Anda di halaman 1dari 49

Pendekatan

Penyelesaian Problema
Terapi Obat (DRP)

Rahmayanti Fitriah, S. Farm., M.P.H., Apt


Terapi dengan menggunakan obat bertujuan
untuk meningkatkan kualitas atau
mempertahankan hidup pasien. Hal ini biasanya
dilakukan dengan cara: mengobati penyakit
pasien, mengurangi atau meniadakan gejala
sakit, menghentikan atau memperlambat proses
penyakit serta mencegah penyakit atau
gejalanya.

Namun ada hal-hal yang tidak dapat


disangkal dalam pemberian obat yaitu
kemungkinan terjadinya hasil pengobatan tidak
seperti yang diharapkan atau adanya problema
terapi obat (PTO) = Drug Related Proble( DRP).
Drug Related Problem (DRP) dapat
didefinisikan sebagai kejadian tidak di
inginkan yang menimpa pasien yang
berhubungan dengan terapi obat dan
secara nyata maupun potensial
berpengaruh terhadap perkembangan
pasien yang diinginkan.
Pharmaceutical Care

Suatu tanggung jawab profesi


dari apoteker dalam
mengoptimalkan terapi
dengan cara mencegah dan
memecahkan masalah terkait
obat (Drug Related Problem)
KEGIATAN
PHARMACEUTICAL CARE
Pelayanan farmasi klinik yang dilakukan meliputi:
1. Pengkajian dan pelayanan Resep;
2. Penelusuran riwayat penggunaan obat;
3. Rekonsiliasi Obat;
4. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
5. Konseling;
6. Visite;
7. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
9. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
10. Edukasi Pasien.
PENGKAJIAN &PELAYANAN
RESEP
Pelayanan Resep dimulai dari
penerimaan, pemeriksaan ketersediaan,
pengkajian Resep, penyiapan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai termasuk peracikan
Obat, pemeriksaan, penyerahan disertai
pemberian informasi.
PENELUSURAN RIWAYAT
PENGGUNAAN OBAT

Penelusuran riwayat penggunaan obat


merupakan proses untuk mendapatkan
informasi mengenai seluruh
Obat/Sediaan Farmasi lain yang pernah
dan sedang digunakan, riwayat
pengobatan dapat diperoleh dari
wawancara atau data rekam
medik/pencatatan penggunaan Obat
pasien.
REKONSILIASI OBAT

Rekonsiliasi Obat merupakan proses


membandingkan instruksi pengobatan
dengan obat yang telah didapat pasien.
Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah
terjadinya kesalahan Obat (medication
error)
PELAYANAN INFORMASI OBAT

Pelayanan Informasi Obat


merupakan kegiatan pelayanan
yang dilakukanoleh Apoteker
untuk memberikan informasi secara
akurat, dan aktual, tidak bias dan
terkini kepada dokter, apoteker,
perawat, profesi kesehatan lainnya
dan pasien atau keluarga pasien
TUJUAN PIO

a. Menyediakan informasi mengenai obat


kepada pasien dan tenaga kesehatan lain
b. Menyediakan informasi untuk membuat
kebijakan yang berhubungan dengan
Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai, terutama
bagi Tim Farmasi dan Terapi
c. Menunjang penggunaan obat yang
rasional.
KEGIATAN PIO
a. Menjawab pertanyaan;
b. Menerbitkan buletin, leaflet,
poster, newsletter
c. Melakukan pendidikan
berkelanjutan bagi tenaga
kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya; dan
d. Melakukan penelitian.
KONSELING
Konseling Obat adalah suatu
aktivitas pemberian nasihat atau
saran terkait terapi obat dari
Apoteker (konselor) kepada pasien
dan/atau keluarganya.
Pemberian konseling yang efektif
memerlukan kepercayaan pasien
dan/atau keluarga terhadap
Apoteker.
TUJUAN KONSELING
Konseling obat ditujukan untuk:
a. Meningkatkan hubungan kepercayaan antara
Apoteker dan pasien;
b. Menunjukkan perhatian serta kepedulian
terhadap pasien;
c. Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa
dengan obat;
d. Membantu pasien untuk mengatur dan
menyesuaikan penggunaan obat dengan
penyakitnya;
e. Meningkatkan kepatuhan pasien dalam
menjalani pengobatan
KEGIATAN KONSELING
a. Membuka komunikasi antara Apoteker
dengan pasien;
b. Mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien
tentang
penggunaan obat melalui Three Prime Questions;
c. Menggali informasi lebih lanjut dengan
memberi kesempatan kepada pasien untuk
mengeksplorasi masalah penggunaan obat;
d. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk
menyelesaikan masalah pengunaan Obat;
e. Memverifikasi akhir dalam rangka mengecek
pemahaman pasien; dan
f. Dokumentasi.
Prinsip Dasar Konseling
Terjadinya kemitraan atau korelasi
antara pasien dengan apoteker sehingga
terjadi perubahan perilaku pasien secara
sukarela
Cara Pendekatan
Cara ini untuk meningkatkan
kepatuhan pasien yaitu :
1. Berkomunikasi dengan pasien
2. Informasi yang tepat
3. Strategi untuk mencegah
ketidakpatuhan
Pendekatan Apoteker dalam pelayanan
VISITE
Visite merupakan kegiatan kunjungan
yang dilakukan Apoteker secara mandiri
atau bersama tim tenaga kesehatan,
untuk mengamati kondisi klinis pasien
secara langsung, dan mengkaji masalah
terkait obat, memantau terapi obat dan
reaksi obat yang tidak dikehendaki,
meningkatkan terapi obat yang rasional,
dan menyajikan informasi obat kepada
dokter, pasien serta profesional
kesehatan lainnya.
PEMANTAUAN TERAPI
OBAT
Pemantauan Terapi Obat (PTO)
merupakan suatu proses yang
mencakup kegiatan untuk
memastikan terapi Obat yang
aman, efektif dan rasional bagi
pasien.
Tujuan PTO adalah meningkatkan
efektivitas terapi dan
meminimalkan risiko Reaksi Obat
yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
TAHAPAN PTO
Tahapan PTO:
a. Pengumpulan data pasien;
b. Identifikasi masalah terkait obat;
c. Rekomendasi penyelesaian
masalah terkait obat;
d. Pemantauan; dan
e. Tindak lanjut.
MONITORING EFEK SAMPING OBAT

Monitoring Efek Samping Obat (MESO)


merupakan kegiatan pemantauan setiap
respon terhadap obat yang tidak dikehendaki,
yang terjadi pada dosis lazim yang digunakan
pada manusia untuk tujuan profilaksis,
diagnosa dan terapi.

Efek Samping Obat adalah reaksi obat


yang tidak dikehendaki yang terkait
dengan kerja farmakologi.
TUJUAN MESO
MESO bertujuan:
a. Menemukan Efek Samping Obat (ESO)
sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal, frekuensinya jarang;
b. Menentukan frekuensi dan insidensi ESO
yang sudah dikenal dan yang baru saja
ditemukan;
c. Meminimalkan risiko kejadian reaksi obat
yang tidak dikehendaki; dan
d. Mencegah terulangnya kejadian reaksi
obat yang tidak dikehendaki.
EVALUASI PENGGUNAAN
OBAT

Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)


merupakan program evaluasi
penggunaan obat yang terstruktur
dan berkesinambungan secara
kualitatif dan kuantitatif
EDUKASI PASIEN
1. Memberitahukan kepada pasien
agar ia tidak merasa merendah
diri dengan keadaan penyakitnya

2. Memberitahu mengenai terapi


yang digunakan pasien.Terlebih
jika pasien menggunakan obat
tersebut untuk jangka waktu
yang lama
PEMANTAUAN TERAPI
OBAT
Suatu proses yang meliputi semua fungsi yang perlu
untuk menjamin terapi obat kepada pasien yang aman,
efektif/ rasional dan ekonomis.
Fungsinya
- Jaminan ketepatan dosis ( jumlah, frekuensi, rute dan
bentuk sediaan obat )
-Pengamatan obat pilihan dokter terhadap kondisi
diagnosisnya
- Pengamatan pemakaian obat
- Pengenalan respon terapi obat saat itu cukup atau
kurang
- Penilaian adverse effect ( reaksi yang merugikan )
potensial yang terjadi
- Alternatif atau perubahan yang direkomendasikan
dalam terapi apabila situasi tertentu mengharuskan
Pemantauan Terapi Obat Mencakup
Pengkajian Dari :
1. Ketepatan terapi dari regimen obat pasien
2. Ketepatan penggunaan obat ( dosis, indikasi,
interaksi, antagonis, duplikasi, kontraindikasi, dll
)
3. Ketepatan rute, jadwal dan metode pemberian
dosis obat
4. Ketepatan informasi yang diberikan pada pasien
5. Tingkatkepatuhan pasien dengan regimen obat
yang tertulis
6. Interaksi obat-obat, obat-makanan, obat-uji
labiratorium dan obat-penyakit
7. Data laboratorium klinik dan farmakokinetika
untuk mengevaluasi efek samping,
toksisitas/efek merugikan
Pendekatan Umum Dalam Pemantauan
Terapi Obat
1. Identifikasi Obat yang ditulis Dokter
2. Identifikasi masalah / diagnosis yang menyebabkan
dokter menulis obat dengan mengkaji catatanperawat /
kunjungan pasien :
- Evaluasi Data Lab
- Evaluasi makanan dan minuman yang dikonsumsi
- Pertimbangkan biaya terapi dibanding masalah dan
kondisi pasien
3. Menguraikan suatu daftar parameter objektif dan
subjektif untuk mengevaluasi hasil
4. Memastikan pasien mengkonsumsi obat sesuai intruksi
5. Mengkomunikasikan dengan dokter jika respon terapi
yang diinginkan tidak terjadi dan teliti proses terapi
6. Jika dalam proses Pemantauan Terapi Obat tidak
mencapai sasaran yang diinginkan / merugikan,
gunakan alternatif lain dan komunikasikan dengan
dokter sebelum dilaksanakan.
7. Kaji proses ini sebagai suatu rangkaian kesatuan yang
menuntun ketekunan setiap hari
Proses Pemantauan Terapi Obat
Mencakup semua fungsi, diperlukan untuk memastikan
terapi obat secara tepat, aman, mujarab dan ekonomis
pada pasien meliputi :
1) Mengkaji obat yang diresepkan dokter untuk
kondisi yang didiagnosis ( ketepatan terapi dan
regimen obat pasien )
2) Mengkaji pemberian obat ( dosis, indikasi, interaksi,
antagonis, duplikasi, kontraindikasi, dll )
3) Memelihara dosis yang benar ( mengkaji ketepatan
rute, jadwal dan metode pemberian dosis obat )
4) Mengkaji ketepatan informasi yang diberikan pada
pasien
5) Mengetahui ada atau tidaknya respon terapi yang
memadai
6) Mengkaji respon kemungkinan terjadi reaksi obat
yang merugikan( interaksi obat )
Cont
7) Mengkaji data laboratorium klinik dan
farmakokinetika untuk mengevaluasi terapi
obat serta mengantisipasi efek samping,
toksisitas atau efek merugikan
8) Penyalahgunaan Obat
9) Salah Penggunaan Obat
10)Merekomendasikan perubahan alternatif
dalam terapi jika situasi tertentu
memerlukan
11)Tanda-tanda fisik dan gejala klinik yang
relevan dengan terapi obat pasien
Penyusunan Prioritas Seleksi
Pasien
1. Pemilihan / seleksi Pasien Berdasarkan Keadaan Penyakit
a. Pasien yang masuk rumah sakit dengan Multiple
Deasease
b. Pasien dengan masalah memerlukan bahan obat yang
bersifat racun ( toksis), misal : Pasien kanker yang
berisiko tinggi keracunan obat
c. Pasien Kelainan Organ tubuh
Contoh : Jantung, kelainan ginjal, kelainan paru-paru atau
kelainan hati karena kemungkinan pasien tersebut akan
mengalami metabolisme dan ekskresi yang abnorma
d. Pasien berusia lanjut ( Lansia ) atau sangat muda ( balita
) yang mempunyai resiko pengobatan yang meningkat
2. Seleksi Pasien Berdasarkan Terapi Obat
a. Pasien dengan masalah kompleks dan ditangani
dengan polifarmasi
b. Pasien yang menerima obat dengan resiko tinggi reaksi
toksisitas
Langkah-Langkah Dalam
Melaksanakan Pemantauan Terapi
Obat
1. Orientasi Masalah Dari Data Pasien
2. Pengkajian Ketepatan Seleksi Terapi Obat
Dan Mengidentifikasi Data Terapi
3. Mengembangkan Sasaran Terapi Tertentu
4. Menyusun/ Mendesain Rencana Pemantauan
Terapi Obat
5. Identifikasi Masalah dan atau kemungkinan
untuk Reaksi Obat Merugikan ( ROM)
6. Pengembangan Alternatif atau Pemecahan
Masalah ( Proses Pengambilan Keputusan )
7. Pendekatan Untuk Intervensi dan Tindak
Lanjut
8. Penyampaian Terapi dan Rekomendasi
1. Pengumpulan Data Base Pasien
Pengumpulan data pasien dan mengatur data
ke dalam format masalah.
- Menyusun Data Base Pasien
- Data Base Pasien adalah dasar dari proses
pemantauan terdiri dari :
a) Data Demografi Pasien
b) Keluhan Utama
c) Sejarah Medik
d) Obat yang digunakan pada waktu yang lalu
e) Sejarah kesakitan sekarang
f) Pemeriksaan fisik
g) Sejarah Sosial
h) Data Laboratorium
2. Pengkajian Ketepatan seleksi
Terapi Obat Dan Mengidentifikasi
Data Terapi
Kepastian bahwa regimen dosis sudah tepat
untuk berat badan, umur, status
metabolisme ( status ginjal/hati, dll) /
penyakit pasien ---- Penerapan prinsip dosis
obat berdasarkan farmakokinetika
Mengkaji bentuk sediaan, frekuensi
pemberian untuk ketepatan
Mengkaji Interaksi obat-obat, obat-makanan,
obat-uji laboratorium, obat-penyakit
3. Mengidentifikasi sasaran Terapi
Beberapa tahap dalam mengidentifikasi sasaran farmakoterapi sbb
:
1. Identifikasi karakteristik penyakit yang mempengaruhi sasaran
farmakoterapi
2. Identifikasi sasaran perawatan kesehatan dari profesional
kesehatan lainnya yang mempengaruhi sasaran farmakoterapi
3. Identifikasi berbagai faktor non penyakit yang mempengaruhi
sasaran farmakoterapi
4. Identifikasi masalah terapi obat yang mempengaruhi sasaran
farmakoterapi
5. Padukan pengaruh karakteristik penyakit, sasaran dari
profesional kesehatan lain (dokter, perawat), masalah terapi
obat dan berbagai faktor non penyakit untuk mengidentifikasi
sasaran farmakoterapi
6. Sasaran terapi yang tidak jelas dapat dikaji dari catatan dokter,
rencana terapi dan rencana perawatan. Juga diagnosa pasien
secara tidak langsungmenunjukkan sasaran terapi
4. Mendesain Rencana
Pemantauan Terapi Obat
1. Menetapkan Parameter
Farmakoterapi
2. Penetapan Titik Akhir Farmakoterapi
3. Penetapan Frekuensi Pemantauan
1. Menetapkan Parameter Farmakoterapi
adalah menetapkan parameter untuk
mengkaji kemajuan titik akhir farmakoterapi.
Farmasis harus membuat rencana pemantauan
untuk tiap obat yangditerima pasien yang
berguna untuk penetapan keefektipan suatu
obat dan penetapan terjadinya masalah yang
berkaitan dengan obat/efek merugikan dari
terapi. Beberapa pertimbangan menyeleksi
parameter farmakoterapi :
a. Karakteristik Obat
Mencakup kemungkinan pengukuran dari
konsentrasi obat dalam serum dan penetapan
hubungan konsentrasi efeksi/toksisitas
b. Efekasi terapi dan efek merugikan dari
regimen
Seleksi parameter kualitatif dan kuantitatif
yang berkaitan untuk efek obat dan toksisitas
tiap obat
c. Perubahan fisiologi pasien
Perubahan fisiologi pasien dapat mengubah
farmakokinetika obat
d. Kepraktisan, ketersediaan dan biaya
pemantauan
Seleksi parameter yang digunakan
berdasarkan kepraktisan, ketersediaan dan
biaya yang efisien sehingga dapat terlaksana
dengan baik
2. Penetapan Titik Akhir Farmakoterapi
Suatu titik akhir menandakan pencapaian
sasaran terapi atau penyelesaian dari proses
terapi yang terukur dan dapat diamati. Beberapa
pertimbangan menentukan titik akhir.
- Faktor Khusus Pasien
Misalnya : Perbedaan pengobatan Hipertensi
sistolik pada pasien dewasa dan anak ( tekanan
darah berbeda)
- Karakteristik Obat
- Efekasi dan Toksisitas
Jika kondisi pasien memberikan kesan
kemungkinan terjadi toksisitas maka titik akhir
disesuaikan
c. Penetapan Frekuensi Pemantauan
Langkah akhir adalah menetapkan frekuensi pemantauan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penetapan frekuensi
pemantauan :
- Kebutuhan Khusus Pasien
Misal : Pasien Hipertensi dengan TD : 200/120 mm Hg
memerlukan pemantauan lebih sering dibanding pasien
hipertensi dengan Td : 145/95 mm Hg
- Rincian dari terapi obat
Pasien memerlukan pemantauan yang lebih sering pada awal
rangkaian terapi (atau sebaliknya, kemudian dalam terapi )
- Biaya dan Kepraktisan Pemantauan
Pertimbangkan biaya seefisien mungkin dan kepraktisan dalam
melaksanakan pemantauan
- Keinginan Profesional Kesehatan Lainnya
Koordinasikan dengan pasien dan dokter rencana pemantauan
farmakoterapi ini karena dapat saja ditolak karena
pertimbangan lain sehingga farmasis dapat meminimalkan
pemantauan yang tidak perlu
5. Identifikasi Masalah
Memformulasi Daftar Masalah
- Mencari daftar masalah dari hal-hal
pengobatandan tidak terfokus pada daftar
diagnostik
- Kumpulkan data subjektif dan objektif pasien
terus menerus dari berbagai sumber
( komunikasikan dengan pasien, perawat, dokter)
- Kaji data tersebut untuk kecenderungan
seberapa efektif terapi obat bekerja dan apakah
ada tanda/gejala toksisitas terjadi
- - Masalah berkaitandengan obat ( misal interaksi,
pemberian dosis yang tepat untuk tingkat fungsi
ginjal, ketidakbenaran obat yang diseleksi)
timbul pada waktu setelah pengobatan dimulai
6. Pengembangan Alternatif /
Solusi Masalah
Jika masalah ditetapkan, farmasis harus
memformulasi solusi masalah
Solusi diformulasi dengan pemikiran dan
penelitian yang cermat sebelum
direkomendasikan ke Tim Medis
Rekomendasi dapat sangat sederhana
atau rumit yang memberikan perubahan
signifikan dalam terapi
Rekomendasi baik oral maupun tertulis
selalu mencakup identifikasi dan
konfirmasi dari masalah yang di kaji
farmasis
7. Pendekatan Untuk Intervensi dan
Tindak Lanjut

Format SOAP
SOAP adalah suatu singkatan dari subjektif,
objektif, assessment dan planning secara logis
mengorganisasikan data dan proses pemikiran
klinis
- S = Subjektif
- O = Objektif
- A = Assement
- P = Planning
S = Subjektif
- Status subjektif / pengamatan subjektif
merupakan gejala yang dilaporkan pasien
yang tidak dapat ditegaskan secara mandiri
oleh pengamat dan dikaji dengan pertanyaan
sbb :
- Bagaimana perasaan saudara ?
- Apa gejala saudara ?
- Gejala subjektif didokumentasikan dengan
huruf S dan uraian dibawahnya. Misal :
Masalah : Pneumonia
S = Sakit kepala, merasa dingin dan nafas
pendek, tempatpenyuntikan intravena rasa
terbakar selama pemberian obat
O = Objektif
Gejala objektif membantu dalam
mengevaluasi kemujaraban atau toksisitas
terapi yang dikaji dan didokumentasikan
Gejala objektif dapat diukur
Misal : Demam, Tanda-tanda vital : denyut
jantung, suhu, kecepatan pernafasan, adanya
luka-luka pada kulit, data lab.
Contoh : Pneumonia
O = suhu 38,6 C, batuk produktif, jumlah sel
darah putih 16.000, infitrasi pada sinar X dada,
tetapitidak ada efusi tempat penyuntikan i.v
merah dan lembut
A = Assesment /
Pengkajian
Setelah kemajuan dan status pasien diketahui
dari gejala subjektif, tanda-tanda objektif
parameter klinik, farmasis mendokumentasi
suatu pengkajian dari terapi obat pasien
berkaitan dengan efekasi dan toksisitas
Pertanyaan yang diajukan kepada diri sendiri
antara lain :
- Apakah pasien merespon pada terapi ?
- apakah masih ada tanda-tanda toksisitas ?
- apakah hal kepatuhan / psikososial
mempengaruhi regimen obat ?
- apakah ada masalah yang berkaitan dengan obat
baru dan perlu didaftar dibawah masalah ini atau
ditambah masalah baru dalam daftar masalah ?
Contoh :
Masalah Pneumonia
A = Assessment
Hari kedua terapi antibiotika dengan
penambahan dua garis kenaikan suhu dan
peningkatan jumlah sel darah putih dengan
pergeseran kekiri menunjukkan respon yang
buruk terhadap antibiotika sampai sekarang
(pengkajian efekasi), tromboflebitis pada
tempat i.v mungkin karena eritromisin
(pengkajian toksisitas)
P = Planing / Perencanaan
Pemantauan dan mendokumentasi
informasi subjektif
Objektif dan assessment adalah
langkah kritis tetapi perencana
intervensi dan penerapan adalah
langkah yang paling penting dalam
mengoptimalkan perawatan seorang
pasien
Contoh : Masalah Pneumonia
P = Kaji Kultur dan sensitivitas ( K dan
S ) untuk pilihan antibiotika, ubah
Dokumentasi Informasi
Dokumentasikan informasi dalam rekaman
pasien dengan menggunakan format SOAP
Respon informasi terhadap terapi, toksisitas
obat dan kerjasama dengan rencana
pengobatan
Pengkajian arti dari data klinik dan gejala
keberhasilan intervensi yang lalu
Rencana untuk intervensi dan tindak lanjut
yang diperlukan
8. Mengkomunikasikan Temuan dan
rekomendasi
Setelah farmasis mengidentifikasikan masalah dan
menetapkan signifikansi kliniknya, maka
dikomunikasikan temuan tsb dan direkomendasikan
kepada dokter dan / perawat
Jika masalah mencakup suatu bidang, seperti pemberian
obat yang merupakan fungsi profesional perawat.
Farmasis dan perawat mengadakan solusi masalah tsb.
Jika dokter harus dikonsultasikan, farmasis harus secara
bijaksana menyampaikan masalah signifikansi klinik dan
rekomendasi
Jika timbul masalah yang berkaitan dengan
keamanan/terjadinya efek obat yang merugikan, dokter
harus segera diberitahukan dan diberikan masukan
secara lisan atau tulisan untuk solusi yang
memungkinkan atau alternatif masalah tersebut
Rekomendasi Tertulis
Komponen
Ada 4 komponen yang dicakup dalam
informasi tsb :
- Kebutuhan perawatan kesehatan pasien
- Sasaran Farmakoterapi
- Terapi yang direkomendasikan
- Rencana Pemantauan
Pendekatan
Ada 4 kategori dari faktor berikut yang
dapat mempengaruhi pendekatan farmasis
- Pertimbangan tempat praktik
- Kebijakan khusus setempat
- standar Praktik
- Profesionalisme
Penutup
Program PTO memperomosikan keamanan
pemberian efisien obat-obatan juga
penggunaan yang tepat
Idealnya pengembangan program PTO dimulai
oleh KFT yang merupakan pembuat kebijakan
terapi obat di rumah sakit yang kemudian
mengalir ke IFRS --- menerapkan manajemen
klinik tersebut
Kebijakan ini menjadi dasar dari program PTO
dan pelaksanaannya pada tingkat apoteker
secara individu pada praktek sehari-hari
Agar pelaksanaan PTO efektif maka keseluruhan
IFRS harus dipandang sebagai komponen dari
rumah sakit yang memastikan penggunaan obat
yang tepat dan biaya efisien