Anda di halaman 1dari 20

DR.

Arif Zulkifli

1
Dasar Konstitusional
1. Alinea ke 4 Pembukaan UUD 1945 :
..melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia ..
2. Pasal 28H ayat 1
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir
dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup baik dan
sehak serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
UU Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
Pasal 21
(2) Perlindungan dan pelestarian sumber air sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui: d. pengaturan
prasarana dan sarana sanitasi;
penjelasan: Huruf d; Yang dimaksud dengan sanitasi meliputi
prasarana dan sarana air limbah dan persampahan.
Pasal 23
(3) Pengendalian pencemaran air sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran
air pada sumber air dan prasarana sumber daya air.
Penjelasan Ayat (3) Untuk mencegah masuknya pencemaran air
pada sumber air misalnya dilakukan dengan cara tidak membuang
sampah di sumber air, dan mengolah air limbah sebelum dialirkan
ke sumber air.
UU RI NO 18 TAHUN 2008
TENTANG PENGELOLAAN
Pasal 2
SAMPAH
(1) Sampah yang dikelola berdasarkan Undang-
Undang ini terdiri atas: c. sampah spesifik.
(4) Sampah spesifik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf c meliputi:
a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;
b.sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya
dan beracun;
Pasal 29
(1) Setiap orang dilarang:
c. mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan
beracun;

5
UU No 32 Tahun 2009 Tentang
Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Pasal 58
(1) Setiap orang yang memasukkan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, memanfaatkan, membuang,
mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib
melakukan pengelolaan B3.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan
B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diaturdalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 59
1. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan
pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya.
2. Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1)
telah kedaluwarsa, pengelolaannya mengikuti ketentuan
pengelolaan limbah B3.
3. Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri
pengelolaan limbah B3, pengelolaannya diserahkan kepada
pihak lain.
4. Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
5. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan
persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan
kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
6. Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 diatur
dalam Peraturan Pemerintah
Pasal 60
Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah
dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.

Pasal 61
1)Dumping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60
hanya dapat dilakukan dengan izin dari Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
2)Dumping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya
dapat dilakukan di lokasi yang telah ditentukan.
3)Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan
persyaratan dumping limbah atau bahan diatur dalam
Peraturan Pemerintah.
Pasal 63
(1) Dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup,
Pemerintah bertugas dan Berwenang
k. menetapkan dan melaksanakan
kebijakan mengenai B3, limbah,
serta limbah B3;

9
Pasal 69 ayat (1) Setiap orang
dilarang:
a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;
b. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan
perundang-undangan ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
c. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia ke media
lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
e. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
f. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan
hidup;
UU Nomor 3 tahun 2014
Tentang Perindustrian
Pasal 30 ayat (2) Pemanfaatan sumber daya alam
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan oleh:
a.Perusahaan Industri pada tahap perancangan produk,
perancangan proses produksi, tahap produksi, optimalisasi
sisa produk, dan pengelolaan limbah; dan
b.Perusahaan Kawasan Industri pada tahap perancangan,
pembangunan, dan pengelolaan Kawasan Industri,
termasuk pengelolaan limbah.
Peraturan pemerintah
PP NO 82 TAHUN 2001tentang Pengelolaan Kualitas Air
Dan Pengendalian Pencemaran Air
Pasal 37
Setiap penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan
yang membuang air limbah ke air atau sumber
air wajib mencegah dan menanggulangi terjadinya
pencemaran air.
Pasal 40 ayat 1
Setiap usaha dan/atau kegiatan yang membuang
air limbah ke air atau sumber air wajib mendapat
izin tertulis dari Bupati/Walikota
PERSYARATAN IZIN PEMBUANGAN AIR
LIMBAH (Pasal 38 Peraturan Pemerintah
nomor 82 tahun 2001)
kewajiban untuk mengolah limbah;
persyaratan mutu dan kuantitas air limbah yang boleh dibuang ke
media lingkungan;
persyaratan cara pembuangan air limbah;
persyaratan untuk mengadakan sarana dan prosedur penanggulangan
keadaan darurat;
persyaratan untuk melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah;
persyaratan lain yang ditentukan oleh hasil pemeriksaan analisis
mengenai dampak lingkungan
larangan pembuangan secara sekaligus dalam satu saat atau
melepaskan dadakan;
larangan untuk melakukan pengenceran air limbah dan upaya
penaatan batas kadar yang dipersyaratkan;
kewajiban melakukan suatu swapantau dan kewajiban untuk
melaporkan hasil swapantau.
PP 101 Tahun 2014 tentang
pengelolaan limbah B3 secara
khusus dan detail menjelaskan
Limbah B3, pengelolaannya, kondisi
darurat, dan pemulihannya
Keputusan menteri
Kepmen LH no. KEP-42/MENLH/11/1994 ttg pedoman
umum pelaksanaan audit lingkungan
KepmenLH no.KEP-13/MENLH/3/1995 ttg Baku mutu
emisi sumber tidak bergerak
Keputusan MENLH Nomor KEP-51/MENLH/10/1995
tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri
Keputusan menteri (2)
KepmenLH no. KEP-30/MENLH/10/1999 ttg panduan
penyusunan dokumen pengelolaan lingkungan
KepmenLH no.2/2000 ttg penilaian dokumen AMDAL
KepmenLH no.17/2001 ttg jenis usaha dan/kegiatan yang
wajib AMDAL
KepmenLH no.86/2002 ttg pedoman pelaksanaan upaya
pengelolaan LH dan upaya pemantauan LH
Keputusan menteri (3)
Keputusan MENLH Nomor 37 Tahun 2003 tentang Metoda
Analisis Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air
Permukaan
Keputusan MENLH Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada
Sumber Air
Keputusan MENLH Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman
Kajian Pembuangan Air Limbah Ke Air atau Sumber Air
Keputusan menteri (4)
Keputusan MENLH Nomor 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air
Limbah Domestik
Keputusan MENLH Nomor 114 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pengkajian Untuk Menetapkan Kelas Air
Keputusan MENLH Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman
Penentuan Status Mutu Air
Keputusan MENLH Nomor 142 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas
Keputusan MENLH Nomor 111 Tahun 2003 tentang Pedoman
Mengenai Syarat dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah Ke Air atau Sumber Air
Keputusan MENLH Nomor 122 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Keputusan MENLH Nomor KEP-51/MENLH/10/1995 tentang Baku
Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri
Keputusan MENLH Nomor 202 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Usaha dan /atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas
atau Tembaga
Peraturan Menteri (5)
Peraturan MENLH Nomor 04 Tahun 2006 tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Pertambangan Bijih Timah
Peraturan MENLH Nomor 09 Tahun 2006 tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel
Peraturan MENLH Nomor 01 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengkajian Teknis Untuk Menetapkan Kelas Air
Peraturan MENLH Nomor 34 Tahun 2009 tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Pertambangan Bijih
Bauksit
Peraturan MENLH Nomor 01 Tahun 2010 tentang Tatalaksana
Pengendalian Pencemaran Air
Peraturan MENLH Nomor 03 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air
Limbah Bagi Kawasan Industri
Berbagai Jenis Pencemaran di Seluruh
Dunia