Anda di halaman 1dari 57

Strategi Pelaksanaan

Program HIV &


IMS dalam
Reproduksi Pelayanan
Terpadu di Puskesmas
Kesehatan
Latar Belakang
DETERMINAN KEMATIAN IBU

Ekonomi Gender
Geograf
Budaya
Pendidika
4 Terlalu
n Terlambat
(muda, tua, Merujuk
sering,
dekat

Gizi
BUMI KOMPLIKAS Terlambat MATI
L I Sampai
PTM (IMS,
HIV,TBC,
Malaria) Terlambat
Pertolonga
Penyakit Tenag Manajeria
n Adekuat
Lain l
a
( DM,
Jantung Saran Obat
dll) a
Latar Belakang

Dampak IMS terhadap Masalah kesehatan Ibu dan


Bayi:
- ibu: infertilitas, hamil ektopik, infeksi pelvis, kanker cerviks
- bayi: lahir mati, prematur, infeksi neonatus dan kongenital.

30 % bumil dengan sifilis akan melahirkan bayi dalam


keadaan meninggal dan 30 % lainnya lahir dengan
sifilis kongenital, umumnya 50 % meninggal (WHO).

Sebagian besar (90%) infeksi HIV pada bayi dikarenakan tertular dari
ibunya selama hamil, bersalin dan menyusui.

4
PENGETAHUAN, SIKAP
DAN PERILAKU TENTANG
HIV DAN AIDS
SUMBER INFORMASI KESEHATAN REPRODUKSI
YANG DISUKAI REMAJA
Remaja Pria
Lain/ tdk ada/tdk terjwb 14,7
10,5 Remaja Wanita
2
Pemuka agama
,7
0,5
4
Petugas kesehatan
3,9
39,3
22
Guru 25,7
4,7
Kerabat 5,2
3,4
Saudara
8
8
Ayah
,5
2,4
11,8
Ibu
38,3
35,4
Teman
22,1
PERILAKU BERPACARAN
REMAJA YANG SETUJU TERHADAP
HUBUNGAN SEKSUAL SEBELUM MENIKAH
PENGALAMAN SEKSUAL
Gambaran Estimasi ODHA di Indonesia
Tahun 2012
Estimasi Jumlah ODHA 591.823

Sebagian besar epidemi HIV di Indonesia adalah epidemi terkonsentrasi


pidemi di Papua dan Papua Barat adalah low-level general population epidemics
prevalensi HIV di populasi umum sebesar 2.3%
22
(STBP populasi umum di Papua, Kemenkes, 2013)
JUMLAH ORANG YANG DITES & POSITIF HIV
SAMPAI DENGAN MARET 2015
1.200.000 8,0%
1.080.000 1.095.148
7,2%
7,0%
1.000.000
884.905
6,0%

800.000
5,0%

600.000 579.185 4,0%


3,6%

3 3,0%
400.000 ,0%
2,4% 2,7%
300.577 279853 2,0%

200.000
1,0%

21.591 21.031 21.511 29.037 32.711


7.212
- 0,0%
2010 2011 2012 2013 2014 *2015

Tes HIV HIV+ Postive Rate


Jumlah Kasus HIV-AIDS yang Dilaporkan per tahun
2005 - Maret 2015

Kumulatif Pengidap HIV = 167.350 32.711

Kumulatif Penderita AIDS = 66.835


29.037

21.591 21.511
21.031

10.362 9.793
9.649 10.163
8.015
7.195 7.179 7.212
6.048 6.403
5.494
5.153 4.728 5.314
3.692

859 595

s.d. 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015*

Jumlah Kasus HIV Jumlah Kasus AIDS


Gelombang Epidemi HIV Di Indonesia

Gelombang 3

Gelombang 2

Gelombang 1
SITUASI HIV-AIDS DI SULAWESI
TENGAH
SITUASI HIV DAN AIDS DI SULAWESI
TENGAH
Sulawesi Tengah Penderita HIV dan AIDS ditemukan
pertama kali thn 2002 sebanyak 3 kasus HIV dan AIDS 1
kasus.
Mudahnya arus transportasi sehingga mudahnya
Penjajah Sex Komersial (PSK) berpindah dari satu tempat
ketempat lain.
Meningkatnya pekerja sex komersial terselubung
Pengetahuan yang Komprehensif masih rendah
Layanan Program HIV-AIDS & IMS Masih sangat sedikit
yang berjalan
Sampai dengan Desember tahun 2014 jumlah pengidap
infeksi HIV 544 Kasus,AIDS sebanyak 322 Kasus dan 131
orang telah meninggal.
Bulan Januari Juni 2015, jumlah kasus HIV 72 kasus,
AIDS 40 kasus, dan 15 orang meninggal
KASUS HIV AIDS DI PROVINSI
SULAWESI TENGAH
TAHUN 2002 S/D 2014
Kasus AIDS Di Sulawesi Tengah
Menurut Kabupaten/Kota 2002 sd 2014
Kasus HIV Di Sulawesi Tengah
Menurut Kabupaten/Kota 2002 sd Tahun 2014
Kasus AIDS Di Sulawesi Tengah
Menurut Golongan Umur Tahun 2014
Persentase Kasus AIDS Di
Sulawesi Tengah Menurut
Jenis Kelamin Tahun 2014

65,6 % 34,4 %
Capaian Program IMS Jan sd Desember 2014
2000 1867 1804

1500
1207 1167
1000

500 298 298


139 135
Laki
0
660 637 437 433 Perempuan
Jumlah
Kasus IMS Januari s/d Desember
2014
500 Jumlah Kasus Jumla
450 437 h
400 Kasus
350
300
250
200 149
150 115
100 64
50 19 17 23 36
0 4 0 3 7
INFORMASI DASAR IMS &
HIV-AIDS

PENGENALAN HIV-AIDS & IMS

Materi Kampanye Aku Bangga Aku Tahu


Pusat Promosi Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI

23
Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi yang salah satu


penularannya melalui
hubungan seksual
Beberapa IMS juga dapat

ditularkan dari ibu yang


menderita ditularkan ke janin
atau bayinya serta melalui
alat tembus kulit (darah)

Layanan HIV-IMS Komprehensive


28
Berkesinambungan
Perilaku beresiko yang dapat
mempermudah penularan IMS?
Berhubungan seks yang
tidak aman dengan
penderita IMS (tanpa
menggunakan kondom)
Mempunyai pasangan
seks lebih dari satu
Melakukan hubungan
seks secara anal,
karena hubungan ini
mudah menimbulkan
luka.

Layanan HIV-IMS Komprehensive


30
Berkesinambungan
LAPAN SINDROM KLINIS IMS YAN
SERING DIJUMPAI
1. Duh Tubuh Uretra
2. Ulkus Genitalis
3. Bubo Inguinalis
4. Pembengkakan Skro
5. Duh Tubuh Vagina
6. Nyeri Perut Bagian Ba
7. Konjungtivitis Neonatorum
8. Vegetasi pada Genitalia
Hubungan IMS & HIV
AIDS
MELEMAHKAN TUBUH

IMS & HIV


MEMPERCEPAT
IMS HIV

PERILAKU SEKSUAL BERISIKO


36
Berkesinambungan
Apakah HIV itu?
HIV (Human Immuno-defciency Virus):
adalah virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan
AIDS.

HIV menyerang limfosit yang disebut sel T-4


atau sel T-penolong (T-helper), atau
disebut juga sel CD-4.

HIV tergolong kelompok retrovirus yang


memiliki kemampuan untuk mengkopi-cetak
HIV terdapat di

darah

cairan sperma
cairan vagina

air susu ibu Layanan HIV-IMS Komprehensive


37
Berkesinambungan
Penularan HIV (1/2)

Hubungan Seks tidak aman


Heteroseksual
Homoseksual
Darah
Tranfusi darah
Jarum suntik yang
tercemar
Ibu ke bayi
Kehamilan
Melahirkan
Menyusui

Layanan HIV-IMS Komprehensive


38
Berkesinambungan
Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah-
31
Nov. 2013
APAKAH AIDS ITU?
Pada saat sistem kekebalan tubuh telah
begitu parah rusaknya oleh HIV, sehingga
berbagai penyakit telah menyerang tubuh
tanpa ada sistem kekebalan yang
melawannya, ini berarti orang yang
terinfeksi HIV tersebut, sekarang telah
masuk ke kondisi AIDS.

AIDS singkatan dari Acquired Immuno


Defciency Syndrome = kumpulan gejala
yang diakibatkan hilang atau berkurangnya
kekebalan tubuh
5/3/17 32
Perjalanan Penyakit
Dari Infeksi HIV Menjadi AIDS
Sejak masuknya HIV, seseorang dapat menularkan HIV sepanjang
hidupnya
Gejala AIDS
- Radang paru
- Radang sal cerna
Masuk - Kanker kulit
HIV - Radang krn jamur
- TB
Masa
Nampak sehat/
Jendela
tanpa gejala
==== ====== ================ ===== ========= ====
3 bln 5-10 tahun 2 th Meninggal
- demam
- selera makan
turun
- diare
- BB turun
drastis
Layanan HIV-IMS Komprehensive 40
Berkesinambungan
Masa Jendela
(Window Period)

Masa dimana virus masuk dalam tubuh sampai


engan terbentuknya antibodi
Antara 4-12 minggu
Bila diperiksa pada masa tersebut, anti HIV nya
egatif karena antibodi belum terbentuk, namun
udah dapat menularkan pada orang lain

Layanan HIV-IMS Komprehensive


41
Berkesinambungan
Integrasi PPIA Dalam Pelayanan
KIA
Kebijakan PPIA(SE MENTERI
KESEHATAN NO.GK/MENKES/001/I/2013)

1. Melaksanakan pelayanan pencegahan penularan


HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) untuk diintegrasikan
pada layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
Keluarga Berencana (KB) dan konseling remaja di
setiap jenjang pelayanan kesehatan dengan
ekspansi secara bertahap dan dapat melibatkan
peran swasta serta LSM.
2. PPIA dalam pelayanan KIA merupakan bagian dari
Program Nasional Pengendalian HIV-AIDS dan IMS.
3. Setiap perempuan yang datang ke layanan KIA-KB
dan remaja harus mendapat informasi mengenai
PPIA.
4. Di daerah epidemi HIV meluas dan terkonsentrasi,
tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan wajib
menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil secara
inklusif pada pemeriksaan laboratorium rutin lainnya
saat pemeriksaan antenatal atau menjelang persalinan.
5. Di daerah epidemi HIV rendah, penawaran tes HIV oleh
tenaga kesehatan diprioritaskan pada ibu hamil
dengan IMS dan TB secara inklusif pada pemeriksaan
laboratorium rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal
atau menjelang persalinan.
6. Untuk daerah yang belum mempunyai tenaga kesehatan
yang mampu / berwenang memberikan pelayanan PPIA
dapat dilakukan dengan cara :
a. Merujuk ibu hamil ke fasilitas pelayanan HIV yang
memadai
b. Pelimpahan wewenang (task shifting) kepada tenaga
kesehatan lain yang terlatih. Penetapan daerah yang
memerlukan task shifting petugas dilakukan oleh
Kepala Dinas Kesehatan setempat.
7. Setiap ibu hamil yang positif HIV wajib diberi obat
ARV dan mendapatkan pelayanan perawatan,
dukungan dan pengobatan lebih lanjut (PDP).
8. Kepala Dinas Kesehatan merencanakan
ketersediaan logistik (obat dan pemeriksaan tes
HIV) berkoordinasi dengan Ditjen P2PL, Kemenkes.
9. Pelaksanaan pertolongan persalinan baik secara per
vaginam atau per abdominam harus
memperhatikan indikasi obstetrik ibu dan bayinya
serta harus menerapkan kewaspadaan standar.
10.Sesuai dengan kebijakan program bahwa makanan
terbaik untuk bayi adalah pemberian ASI secara
ekslusif selama 0-6 bulan, maka ibu dengan HIV
perlu mendapat konseling laktasi dengan baik sejak
perawatan antenatal pertama. Namun apabila ibu
memilih lain (pengganti ASI) maka, ibu, pasangan,
dan keluarganya perlu mendapat konseling
makanan bayi yang memenuhi persyaratan teknis.
Tujuan PPIA

IBU HAMIL A BAYI &


KEHAMILAN M
PERSALINAN ANAK
A
H MENYUSUI BEBAS
N HIV & IMS
Perempuan Mencegah infeksi baru HIV
Usia Mencegah kehamilan
Reproduksi yang tidak di
rencanakan
Perempuan
mencegah
HIV PIA
Perempuan

Kegiatan HIV Hamil


Komprehensif bayi terinfeksi
PPIA
HIV

DUKUNGAN
5 BEKAL KESPRO REMAJA
1. Perkembangan fsik, kejiwaan dan
kematangan seksual remaja, agar remaja
memahami serta mengatasi berbagai
keadaan yang membingung-kannya, misal
informasi tentang haid dan mimpi basah, ala
reproduksi
. Proses reproduksi yang bertanggung jawab.
Bagaimana menyalurkan dan mengendalika
naluri seksual yang mulai tumbuh pada
remaja melalui kegiatanbermanfaat.
Pergaulan sehat antara remaja laki-laki dan
perempuan, agar remaja waspada dan
berperilaku reproduksi sehat dalam bergaul
dengan lawan jenisnya.
Persiapan pra nikah, untuk calon pengantin
supaya siap mantal dan fsik
Kehamilan dan persalinan, serta cara
encegahannya, sebagai persiapan remaja dal
memasuki kehidupan berkeluarga di masa dep
PELAYANAN TERKAIT HIV UNTUK
KESEHATAN PEREMPUAN Pemberian
terapi ARV -
link dgn layanan
PDP
Pemberian Pemberian IMD,
terapi ARV terapi ARV manajemen
Jika sudah Konseling : laktasi
menikah: pasangan, Konseling :
Informasi - Konseling : persalinan, pasangan,
pasangan, KB, menyusui
tentang menyusui, KB
Pemeriksaan Informasi Pemeriksaan
HIV-AIDS Pemeriksaan
rutin CD4 dan tentang HIV- rutin CD4 dan
dan IMS- AIDS dan IMS rutin CD4 dan
VL -IVA VL VL
IVA
Penawaran Pemberian obat Penawaran Pemberian obat Pemberian obat
tes HIV IO rutin tes HIV IO IO

1 2 3 4 5

WUS WUS HIV + Ibu hamil Ibu hamil HIV + Ibu HIV +
post partum
PELAYANAN TERKAIT HIV UNTUK
KESEHATAN BAYI DAN ANAK

Pemberian Pemberian terapi


proflaksis ARV ARV - link dgn
dan kotrimoksasol Pemberian terapi layanan PDP
ASI eksklusif 6 bln ARV - link dgn Pemberian Pemberian terapi
Imunisasi dasar layanan PDP makanan ARV - link dgn
lengkap ASI eksklusif 6 bln tambahan layanan PDP
Early infant Imunisasi dasar Imunisasi dasar Pengungkapan
diagnosis (umur 6 lengkap lengkap status HIV
mgg) Pemeriksaan rutin Pemeriksaan rutin Pemeriksaan rutin
Atau tes antibodi CD4 dan VL CD4 dan VL CD4 dan VL
Pemberian obat IO Pemberian obat IO Pemberian obat IO
HIV (umur 18 bln)

1 2 3 4

Bayi Bayi HIV + Balita HIV + Anak HIV +


ISU TERKINI
STRATEGIC USE OF
ARV - SUFA
STRATEGIC USE OF ARV-
SUFA
Obati ARV tanpa Pertahank
melihat CD4/stad
Temukan HIV klinis an tetap
ARV
pasangan ODHA Ibu Hamil HIV Peningkatan
koordinasi
ibu hamil (ODHA Hamil) Peran aktif ODHA
pasien IMS ODHA dan keluarga
pasien TB
bayi/anak < 5 Strategi
pasien Hepatitis komunikasi
th
Populasi Kunci : Dukungan ODHA
ODHA - TB Kartu Pasien
WPS, LSL, TG,
ODHA - beregister
Penasun, LBT, nasional diisi
WBP Hepatitis lengkap
Orang yg ODHA Ikhtisar
tinggal di pasangan Perawatan diisi
daerah epidemi lengkap
meluas
negatif
(Serodiscordant
)
ODHA Populasi
3jk
Rasional Penggunaan
Bukti ilmiah ARTtingkat global
menunjukkan bahwa ODHA yang
mendapat ART sangat kecil
kemungkinannya untuk menularkan
HIV dibanding mereka yang tidak
diobati (hasil uji HPTN 052).
Jika viral load dapat ditekan dan tidak
ada IMS, mereka yang mendapat ART
hampir tidak menularkan HIV.
ART tidak hanya menguntungkan
Tujuan Akselerasi
cakupan ART
Mengurangi morbiditas dan
mortalitas pada ODHA dan
Memaksimalkan dampak
pengobatan
Strategi T dan
O P Pencegahan
melalui LKB dari
ARV.
T Temukan ODHA
O Berikan Terapi ARV segera
setelah memenuhi syarat
P Pertahankan kepatuhan ODHA
dalam mengakses layanan dan
anan Komprehensif Berkesina
(LKB)
Layanan Komprehensip Berkesinambun
Ko-infeksi TB-HIV di
indonesia

53
Double Trouble = TB + HIV

HIV HIV+TB TB

54
Meningkatkan Infeksi
kerentanan opoturnistik
terhadap M.TB terbanyak pada
ODHA
Meningkatkan Penyebab
progresifitas TB kematian
laten menjadi TB terbanyak pada
aktif ODHA
Meningkatkan Mempercepat
MDR AIDS timbulnya AIDS
pada penderita
HIV
5/3/17
Kebijakan TB-HIV (dalam
Permenkes 21)
Penawaran Tes HIV
pada seluruh pasien
TB tanpa memandang
faktor risiko HIV
(Pasal 22, 23, 24:
Pemeriksaan
Diagnosis HIV)

Pemberian ARV pada


pasien ko-infeksi TB-
HIV tanpa melihat nilai
CD4 (Pasal 34 :
Pengobatan dan
Perawatan)
Strategi Percepatan
Menurunkan beban TB pada ODHA
Penerapan Strategi DOTS di seluruh RS
Rujukan ARV
Akses tes cepat dengan GeneXpert di RS
Rujukan ARV yang juga merupakan Rujukan TB
Resitan Obat.
Akses pemeriksaan Lab untuk deteksi TB
MDR/XDR pada ODHA
Ekspansi PP INH ke RS Rujukan ARV
Penguatan PPI TB di layanan HIV
Penguatan Pencatatan dan Pelaporan TB-HIV,
termasuk PP INH
Jejaring pelaporan TB-HIV melalui SITT dan
SIHA
PERMASALAH
AN
1. Cakupan Terapi ARV masih Rendah
2. ODHA yang di Rujuk Ke LSM untuk
menerima Dukungan pengobatan dan
perawatan masih sangat rendah
3. Target layanan diklinik IMS belum tercapai