Anda di halaman 1dari 27

Macam macam Pemeriksaan

Pendengaran Dewasa

Pembimbing : dr. Eka Dian Safitri, Sp.THT-KL

Disusun oleh:
M. Irfan Permana (2008730082)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2017
Audiologi
Tes Penala

Dasar Tes Berbisik


impedans
Audiometri nada elektrokokleografi
khusus Audiometri Evoked response audiometry
Objektif
OAE

Tes SISI

Tes ABLB
Khusus Tes Kelelahan
Audiometri tutur

Audiometri Bakesy
Tes Rinne
Untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran melalui tulang pada
telinga yang diperiksa.
Penala digetarkan, tangkainya diletakkan di prosesus mastoid, setelah tidak
terdengar, penala dipegang di depan telinga
Rinne positif (+) = normal atau tuli sensorineural

Rinne negatif (-) = tuli konduktif

TES PENALA
Untuk membandingnkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan.
Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala (di
verteks, dahi, pangkal hidung, di tengah-tengah gigi seri atau dagu)
Tidak ada lateralisasi = normal

Lateralisasi ke telinga sakit = tuli konduktif

Lateralisasi ke telinga yang sehat = tuli sensorineural

Tes Weber
Untuk membandingkan hantran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa
yang pendengarannya normal.
Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada prosesus mastoideus
sampai tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan
pada prosesus mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal.
Memendek = tuli sensorineural

Sama dengan pemeriksa = normal

Memanjang = tuli konduktif

Tes Schwabach
Tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, Penala
digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala
Lateralisasi ke telinga yang ditutup = normal

Bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras = tuli konduktif

Test Bing
Digunakan untuk pemeriksaan tuli anorganik (simulasi atau pura-pura tuli).

Menggunakan prinsip masking.

Apabila kedua telinga normal karena efek masking, hanya telinga kiri yang
mendengar bunyi; jadi telinga kanan tidak akan mendengr bunyi. Tetapi bila
telinga kiri tuli, telinga kanan tetap mendengar bunyi.

Tes Stenger
Pemeriksaan ini bersifat semi-kuantitaif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu
diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, dengan panjang minimal 6 meter. Pada nilai normal tes
berbisik : 5/6-6/6
Interpretasi hasil pemeriksaan :

6 meter : Normal

5 meter : Dalam batas normal

4 meter : Ketulian ringan

3 2 meter : Ketulian sedang


< 1 meter : Ketulian berat

Tes Berbisik
Untuk membuat audiogram diperlukan alat audiometer.

Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal (N) atau tuli.

Istilah :
Nada murni

Bising : narrow band, white nose

Frekuensi

Intensitas bunyi : dB HL, dB SL, dB SPL


Ambang dengar : AC, BC

Nilai nol audiometrik

Audiometri Nada Murni


Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal (N)
atau tuli. Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan
indeks Fletcher yaitu :
Ambang dengar (AD) =
AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 H + AD 4000 Hz
4
Standar yang dipakai yaitu Standar ISO dan ASA
O dB ISO = -10 dB ASA

10 dB ISO = 0 dB ASA

Derajat ketulian IS0 :


0-25 dB : normal

>25-40 dB : tuli ringan

>40-55 dB : tuli sedang

>55-70 dB : tuli sedang berat

>70-90 dB : tuli berat

>90 dB : tuli sangat berat


Untuk membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea diperlukan pemeriksaan
audiologi khusus yang terdiri dari audiometri khusus, audiometri objektif,
pemeriksaan tuli anorganik dan pemeriksaan audiometri anak.

Audiologi Khusus
Tes ini khas untuk mengetahui adanya kelainan koklea, dengan memakai fenomena
rekrutmen, yaitu keadaan koklea yang dapat mengadaptasi secara berlebihan
peninggian intensitas yang kecil, sehingga pasien dapat membedakan selisih
intensitas yang kecil (sampai 1 dB).
Cara pemeriksaan ialah dengan menentukan ambang dengar pasien terlebih dahulu,
mislanya 30 dB. Kemudian diberikan ransangannya 20 dB di atas ambang ransang,
jadi 50 dB. Setelah itu diberikan tambahan ransang 5 dB, lalu diturunkan 4 dB, lalu 3
dB, 2 dB, terakhir 1 dB. Bila pasien dapat membedakannya, berarti tes SISI positif.

Tes SISI (Short Increment


Sensitvity Index)
Cara lain ialah tiap lima detik dinaikan 1 dB sampai 20 kali. Kemudian
dihitung berapa kali pasien itu dapat membedakan perbedaan itu. Bila 20 kali
benar, berarti 100%, jadi khas. Bila yang benar sebanyak 10 kali, berarti 50%
benar. Dikatakan rekrutmen positif, bila skor 70-100%. Bila terdapat skor
antara 0-70%, berarti tidak khas. Mungkin pendengaran normal atau tuli
perseptif lain.

Tes SISI (Short Increment


Sensitvity Index)
Pada tes ABLB diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yang sama
pada ke dua telinga, sampai kedua telinga mencapai persepsi yang sama, yang
disebut balans negatif. Bila balans tercapai, terdapat rekrutmen positif.

Tes ABLB (ALTERNATE BINAURAL


LOUDNESS BALANCE)
Terjadinya kelelahan saraf oleh karena perangsangan terus menerus. Jika
telinga yang diperiksa diransang terus menerus makan terjadi kelelahan.
Tandanya ialah pasien tidak dapat mendengar dengan telinga yang diperiksa itu.
Ada 2 cara :
TTD = threshold tone decay
STAT = supra threshold adaption test

Tes Kelelahan
A. TTD

Cara Gahart ialah dengan melakukan ransangan terus-meneurs pada telinga yang diperiksa dengan
intensitas yang sesuai dengan ambang dengar, misalnya 40 dB. Bila setelah 60 detik masih dapat
mendengar, berarti tidak ada kelelahan (decay), jadi hasil tes negatif. Sebaliknya bila setelah 60 detik
terdapat kelelahan, berarti tidak mendengar, tesnya positif.
Kemudian intensitas bunyi ditambah 5 dB (jadi 45 dB), maka pasien dapat mendengar lagi. Ransangan
diteruskan dengan 45 dB dan seterusnya, dalam 60 detik dihitung berapa penambahan intensitasnya.
0 5 dB : normal
10 15 dB: ringan (tidak khas)
20 25 dB: sedang (tidak khas)
>30 dB: berat (khas ada kelelahan)

B. STAT

Nada murni pada frekuensi 500, 1000, 2000 Hz pada 110 dB SPL, diberikan terus menerus selama 60
detik dan dapat mendengar, berarti tidak ada kelelahan. Bila kurang dari 60 detik, maka ada kelelahan
(decay).
Pada tes ini dipakai kata-kata yang sudah disusun dalam silabus (suku kata).
Kata- kata ini disusun dalam daftar yang disebut Phonetically balance word
LBT (PB,LIST)
Pada tuli perseptif koklea, pasien sulit untuk membedakan bunyi S, R, N, C,
H, CH, sedangkan pada tuli retrokoklea lebih sulit lagi.
Misalnya pada tuli perseptif koklea, kata kadar didengarnya kasar ,
sedangkan kata pasar didengarnya padar.

Audiometri Tutur (Speech


Audiometry)
Macam audiometri ini otomatis dapat menilai ambang pendengaran seseorang.

Prinsip pemeriksaan ini ialah dengan nada yang terputus (interuptes sound)
dan nada yang terus menerus (continues sound).

Audiometri Bekessy
1. Audiometri Impedans
Pada pemeriksaan ini diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan
tertentu pada meatus akustikus eksterna.
Timpanometri, yaitu untuk mengetahui keadaan dalam kavum timpani.
Fungsi tuba Eustachius, untuk mengetahui tuba Eustachius terbuka atau
tertutup
Refleks stapedius. Pada telinga normal, refleks stapedius muncul pada
rangsangan 8-110 dB di atas ambang dengar.

AUDIOMETRI OBJEKTIF
Gambaran hasil timpanometri tersebut adalah:

Tipe A mengindikasikan bahwa


kondisi telinga tengah normal;
Tipe B terdapat cairan di telinga
tengah;
Tipe C terdapat gangguan fungsi
tuba eustachius;
Tipe AD terdapat gangguan
rangkaian tulang pendengaran; dan
Tipe AS terdapat kekakuan pada
tulang pendengaran (otosklerosis)
Pemeriksaan ini digunakan untuk merekam gelombang-gelombang yang khas
dari evoke electropotential cochlea.
Caranya ialah dengan elektrode jarum (needle electrode), membran timpani
ditusuk sampai promontorium, kemudian dilihat grafiknya.

Elektrokokleografi
Dikenal juga sebagai Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA),
Evoked Response Audiometri (ERA) atau Auditory Branstem Response
(ABR) yaitu suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan
fungsi N.VIII.
Caranya dengan merekam potensial listrik yang dikeluarkan sel koklea
selama menempuh perjalanan mulai telinga dalam hingga inti-inti tertentu di
batang otak.

Evoked Response Audiometry


Emisi otoakustik merupakan respons koklea yang dihasilkan oleh sel-sel
rambut luar yang dipancarkan dalam bentuk energi akustik.
Caranya memasukan sumbat telinga (probe) ke dalam liang telinga luar.
Dalam probe tersebut terdapat mikrofon dan pengeras suara (loudspeaker)
yang berfungsi memberikan stimulus suara.
Mikrofon berfungsi menangkap suara yang dihasilkan koklea setelah
pemberian stimulus. Selanjutnya respon dicatat oleh komputer

OtoAcoustic Emission / OAE


Pemeriksaan ini diperlukan untuk memeriksa sesorang yang pura-pura tuli,
misalnya untuk mengkalim asuransi, terdapat cara:
Cara stinger: memeberikan 2 nada yang bersamaan pada kedua telinga,
kemudian pada telinga yang sehat nada dijatuhkan.
Dengan audiometri nada murni secara berulang dalam 1 minggu, hasilnya
berbeda-beda.
Dengan impedans.
Dengan BERA.

Pemeriksaan Tuli Anorganik


Behavioral Observation Audiometric (BOA)
Timpanometri
Audiometri Bermain Anak (Play Audiometric)
Otoacoustic Emission (OAE)
Brainstem Evoked Respon Audiometry (BERA)

Pemeriksaan Audiometrik Anak


TERIMA KASIH