Anda di halaman 1dari 35

SCREENING DALAM

PELAYANAN KEBIDANAN

Oleh :
Roslina Yulianty, SST, M.Kes
SCREENING DALAM
PELAYANAN KEBIDANAN
1. Ibu Hamil
2. Ibu Bersalin
3. Ibu Nifas
4. Bayi Baru Lahir
5. Neonatus
6. Deteksi Kanker Serviks
1. SCREENING IBU HAMIL
Adalah penyaringan pada ibu hamil
untuk mendeteksi adanya resiko
tinggi atau masalah/penyakit yang
menyertai kehamilan, sehingga
dapat segera dilakukan tindakan
penganggulangan
masalah/penyakit yang ada.
Tujuan Screening pada ibu hamil ini
adalah mendeteksi dini ibu hamil
dengan resiko tinggi terkena gangguan
atau masalah pada kehamilannya,
sehingga jika terdapat komplikasi
adanya gangguan dapat dilakukan
penanganan secara dini
Screening pada ibu hamil dapat dilakukan dengan
Antenatal Care (ANC). ANC merupakan
perawatan atau asuhan yang diberikan kepada
ibu hamil sebelum kelahiran, yang berguna untuk
memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi
ibu hamil maupun bayinya dengan jalan
menegakkan hubungan kepercayaan dengan ibu,
mendeteksi komplikasi yang dapat mengancam
jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan
pendidikan kesehatan.
Pelayanan atau asuhan Standart Minimal atau
biasa disebut 7T yaitu :
1. Timbang (berat badan)
2. Ukur Tekanan Darah
3. Ukur Tinggi Fundus Uteri
4. Pemberian Imunisasi (tetanus toksoid)
TT lengkap
5. Pemberian Tablet Zat Besi
6. Tes terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS)
7.Temu Wicara dalam rangka persiapan tujuan
Interval Imunisasi TT Ibu Hamil

Antigen Interval (selang waktu minimal) lama Perlindungan % perlindungan

TT 1 PadaKunjungan Antenatal - -
pertama
TT 2 4 mgg setelah TT1 3 tahun * 80
TT 3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/seumur 99
hidup

Ket : * artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS (Wanita Usia Subur) tersebut
melahirkan , maka bayi yang dilahirkan akan terlindungi dari TN (Tetanus
Neonatorum)
Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet
selama kehamilan. Pemberian tablet Fe
dimulai dengan memberikan satu tablet
sehari sesegera mungkin setelah rasa mual
hilang. Tiap tablet Fe mengandung FeSO4
(zat besi 60 mg) dan asam folat 500 ug,
minimal masing masing 90 tablet. Tablet
besi sebauknya tidak diminum bersama the
atau kopi, karena akan mengganggu
penyerapan
2. SCREENING IBU BERSALIN
Persalinan adalah proses dimana bayi,
plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus
ibu. Persalinan dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup
bulan (setelah 37 minggu), bayi lahir dengan
letak belakang kepala tanpa melalui alat alat
atau pertolongan istimewa serta tidak melukai
ibu dan bayi, dan umumnya berlangsung
dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa disertai
adanya penyulit.
Screening pasa ibu bersalin dilakukan untuk
mendeteksi dini adanya penyulit/ masalah
dalam proses persalinan, sehingga dapat
dilakukan tindakan segera untuk mengatasi
penyulit/masalah tersebut Screening pada
ibu bersalin dapat dilakukan oleh Bidan
dengan memberikan asuhan persalinan
normal, tentunya dengan menggunakan alat
bantu partograf
Partograf adalah suatu grafik yang
menggambarkan kemajuan persalinan dan
merekam keadaan ibu dan janin. Partograf
bekerja secara sistem monitor dini dan
memutuskan kapan pasien harus dirujuk,
dibantu atau diselesaikan persalinannya.
Asuhan persalinan normal mengandalkan
penggunaan partograf untuk memantau
kondisi ibu dan janin serta kemajuan proses
persalinan sehingga dapat mencegah partus
lama
Screening pada manajemen aktif kala III
dilakukan dengan mengamati dan melihat
kontraksi uterus pasca persalinan. Selain itu
dengan pencegahan retensio plasenta
dengan cara mempercepat proses separasi
dan melahirkan plasenta dengan
memberikan uterotonika segera setelah bayi
lahir dan melakukan penegangan terkendali
3. SCREENING IBU NIFAS

Masa nifas (puerperium)


dimulai setelah plasenta lahir dan
berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung kira-kira 6
minggu.
3. SCREENING IBU NIFAS
TUJUAN ASUHAN MASA NIFAS
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun
psikologik
2. Melaksanakan screening yang komprehensif, mendeteksi
masalah, mengobati. Dan merujuk, jika terjadi komplikasi
pada ibu maupun bayinya
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan
kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui,
pemberian imunisasikepada bayinya dan perawaatan bayi
sehat
4. Pemberian pelayanan KB
3. SCREENING IBU NIFAS
1) Pemeriksaan perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
2) Pemeriksaan Tanda Tanda Deman, infeksi atau perdarahan

abnormal
4. SCREENING PADA BAYI BARU LAHIR

Dapat dilakukan dengan melakukan


pemeriksaan kesehatan bayi baru lahir
sehingga dapat diperoleh informasi dasar,
identifikasi masalah, dan dokumentasi
perbedaan dan reaksi individu. Pemeriksaan
BBL adalah proses yang mengalir (fleksibel)
secara komprehensif dilakukan pada 0 24
jam setelah lahir, secara sistematis, mulai dari
kepala sampai kaki (head -to-to), antisipasi
masalah berdasarkan riwayat.
SCREENING PADA BAYI BARU LAHIR
1. Penilaian APGAR untuk memastikan keadaan
umum bayi baru lahir
2. Pemeriksaan antropometri (BB,PB,dan
lingkar kepala) yang harus dicatat
3. Pemeriksaan observasi umum : bayi dalam
keadaan telanjang untuk pemeriksaan
4. Pemeriksaan status neurology umum: dapat
diamati sementara pakaian bayi : tonus
neuromuscular, derajat aktivitas, kepkaan dan
letargi
SCREENING PADA BAYI BARU LAHIR
5. Pemeriksaan refleks primitive pada bayi baru
lahir : refleks moro (terkejut) dan refleks
Menggenggam
6. Pemeriksaan warna : ikterus, pucat atau
sianosis
7. Pemeriksaan keterbatasan gerak :
menunjukkancidera bagian jaringan dalam,
misalnya fraktur klavikula atau humerus saat
persalinan
8. Pemeriksaan Kulit
SCREENING PADA NEONATUS
9. Pemeriksaan tanda lahir
10. Pemeriksaan tangan
11. Pemeriksaan Ekstremitas
12. Pemeriksaan kepala
13. Pemeriksaan mata
14. Pemeriksaan toraks
15. Pemeriksaan payudara
16. Pemeriksaan kardiovaskuler
17. Pemeriksaan abdomen
SCREENING PADA BAYI BARU LAHIR
18. Pemeriksaan tali pusat
19. Pemeriksaan genitalia
20. Pemeriksaan Panggul
Screening pendengaran pada semua bayi baru lahir
dilakukan menggunaka pemeriksaan fisiologis :
1. Bayi lahir di RS : pada saat masih dirawat
2. Bayi lahir difasilitas pelayanan persalinan lain:
sebelum usia satu bulan
3. Bayi dalam perawatan ICU: sebelum keluar dari
perawatan
3. SCREENING PADA NEONATUS

Neonatus adalah usia bayi 0 hari sampai 28


hari. Screening pada neonatus dapat dilakukan
dengan pemeriksaan fisik dari kepala sampai
kaki meliputi :
1. Kesadaran Neonatus
2. Warna Kulit
3. Gerakan bayi
4. Tangisan bayi
5. Kulit
SCREENING PADA NEONATUS
6. Pemeriksaan Kepala
7. Mata
8. Telinga
9. Hidung
10.Mulut
11. Leher
12. Dada/thoraks
13. Antropometri
14. Perut Abdomen
SCREENING PADA NEONATUS
15. Alat kelamin genitalia
16. Anus
17. Ekstremitas
18. Punggung
19. Pemeriksaan Refleks pada neonatus
Pencegahan dan Deteksi Dini kanker Serviks

Pengertian Kanker Serviks


Kanker serviks adalah suatu proses
keganasan yang terjadi pada
serviks/mulut rahim, di mana pada
keadaan ini terdapat sekelompok
jaringan yang tumbuh secara terus-
menerus dan tidak terbatas, tidak
terkoordinasi dan tidak berguna bagi
tubuh, sehingga jaringan disekitarnya
tidak dapat berfungsi dengan baik.
Faktor Penyebab
Umur pertama kali kawin yang relatif muda
(dibawah 20 tahun).
Jumlah kelahiran per-vagina yang cukup banyak,
dimana melahirkan anak lebih dari tiga kali akan
mempertinggi resiko.
Higiene atau kebersihan alat genital yang kurang
baik, sehingga memudahkan terjadinya servisitis
yang dipercaya erat kaitannya dengan terjadinya
kanker serviks.
Spermatosoa terutama yang mempunyai kandungan
protein tinggi akan merubah susunan biokimia sel
epitel yang siap tumbuh menjadi kanker.
Hubungan seksual yang terlalu sering, terlebih
dengan pasangan yang berbeda-beda akan
meninggikan resiko.
Gejala
Perdarahan vagina yang abnormal, terutama
diantara 2 menstruasi, setelah melakukan
hubungan seksual dan setelah menopause
Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih
banyak)
Keputihan yang menetap, dengan cairan yang
encer, berwarna pink, coklat, mengandung
darah atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan,
kelelahan
Nyeri panggul, punggung atau tungkai
Dari vagina keluar air kencing atau tinja
Patah tulang (fraktur)
Kanker leher rahim juga bisa dicegah, berikut
adalah upaya pencegahan Kanker leher rahim:

Jauhi Rokok
Pencucian Vagina
Nutrisi
Hubungan Seks yang aman
Tidak Berganti-Ganti Pasangan
Sunat pada laki-laki
Vaksinasi
Metode deteksi dini kanker serviks
a. Inspeksi visual dengan asam asetat
(IVA)
Pemeriksaan IVA diperkenalkan Hinselman
1925. Organisasi Kesehatan Dunia WHO
meneliti IVA di India, Muangthai, dan
Zimbabwe. Ternyata efektivitasnya tidak
lebih rendah daripada tes Pap. Di Indonesia
IVA sedang dikembangkan dengan melatih
tenaga kesehatan, termasuk bidan.
Banyaknya kasus kanker serviks di
Indonesia semakin diperparah disebabkan
lebih dari 70% kasus yang datang ke
rumah sakit berada pada stadium lanjut.
Metode skrining IVA mempunyai kelebihan, diantaranya..
Mudah, praktis dan sangat mampu laksana.
Butuh bahan dan alat yang sederhana dan murah
Sensivitas dan spesifikasitas cukup tinggi
Dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bukan dokter
ginekologi, dapat dilakukan oleh bidan di setiap tempat
pemeriksaan kesehatan ibu atau dilakukan oleh semua tenaga
medis terlatih
Alat-alat yang dibutuhkan dan Teknik pemeriksaan
sederhana sangat sederhana.
Metode skrining IVA sesuai untuk pusat pelayanan sederhana
Syarat ikut IVA TEST :
Sudah pernah melakukan hubungan seksual
Tidak sedang datang bulan/haid
Tidak sedang hamil
24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan
seksual
Pelaksanaan skrining IVA
Untuk melaksanakan skrining dengan metode IVA,
dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut:
Ruangan tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi
litotomi.
Meja/tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada
pada posisi litotomi.
Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
Spekulum vagina
Asam asetat (3-5%)
Swab-lidi berkapas
Sarung tangan
Teknik IVA
Dengan spekulum melihat serviks yang
dipulas dengan asam asetat 3-5%. Pada
lesi prakanker akan menampilkan
warna bercak putih yang disebut aceto
white epithelum Dengan tampilnya
porsio dan bercak putih dapat
disimpul- kan bahwa tes IVA positif,
sebagai tindak lanjut dapat dilakukan
biopsi.
Kategori pemeriksaan IVA
Ada beberapa kategori yang dapat dipergunakan, salah satu kategori
yang dapat dipergunakan adalah:
1.IVA negative = Serviks normal.
2.IVA radang = Serviks dengan radang (servisitis), atau kelainan
jinak lainnya (polip serviks).
3.IVA positif = ditemukan bercak putih (aceto white epithelium).
Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan skrining kanker
serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada
diagnosis Serviks-pra kanker (dispalsia ringan-sedang-berat atau
kanker serviks in situ).
4.IVA- Kanker serviks Pada tahap ini pun, untuk upaya penurunan
temuan sta-dium
Terima Kasih
be agood midwife..