndam dalam larutan morfin untuk pengobatan
neuralgia
Gabriel Pravaz, seorang ahli bedah dari Pereancis memperkenalkan alat
Th. 1853
suntik berpepncebur (plunger). Bentuk alat suntik ini banyak digunakan.
Pengobatan secara subkutan telah dipraktekkan walaupun dengan jumlah
Th. 1860
obat yang masih terbatas
Dokter mempraktekkan secara luas pembuatan larutan injeksi dari tablet
Th. 1880
triturasi pada saat akan disuntikkan
Pustaka bidang kedokteran mengemukakan pentingnya mensterilkan, baik alat suntik maupun larutan obat.
Th. Dengan kemajuan berupa penemuan saringan (filter) bakteri, maka secara bertahap hal ini memberikan
1890-an kontribusi pada perkembangan pengobatan secara parenteral

Stanislaus Limausin, seorang farmasis Perancis mengembangkan kontener untuk penyimpanan larutan
steril, dan menamakannya ampoule (ampul). Kontener gelas tersebut mempunyai leher panjang yang
ujungnya terbuka.

Ehrlich berhasil mensintesis arsfenamin dan hal ini secara dramatis memacu perkembangan terapi
Abad parenteral.
ke-20 Reaksi piretik (kenaikan suhu tubuh) berlanjut dan terkait dengan pemberian obat secara parenteral

Florence Seibert membuktikan bahwa sumber rekasi piretik berasal dari air yang digunakan untuk
pembuatan larutan, Karena air tidak di destilasi dan disimpan secara biak serta engandung pirogen yang
Th. merupakan hasil metabolism mikroorganisme
1923 Zat ini yang merupakan penyebab reaksi demam pada pasien yang menerima injeksi secara parenteral.

Kausch menggagas injeksi glukosa secara intravena


Th. Sesudah ditemukan air bebas pirogen baru digunakan secara luas untuk pembuatan larutan isotonis dan
1911 sebagai sumber kalori

Monografi resmi pertama dari larutan injeksi tampil dalam monografi National Formulary V (NF V) Amerika
Th. dengan judul ampuls
1926
PERKEMBANGAN KEMASAN
SEDIAAN PARENTERAL
Dalam perkembangan terapi parenteral, terjadi perubahan dalam 2 hal.
Yaitu pada kemasan sediaan parenteral dan cara pemberian sediaan
parenteral
Perubahan kemasan yang terjadi yaitu penggunaan penutup karet pada
vial gelas. Karena penutup karet dapat ditembus oleh jarum secara
berulang, sesudah itu dapat menutup kembali. Maka berkembanglah
penutup karet untuk vial
Untuk beberapa obat dengan dosis tetap, berkembang tipe kemasan
cartridge yang terdiri dari tabung gelas yang mengandung sediaan steril
dan kedua ujungnya ditutup dengan penutup karet.
PENGEMBANGAN RUTE PEMBERIAN

1. Rute Transdermal (ID)


2. Rute Subkutan (Sc)
3. Rute Intramuskular (IM)
4. Rute Intravena (IV)
5. Rute Intraarteri
6. Rute Lain
1. RUTE TRANSDERMAL (ID)

Pada pemberian secara intradermal, atau dapat pula


intrakutan, obat disuntukkan pada lapisan superfisial
kulit
Melalui rute ini, volume larutan yang disuntikkan
biasanya dalam jumlah kecil, hanya 0,1 mL untuk sekali
pakai. Biasanya cara ini dicadangkan untuk pengujian
diagnostika dan dalam jumlah terbatas untuk vaksin
Absorpsi melalui rute ini lambat, menyebabkan hasil
kerja onset obat pun lambat.
2. RUTE SUBKUTAN
(SC)
Injeksi volume kecil dilakukan pada jaringan longgar di
bawah kulit, biasanya pada permukaan terluar dari
lengan datau paha.
Respons obat yang diberikan dengan cara ini lebih
cepat daripada respons obat yang diberikan secara
intradermal.
3. RUTE INTRAMUSKULAR (IM)

Injeksi secara intramuscular dapat dilakukan pada


massa otot
Lokasi yang biasa digunakan adalah otot deltoid
(segitiga) pada lengan bagian atas, dimana disuntikkan
sebanyak 2 mL larutan obat
Volume lebih besar maksimal 5 mL dapat diinjeksikan
ke dalam otot gluteal medial dari setiap penonjolan
(buttock)
Absorpsi melalui rute intramuscular berlangsung lebih
cepat daripada rute subkutan, dapat ditunda atau
diperlama dengan cara pemberian obat dalam bentuk
suspense steril, baik dalam pembawa air maupun
minyak
4. RUTE INTRAVENA (IV)
Larutan bervolume besar atau kecil dapat diberikan ke
dalam vena untuk mendapatkan efek lebih cepat
Hasilnya dapat diperkirakan, tetapi pemberian melalui
rute ini potensial berbahaya Karena tidak dapat
mundur begitu obat sudah diberikan
Larutan obat yang mengiritasi dapat diberikan
menurut rute ini Karena terjadi pengenceran secara
cepat oleh darah dan cairan intravena dapat diberikan
sebagai pengencer
Metode pemberian ini tidak terbatas pada vol dan
jumlah serta lokasi, menyebabkan cara ini mudah
dilakukan.
5. RUTE INTRAARTERI
Rute intraarteri tidak sering digunakan.
Alasan lazim untuk memanfaatkan rute intraarteri
adalah memasukkan material radio opak (bahan
kontras) untuk tujuan diagnostic, seperti untuk
arteriogram.
Beberapa obat neoplastic seperti metotreksat
diberikan melalui rute ini.
Selain itu, kemungkinan terjadi spasmus arteri yang
selanjutnya dapat diikuti oleh gangrene merupakan
bagian (resiko) dari penyuntikan dengan cara ini.
KEUNTUNGAN PEMBERIAN OBAT SECARA
PARENTERAL
1. Respon fisiologi segera dapat dicapai jika diperlukan, seperti cardiact arrest, asma, dan syok
2. Diperlukan untuk obat yang tidak efektif secara oral atau akan dirusakn oleh sekresi saluran
cerna, seperti insulin, hormone lain, dan antibiotika
3. Pengobatan untuk pasien yang tidak kooperatif atau tidak sadarkan diri
4. Jika dibutuhkan, terapi parenteral memberikan wewenang kepada dokter untuk mengontrol
obat Karena pasien harus kembali menjalankan pengobatan
5. Dapat memberikan efek local jika diperlukan, seperti pada dokter gigi dan anastesiologi
6. Jika perpanjangan kerja obat diperlukan, tersedian bentuk secara intraarticular yang bekerja
diperlama, sperti steroid yang disuntikkan secara intrartikular, dan penisilin yang diberikan
dengan cara injeksi intramuscular dalam.
7. Cara untu melakukan koreksi gangguan serius kesetimbnagan cairan dan elektrolit dalam
tubuh
8. Jika makanan tidak dpt diberikan ke dalam lambung, baik melalui mulut maupun tabung,
maka pemberian nutrisi secara total dapat diberikan menurut cara parenteral
KERUGIAN PEMBERIAN OBAT SECARA
PARENTERAL

1. Sediaan harus diberikan oleh personal terlatih (dokter, mantri, perawat, bidan
2. Membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan pemberian obat
menurut rute lain
3. Pemberian obat secara parenteral secara ketat mengikuti ketentuan/prosedur
aseptic, dan kadang kadang rasa nyeri yang timbul pada pemberian obat
secara parenteral tidak dapat dihindarkan
4. Begitu obat sudah diberikan secara parenteral, sulit untuk
membalikkan/mengurangi efek fisiologinya
5. Karena persyaratan manufaktur dan pengemasan, sediaan parenteral lebih
mahal harganya dibandingkan dengan sediaan yang diberikan menurut rute lain
Bentuk Sediaan Parenteral
Sediaan
Sediaan Sediaan parenteral
parenteral Vol. parenteral Vol. berbentuk
Kecil (Svp) Besar (Lvp) serbuk untuk
direkonstitusi
1. SEDIAAN PARENTERAL VOL. KECIL
(SPV)

Termasuk kategori ini adalah ampul 1 mL, 3 mL, 5 mL, dan 20 mL serta
vial 2 mL, 5 mL, 10 mL, 15 mL, 20 mL, dan 30 mL.
Sediaan ini dapat digunakan untuk penyuntikan secara intramuscular,
intravena, intradermal, subkutan, intraspinal, dan intrasisternal atau
intratekal
2. SEDIAAN PARENTERAL VOL. BESAR
(LPV)

Kontener (kemasan) yang berisi larutan injeksi dengan volume 100 mL atau
lebih dinamakan sebagai volume besar, dan biasanya digunakan melalui rute
intravena
Larutan yang saat ini dipasarkan termasuk dalam 2 kategori, yaitu elektrolit
dan nonelektrolit. Contoh larutan elektrolit larutan natrium klorida dan
kalium klorida, sedangkan larutan dektrosa dan manitorl adalah contoh
larutan nonelektrolit
Larutan intravena untuk penggunaan khusus yang biasa digunakan,
diantaranya, larutan dialysis peritonial, larutan antikoagulan sitrat dektrosa,
cairan irigasi glisin dan metronidazole dalam injeksi dektrosa, dan lain lain.
Larutan parenteral volume besar, biasanya tersedian dalam kontener dengan
volume 500 mL atau 1000 mL
3. SEDIAAN PARENTERAL BENTUK SERBUK

Sediaan ini dapat didefinisikan sebagai produk kering, melarut atau tidak
melarut (bentuk suspensi), untuk dikombinasikan dengan suatu pelarut
atau pembawa sebelum digunakan.
Biasanya tersedia di dalam vial, contohnya injeksi penisilin, ampicillin,
amoksisilin, streptomisin, dan lain sebagainya.
PENETAPAN VOL. INJEKSI DALAM
WADAH
Setiap kontener wadah tunggal mengandung suatu volume injeksi berlebih. Kelebihan volume
dinyatakan secara spesifik pada table berikut sehingga memungkinkan untuk mengeluarkan
sejumlah volume sesuai dengan label.
Volume yang dianjurkan
Volume tertera dalam
penandaan Untuk cairan encer Untuk cairan kental

0,5 ml 0,10 ml 0,12 ml


1,0 ml 0,10 ml 0,15 ml
2,0 ml 0,15 ml 0,25 ml
5,0 ml 0,30 ml 0,50 ml
10,0 ml 0,50 ml 0,70 ml
20,0 ml 0,60 ml 0,90 ml
30,0 ml 0,80 ml 1,20 ml
50,0 ml tau lebih 2% 3%

Vol. rata-rata ditentukan dari 10 kontener takaran tunggal, tidak boleh menyimpang lebih dari
5% dari persyaratan yang diuraikan di atas dan tidak boleh lebih dari satu kontener dosis
tunggal yang menyimpang lebih dari dari 10% dari persyaratan yang dinyatakan
Untuk dapat mengeluarkan volume dalam dosis tertentu dari kontener dengan dosis multiple
(ganda), maka kontener haruslah mengandung jumlah volume berlebih sehingga
memungkinkan untuk mengeluarkan volume sesuai dengan dosis yang telah ditentukan
PENGAWET YANG DIGUNAKAN
DALAM FORMULASI INJEKSI
Pengawet yang lazim digunakan dalam formulasi sediaan parenteral
dapat dilihat pada table berikut:
No Nama Pengawet Konsntrasi yang Stabilitas dan Inkompatibilitas
. lazim
1. Benzil alcohol 1% - 2% Agen bakteriostatika menunjukkan
kerja anastetika lemah
2. Klorobutol 0,2% - 0,5% Sifat antibakteri dan germisidal
efektif terhadap Pseudomonas
aeruginosa
3. Klorkresol 0,1% - 0,2% Volatil pada 100 C
4. Fenil etilalkohol 0,25% - 0,5% Lebih aktuf thd baketeri gram
negatif , volatile, sensitive thd
cahaya dan agen pengoksidasi
5. Fenol 0,5% Bakteriostatika, bakterisidal, dan
fungisidal
6. Fenil merkurinitrat 0,001% - 0,002% Bekerja lambat dan toksik
METODE MANUFAKTUR
Injeksi adalah larutan steril dan bebas pirogen, biasanya berbetuk larutan atau suspense
yang akan diberikan secara parenteral. Larutan atau suspense obat untuk injeksi pada
umumnya dibuat menurut cara umum yang sama dengan sediaan cair atau suspense
oral, hanya ada beberapa perbedaan yaitu:
1. Pelarut/[embawa harus memenuhi persyaratan kemurnian khusus dan standar
lainnya, sehingga terjamin keamanan pada saat disuntikkan
2. Penggunaan bahan tambahan, seperti dapar, penstabil, dan pengawet antimikroba
harus memenuhi persyaratan
3. Penggunaan warna yang dilarang
4. Produk parenteral sll disterilkan dan memenuhi standart sterilitas, dan harus bebas
pirogen
5. Bebas dari partikel partikulat
6. Harus dibuat dengan lingkungan terkendali dengan standar sanitasi yang ketat
7. Produk dikemas dalam kontener berpenutup kedap
8. Setiap kemasan injeksi diisi dengan vol yang sedikit berlebih dari label
METODE MANUFAKTUR (LANJUTAN)

9. Ada batasan (restriksi) kelebihan volume injeksi yang diizinkan dalam


kemasan dosis ganda pada kontener dosis tunggal
10.Regulasi label spesifik berlaku pada injeksi
11.Serbuk steril yang akan dilarutkan atau disuspensi segera sebelum
disuntikkan, sering dikemas sebagai liofilisasi (liofilisat) atau serbuk
yang dibuat secara kering beku (freeze dried) untuk memudahkan
pelarutan atau pensuspensian dengan cara pelarut atau pembawa.
Aman secara toksikologi

Steril, bebas dari kontaminasi

dan persyaratan sed.


Karakteristik khusus
mikroorganisme, baik bentuk
vegetative, spora, pathogen
maupun nonpatogen

parenteral
Bebas dari kontaminasi
pirogenik (termasuk
endotoksin)

Bebas dari partikel partikulat


asing

Stabil, tidak hanya secara


fisika dan kimia tapi juga
secara mikrobiologi

Kompatibel jika dcampur dgn


sediaan parenteral lain yg
akan diberikan scr iv.
KARAKTERISTIK KHUSUS
DAN PERSYARATAN SED.
PARENTERAL
1. Aman secara toksikologi
2. Steril, bebas dari kontaminasi mikroorganisme, baik untuk vegetative,
spora, pathogen maupun nonpatogen
3. Bebas dari kontaminasi pirogenik (termasuk endotoksin)
4. Bebas dari partikel partikulat asing
5. Stabil, tidak hanya secara fisika dan kimia tetapi juga secara
mikrobiologi
6. Kompatibel jika dicampur dengan sediaan parenteral lain yang akan
diberikan secara intravena (iv)
7. Isotonis, dalam pengertian ada rentang isotonis, jadi tidak secara
absolut isotonis
BAHAYA KLINIK PEMBERIAN PARENTERAL

Terbatas pd penggunaan scr iv atau ia (intraarteri)


Emboli udara

Biasanya terkait dengan kondisi pasien


Perdarahan

Demam dan toksisitas, baik Reaksi sekunder thd reaksi alergi atau reaksi toksik
secara local maupun sistemik
Dapat terjadi segera atau tertunda seterlah beberapa
Hipersensitivitas waktu

Dapat lebih berbahaya jika terjadi pada kompartemen


Inkompatibiltas vascular

Terbatas pada penggunaan iv dan ia


Infiltrasi dan ekstravasasi Infiltrasi: difusi atau penimbunan substansi yg scr normal tdk tdp sel atau jaringan
Ekstravasasi: keluarnya sesuatu sprt darah dr embuluh atau jaringan
BAHAYA KLINIK PEMBERIAN PARENTERAL

Dosis berlebih (over Dapat berubah obat atau cairan


dosage)
Sangat serius pada pemberian secara iv. atau ia
Partikel partikulat Dapat menyebabkan timbulnya reaksi benda asing dari
tubuh

Flebitis Biasanya/bias terjadi pada pemberian secara iv.

Dapat terjdai dalam bentuk terlokalisasi, sistemik, atau


Sepsis metastatic

Trombosis Terbatas pada pemberian scr iv. atau ia.


PENUTUP
Seperti halnya bentuk sediaan farmasi lain, untuk produk steril perlu adanya jaminan
sterilitas (sterility assurance) yang merupakan bagian dari jaminan mutu (quality assurance)

Faktor factor yang terlibat dalam jaminan sterilitas ini meliputi:


1. Pemantauan lingkungan
2. Keterlibatan operator
3. Fasilitas
4. Sistem pemantauan dan perawatan HVAC (heating, ventilation, dan air conditioning)
5. Validasi siklus sterilisasi
6. Rencana penanggulangan jika terjdi hal tidak biasa selama manufacturing
7. Pengujian sterilitas kompendial
8. Integritas kontener penutup
9. Kesadaran dan implementasi dari pirogen yang sudah dittapkan pengujian efikasi
TERIMAKASIH