Anda di halaman 1dari 68

LAPORAN KASUS

VERTIGO
BAB I
PENDAHULUAN

Vertigo
Vertigo berasal dari kata latin
vertere yang berarti memutar.
Vertigo di dalam kamus bahasa
indonesia diterjemahkan sebagai
pusing.
Sebagian besar pasien vertigo
adalah orang-orang lanjut usia,
dengan peningkatan prevalensi
hingga usia 50 tahun

Sekitar 93% dari pasien vertigo


dikenal dengan Benign Paroksismal
Positional Vertigo (BPPV),
neuronitis vestibular akut, atau
penyakit Mnire.
Anatomi Nervus Kedelapan
(Nervus vestibulocochlearis
atau Oktavus)
Vestibulocochlearis
Fisiologi Keseimbangan
Cara Kerja Aparatus
Vestibularis

Apparatus vestibularis memberi


informasi essensial bagi sensasi
keseimbangan dan koordinasi gerakan
kepala dengan gerakan mata dan postur.
Seperti di koklea, semua komponen
apparatus vestibularis mengandung
endolimfe dan dikelilingi oleh perilimfe.
Peran Kanalis
Semisirkularis

Kanalis semisirkularis berfungsi


untuk mendeteksi akselerasi
atau deselarasi rotasi kepala
seperti ketika memulai atau
berhenti berputar, berjungkir,
balik atau memutar kepala.
Peran Kanalis
Semisirkularis

Pada awal pergerakan, endolimfa


tertinggal dan kupula miring ke
arah berlawanan dengan gerakan
kepala sehingga sel-sel rambut
menekuk terjadi epolarisasi
yang memicu pelepasan
neurotransmitter dari sel-sel
rambut menuju ke saraf afferent.
Ketika pergerakan perlahan
Organ ortolit

Fungsi organ otolit adalah


memberikan informasi
mengenai posisi kepala relatif
terhadap gravitasi dan juga
mendeteksi perubahan dalam
kecepatan gerakan linier
Definisi Vertigo
Vertigo berasal dari bahasa Latin
vertere yang artinya memutar
merujuk pada sensasi berputar
sehingga mengganggu rasa
keseimbangan seseorang, umumnya
disebabkan oleh gangguan pada
Vertigokeseimbangan.
sistim adalah perasaan abnormal
dan mengganggu bahwa seseorang
seakan akan bergerak terhadap
lingkungannya ( vertigo subjetif ),
atau lingkungannya seakan akan
bergerak padahal sebenarnya tidak
(vertigo subjektif)
Klasifikasi Vertigo

Vertigo
vertigo
vestibular
vestibular
perifer
VERTIG vertigo
O vestibular
sentral
Vertigo
nonvestibular
1 Vertigo Perifer

Benign paroxysmal positioning


BPPV
vertigo (BPPV) adalah gangguan
vestibuler dengan gejala
pusing berputar yang tiba-
tiba dan nistagmus yang
dipicu oleh perubahan posisi
kepala terhadap gaya
gravitasi tanpa adanya
keterlibatan lesi di susunan
1 Vertigo Perifer
Penyakit
meniere
Vertigo biasanya disertai
dengan tinnitus, dan
gangguan
Vestibular pendengaran
Vertigo rotasional yang
neuristis
berat dengan onset akut,
disertai nistagmus spontan,
ketidakstabilan postur dan
nausea tanpa diikuti
Vertigo
2
sentral
Disebabkan oleh adanya
gangguan di batang otak atau di
serebelum.
Biasanya disertai dengan
adanya gejala lain yang khas,
misalnya diplopia, parestesia,
perubahan sensibilitas,
gangguan fungsi motorik, rasa
lemah.
Beberapa penyakit yang dapat
menimbulkan vertigo sentral
adalah :
Vaskular
Epilepsi
Tumor
Trauma
Multiple sklerosis
EPIDEMIOLOGI VERTIGO

Dalam penelitian dari 7609


pasien yang didiagnosis memiliki
vertigo pada 138 tempat praktek
dokter umum di Jerman selama 18
bulan, hanya 19,8%
diklasifikasikan sebagai memiliki
vertigo vestibular (4,3%, BPPV; 2.0
%, penyakit Meniere, 0,6%,
neuritis vestibular, dan 12,9%,
vertigo lainnya); 80,2% dari pasien
Etiologi Vertigo

Penyakit system vestibular perifer ( yaitu


labirin, nervus VIII atau inti vestibularis)
Telinga :
Telinga luar : serumen, benda asing
Telinga tengah : retraksi membrane
timpani, otitis media purulenta akut,
otitis media dengan efusi, labirintitis,
koleastetoma, rudapaksa dengan
perdarahan.
Telinga dalam : Labirintis akuta toksika,
trauma, serangan vascular, alergi,
hidrops labirin (morbus meniere),
Nervus VIII :
Infeksi
Trauma
Tumor
Inti vestibularis (batang otak) :
Infeksi ( meningitis, encephalitis,
abses otak)
Perdarahan
Trombosis (arteri serebeli postero-
inferior)
Tumor
Penyakit susunan saraf pusat
Vascular
Infeksi : meningitis, ensefalitis,
abses.
Trauma
Tumor
Migren
Epilepsi
Kelainan endokrin (hipotiroid,
hipoglikemik, keadaan menstruasi,
hamil, menoupase)
Kelaianan psikoneurosis
PATOFISIOLOGI VETIGO
Beberapa teori mengenai
mekanisme terjadinya vertigo
diantaranya adalah:
Teori rangsang berlebihan
(overstimulation)
Teori konflik sensorik
Teori neural mismatch
Teori otonomik
Teori neurohumoral
Teori sinaps
GEJALA KLINIS

Gejala klinis pasien dengan


dizziness dan vertigo dapat
berupa gejala primer, sekunder,
ataupun gejala non spesifik.
Gejala primer berupa vertigo,
impulsion, oscilopsia, ataxia, dan
gejala pendengaran. Vertigo,
diartikan sebagai sensasi
berputar.
DIAGNOSA
Anamnes
a :Karekteristk
dizziness
Perlu ditanyakan mengenai sensasi yang dirasakan
pasien apakah sensasi berputar atau sensasi non
spesifik seperti giddiness, atau light headness,
atau hanya suatu perasaan yang berbeda.
Keparahan

Keparahan suatu vertigo juga dapat membantu,


misalnya pada acute vestibular neuritis, gejala
awal biasanya parah namun berkurang dalam
beberapa hari kedepan.
Onset dan durasi
vertigo
Semakin lama durasi vertigo, maka
kemungkinan ke arah vertigo sentral
menjadi lebih besar. Vertigo perifer
umumnya memilki onset akut
dibandingkan vertigo sentral, kecuali pada
Faktor Pencetus
cerebrovascular attack.
Jika gejala terjadi hanya ketika
perubahan posisi, penyebab yang
paling mungkin adalah BPPV. Adanya
fenomena Tullios (nistagmus dan
vertigo yang disebabkan suara bising
pada frekuensi tertentu) mengarah
Gejala Penyerta

Pada vertigo sentral mual dan muntah


tidak terlalu parah. Gejala neurologis
berupa kelemahan, disarthria, gangguan
penglihatan dan pendengaran, parestesia,
penurunan kesadaran, ataksia, atau
perubahan lain pada fungsi sensori dan
motoris lebih mengarahkan diagnosis ke
vertigo sentral, misalnya penyakit
cererovascular, neoplasma, atau multiple
sklerosis.
Riwayat keluarga
Adanya riwayat keluarga dengan
migraine, kejang, Menieres Disease, atau
tuli pada usia muda perlu ditanyakan.

Riwayat
pengobatan
Beberapa obat dapat menginduksi
terjadinya vertigo, seperti obat-obatan
ototoksik, obat anti epilepsi,
antihipertensi, dan sedatif.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
1
Neurologik

Gait test
Rombergs sign
Heel-to-Toe Walking
Test
Unterberger's
Sstepping Test
Post-pointing Test
Unterberger's
Stepping Test

Post-pointing Test
Pemeriksaan Fungsi
2 Dix-Hallpike
Vestibuler
Manoeuvre
Test
hiperventilasi
Tes Kalori
Fungsi
Pendengaran
Pemeriksaan Kepala
dan Leher
Henneberts Sign
Valsava Manoeuvre
Head Impulses Test
Pemeriksaan
Head Impulses
Cardiovascular Test
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tes audiometri Tes ini diperlukan jika pasien


mengeluhkan gangguan pendengaran.
Tes vestibular dilakukan apabila hasil
pemeriksaan lain meragukan.
Pemeriksaan lab menentukan etiologi
vertigo.
Pemeriksaan radiologi dilakukan pada
pasien dengan vertigo yang memiliki tanda
dan gejala neurologis dan tuli unilateral yang
progresif.
PENATALAKSANAAN
Terapi kausal
Terapi Simptomatis
Antikolinergik
Antihistamin
Histaminergik
Antidopaminergik
Benzodiazepin
Antagonis kalsium
Simpatomimetik
Asetilleusin
Nama Nama Generik Dosis sekali Interval
kelompok pemberian
ulangan
Antikolinergik Skopolamin 0,2-0,4 mg 3-6 jam
Atropin 0,2-0,4 mg 3-6 jam
Antihistamin Difenihidramin 50-100 mg 6 jam
Dimenhidrinat 50-100 mg 6 jamk
Sinarizin 75 mg 24 jam
Simpatomim d-Amfetamin 10 mg 12 jam
etik Efedrin 25-50 mg 4-6 jam
Penenang
Minor Fenobarbital 15-60 mg 6-8 jam
Mayor Diazepam 5-10 mg 4-6 jam
Prometazin 25-50 mg 4-6 jam
Klorpromazin 10-25 mg 4-6 jam
Terapi
rehabilitatif
Beberapa cara latihan untuk penderita
vertigo yang dapat dikemukakan antara lain
:
Latihan gerakan tubuh dengan kepala-
leher-mata dalam posisi tetap (stasioner)
Mata dan kepala bergerak mengikuti
objek penglihatan yang bergerak.
Latihan dengan alat sejenis pembangkit
nistagmus.
Latihan keseimbangan tubuh diatas
papan dinamis.
Penatalaksanaan utama pada BPPV
adalah manuver
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama :-
Umur : 62 th
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat :-
Tanggal masuk :-
Anamnesis Autoanamnesis
Keluhan utama :
Pusing
Riwayat berputar
penyakit sejak 2: hari SMRS
sekarang
Pusing berputar sejak 2 hari SMRS. Pusing
dirasakan secara tiba-tiba ketika pasien
sedang duduk, pusing berputar dirasakan
sekitar 15-20 menit. Pusing berputar
semakin bertambah ketika pasien
menggerakkan kepala, dan berkurang ketika
pasien tidur terlentang dan miring ke kiri.
Pusing berputar disertai mual, dan sakit
kepala sampai ke tengkuk. Sakit kepala
dirasakan seperti ditusuk-tusuk. Penglihatan
ganda tidak ada. Muntah tidak ada.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat hipertensi (+) sejak 5 tahun
yang lalu, tidak terkontrol. Pasien sesekali
minum obat amlodipine 5 mg yang di
dapat dari dokter.
Riwayat Penyakit Jantung tidak diketahui

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang menderita
penyakit yang sama dengan pasien
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat Penyakit Jantung disangkal
Riwayat pribadi dan sosial
Pasien ibu rumah tangga
Pasien suka mengkonsumsi
makanan yang bersantan dan
makanan yang berminyak.
Pemeriksaan
Fisik
Status Generalis
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis Cooperatif
Tekanan Darah: 160/90mmHg
Nadi : 90 x/i kuat dan teratur
Nafas : 21 x/i
Suhu : 36,5 oC
Status Lokalisata
Mata kanan : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak
ikterik
Mata Kiri : konjungtiva tidak anemi, sclera tidak ikterik
Kelenjar Getah Bening :
Leher :Tidak teraba pembesaran KGB
Aksila : Tidak teraba pembesaran KGB
Inguinal : Tidak teraba pembesaran KGB
Torak
Paru
Inspeksi: Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis
Palpasi : fremitus sama kiri dan kanan
Perkusi : Sonor dikedua lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas normal vesicular, ronki( - / - ),
Wheezing ( -/- )
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis teraba 3 jari di LMCS RIC VI
Perkusi : Dalam batas normal
Auskultasi : irama teratur, bising( - )
Abdomen
Inspeksi : tidak ada sikatrik, tidak ada venektasi
Palpasi : defans muskular (-) nyeri tekan dan
nyeri lepas ( - ), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus( + ) normal
Colum Vertebrae :
Vertebrae dalam batas normal
Pemeriksaan Neurologikus

Glassgow Coma Scale ( GCS ) : E4M6V5 = 15


Tanda Ransangan Meningeal
KakuKuduk : Tidak ada
Brudzinki I : Tidak ada
Brudzinki II : Tidak ada
TandaKernig : Tidak ada
Tanda peningkatan TIK
Pupil : Isokor, diameter 3 mm / 3 mm
Refleks cahaya : +/+
Muntah proyektil : tidak ada
Pemeriksaan Nervus Cranialis
N I: Nervus Olfaktorius

Penciuman Kanan Kiri

Subjektif Normal Normal

Objektif dengan bahan Tidak dilakukan Tidak dilakukan


N II : Nervus Optikus
Penglihatan Kanan Kiri

Tajam penglihatan Normal Normal

Lapang pandang Normal Normal

Melihat warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan


N III :Nervus Okulomotorius
Kanan Kiri
Bola mata Normal Normal
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Gerakan bulbus Bebas kesegala arah Bebas kesegala
arah
Strabismus Tidak ada Tidak ada
Nistagmus + Horizontal Tidak ada
Ekso-endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Pupil Isokor Isokor
Bentuk Bulat Bulat
Reflek cahaya + +
Reflex akomodasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflex Konvergen Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N IV : Nervus Troklearis

Kanan Kiri

Gerakan mata kebawah + +

Sikap bulbus Tenang Tenang

Diplopia _ _
N V : Nervus Trigeminus
Kanan Kiri
Motoric
Membuka mulut + +
Menggerakan rahang + +
Menggigit + +
Mengunyah + +
Sensorik
Divisi optalmika Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek kornea Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Divisi maksila Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Reflek masseter Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Divisi mandibular Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N. VI : Nervus Abdusen
Kanan Kiri

Gerakan mata lateral + +

Sikap bulbus Dalam batas normal Dalam batas normal

Diplopia Tidak ada Tidak ada


N.VII: Nervus Fasialis
Kanan Kiri
Raut wajah Simetris Simetris
Sekresi air mata Normal Normal
Fissura palpebral Normal Normal
Menggerakkan dahi Normal Normal
Menutup mata Normal Normal
Mencibir/bersiul Normal Normal
Memperlihatkan gigi Normal Normal
Sensasi 2/3 depan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Hiperakustik Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N.VIII: Nervus Vestibukoklearis
Kanan Kiri
Suara berbisik Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Detik arloji Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Rinne test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Weber test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Swabach test
Memanjang Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Memendek Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Nistagmus Horizontal Tidak ada
Pendular Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Vertical Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Siklikal Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Pengaruh posisi +
kepala
Nervus VIII : Nervus
Vestibulokoklearis
Kesan :
Pada pemeriksaan vestibuler
didapatkan nistagmus (+) horizontal
kearah kanan.
N.IX: Nervus Glossopharingeus

Kanan Kiri

Sensasi lidah 1/3 Tidak dilakukan Tidak dilakukan


belakang

Reflek muntah/ Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Gag reflek
N.X: Nervus Vagus
Kanan Kiri

Arkus faring Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Uvula Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Menelan Normal Normal

Artikulasi Normal Normal

Suara Normal Normal

Nadi Teratur Teratur


N. XI: Nervus Asssesorius

Kanan Kiri

Menoleh ke kanan + +

Menoleh ke kiri + +

Mengangkat bahu ke + +
kanan

Mengangkat bahu ke kiri + +


N. XII: Nervus Hipoglosus

Kanan Kiri

Kedudukan lidah dalam Normal Normal

Kedudukan lidah Normal Normal


dijulurkan

Tremor _ _

Fasikulasi _ _

Atrofi _ _
Pemeriksaan koordinasi

Cara berjalan Normal Disatria Tidak lakukan

Romberg test Tidak dapat Disfagia Tidak lakukan


lakukan

Ataksia Tidak dapat Supinasi-pronasi Tidak lakukan


lakukan

Rebound - Tes jari hidung Tidak dapat


phenomen lakukan

Tes tumit lutut - Tes hidung jari Tidak dapat


lakukan
Pemeriksaan fungsi Motorik
a. Badan Respirasi Normal Normal
Duduk Normal Normal
b. Berdiri & Gerakan spontan
berjalan

Tremor Tidak lakukan Tidak lakukan


Atetosis Tidak lakukan Tidak lakukan
Mioklonik Tidak lakukan Tidak lakukan
Khorea Tidak lakukan Tidak lakukan
c. Ekstremitas Superior Inferior

Kanan Kiri Kanan Kiri


Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Kekuatan 555 555 555 555
Trofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
Tonus Eutonus Eutonus Eutonus Eutonus
Pemeriksaan Sensibilitas
Sensibilitas taktil Normal

Sensibilitas nyeri Normal

Sensibilitas termis Normal

Sensibilitas Normal

Sensibilitas kortikal Normal

Streognosis Tidak dilakukan

Pengenalan 2 titik Tidak dilakukan

Pengenalan rabaan Normal


Sistem reflex
1.Fisiologi Kanan Kiri Kanan Kiri

Kornea + + Biseps ++ ++
Berbangkis Tidak Tidak Triceps ++ ++
dilakukan dilakukan
Laring Tidak Tidak APR ++ ++
dilakukan dilakukan
Maseter Tidak Tidak KPR ++ ++
dilakukan dilakukan
Dindingperut Tidak Tidak Bulboca vernosus Tidak Tidak dilakukan
dilakukan dilakukan dilakukan
Atas Tidak Tidak Cremater Tidak Tidak dilakukan
dilakukan dilakukan dilakukan
Tengah Tidak Tidak Sfingter Tidak Tidak dilakukan
dilakukan dilakukan dilakukan
Bawah Tidak Tidak
dilakukan dilakukan
2. Patologis

Lengan Tungkai

Hoffman- Tidak Babinski - -


Tromner dilakukan
Chaddoks - -

Oppenheim - -

Gordon - -

Schaeffer - -

Klonus paha Tidak Tidak


dilakukan dilakukan
Klonus kaki Tidak Tidak
dilakukan dilakukan
Fungsi Otonom
Miksi : Normal
Defekasi : Normal
Sekresi keringat : Normal
Fungsi luhur

Kesadaran Tanda dementia


Reaksi bicara Normal Refleks Glabela Tidak dilakukan

Fungsi Intelektual Normal Refleks Snout Tidak dilakukan

Reaksi Emosi Normal Refleks memegang Tidak dilakukan

Refleks Palmomental Tidak dilakukan


Pemeriksaan Penunjang

Darah rutin :
Hb : 14,2 gr/dL
Ht : 5,20 %
Leukosit : 4.790 /uL
Trombosit : 294.000 /uL
Kimia klinik
Ureum : 31,1 mg/dL
Creatinin : 0,84 mg/dL
Ad random: 100 mg%
Rencana Pemeriksaan Tambahan
EKG
Diagnosis
Diagnosis klinik : Vertigo perifer
Diagnosis Topik : Apparatus vestibularis
Diagnosis Etiologi : Benign Paroxysmal
Positional Vertigo
Diagnosis Sekunder : Hipertensi grade II
PENATALAKSANAAN
Terapi Umum:
Tirah baring
IVFD RL 12 jam / kolf
Terapi medikamentosa :
Betahistin3x 8 mg
Paracetamol 3x 500 mg
Domperidon 3x 10 mg
Ranitidin 2x 150 mg
Amlodipin 1x 5 mg
ANALISIS KASUS

Vertigo berasal dari bahasa Latin


vertere yang artinya memutar merujuk
pada sensasi berputar sehingga
mengganggu rasa keseimbangan
seseorang, umumnya disebabkan oleh
gangguan pada sistim keseimbangan.
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik
yang dilakukan pada seorang pasien
perempuan, 62 tahun pada tanggal 28
Desember 2015 masuk bangsal neurologi
RSUD Solok ditemukan pusing berputar
Vertigo sering bersamaan dengan
muntah dan mual .Gejala neurologis
berupa kelemahan, disarthria,
gangguan penglihatan dan
pendengaran, parestesia, penurunan
kesadaran, ataksia, atau perubahan
lain pada fungsi sensori dan motoris
lebih mengarahkan diagnosis ke
vertigo sentral, misalnya penyakit
cererovascular, neoplasma, atau
multiple sklerosis.
Faktor pencetus dapat
mempersempit diagnosis banding
pada vertigo vestibular perifer. Jika
gejala terjadi hanya ketika
perubahan posisi, penyebab yang
paling mungkin adalah BPPV. Pada
pasien ditemukan pusing berputar
semakin bertambah ketika pasien
menggerakkan kepala, dan
berkurang ketika pasien tidur
terlentang dan miring ke kiri.
Pemeriksaan nervus kranialis
penting untuk mencari tanda
paralisis, tuli sensorineural,
nistagmus. Nistagmus vertikal
80% sensitif untuk lesi nukleus
vestibular atau vermis serebelar.
Pada pemeriksaan Fungsi
Vestibuler dilakukan untuk dapat
dibedakan apakah lesinya perifer
atau sentral. Pada pasien
dilakukan pemeriksaan vestibuler,
TERIMAKASIH