Anda di halaman 1dari 39

PERAN SANITARIAN DALAM UPAYA

PENINGKATAN DERAJAT KESEHATAN


MASYARAKAT DAERAH PESISIR

ANWAR KAMARUDDIN, SKM.M.Kes


Konsep sehat menurut model
HOLISTIK ( Prof. HENDRIK L.
BLUM)
Menurut Hendrik L. Blum kondisi sehat
seseorang dipengaruhi oleh 4 (empat) faktor
utama, yaitu : Lingkungan, Perilaku ,
pelayanan kesehatan, dan keturunan.
Lingkungan mempunyai pengaruh yang
relatif paling besar dalam peranan sebagai
salah satu faktor yang mempengaruhi
derajat kesehatan masyarakat.
Hal ini dapat dilihat pada skema yang
dikemukakan oleh Hendrik L. Blum berikut:
LINGKUNGA
N

SSEHA
PERILAK
T PYANKES
U

GENETIKA

Keempat faktor tersebut saling terkait dengan


beberapa faktor lain yaitu ; sumber alam,
keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem
budaya dan populasi
DASAR
KEBIJAKAN
Undang-undang No. 36
tahun 2009 tentang
Pasal 162
Kesehatan
Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk
mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik
fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pasal 163 (ayat 1)


Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat
menjamin ketersediaan lingkungan yang sehat dan
tidak mempunyai risiko buruk bagi kesehatan.
Pasal 163 (2) :
lingkungan Sehat ..... mencakup lingkungan permukiman, tempat
kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum

Pasal 163 (ayat 3)


Lingkungan sehat berarti bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan
gangguan kesehatan, antara lain:
a. limbah cair;
b. limbah padat;
c. limbah gas;
d. Sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah;
e. binatang pembawa penyakit;
f. zat kimia yang berbahaya;
g. kebisingan yang melebihi ambang batas;
h. Radiasi
i. Air yang tercemar
j. Udara yang tercemar
k. Makanan yang terkontaminasi
UU NOMOR 36/2014
TENTANG TENAGA KESEHATAN

NAKESLING

Tenaga Sanitasi Tenaga Entomolog Tenaga Mikrobiolog


Lingkungan Kesehatan Kesehatan
PENGERTIAN
Sanitarian/Ahli Kesehatan
Lingkungan adalah tenaga
profesional di bidang kesehatan
lingkungan yang memberikan
perhatian terhadap aspek kesehatan
lingkungan air, udara, tanah,
makanan dan vector penyakit pada
kawasan perumahan, tempat-tempat
umum, tempat kerja, industri,
transportasi dan matra yang
berpengaruh terhadap kesehatan
Fakta - Penyehatan Lingkungan Mencegah
Penyakit
Fakta - Penyehatan Lingkungan Mencegah
Penyakit
DISKRIPSI KESEHATAN
MASYARAKAT PESISIR/PULAU
Berbagai Potensi masalah yang bisa terjadi dan
sudah terjadi pada daerah Kepulauan terutama
antara kondisi lingkungan dengan kesehatan yang
dialami penduduk. ( Buku Horison Baru Kesehatan
Masyarakat di Indonesia , Prof Dr, Umar Fahmi
Achmadi, MPH, Ph.D. penerbit Rineka Cipta,2008 ).
Penyakit Menular
1. Malaria
Ekosistem akan mempengaruhi hubungan interaktif
antara penduduk pulau dengan lingkungannya. Hutan
bakau merupakan habitat nyamuk penular malaria.
Bendungan alamiah yang terbentuk di muara sungai /
barangka kecil dengan pasir-pasir air laut akan
membentuk lagoon yang merupakan potensi sumber
penularan penyakit malaria. KLB atau wabah malaria
terjadi secara periodik pada musim peralihan dari
penghujan ke musim kemarau
Potensi masalah kesehatan masyarakat
pulau

2. HIV/ AIDS
Terjadi di beberapa daerah kepulauan karena
merupakan kawasan dinamik, ramai dengan lalu
lintas pelayaran nelayan Internasional. Merupakan
daerah persinggahan untuk keperluan bahan bakar,
air bersih, menyimpan hasil tangkapan dan
keperluan lainnya. Sebagai gambaran Rupali et al
(2007) menemukan prevalensi penyakit HIV/AIDS di
atas 150 per 100.000 penduduk di pulau-pulau di
sekitar papua new guinea, 100 per 100.000
penduduk di French Polynesia, Caledonia baru,
Guam, d an 50 per 100.000 pulau-pulau lain.
Potensi masalah kesehatan masyarakat
pulau
3. Leptospirosis
Dibawa oleh tikus-tikus bersama kapal-kapal
yang menyebar ke pulau-pulau lain yang
merupakan habitat tikus kapal.
4. Pneumonia dan Campak
Pneumonia atau radang paru pada anak
biasanya terjadi ketika wabah campak melanda
sebuah pulau. Pneumonia dan campak bersamaan
pula dengan pergantian musim dan atau bencana
kelaparan. Logistik dan biaya operasional untuk
melaksanakan imunisasi termasuk KLB harus
dipersiapkan bagi penduduk pulau.
Potensi masalah kesehatan
masyarakat pulau
5. Defisiensi mikronutrien
Tanah pertanian yang memiliki kekurangan
mineral, misalnya yodium, zink atau mineral
lain, akan menyebabkan pangan yang
dikomsumsi penduduk pulau kekurangan bahan
tersebut. Akibat lebih jauh akan menimbulkan
defisiensi atau penyakit kekurangan zat
tertentu. Zink merupakan bahan penting untuk
pembentukan bahan proses pembekuan darah,
sistem hormonal dan lain sebagainya. Penyakit
gondok endemik di daerah pulau kecil yang
kekurangan yodium.
Potensi masalah kesehatan
masyarakat pulau
6. Sanitasi Dasar dan ketersediaan air bersih
Ketersediaan air bersih merupakan akar
masalah pada hampir semua penduduk
pulau. Air bersih merupakan bahan
esensial kehidupan manusia. Ketersediaan
air bersih akan mempengaruhi sanitasi
dasar penduduk. Akibat sulitnya
memecahkan permasalahan air bersih
maka Kejadian Luar Biasa penyakit saluran
pencernaan secara sporadik sering terjadi.
Potensi masalah kesehatan
masyarakat pulau
7. Pencemaran logam berat
Kegiatan pertambangan yang dilakukan di pulau
induk atau pulau besar dan melakukan
pembuangan limbah ke muara sungai dapat
membahayakan ekosistem perairan pulau-pulau
terdekat. Manakala pulau-pulau tersebut di ujung
sungai, maka penduduk memiliki risiko terkena
dampak limbah pertambangan baik langsung
maupun tidak langsung. Arus air laut maka pulau-
pulau dapat mengalami pencemaran, misalnya
logam berat, dsb

PERAN TENAGA SANITARIAN


DALAM PENYELENGGARAAN KESEHATAN
LINGKUNGAN ( PP NO 66 thn 2014 ttg
KESLING)
Kesehatan Lingkungan diselenggarakan
melalui upaya Penyehatan, Pengamanan,
dan Pengendalian.
Penyehatan dilakukan terhadap media
lingkungan berupa air, udara, tanah,
pangan, serta sarana dan
bangunan.
Peran Tenaga Kesling

Faktor Risiko Perilaku


(Life Style)

Penyehatan, pengamanan
Analisis Situasi & pengendalian thdp
& media lingkungan & Penyakit
Kecenderungan biomarker

Pengujian:
Faktor Risiko Potensial Kw. Udara Bakteri
di lingkungan Kw. Air Parasit
Kw. Tanah Virus
Kand Lgm Berat HS. Mak-Min Enzim
CO-Hb Indeks Vektor Kimia Kl
Cholinesterase
Penyehatan
penyehatan air meliputi upaya pengawasan,
pelindungan, dan peningkatan kualitas air.

(1) Pengawasan kualitas air dilakukan paling sedikit melalui:


a. surveilans;
b. uji laboratorium;
c. Analisis Risiko; dan/atau
d. rekomendasi tindak lanjut.
(2) Pelindungan kualitas air dilakukan paling sedikit
melalui:
a. KIE;
b. pengembangan teknologi tepat guna; dan/atau
c. rekayasa lingkungan.
(3) Peningkatan kualitas air dilakukan paling sedikit melalui
filtrasi, sedimentasi, aerasi, dekontaminasi, dan/atau
disinfeksi.
Pengamanan dilakukan
melalui:
upaya pelindungan kesehatan
masyarakat;
proses pengolahan limbah; dan
pengawasan terhadap limbah.
Upaya pelindungan kesehatan
masyarakat dilakukan untuk mewujudkan
lingkungan sehat yang bebas dari unsur
yang menimbulkan gangguan kesehatan.
Unsur yang menimbulkan gangguan
kesehatan meliputi:
a. sampah yang tidak diproses sesuai
dengan persyaratan;
b. zat kimia yang berbahaya;
c. gangguan fisika udara; radiasi pengion
dan non pengion; dan
d. pestisida.
Proses pengolahan limbah
dilakukan terhadap limbah cair, padat, dan
gas yang berasal dari Permukiman, Tempat
Kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan
fasilitas umum yang dilakukan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam hal limbah cair, padat, dan gas
berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan,
proses pengolahan
limbah wajib memenuhi: ketentuan
peraturan perundang-undangan dan
persyaratan teknis proses pengolahan
limbah cair, padat, dan gas yang berasal
dari fasilitas pelayanan kesehatan.
Pengawasan terhadap limbah
Dilakukan terhadap limbah cair, padat, dan
gas yang berasal dari lingkungan Permukiman,
Tempat Kerja, tempat rekreasi, serta tempat
dan fasilitas umum.
Pengawasan terhadap limbah dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Dalam hal limbah cair, padat, dan gas berasal
dari fasilitas pelayanan kesehatan,
pengawasan terhadap limbah dilakukan:
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan paling sedikit melalui
surveilans, uji laboratorium, Analisis Risiko, KIE,
dan/atau rekomendasi tindak lanjut.
Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap vektor dan
binatang pembawa penyakit.

Pengendalian vektor dan binatang pembawa


penyakit meliputi : pengamatan dan penyelidikan
bioekologi, status kevektoran, status resistensi,
efikasi, pemeriksaan spesimen,
Pengendalian vektor dengan metode fisik, biologi,
kimia, dan pengelolaan lingkungan, serta
Pengendalian
vektor terpadu terhadap vektor dan binatang
pembawa penyakit.
(1) Pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit dengan metode fisik dilakukan
dengan cara paling sedikit mengubah salinitas
dan/atau derajat keasaman (pH) air,
memberikan radiasi, dan/ataupemasangan
perangkap.
(2) Pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit dengan metode kimia dilakukan
dengan
menggunakan bahan kimia.
(3) Pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit dengan metode biologi paling sedikit
dilakukan dengan menggunakan protozoa, ikan
dan/atau bakteri.
(4) Pengendalian vektor dan binatang
pembawa penyakit melalui pengelolaan
lingkungan dilakukan dengan
mengubah habitat perkembangbiakan
vektor dan binatang pembawa penyakit
secara permanen dan sementara.
(5) Pengendalian vektor terpadu terhadap
vektor dan binatang pembawa penyakit
dilakukan dengan berbagai metode
sebagaimana dimaksud diatas
GAMBARAN PROGRAM KESLING
MALUKU UTARA

HASIL RISKESDAS
THN 2013
PROVINSI MALUKU UTARA
Proporsi Rumah Tangga Yang Memiliki Akses Terhadap Sumber Air Minum
120.0%

100.0% 95.8% 92.8% 89.4%


84.8% 82.9%
80.0%
78.2%

60.0%

41.4%
40.0%

20.0%

0.0%
Prosentase Penggunaan Fasilitas BAB
di Provinsi Maluku Utara

70.0%

60.0%

50.0%

40.0%
60.2%
30.0%

20.0%

15.7% 19.0%
10.0%
5.1%
0.0%
Proporsi Rumah Tangga Berdasarkan
Penampungan Air Limbah di Provinsi Maluku Utara

Langsung ke Got/Sungai 32.3%

Tanpa Penampungan di Tanah 41.6%

Di Luar Pekarangan 5.7%

Terbuka di Lapangan 12.2%

Tertutup di Pekarangan / SPAL 8.1%

0.0% 5.0% 10.0% 15.0% 20.0% 25.0% 30.0% 35.0% 40.0% 45.0%
Prevalance Diare di Kabupaten Kota, Maluku Utara
5.9%
6.0%

5.0%
4.3%
4.0%
4.0% 3.5%
3.1% 2.9%
3.0% 2.6%
1.9%
2.0% 1.5%
1.2%
1.0%

0.0%
30.0%
Prevalance
26.6%
ISPA di Kabupaten
26.8% Kota, Maluku Utara
25.0%

20.1%
20.0% 17.9% 17.7%
15.9% 16.5%
15.4%
15.0%
13.9%
11.5%

10.0%

5.0%

0.0%
15.5%
Prevalance Malaria di Kabupaten Kota, Maluku Utara-
13.4%

9.0%
7.8% 8.1% 8.1%
7.2%
5.9%
5.4%
3.8%

Halmahera Barat Kepulauan Sula Halmahera Utara Pulau Morotai Tidore Kepulauan
anitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM
Outcome:
Menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan
yang berkaitan dng sanitasi dan perilaku melalui penciptaan kondisi
sanitasi total

Output:
Meningkatnya pembangunan higiene sanitasi melalui peningkatan
demand & supply

Pilar 1: Pilar 3:
Pilar 4: Pilar 5:
Stop BABS Pilar 2: PAM-RT
Pengelolaan Pengelolaan
(Buang Air CTPS (Cuci (Pengelolaan
Sampah Limbah Cair
Besar Tangan Pakai Air Minum
Rumah Rumah
Sembarangan Sabun) Rumah
Tangga Tangga
) Tangga)

Komponen Dasar STBM:


1. Perubahan Perilaku
2. Peningkatan akses sanitasi yang berkelanjutan
3. Pengelolaan berbasis masyarakat yang berkelanjutan
4. Dukungan institusi kepada masyarakat (enabling environment)
Menurunnya kejadian diare dan penyakit berbasis
lingkungan lainnya yg berkaitan dengan
sanitasi dan perilaku

Setiap individu & komunitas mempunyai akses terhadap sarana


sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas Stop BABS
Setiap RT telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan
yang aman
Setiap RT & Sarana Pelayanan Umum dlm suatu komunitas
tersedia fasilitas cuci tangan shg semua orang mencuci tangan
dengan benar
Setiap RT mengelola sampahnya dengan benar
Setiap RT mengelola limbah cairnya dengan benar

INDIKATOR STBM
Kesimpulan
1. Lingkungan mempunyai pengaruh yang relatif paling besar
dalam peranan sebagai salah satu faktor yang
mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
2. Dalam Teori Kesehatan Lingkungan, penduduk atau
masyarakat yang tinggal dalam kawasan yang tertutup
atau terisolasi maka akan menghadapi berbagai masalah
kesehatan yang lebih berakar kepada ekosistem di mana
masyarakat bertempat tinggal ( Achmadi 2005 )
3. DALAM PENYELENGGARAAN KESEHATAN LINGKUNGAN ( PP NO 66
thn 2014 ttg KESLING) Kesehatan Lingkungan diselenggarakan
melalui upaya Penyehatan, Pengamanan, dan Pengendalian.
4. Peran tenaga kesling/sanitarian adalah mampu
melakukan analisa situasi dan kecenderungan terhadap
faktor risiko perilaku dan faktor risiko potensial lingkungan
melalui penyehatan, pengamanan,pengendalian terhadap
media lingkungan dalam rangka mencegah timbulnya
penyakit.
Terima kasih

39