Anda di halaman 1dari 71

AKUNTANSI SKPD-PEMDA 1

BERBASIS AKRUAL

Disajikan oleh:

Budi Mulyana
(Widyaiswara STAN)
Pengertian Akuntansi

merupakan kegiatan merupakan kegiatan jasa


mencatat, menggolongkan yg menyajikan informasi
dan meringkas transaksi- kuantitatif ,terutama yang
transaksi bersifat keuangan

serta melaporkan hasil- ... untuk dijadikan dasar


hasilnya ke dalam laporan dalam mengambil keputusan-
keputusan ekonomi
keuangan
Kegiatan ini dilakukan oleh
Kegiatan ini dilakukan oleh suatu entitas/ organisasi.
suatu entitas/ organisasi.
(Definisi dari Segi Fungsi).
(Definisi dari Segi Proses).
Dasar Hukum
KONSTRUKSI
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) terbagi ke
dalam dua subsistem besar:
1) Sistem Akuntansi SKPD sebagai entitas akuntansi;
2) Sistem Akuntansi PPKD:
2.1. Subsistem Akuntansi SKPKD sebagai SKPD
(entitas akuntansi);
2.2. Subsistem Akuntansi PPKD sebagai BUD
(entitas akuntansi);
2.3. Subsistem Akuntansi PPKD-Konsolidator (entitas
pelaporan).
Laporan keuangan dari seluruh entitas akuntansi
disampaikan kepada SKPKD (entitas pelaporan) untuk
dikonsolidasikan, sehingga menjadi Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD).
KONSTRUKSI
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH (SAPD)

LK-PPKD:
LRA-PPKD
LO-PPKD
LP-EKUITAS
NERACA-PPKD
CALK-PPKD
SA-PPKD
LKPD
(KONSOLIDASIAN):
SAPD LRA; LO;
LP-EKUITAS, NERACA
LAK; CALK

LK-SPKD:
SA-SKPD LRA-SKPD
LO-SKPD
LP-EKUITAS
NERACA-SKPD
CALK-SKPD
LAPORAN KEUANGAN PEMDA
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH:
TEKNIK PENCATATAN TRANSAKSI
TRANSAKSI-BASIS AKUNTANSI-AKUN-LAPORAN
KEUANGAN

ASET

KEWAJIBAN
NERA
CA
BASIS
EKUITAS
AKRUAL
PENDAPATAN-
TRANSAKS LO
I LO
BEBAN

PENDAPATAN-
LRA
BASIS
BELANJA LRA
KAS

PEMBIAYAAN
BASIS AKUNTANSI
BASIS AKUNTANSI
BASIS AKUNTANSI

Kata kunci KAPAN mencerminkan


periode/tahun buku laporan keuangan
(bukan mencerminkan saat/tanggal harus
dicatat).
Dalam tehnik / praktik pencatatan, bisa saja
suatu transaksi dicatat mendahului atau
melampaui tanggal kejadian sebenarnya.
Namun demikian, dalam proses penyajian
laporan keuangan, transaksi tersebut harus
masuk ke tahun buku / tahun anggaran yang
sebenarnya/seharusnya.
BASIS AKUNTANSI

Kata kunci DIAKUI mengandung arti dianggap telah terjadi dan


mempengaruhi pos-pos laporan keuangan.

Contoh:
Dalam Basis Kas, pendapatan dan belanja negara dianggap
terjadi jika uang telah masuk/keluar dari kas negara.
Dalam Basis Akrual,
pendapatan dianggap telah terjadi jika telah timbul hak
menagih dan jumlahnya dapat ditentukan secara
meyakinkan.
beban dianggap telah terjadi jika suatu sumberdaya telah
digunakan yang berakibat timbul kewajiban membayar
atau menyebabkan aset organisasi berkurang karena
penggunaan tsb.
Akrual VS Kas

Contoh 1 :
Satker A Pemilik Gedung Serbaguna telah
menyewakan gedung serbaguna kepada
pelanggan pada tgl 25 Des12 namun baru
dibayar pada tgl 10 Jan13 senilai Rp.1.000.000,-
Kapan timbulnya hak memperoleh pendapatan
sewa?
Kapan pengakuan pendapatan berbasis akrual?

Kapan terjadi aliran kas?


Kapan pengakuan pendapatan berbasis kas?
Akrual VS Kas

Basis Akrual: Basis Kas:


Pendapatan Pendapatan
dilaporkan pada dilaporkan
laporan 2012 pada laporan
(LO) 2013 (LRA)
Akrual VS Kas

Contoh 2 :
Honor pegawai penjaga Gedung pada
Satker A, bulan Des12, dibayar tgl 10
Jan13 sebesar Rp.700.000,-
Kapan terjadinya penggunaan jasa pegawai
shg timbulnya kewajiban membayar honor?
Bagaimana pengakuan beban?

Kapan terjadi aliran pengeluaran kas?


Bagaimana pengakuan belanja?
Akrual VS Kas

Basis Kas:
Basis Akrual:
Belanja
Beban Pegawai
Pegawai
dilaporkan pada
dilaporkan
laporan 2012
pada laporan
(LO)
2013 (LRA)
Akrual VS Kas
Contoh 1& 2: Satker Pemilik Gedung Serbaguna
Satker telah menyewakan gedung serbaguna kepada
pelanggan pada tgl 25 Des12 namun baru dibayar pada tgl
10 Jan13 senilai Rp.1 juta.
Honor Basis
pegawai penjaga gedung bln
Kas (LRA)
Des12 dibayar tgl 10
Basis Akrual (LO)
Jan13 Rp.700.rb,-
2012 2013 2012 2013
Pendapatan 0 1.000.00 1.000.000 0
0
Belanja/ 0 700.000 700.000 0
Beban
Silpa/Surplu 0 N E R A C A BASIS300.000
300.000 KAS & AKRUAL 0
s 2012 2013
Lihat
Perbedaanny Kas 0 Kas 300.000
a! Piutang 1.000.00 Piutang 0
0
Kewajiba 700.000 Kewajiban 0
n
Akrual VS Kas

Contoh 3 :
Satker B menyewa Gedung untuk
digunakan sebagai kantor. Sewa dari tgl. 1
Agts12 sd 31 Juli13 sebesar Rp. 12 juta.
Sewa dibayar dimuka (pada tgl. 1 Agts12)
sebesar Rp.12 juta.
Kapan terjadinya beban sewa?
Berapa besarnya beban sewa dan belanja
sewa 2012?
Kapan terjadi aliran pengeluaran kas
Akrual VS Kas

masa sewa

Basis Kas:
Basis Akrual: Basis Akrual:
Belanja Jasa
Beban Jasa Beban Jasa
dilaporkan
dilaporkan pada dilaporkan pada
pada laporan
laporan 2012 laporan 2013
2012
Rp 5jt (LO) Rp 7jt (LO)
Rp 12jt (LRA)
Akrual vs Kas
Contoh 3: Satker B Penyewa Gedung Kantor
Satker menyewa Gedung untuk digunakan sebagai kantor.
Sewa dari tgl. 1 Agts12 sd 31 Juli13 sebesar Rp. 12 juta.
Sewa dibayar dimuka (pada tgl. 1 Agts12) sebesar Rp.12 juta.
Basis Kas Basis Akrual
2012 2013 2012 2013
Pendapatan 0 0 0 0
Belanja/Beban 12 juta 0 5.000.000 7.000.000
Surplus/ (-12 juta) 0 (-5.000.000) (-7.000.000)
(Defisit)
NERACA
2012 2013
Kas - Kas 0
Lihat 12.000.00
0
Perbedaann
ya! Piutang 7.000.000 Piutang 0

Kewajiba 0 Kewajiban 0
n

LATIHAN SEDERHANA

Laporan Keuangan
Kementerian Keuangan PPAKP 2015
Laporan Keuangan di Tingkat
SKPD
Klasifikasi Berdasarkan Jenis Laporan

Basis Kas Basis


Akrual

Ya

Ya
Ya
Ya

Diskusi
Laporan Realisasi Anggaran
(LRA)
Pengertian Struktur dan Isi
Lap yg menyajikan Pendapatan
perbandingan antara Belanja
realisasi pendapatan dan
belanja dengan Pembiayaan (hanya di
anggarannya PPKD)

Manfaat
berguna dalam
memprediksi sumber
daya ekonomi yang akan
diterima untuk mendanai
kegiatan satker
pemerintah pusat/daerah
dalam periode mendatang
dengan cara menyajikan
laporan secara komparatif
Neraca

Pengertian Struktur dan Isi


Laporan keuangan yang Aset
menggambarkan posisi Aset Lancar
keuangan suatu entitas
pelaporan mengenai Investasi Jk Panjang
aset, kewajiban, dan (PPKD)
ekuitas pada tanggal Aset Tetap
tertentu Aset Lainnya
Manfaat Kewajiban
Menyediakan informasi Jk Pedek
mengenai posisi sumber Jk Panjang (PPKD)
daya ekonomi, kewajiban Ekuitas
dan ekuitas satker
pemerintah pusat/daerah
pada tanggal tertentu.
Laporan
Operasional
Pengertian
Menyediakan informasi ttg Isi dan Struktur
seluruh kegiatan Pendapatan-LO
operasional keuangan yg
mencakup pendapatan-LO, Beban
beban, dan surplus/defisit Surplus/Defisit dari
operasional, yang operasi
penyajiannya Kegiatan non
disandingkan dengan
periode sebelumnya. operasional
Surplus/Defisit
Manfaat dan Tujuan sebelum Pos Luar
melengkapi pelaporan dari Biasa
siklus akuntansi berbasis Pos Luar Biasa
akrual sehingga Surplus/Defisit-LO
penyusunan LO, LPE dan
Neraca mempunyai
keterkaitan yang jelas
Laporan Perubahan
Ekuitas
Pengertian Isi dan Struktur
Lap yg menyajikan Ekuitas awal
informasi kenaikan atau Surplus/defisit-LO
penurunan ekuitas tahun pada periode
berjalan dibandingkan bersangkutan
dengan tahun sebelumnya.
Koreksi-koreksi yang
Tujuan langsung
menambah/menguran
Menyediakan informasi
gi ekuitas.
mengenai perubahan
posisi keuangan entitas Saldo RK-PPKD (untuk
pelaporan sebagai akibat LPE-SKPD)
kegiatan yang dilakukan Ekuitas akhir
selama periode pelaporan.
Catatan Atas Laporan
Keuangan
Pengertian
CaLK merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari Laporan Keuangan
Tujuan & Manfaat
Memudahkan pengguna dalam memahami
laporan keuangan
Untuk meningkatkan transparansi laporan
keuangan dan penyediaan pemahaman yang
lebih baik atas informasi keuangan pemerintah
Isi:
Penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas
nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA,
Neraca, LO, dan LPE.
Struktur dan Isi pada CaLK
DOUBLE ENTRY SYSTEM

ASET = HUTANG + EKUITAS


Sistem pembukuan ganda (double entry system)
menggunakan kaidah Debit-Kredit yang diturunkan
dari persamaan dasar akuntansi di atas.
KAIDAH DOUBLE ENTRY
SYSTEM
(SISTEM
AKUNTANSI KEUANGAN)
POS DEBET KREDIT SALDO
NORMAL
ASET (+) (-) DEBET

KEWAJIBAN (-) (+) KREDIT

EKUITAS (-) (+) KREDIT

PENDAPATAN- (-) (+) KREDIT


LO
BEBAN (+) (-) DEBET
KAIDAH DOUBLE ENTRY SYSTEM

(SISTEM AKUNTANSI PELAKSANAAN


ANGGARAN)

POS DEBET KREDIT SALDO


NORMAL
PENDAPATAN-LRA (-) (+) KREDIT
BELANJA (+) (-) DEBIT
Proses Akuntansi double entry system

Tahap-Tahap Proses Akuntansi


Jurnal
Buku Besar
Neraca Saldo sebelum Penyesuaian
Jurnal Penyesuaian
Neraca Saldo setelah Penyesuaian
Laporan Keuangan
Jurnal Penutup
Neraca Saldo setelah Penutupan Buku
1. Jurnal Anggaran
Jurnal anggaran (sifatnya opsional) dicatat pada sub-sistem akuntansi
pelaksanaan anggaran (SAPA). Berdasarkan bukti berupa DPA-SKPD, jurnal:

Estimasi Pendapatan xxx


Estimasi Perubahan SAL* xxx
Apropriasi Belanja xxx

*)Keterangan:
Akun Estimasi Perubahan SAL dicatat di sisi debit apabila anggaran SKPD
menunjukkan jumlah defisit (total jumlah anggaran pendapatan lebih kecil
dari total jumlah anggaran belanja). Demikian sebaliknya, jika anggaran
SKPD menunjukkan jumlah surplus, akun Estimasi Perubahan SAL dicatat
di sisi kredit.
Pada Perwali Surbaya No. 33 Tahun 2013 ttg Sistem Akuntansi
Pemkot Surabaya, disebutkan bhw jurnal anggaran tsb tidak
dibuat. Untuk menyusun LRA, kolom jumlah anggaran diambil dari
DPA-SKPD.
2. Jurnal Transaksi Pendapatan

1. Jurnal Transaksi Pendapatan-LRA


Pendapatan-LRA dicatat pada sub-sistem akuntansi

pelaksanaan anggaran.
Pendapatan-LRA diakui pada saat kas telah diterima

oleh bendahara penerimaan SKPD. Berdasarkan bukti


penerimaan pendapatan (kwitansi), jurnal:
Estimasi Perubahan SAL* xxx
Pendapatan-LRA xxx
Keterangan:
Berdasarkan Perwali Sby ttg Sistem Akuntansi,
digunakan nama akun Perubahan SAL, bukan
Estimasi Perubahan SAL.
2. Jurnal Transaksi Pendapatan

2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO


Dicatat pada sub-sistem Akuntansi Keuangan
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 1:
Pendapatan dicatat pada saat diterbitkan surat

ketetapan (SKP/SKR), jurnal:


Piutang Pendapatan xxx
Pendapatan-LO xxx
2. Jurnal Transaksi Pendapatan

2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO


a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 1 (lanjutan):
Pada saat diterima pembayaran, berdasarkan bukti

penerimaan (kwitansi), jurnal:


Kas di Bendahara Penerimaan xxx
Piutang Pendapatan xxx

Pada saat disetor ke Kasda, berdasarkan bukti STS, jurnal:


RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Penerimaan xxx
2. Jurnal Transaksi Pendapatan
2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 2 :
Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran,

berdasarkan bukti penerimaan (kwitansi), jurnal:


Kas di Bendahara Penerimaan xxx
Pendapatan-LO xxx
Pada saat disetor ke Kasda, berdasarkan bukti STS,
jurnal:
RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Penerimaan xxx
2. Jurnal Transaksi Pendapatan
2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
a. Pendapatan dengan surat ketetapan
Alternatif 2 (Lanjutan):
Pada akhir tahun diakui piutang jika masih ada

tagihan yang belum diterima pembayarannya,


(berdasarkan SKP/SKR yang diterbitkan pada tahun
berjalan dikurangi dengan jumlah pembayarannya
yang telah diterima bendahara) jurnal:
Piutang Pendapatan xxx
Pendapatan-LO xxx
2. Jurnal Transaksi Pendapatan
2. Jurnal Transaksi Pendapatan-LO
b. Pendapatan tanpa didahului surat ketetapan
Pendapatan dicatat pada saat diterima pembayaran,

berdasarkan bukti penerimaan (rekening koran, karcis


yang terjual, kwitansi), jurnal:
Kas di Bendahara Penerimaan xxx
Pendapatan-LO xxx
Jurnal penyetoran ke Kasda sama dengan jurnal di

atas:
RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Penerimaan xxx
3. Jurnal Transaksi Belanja

Belanja dicatat pada sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran


a. Belanja dibayar secara langsung oleh BUD (Belanja-LS). Pada saat
diterbitkan/diterima SP2D-LS, jurnal:
Belanja xxx
Estimasi Perubahan SAL* xxx
b. Belanja dibayar oleh bendahara pengeluaran SKPD dengan
menggunakan UP/GU/TU.
Pada saat SPJ belanja UP/GU/TU*) disahkan oleh PA/KPA, jurnal *):
Belanja xxx
Estimasi Perubahan SAL** xxx
Keterangan:
*Menurut Perwali Sby ttg SA, belanjanya diakui saat terbit SP2D-GU
(dalam tahun berjalan). SP2D-TU, SP2D-GU Nihil (akhir tahun)
**Berdasarkan Perwali Sby ttg Sistem Akuntansi, digunakan nama
akun Perubahan SAL, bukan Estimasi Perubahan SAL.
4. Jurnal Transaksi Beban

Beban dicatat pada sub-sistem akuntansi


keuangan.
Beban dapat berupa belanja (selain belanja modal)

maupun non belanja (seperti beban penyusutan,


beban penyisihan piutang tak tertagih, dsb).
a. Beban berupa Belanja
(1) Belanja LS
Pada saat diterbitkan/diterima SP2D-LS, jurnal:
Beban*) xxx
RK-PPKD xxx
4. Jurnal Transaksi Beban

a. Beban berupa Belanja (lanjutan)


(2) Belanja dibayar oleh bendahara pengeluaran SKPD
dengan menggunakan UP/GU/TU
Pada saat bendahara menerima UP/GU/TU, berdasarkan
SP2D-UP/GU/TU, jurnal:
Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
RK-PPKD xxx
Pada saat SPJ belanja UP/GU/TU disahkan oleh PA/KPA, jurnal:

Beban* xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
Pada saat penyetoran sisa UP/GU/TU** ke Kasda, jurnal:

RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
4. Jurnal Transaksi Beban

b. Utang Beban dan Beban Dibayar Dimuka


b.1. Ayat jurnal penyesuaian akhir tahun untuk
mengakui belanja yang sudah menjadi utang pemda,
namun belum dibayar hingga akhir tahun:
Beban (selain belanja modal) xxx
Utang Beban/Belanja xxx
Jika beban tersebut terkait dengan pembelian aset
tetap, maka jurnal yang dibuat:
Aset Tetap (sesuai jenis asetnya) xxx
Utang Beban/Belanja xxx
4. Jurnal Transaksi Beban

b.2. Beban Dibayar Dimuka


Transaksi ini mungkin sangat jarang terjadi, contoh:
sewa dibayar dimuka untuk jangka waktu lebih dari
satu tahun anggaran.
Ayat jurnal penyesuaian akhir tahun untuk
mengakui belanja yang masih jadi hak pemda
Sewa Dibayar Dimuka xxx
Beban xxx
4. Jurnal Transaksi Beban

c. Beban Persediaan
Nilai persediaan yang masih ada pd akhir tahun harus dilaporkan di
Neraca. Oleh karena itu, jika persediaan dicatat dengan metode
periodik, harus dibuat ayat jurnal penyesuaian untuk mengakui
nilai persediaan akhir tahun. Jurnal penyesuaian yang dibuat (jika
pada saat pembelian persediaan dicatat ke akun beban =>
disebut pendekatan beban) :
Persediaan xxx*
Beban Persediaan xxx

*)Jurnal tsb dgn asumsi di awal tahun tidak dibuat ayat jurnal pembalik, dan
akun persediaan di debit, jika nilai persediaan akhir lebih besar dari nilai
persediaan awal (terjadi kenaikan pd saldo persediaan akhir). Sebaliknya,
akun persediaan akan dikreditkan jika nilai persediaan akhir lebih kecil dari
nilai persediaan awal (terjadi penurunan pd saldo persediaan akhir).
4. Jurnal Transaksi Beban
d. Beban penyisihan piutang tak tertagih
Jika di dlm kebijakan akuntansi pemda mengharuskan adanya
pembentukan penyisihan piutang tak tertagih, maka pada akhir
tahun dibuat ayat jurnal penyesuaian sbb.:
Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih xxx
Penyisihan Piutang Tak Tertagih xxx

Jika sebuah piutang dihapuskan, jurnal:


Penyisihan Piutang Tak Tertagih xxx
Beban/Kerugian Piutang Tak Tertagih xxx*
Piutang xxx
*Jika nilai piutang yang dihapuskan lebih besar dari nilai penyisihan
piutang tak tertagih, maka selisihnya dicatat ke akun beban/kerugian
piutang tak tertagih.
4. Jurnal Transaksi Beban

e. Beban penyusutan aset tetap


Jurnal untuk mengakui penyusutan aset tetap
dilakukan dengan membuat ayat jurnal penyesuaian di
akhir tahun, yaitu:
Beban Penyusutan Aset Tetap xxx
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap xxx
f. Beban amortisasi aset tak berwujud (aset
lainya)
Beban Amortisasi Aset Tak Berwujud xxx
Akumulasi Amortisasi Aset Tak Berwujud xxx
5. Jurnal Koreksi Pendapatan

a. Koreksi atas kesalahan yang berulang (recurring)


Jurnal koreksi atas kesalahan yg berulang baik
kesalahan yang terjadi pada tahun berjalan maupun
kesalahan yang berasal dari tahun sebelumnya dibuat
dgn jurnal yang sama sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran (Pendapatan-

LRA) akan menjurnal:


Pendapatan-LRA xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx

Sub-sistem akuntansi keuangan (Pendapatan-LO) akan

menjurnal:
Pendapatan-LO xxx
RK-PPKD xxx
5. Jurnal Koreksi Pendapatan

b. Koreksi atas kesalahan yang tidak berulang (non-


recurring)
1) Koreksi atas kesalahan yang terjadi pada tahun
berjalan
Jurnal koreksi yang dibuat adalah sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran (Pendapatan-LRA)
akan menjurnal:
Pendapatan-LRA xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx
Sub-sistem akuntansi keuangan (Pendapatan-LO) akan

menjurnal:
Pendapatan-LO xxx
RK-PPKD xxx
5. Jurnal Koreksi Pendapatan

b. Koreksi atas kesalahan yang tidak


berulang (non-recurring)
2) Koreksi atas kesalahan yang berasal dari
tahun sebelumnya
TIDAK ADA JURNAL YG DIBUAT OLEH SKPD

Untuk koreksi kesalahan jenis ini, SKPD tidak perlu membuat


jurnal koreksi, karena yang membayar restitusi adalah PPKD
dengan menggunakan dana Belanja Tak Terduga, dan
sebagaimana diketahui bahwa akun Belanja/Beban Tak
Terduga hanya ada di dalam sistem akuntansi PPKD. Dengan
demikian, jurnal koreksi kesalahan jenis ini hanya dilakukan di
dalam akuntansi PPKD.
6. Jurnal Koreksi Kesalahan Belanja/Beban

1) Koreksi atas kesalahan yang terjadi pada


tahun berjalan
Jurnal koreksi yang dibuat adalah sbb.:
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran

(Belanja-LRA) akan menjurnal:


Estimasi Perubahan SAL xxx
Belanja xxx
Sub-sistem akuntansi keuangan (Beban-LO) akan

menjurnal:
RK-PPKD xxx
Beban xxx
6. Jurnal Koreksi Kesalahan
Belanja/Beban

2) Koreksi atas kesalahan yang berasal dari


tahun sebelumnya
Sub-sistem akuntansi pelaksanaan anggaran

(LRA) akan menjurnal:


Estimasi Perubahan SAL xxx
Lain-lain Pendapatan LRA (PAD) xxx
Sub-sistem akuntansi keuangan (LO) akan

menjurnal:
RK-PPKD xxx
Lain-lain Pendapatan LO (PAD) xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

a. Jurnal Transksi Aset Lancar


Aset lancar pada neraca SKPD dapat mencakup akun-akun berikut:
Kas di Bendahara Penerimaan
=> Terkait dengan jurnal transaksi pendapatan
Kas di Bendahara Pengeluaran
=> Terkait dengan jurnal transaksi belanja/beban
Piutang
=> Terkait dengan jurnal transaksi pendapatan
a. Penyisihan Piutang Tak Tertagih (contra account atas Piutang)
=> Terkait dengan jurnal transaksi beban pengakuan penyisihan
piutang dan penghapusan piutang.
Persediaan
=> Terkait dengan jurnal transaksi beban/belanja persediaan dan
jurnal
penyesuaian persediaan yang terpakai/tersisa .
Beban Dibayar Dimuka
=> terkait dengan jurnal transaksi beban/belanja dibayar di muka dan
penyesuaiannya di akhir tahun.
7. Jurnal Transaksi Aset
b. Jurnal Transaksi Aset Tetap
1). Perolehan aset tetap
a) Apabila aset tetap diperoleh dengan cara membeli atau
membangun maka akan terjadi realisasi belanja modal,
sehingga jurnal yang dibuat adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)


Aset Tetap (sesuai jenisnya) xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran* xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

b) Apabila aset tetap diperoleh dari hibah, maka jurnal yang


dibuat hanya di subsistem akuntansi keuangan sbb.:
Aset Tetap (sesuai jenisnya) xxx
Pendapatan Hibah-LO xxx
c) Apabila sebuah SKPD menerima transfer aset tetap dari SKPD
lain pada pemda yang sama, maka jurnal yang dibuat hanya di
subsistem akuntansi keuangan, sbb.:
SKPD yang melakukan transfer:
Ekuitas xxx
Akumulasi Penyusutan xxx
Aset Tetap (misal kendaraan) xxx
SKPD yang menerima transfer:
Aset Tetap (misal kendaraan) xxx
Akumulasi Penyusutan xxx
Ekuitas xxx
7. Jurnal Transaksi Aset
2). Penyusutan aset tetap
a) Penyusutan retroaktif dilakukan pada tahun
pertama dilakukannya penyusutan:
Ekuitas xxx
Akumulasi Penyusutan xxx
b) Penyusutan tahuan (setelah dilakukan penyusutan
retroaktif), biasanya hanya dicatat sekali di akhir
tahun melalui jurnal penyesuaian, dengan jurnal sbb.:

Beban Penyusutan Aset Tetap xxx Akumulasi


Penyusutan-Aset Tetap xxx
7. Jurnal Transaksi Aset
3). Biaya yang dikeluarkan setelah perolehan aset tetap
a) Transaksi pembayaran belanja pemeliharaan ini tidak akan
menambah nilai aset tetap yang bersangkutan, akan tetapi
hanya dicatat/dilaporkan sebagai belanja/beban barang dan
jasa dengan jurnal sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Pemeliharaan xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (LO)
Beban Pemeliharaan xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran* xxx
*) tergantung cara pembayarannya
7. Jurnal Transaksi Aset
b) Perbaikan atau renovasi aset tetap yang sifatnya tidak rutin
akan dikapitalisasi (menambah nilai aset tetap yang
bersangkutan) dengan syarat: (1) nilainya melebihi batas
minimal kapitalisasi; (2) menambah masa manfaat atau
meningkatkan nilai ekonomis/kapasitas dari aset yang
bersangkutan. Transaksi pembayaran biaya perbaikan/renovasi
ini akan dicatat dengan jurnal sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Aset Tetap (sesuai jenisnya) xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran* xxx
*) tergantung cara pembayarannya
7. Jurnal Transaksi Aset
4). Penghapusan aset tetap
Aset tetap akan dihapuskan dengan alasan rusak berat,
hilang, atau alasan lainnya sehingga dapat dihapuskan. Jurnal
penghapusan aset tetap dibuat berdasarkan bukti berupa SK
Kepala Daerah (atau pejabat yang berwenang) tentang
penghapusan aset dan berita acara penghapusan.
Jika aset tetap yang dihapuskan tidak dapat dijual, jurnal yang
dibuat adalah sbb.:
Akumulasi Penyusutan xxx
Defisit Penghapusan Aset Tetap* xxx
Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan) xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

Jika aset tetap yang dihapuskan dapat dijual, jurnal yang dibuat
adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Estimasi Perubahan SAL xxx
Pendapatan Lain-Lain (PAD)-LRA xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca dan LO)


Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan xxx
Akumulasi Penyusutanxxx
Defisit Penjualan Aset Tetap xxx
Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan) xxx

Jurnal penyetoran hasil penjualan aset ke Kada:


RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

c. Jurnal Transaksi Aset Lainnya


1) Jurnal untuk mencatat perolehan aset tak berwujud sama
seperti jurnal peroleh aset tetap, yaitu:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja Modal xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Aset Tak Berwujud xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
Aset tak berwujud tidak disusutkan, namun langsung dihapuskan
jika sudah tidak memberikan manfaat lagi, dengan jurnal:
Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)
Kerugian/Defisit Penghapusan Aset Lainnya xxx
Aset Tak Berwujud xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

2) Jurnal untuk mencatat reklasifikasi aset tetap yang tidak


dapat digunakan lagi ke aset lainnya adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)
Akumulasi Penyusutan xxx
Aset Lainnya * xxx
Aset Tetap (sesuai jenis aset yang dihapuskan) xxx
Selanjutnya, bila aset lainnya yang berupa aset tetap tersebut
dihapuskan akan dijurnal sbb.:
(1) Jika aset yang dihapuskan tsb tidak dapat dijual, jurnal
yang dibuat adalah sbb.:
Kerugian Penghapusan Aset Lainnya xxx
Aset Lainnya xxx
7. Jurnal Transaksi Aset

(2) Jika aset yang dihapuskan tsb dapat dijual, jurnal yang dibuat
adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Estimasi Perubahan SAL xxx
Pendapatan Lain-Lain (PAD)-LRA* xxx
*) hasil penjualan aset yang dihapuskan

Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)


Kas di Bendahara Penerimaan/Bendahara Pengeluran xxx
Defisit Penjualan Aset Lainnya* xxx
Aset Lainnya xxx

Jurnal penyetoran hasil penjualan aset ke Kada:


RK-PPKD xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran/Penerimaan xxx
8. Jurnal Transaksi Kewajiban

Kewajiban (utang) yang mungkin muncul di neraca SKPD


adalah kewajiban jangka pendek, antara lain adalah utang
belanja, utang PPH/PPN. Berikut ini akan diuraikan contoh
transaksi kewajiban di SKPD.
a. Jurnal pengakuan utang belanja umumnya dibuat melalui
jurnal penyesuaian akhir tahun, yaitu untuk mengakui belanja
barang atau jasa yang sudah diterima/dinikmati pemda/SKPD
namun belum dibayar hingga akhir tahun. Jurnal yang dibuat
adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (LO dan Neraca)
Beban. xxx
Utang Beban/Belanja xxx
8. Jurnal Transaksi Kewajiban

Selanjutnya, jika utang tsb dibayar pada tahun anggaran


berikut, jurnal yang dibuat adalah:
Subsistem Akuntansi Pelaksanaan Anggaran (LRA)
Belanja xxx
Estimasi Perubahan SAL xxx

Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)


Utang Beban/Belanja xxx
RK-PPKD atau Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
8. Jurnal Transaksi Kewajiban

b. Jurnal yang terkait dengan pemotongan PPh/PPN dari pembayaran


belanja yang dibayar oleh bendahara pengeluaran (dengan
menggunakan UP/TU).
Jurnal yang dibuat pada saat memotong/memungut PPh/PPN adalah
sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)

Kas di Bendahara Pengeluaran xxx


Utang PPh.. xxx
Utang PPN xxx
Jurnal penyetoran uang PPh/PPN ke Kas Negara, berdasarkan bukti
berupa SSP (Surat Setoran Pajak) adalah sbb.:
Subsistem Akuntansi Keuangan (Neraca)

Utang PPh.. xxx


Utang PPN xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran xxx
9. Jurnal Ekuitas

Akun Ekuitas yang dilaporkan di neraca mencerminkan hak


residual pemda/SKPD.
Jurnal yang terkait dengan akun ekuitas umumnya dilakukan
pada saat membuat jurnal penutup pada akhir tahun, yaitu
untuk menutup akun Pendapatan-LO dan Beban.
Jurnal untuk menutup akun-akun Pendapatan-LO dan Beban
terlebih dahulu akan ditutup ke akun Surplus/Defisit-LO, sbb.:
Pendapatan-LO xxx
Surplus/Defisit-LO*xxx
Beban xxx
*Jika jumlah total beban lebih besar dari total pendapatan,
maka selisihnya merupakan defisit yang dicatat ke akun
Surplus/Defisit-LO di debit.
9. Jurnal Ekuitas

SKPD pada umumnya akan melaporkan defisit karena mereka


lebih bersifat cost center. Akun surplus/defisit non-
operasional dan pos luar biasa juga pada akhirnya akan
ditutup ke akun Ekuitas.

Melanjutkan jurnal di atas, selanjutnya akun Surplus/Defisit-


LO dan RK-PPKD akan ditutup ke akun Ekuitas, dengan jurnal
sbb.:
RK-PPKD xxx
Surplus/Defisit-LO xxx
Ekuitas xxx
*Jurnal pada Modul di ralat dengan jurnal di atas
TERIMA KASIH

LANJUT KE ILUSTRASI AKUNTANSI SKPD