Anda di halaman 1dari 40

GAGAL HATI

(DISFUNGSI LIVER)
DEFINISI
Gagal hati akut (fulminan) adalah suatu sindrom klinik
yang disebabkan oleh nekrosis sel hati yang luas, diikuti
kegagalan fungsi hati secara mendadak, yang ditandai
dengan ensefalopati yang timbul dalam waktu kurang dari
8 minggu setelah gejala pertama penyakit hati
Gagal hati kronis adalah suatu sindrom klinik yang
disebabkan kehilangan fungsi hati secara bertahap dalam
jangka waktu yang lama (bulanan-tahunan)
Sirosis Hati adalah suatu penyakit dimana sirkulasi mikro,

anatomi pembuluh darah besar dan seluruh sitem arsitektur hati

mengalami perubahan menjadi tidak teratur dan terjadi

penambahan jaringan ikat (fibrosis) disekitar parenkim hati yang

mengalami regenerasi.

Ensefalopati hepatik adalah suatu kompleks gangguan

susunan saraf pusat yang dijumpai pada pasien yang mengidap

gagal hati. Kelainan ini ditandai oleh gangguan memori dan

perubahan kepribadian (Corwin, 2001).


Diabetes militus : penyakit kelainan metabolik yang
dikarakteristikkan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan oleh
kelainan sekresi insulin, kerja insulin maupun keduanya.
Hiperlipidemia : suatu kondisi kadar lipid darah yang
melebihi kadar normalnya.
PATOFISIOLOGI
Beberapa penyebab penyakit hati antara lain:
Infeksi virus hepatitis dapat ditularkan melalui selaput
mukosa, hubungan seksual atau darah (parenteral)
Zat-zat toksik, seperti alkohol atau obat-obat tertentu.
Genetik atau keturunan, seperti hemochromatosis.
Gangguan imunologis, seperti hepatitis autoimun, yang
ditimbulkan karena adanya perlawanan sistem pertahanan tubuh
terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Pada hepatitis autoimun,
terjadi perlawanan terhadap sel-sel hati yang berakibat timbulnya
peradangan kronis.
Kanker, seperti Hepatocellular Carcinoma, dapat disebabkan oleh
senyawa karsinogenik antara lain aflatoksin, polivinil klorida
(bahan pembuat plastik), virus, dan lain-lain. Hepatitis B dan C
maupun sirosis hati juga dapat berkembang menjadi kanker hati.
SIROSIS HATI
Struktur permanen hati berubah karena kerusakan
sel yang berkepanjangan (penyakit hati kronis lebih
dari sama dengan 6 bulan.
Sebagian besar gangguan hati kronis berkembang
menjadi sirosis yang ditandai dengan terbentuknya
jaringan ikat dan jaringan parut serta nodul.
Proses perkembangan tersebut ireversibel dan
dapat menyebabkan gagal hati
PENJELASAN BAGAN :

amonia diproduksi oleh berbagai organ.


Amonia merupakan hasil produksi koloni bakteri usus dengan
aktivitas enzim urease, terutama bakteri gram negatif anaerob,
Enterobacteriaceae, Proteus dan Clostridium.
Enzim urease bakteri akan memecah urea menjadi amonia dan
karbondioksida.
Amonia juga dihasilkan oleh usus halus dan usus besar melalui
glutaminase usus yang memetabolisme glutamin (sumber energi
usus) menjadi glutamat dan amonia.
Pada individu sehat, amonia juga diproduksi oleh otot dan ginjal.
Secara fisiologis, amonia akan dimetabolisme menjadi urea dan
glutamin di hati.
Otot dan ginjal juga akan mendetoksifikasi amonia jika terjadi

gagal hati dimana otot rangka memegang peranan utama dalam

metabolisme amonia melalui pemecahan amonia menjadi

glutamin via glutamin sintetase.

Ginjal berperan dalam produksi dan eksresi amonia, terutama

dipengaruhi oleh keseimbangan asam-basa tubuh.

Ginjal memproduksi amonia melalui enzim glutaminase yang

merubah glutamin menjadi glutamat, bikarbonat dan amonia.

Amonia yang berasal dari ginjal dikeluarkan melalui urin dalam

bentuk ion amonium (NH4+) dan urea ataupun diserap kembali

ke dalam tubuh yang dipengaruhi oleh pH tubuh.


Dalam kondisi asidosis, ginjal akan mengeluarkan ion amonium
dan urea melalui urin, sedangkan dalam kondisi alkalosis,
penurunan laju filtrasi glomerulus dan penurunan perfusi perifer
ginjal akan menahan ion amonium dalam tubuh sehingga
menyebabkan hiperamonia.
Amonia akan masuk ke dalam hati melalui vena porta untuk
proses detoksifiaksi.
Metabolisme oleh hati dilakukan di dua tempat, yaitu sel hati
periportal yang memetabolisme amonia menjadi urea melalui
siklus Krebs-Henseleit dan sel hati yang terletak dekat vena
sentral dimana urea akan digabungkan kembali menjadi
glutamin.
Ensefalopati hepatik
PENJELASAN BAGAN :
Pada keadaan sirosis, penurunan massa hepatosit fungsional

dapat menyebabkan menurunnya detoksifikasi amonia oleh

hati ditambah adanya shunting portosistemik yang

membawa darah yang mengandung amonia masuk ke aliran

sistemik tanpa melalui hati.

Peningkatan kadar amonia dalam darah menaikkan risiko

toksisitas amonia.

Meningkatnya permebialitas sawar darah otak untuk amonia

pada pasien sirosis menyebabkan toksisitas amonia

terhadap astrosit otak yang berfungsi melakukan

metabolisme amonia melalui kerja enzim sintetase glutamin.


Disfungsi neurologis yang ditimbulkan pada EH terjadi akibat

edema serebri, dimana glutamin merupakan molekul osmotik

sehingga menyebabkan pembengkakan astrosit.

Amonia secara langsung juga merangsang stres oksidatif dan

nitrosatif pada astrosit melalui peningkatan kalsium intraselular

yang menyebabkan disfungsi mitokondria dan kegagalan produksi

energi selular melalui pembukaan pori-pori transisi mitokondria.

Amonia juga menginduksi oksidasi RNA dan aktivasi protein

kinase untuk mitogenesis yang bertanggung jawab pada

peningkatan aktivitas sitokin dan repson inflamasi sehingga

mengganggu aktivitas pensignalan intraselular.


Diabetes militus
HIPERLIPIDEMIA
PENJELASAN BAGAN :
Pada keadaan normal, gen LPL (Lipoprotein Lipase) akan memacu produksi enzim

lipoprotein lipase dan membutuhkan bantuan apo C-II sebagai kofaktornya.

Enzim lipoprotein lipase ini akan memecah lipoprotein dalam bentuk kilomikron

yang membawa molekul lemak dari usus ke dalam darah.

Ketika lipoprotein dipecah, lipoprotein akan melepaskan asam lemak yang

disimpan dalam jaringan adiposa dan digunakan untuk energi dalam otot serta

gliserol yang digunakan oleh hati untuk sintesis lemak lainnya.

Pada penderita hiperlipidemia tipe 1 terjadi defisiensi enzim lipoprotein lipase dan

apo C-II yang disebabkan karena adanya mutasi pada gen LPL.

Akibatnya, lipoprotein tidak akan terurai secara efisien dan menyebabkan

akumulasi drastis kilomikron dalam plasma, walaupun dalam keadaan puasa.

Pada dasarnya, penderita hiperlipidemia tipe 1 mengalami kegagalan memecah

kilomikron menjadi asam lemak dan gliserol, sehingga kadar kilomikron

(triasilgliserida) meningkat drastis.


MENIFESTASI KLINIK
SIROSIS HATI
1. Merasa kemampuan jasmani menurun

2. Nausea, nafsu makan menurun dan diikuti dengan penurunan

berat badan

3. Mata berwarna kuning dan buang air kecil berwarna gelap

4. Pembesaran perut dan kaki bengkak

5. Perdarahan saluran cerna bagian atas

6. Pada keadaan lanjut dapat dijumpai pasien tidak sadarkan diri

(Hepatic Enchephalopathy

7. Perasaan gatal yang hebat


HEPATIC ENCELOPATHY
PENGOBATAN
Penatalaksanaan umum adalah dengan memperbaiki
oksigenasi jaringan.
Penataksanaan khusus adalah dengan mengatasi faktor
pencetus koma hepatik, misalnya asupan protein
dikurangi atau dihentikan sementara, kemudian baru
dinaikkan secara bertahap.
Sumber protein yang diberikan pada ensefalopati hepatik
terutama merupakan asam amino rantai cabang dengan
harapan neurotransmiter asli dan palsu akan berimbang,
dan dengan ini, metabolisme amonia di otot dapat
bertambah.
Selain itu, diberikan laktulosa dengan dosis 10-30 ml,
3 kali/hari dengan harapan pH asam pada usus akan
menghambat penyerapan amonia.
Sterilisasi usus juga harus dilakukan dengan pemberian
neomisin 4 x 1-2 gram/hari per oral. Atau rifaximine
Dosis yang diberikan adalah 2 x 550 mg dengan
lama pengobatan 3-6 bulan.
LOLA merupakan garam stabil tersusun atas dua asam amino,
bekerja sebagai substrat yang berperan dalam perubahan amonia
menjadi urea dan glutamine. penggunaan LOLA 20 g/hari
secara intravena dapat memperbaiki kadar amonia dan EH
yang ada.
HIPERLIPIDEMIA
DIABETES MILITUS
PENYELESAIAN KASUS
Tn RN:
Usia : 58 tahun
Berat badan : 58 kg
Tinggi badan : 164 cm
Keluhan utama MRS: mual, muntah, gelisah
Riwayat penyakit terdahulu : DM
Riwayat pengobatan : glibenklamid 1-1-0 selama 10 tahun
Hasil lab : GDS 280 mg/dL, Bil total 4,3 mg/dL, SGOT/SGPT
79/83 mg/dL, Albumin 2.9 mg/dL, kolesterol total 295 mg/dL, TG
(normal), Cr/BUN (normal)
NORMAL HASIL DATA Keteranga
LAB PASIEN n

Gula darah <200 mg/dL 280 mg/dL Meningkat


sewaktu

Bilirubin total 0.2-0.9 4.3 mg/dL Meningkat


mg/dL

SGOT < 40 mg/dL 79 mg/dL Meningkat

SGPT <41 mg/dL 83 mg/dL Meningkat

Albumin 3.5 5,5 2.9 mg/dL Menurun


mg/dL

Kolesterol total <200 mg/dL 295 mg/dL Meningkat


Data Lab
Gula darah meningkat
Glukosa tidak dapat masuk kedalam sel sehingga terakumulasi didalam darah
akibat tidak adanya insulin atau menurunnya sensitivitas sel terhadap insulin.
Bilirubin meningkat
Bilirubin (peruraian hemoglobin) dimetabolisme oleh hati dan diekskresi
kedalam empedu sedangkan sejumlah kecil ditemukan dalam serum.
Peningkatan bilirubin terjadi jika terdapat pemecahan sel darah merah
berlebihan atau jika hati tidak dapat mensekresikan bilirubin yang dihasilkan
SGOT dan SGPT meningkat
SGOT : enzim yang terdapat dijantung, hati, otak, imfa, pankreas, dan paru
paru. Penyakit yang menyebabkan perubahan, kerusakan, atau kematian sel
pada jaringan tersebut akan mengakiatkan terlepasnya enzim ini kesirkulasi
SGPT :SGPT lebih banyak terdapat dihti dibandingkan dengan SGOT sehingga
lebih spesifik menggambarkan fungsi kati daripada SGOT.
Albumin menurun
Albumin disintesis oleh hati dan mempertahankan distribusi air
dalam tubuh (tekanan onkotik koloid). Albumin membantu transport
beberapa komponen darah seperti ion, bilirubin, hormon, enzim dan
obat.
Pada keadaan sirosis : albumin menurun karena hati mengalami
kerusakan sehingga tidak dapat mensintesis albumin.
Kolesterol total meningkat
Kenaikan kadar kolesterol dalam darah dapat terjadi karena kenaikan
sintesis atau karena penurunan degradasinya yang dapat terjadi
secara primer karena genetik atau sekunder akibat kelainan lain yang
mendasarinya.
TERIMA KASIH