Anda di halaman 1dari 25

Mendudukkan

Tawakkal, Iklas &


Kaidah Kausalitas
dalam Kehidupan

Munaqosyah, 12 Januari 201


KAIDAH KAUSALITAS
As-Sababiyyah (Kaidah Kausalitas) adalah upaya untuk
mengaitkan sebab dengan akibatnya.
As-Sababiyyah merupakan landasan dalam menjalankan
berbagai aktivitas (qidah amaliyyah) dan meraih
berbagai tujuan. Dengan memenuhi tuntutan kaidah ini,
suatu aktivitas dapat terlaksana, bagaimanapun
keadaannya; baik mudah ataupun sulit. Dengan memenuhi
tuntutan kaidah ini pula, tujuan suatu aktivitas akan dapat
diraih, bagaimanapun keadannya; baik dekat ataupun jauh.
Contoh: Petani, Panglima Pasukan, Orang sakit, Pedadang
Musafir, Pelajar, Aktivis Partai Politik
KAIDAH KAUSALITAS
As-Sababiyyah adalah upaya untuk mengaitkan sebab-
sebab fisik dengan akibat-akibatnya yang juga bersifat fisik
dalam rangka mencapai target dan tujuan tertentu.
Upaya tersebut dilakukan dengan cara mengetahui seluruh
sebab yang mampu mengantarkan pada tercapainya tujuan
serta mengaitkannya dengan seluruh akibatnya secara
benar.
Terwujudnya aktivitas dan tujuan tersebut pada akhirnya,
secara pasti,
bergantung pada sejumlah tolok-ukur fisik (maqyis
mdiyyah) yang kita miliki; tentu saja selama tidak ada
pengaruh gaib yang bersumber dari lingkaran qadh.
KAIDAH KAUSALITAS
Fatalisme atau sikap pasrah secara total (attawkuliyyah)
menunjukkan tidak adanya upaya untuk mengaitkan sebab
dengan akibat. Sebaliknya, fatalisme menunjukkan pada
adanya sikap merasa puas dengan hanya menjalani
sebagian sebab dan lebih banyak menyandarkan diri pada
perkara gaib yang tidak mungkin diketahui.

Fatalisme akan tampak dalam dua perkara.


Pertama, tidak adanya upaya untuk menjalani seluruh
sebab yang bisa mengantarkan pada tujuan.
Kedua, adanya upaya meremehkan keterkaitan antara
sebab dengan akibat atau adanya sikap menyandarkan diri
TAWAKKAL
Generasi pertama ummat Islam benar-benar memahami
makna tawakkal kepada Allah SWT.
Mereka bertawakkal kepada Allah SWT dengan tawakkal
yang sebenar-benarnya.
Oleh karenanya, mereka senantiasa sanggup menyelesaikan
berbagai kesulitan yang dihadapi.
Berlainan dengan kaum muslimin dewasa ini.
Mereka sudah tidak memahami makna tawakkal yang
sebenarnya.
Tawakkal hanya menjadi perkataan kosong tanpa ada
kenyataannya dalam kehidupan mereka.
MENGAPA?
Kaum muslimin sekarang ini sudah kerasukan faham
materialisme, menderita penyakit sempit pandangan, serta
pendek fikiran.
Hal itu disebabkan pemahaman makna tawakkal yang salah.
Pemahaman tawakkal yang salah dari kaum muslimin
sekarang ini terbagi menjadi 2 kelompok besar:
1. Tawakkal berarti terikat dengan hukum sebab-musabab.
2. Tawakkal berarti melepaskan dari hukum sebab-musabab.
1.TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-MUSABAB
Tawakkal yang dimaksudkan adalah Hadits yang berbunyi:
Iqilha watawakkal
Ikatlah untamu dan bertawakkallah (Sunan Tirmidzi:
2636).
Hadits ini malah digunakan untuk memperlemah makna
tawakkal dalam jiwa.
Akibatnya himmah dan azimah kaum muslimin menjadi
turun.
Pandangan kehidupannya menjadi sempit, akan merasa
lemah, kemampuannya terbatas dan tidak mampu
melakukan apapun di luar kemampuannya.
2. MELEPASKAN HUKUM SEBAB-
MUSABAB
Tawakkal yang difahami adalah identik dengan pasrah
secara total kepada kehendak Allah SWT.
Sebagaimana Hadits lengkap tentang orang arab baduwi
yang membawa seekor unta:
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW sambil
meninggalkan unta tunggangannya, seraya berkata: aku
lepas untaku dan aku bertawakkal, maka Nabipun berkata:
ikatlah untamu dan bertawakkalah.
Sebagaimana orang-orang yang hidup di jaman Umar bin
Khattab, yang kerjanya hanya berdiam di masjid.
Umar pernah menanyakan tentang kehidupan mereka.
Maka merekapun menjawab:
Kami ini orang-orang yang bertawakkal (mutawakkiluun).
Umarpun berkata:
Bukan, kalian ini tak lain adalah orang-orang mutawaakiluun
(orang-orang yang berpangku tangan tanpa berusaha).
Lantas Umarpun berkata:
Janganlah kalian seorangpun berpangku tangan tidak mencari
rizki, kemudian berdoa kepada Allah: Ya Allah, berilah aku
rezki. Sebab kalian sudah mengetahui bahwa langit itu tidak
pernah menurunkan hujan emas ataupun perak.
1. TERIKAT DENGAN HUKUM SEBAB-
MUSABAB
IKATLAH UNTAMU, DAN
BERTAWAKKALAH
BERIKHTIAR DAHULU, BARU BERTAWAKKAL

MENGUASAI DIKUASAI
MANUSIA MANUSIA

KEYAKINAN PADA DI BAWAH


KEKUATAN ALLAH PENGETAHUAN AQAL

TIDAK TERIKAT DENGAN HUKUM


DIGUNAKAN SEBAB-MUSABAB
KONSEKUENSINYA

MANUSIA

TIDAK TERDORONG UNTUK MENCAPAI


CITA-CITA YANG TINGGI

PANDANGANNYA HANYA TERBATAS


PADA KEKUATAN MANUSIAWI BELAKA

DIA HANYA MENGANDALKAN PADA


KEKUATAN MANUSIAWINYA YANG TERBATAS

DIA AKAN LEMAH UNTUK MELAKUKAN


PEKERJAAN YANG BIASA

APALAGI UNTUK MELAKUKAN


PEKERJAAN YANG LUAR BIASA?
2. MELEPASKAN HUKUM SEBAB-MUSABAB
SAYA LEPAS UNTAKU, DAN SAYA
BERTAWAKKAL
BERTAWAKKAL DAHULU, DAN TIDAK MAU
BERIKHTIAR

MENGUASAI DIKUASAI
MANUSIA MANUSIA

KEYAKINAN PADA
PENGETAHUAN AQAL
KEKUATAN ALLAH

SIKAP PASRAH TIDAK DIGUNAKAN


KONSEKUENSINYA

MANUSIA

TIDAK MAU TERIKAT DENGAN


SUNNATULLAH

TIDAK MAU BERUSAHA DAN


BERIKHTIAR

HANYA MENGANDALKAN SIKAP PASRAH


PADA KEHENDAK ALLAH SWT

HIDUPNYA SEPERTI BULU YANG


DITERBANGKAN ANGIN

TIDAK MEMILIKI SEMANGAT DAN


CITA-CITA DALAM HIDUPNYA
3. TAWAKKAL SEBAGAI PENYANGGA UTAMA
KEHIDUPAN
TAWAKKAL SEBELUM, SELAMA DAN SESUDAH
IKHTIAR

KEYAKINAN PADA
KEKUATAN ALLAH

MENGUASA YAKIN BAHWA ALLAH ADALAH


I MANUSIA SEBAGAI BACKINGNYA

MEMUNCULKAN ENERGI YANG


SANGAT BESAR DAN DAHSYAT
PENYANGGA

MENEMBUS DIMENSI
HUKUM SEBAB-MUSABAB
DIKUASAI
MANUSIA
MEMUNCULKAN KONSEKUENSI
TERHADAP AQAL MANUSIA
KONSEKUENSI TERHADAP AQAL MANUSIA

JIKA MANUSIA
MENGINGINKAN ALLAH
SEBAGAI
BACKINGNYA

1. MISI HIDUPNYA HARUS SELARAS


DENGAN MISI KEHIDUPAN YANG TELAH
DITETAPKAN ALLAH SWT

2. DALAM MENJALANI MISI HIDUPNYA,


MANUSIA HARUS SENANTIASA TERIKAT
PADA SYARIAT ALLAH SWT

3. DALAM MELANGKAHKAN KAKINYA ,


MANUSIA HARUS SENANTIASA
MEMPERHITUNGKAN SUNNATULLAH
KONSEKUENSINYA

MANUSIA

SENANTIASA MEMILIKI HIMMAH DAN AZIMAH


YANG TINGGI DAN MULIA (QS. 3: 110)

BERANI MENEMBUS BATAS


DIMENSI MANUSIAWI

SENANTIASA BERSEMANGAT,
PEMBERANI DAN TIDAK MUDAH PUTUS
ASA

HIDUPNYA SENANTIASA TERIKAT


DENGAN SYARIAT ALLAH SWT

HIDUPNYA SENANTIASA TERIKAT


DENGAN SUNNATULLAH
DALIL-DALILNYA:




Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila
disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya
kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)

(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah


orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja. (QS.
At-Taghabun: 13)
HADITS NABI SAW:

Ada 70 ribu orang dari ummatku yang masuk surga tanpa


hisab, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah
mencuri-curi, yang tidak melepas burung sebelum
bepergiannya (mempercayai sial atau tidaknya
perjalanannya), yang tidak membakar dirinya dengan besi
panas (dengan kepercayaan bahwa hal itu tidak akan
menghilangkan penyakitnya) dan orang-orang yang
bertawakkal kepada Rabb-nya (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)

Seandainya saja engkau bertawakkal kepada Allah dengan


sebenar-benarnya tawakkal, pasti Allah akan memberimu
rizki seperti halnya burung diberi rizki. Pagi hari mereka pergi
dengan perut kosong, namun sore hari kembali dengan perut
penuh.
(HR. Ahmad dan Tirmidzi dari Ibnu Umar)
MAKNA DALIL:

DALIL TERSEBUT TIDAK MEMBERI KESEMPATAN SEDIKITPUN BAGI


SEORANG MUSLIM UNTUK RAGU-RAGU DALAM BERTAWAKKAL

WALAUPUN HANYA SEKEJAP, DALAM SETIAP


URUSAN DAN DALAM SEGALA PEKERJAAN

WAJIB SELALU BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH


SECARA MUTLAK TANPA EMBEL-EMBEL APAPUN

UNTUK HADITS: IQILHA WATAWAKKAL

ADALAH KHUSUS BAGI MEREKA YANG MEMAHAMI TAWAKKAL


ADALAH MELEPASKAN HUKUM SEBAB-MUSABAB
CONTOH:



Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
agar dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik
membenci. (QS. Alt-Taubah: 33)





Perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (kekufuran) sehingga agama itu
hanya untuk Allah semata (QS. Al-Baqarah: 193)

ALLAH MENGHENDAKI AGAR AGAMA ISLAM DAPAT


DIMENANGKAN ATAS SEMUA AGAMA DI DUNIA INI

HARUS MENJADI MISI HIDUP


UMMAT ISLAM

TAWAKKAL
TAWAKKAL

YAKIN SEPENUHNYA BAHWA ALLAH


AKAN MENJADI BACKINGNYA

WALAUPUN FAKTANYA SANGAT


BERAT DAN HAMPIR TIDAK MUNGKIN

TETAP OPTIMIS, BERSEMANGAT DAN


PANTANG MENYERAH

BUAH
TAWAKKAL

TERIKAT DENGAN HUKUM SYARA


TERIKAT DENGAN
HUKUM SYARA

BAGAIMANA TUNTUNAN DARI RASUL SAW


UNTUK MEWUJUDKAN CITA-CITA TERSEBUT

MENGIKUTI TAHAPAN-TAHAPAN DAKWAH


SEBAIMANA TELAH DICONTOHKAN RASUL SAW

SALAH SATU TAHAPAN AWALNYA ADALAH MARHALAH


TATSQIF WA TAKWIN (PEMBINAAN DAN
PENGKADERAN)

BAGAIMANA MENGHASILKAN KADER YANG


BENAR-BENAR HANDAL?

HARUS TERIKAT DENGAN SUNNATULLAH


TERIKAT DENGAN
SUNNATULLAH

BAGAIMANA METODE PEMBENTUKAN SEORANG


PENGEMBAN DAKWAH YANG HANDAL

BAGAIMANA METODE PEMBANGKITAN, PENYADARAN


DAN PEMBENTUKAN PEMAHAMAN YANG BAIK

BAGAIMANA METODE PEMBENTUKAN SKILL


(KETRAMPILAN) BERDAKWAH YANG BAIK

MUNGKIN MUNGKIN
BERHASIL GAGAL

TIDAK MUDAH
BERSYUKUR PUTUS ASA
TETAP
BERTAWAKKA
L
PENUTUP
ALLAH SWT BERFIRMAN:





(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang
kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:
"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka", Maka
perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka
menjawab: "Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah
adalah sebaik-baik Pelindung".
(QS. Ali Imran: 173)