Anda di halaman 1dari 29

Afasia

ariff kamal khairi


Pendahuluan
Bahasa merupakan sesuatu yang paling
kompleks dari perilaku yang ditunjukkan
oleh manusia, karena bahasa melibatkan
memori, belajar, keterampilan penerimaan
pesan, proses, dan ekspres.
Pemahaman bicara dan bahasa adalah
tugas yang melibatkan sebagian besar
korteks serebri
Permasalahan bahasa dapat tampak
dalam bentuk language delay atau
gangguan dalam berbahasa
language delay perkembangan bahasa
secara normal yang terhambat
Afasia gangguan cara berbahasa
Anatomi

Area cerebrum yang mengintegrasi semua stimulus ini


menjadi kemampuan berbahasa area Wernicke
ujung posterosuperior girus temporalis superior.
Hubungan antara area pendengaran +
area wernick interpretasi bahasa
terhadap apa yg didengar
Area asosiasi penglihatan + area wernick
pemahaman bahasa melalui apa yang
dibaca
DEFINISI
Wood (1971) Kehilangan kemampuan untuk
bicara atau untuk memahami sebagaian atau
keseluruhan dari yang diucapkan oleh orang
lain, yang diakibatkan karena adanya gangguan
pada otak.
Wiig dan Semel gangguan pada perolehan
bahasa yang disebabkan karena kerusakan otak
yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam
memformulasikan pemahaman bahasa dan
pengguanaan bahasa
ETIOLOGI
Afasia adalah suatu tanda klinis dan
bukan penyakit timbul akibat cedera
otak atau proses patologik pada area
lobus frontal, temporal atau parietal yang
mengatur kemampuan berbahasa
Cedera otak stroke, trauma, tumor otak
Efek samping dari obat fentonil
KLASIFIKASI AFASIA
Manifestasi klinik
Afasia tidak lancar atau non-fluent
Afasia lancar atau fluent
Distribusi anatomi dari lesi yang bertanggung jawab bagi defek
Sindrom afasia peri-silvian
Afasia Broca (motorik, ekspresif)
Afasia Wernicke (sensorik, reseptif)
Afasia konduksi
Sindrom afasia daerah perbatasan (borderzone)
Afasia transkortikal motorik
Afasia transkortikal sensorik
Afasia transkortikal campuran
Sindrom afasia subkortikal
Afasia talamik
Afasia striatal
Sindrom afasia non-lokalisasi
Afasian anomik
Afasia global
Bentuk Ekspresi Komprehens Repetisi Menamai Komprehens Komprehens Lesi
Afasia i verbal i membaca i membaca

Ekspresi Tak lancar Relatif Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Frontal Inferior
(Broca) terpelihara posterior

Reseptif Lancar Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Temporal


(Wermicke) Superior
Posterior
(Area
Wernicke)

Global Tak lancar Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Terganggu Fronto


temporal
Konduksi Lancar Relatif Terganggu Terganggu Bervariasi Terganggu Fasikulus
terpelihara arkualtus,
girus
supramarginal

Nominal Lancar Relatif Terpelihara Terganggu Bervariasi Bervariasi Girus angular,


terpelihara temporal
superior
posterior

Transkortikal Tak lancar Relatif Terpelihara Terganggu Bervariasi Terganggu Peri sylvian
motor terpelihara anterior
Transkortikal Lancar Terganggu Terpelihara Terganggu Terganggu Terganggu PerisylvianPos
PATOFISIOLOGI
Afasia terjadi akibat kerusakan pada area
pengaturan bahasa di otak area Broca dan area
Wernick
Area Broca (area 44 dan 45 Broadmann)
pelaksanaan motorik berbicara Lesi pada area ini
kesulitan dalam artikulasi tetapi penderita bisa
memahami bahasa dan tulisan
Area Wernicke (area 41 dan 42 Broadmann) area
sensorik penerima untuk impuls pendengaran
Lesi pada area ini penurunan hebat kemampuan
memahami serta mengerti suatu bahasa
lesi pada area disekitarnya afasia transkortikal
PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis afasia tanda dan gejala klinis
yang ditemukan pada pemeriksaan fisik
dan kejiwaan
pemeriksaan tambahan lainnya
mengetahui penyebab kerusakan otaknya.
1. Afasia yang lancar (fluent)
Penderita bicara lancar, artikulasi dan irama
baik, tetapi isi bicara tidak bermakna dan tidak
dapat dimengerti artinya.
Gambaran klinisnya ialah
Keluaran bicara yang lancar
Panjang kalimat normal
Artikulasi dan irama bicara baik
Terdapat parafasia
Kemampuan memahami pendengaran dan
membaca buruk
Repetisis terganggu
Menulis lancar tadi tidak ada arti
2. Afasia Tidak Lancar
Penderita menggunakan kalimat pendek dan bicara
dalam bentuk sederhana.
Gambaran klinisnya ialah
Pasien tampak sulit memulai bicara
Panjang kalimat sedikit (5 kata atau kurang per kalimat)
Gramatika bahasa berkurang dan tidak kompleks
Artikulasi umumnya terganggu
Irama bicara terganggu
Pemahaman cukup baik, tapi sulit memahami kalimat
yang lebih kompleks
Pengulanan (repetisi) buruk
Kemampuan menamai, menyebut nama benda buruk
3. Afasia Wernicke
lesi di daerah antara bagian belakang lobus
temporalis, lobus oksipitalis dan lobus parietalis dari
hemisfer kiri (dominan) yaitu area Wernicke.
Gambaran klinik afasia Wernicke .
Keluaran afasik yang lancar
Panjang kalimat normal
Artikulasi baik
Prosodi baik
Anomia (tidak dapat menamai)
Parafasia fonemik dan semantik
Komprehensi auditif dan membaca buruk
Repetisi terganggu
Menulis lancar tapi isinya "kosong
4. Afasia Konduksi
Merupakan ketidakmampuan mengulangi kata
atau kalimat lawan bicara terutama yang
multisilabis (bersuku kata banyak).
Afasia konduksi kerusakan pada fasikulus
arcuata transmisi informasi dari daerah
Wernicke ke daerah Brocca
ditandai oleh gangguan berat pada repetisi,
kesulitan dalam membaca kuat-kuat (namun
pemahaman dalam membaca baik), gangguan
dalam menulis, parafasia yang jelas, namun
umumnya pemahaman bahasa lisan terpelihara.
5. Afasia Anomik
Afasia jenis ini membuat penderita tidak mampu
menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf,
bentuk benda dan kata kerja dari gambar yang
dilihat
Letak lesinya tidak tentu tapi bisa di girus
angular dan temporal superior posterior atau
berada antara daerah Brocca dan Wernicke
Gambaran klinik alasia anomik.
Keluaran lancar
Komprehensi baik
Repetisi baik
Gangguan (defisit) dalam menemukan kata.
6. Afasia Transkortikal
Afasia transkortikal motorik (masuk afasia non-
fluent)
lesi di anterior atau superior dari area broca
Gambaran klinik afasia motorik transkortikal.
Keluaran tidak lancar (non fluent)
Pemahaman (komprehensi) baik
Repetisi baik
Inisiasi terlambat
Ungkapan-ungkapan singkat
Parafasia semantik
Ekholalia
Afasia transkortikal sensorik
lesi di area informasi dari nonbahasa area ke
cerebrum tidak bisa di transfer ke area wernickes
untuk diubah menjadi suatu bentuk bahasa.
Gambaran klinik afasia sensorik transkortikal
Keluaran (output) lancar (fluent)
Pemahaman buruk
Repetisi baik
Ekholalia
Komprehensi auditif dan membaca terganggu
Defisit motorik dan sensorik jarang dijumpai
Didapatkan defisit lapangan pandang di
sebelah kanan.
Afasia transkortikal campuran
Penyebab anoksia sekunder terhadap
sirkulasi darah yang menurun henti
jantung, oklusi atau stenosis berat arteri
karotis, anoksia oleh keracunan karbon
monoksida dan demensia
Gambaran klinik afasia transkortikal
campuran
Tidak lancar (nonfluent)
Komprehensi buruk
Repetisi baik
Ekholalia mencolok
7. Afasia Brocca
lesi di bagian posterior daerah girus ketiga frontal dari
hemisfer kiri (dominan) yaitu sekitar area Brocca (area 44)
Ciri klinik afasia Broca:
bicara tidak lancar
tampak sulit memulai bicara
Kalimatnya pendek (5 kata atau kurang per kalimat)
pengulangan (repetisi) buruk
kemampuan menamai buruk
Kesalahan parafasia
Pemahaman lumayan (namun mengalami kesulitan
memahami kalimat yang sintaktis kompleks)
Gramatika bahasa kurang, tidak kompleks
Irama kalimat dan irama bicara terganggu
8. Afasia Global
ditandai oleh tidak adanya lagi bahasa
spontan atau berkurang sekali dan
menjadi beberapa patah kata yang
diucapkan secara stereotipe
lesi luas yang merusak sebagian besar
atau semua daerah bahasa oklusi arteri
karotis interna atau arteri serebri media
pada pangkalnya.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan pemahaman (komprehensi) bahasa
lisan
Konversasi. Dengan mengajak pasien bercakap-
cakap dapat dinilai kemampuannya memahami
pertanyaan dan suruhan yang diberikan oleh
pemeriksa
Suruhan. Serentetan suruhan, mulai dari yang
sederhana (Satu langkah) sampai pada yang sulit
(banyak langkah)
Tanpa afasia menunjukkan 4 atau lebih objek
pada suruhan yang beruntun.
Pasien dengan Afasia menunjuk sampai 1 atau
2 objek saja.
Pilihan (ya atau tidak)
Repetisi
Mengulang kata sederhana banyak kata
Orang normal umumnya mampu mengulang
kalimat yang mengandung 19 suku-kata.
Afasia gangguan repetisi daerah
perisylvian
Pemeriksaan menamai dan menemukan kata
Kesulitan menemukan kata erat kaitannya dengan
kemampuan menyebut nama (menamai) anomia.
Pemeriksaan sistem berbahasa
Bicara spontan, komprehensi (pemahaman), repetisi,
menamai, otak yang dominan (kidal atau tidak)
Pemeriksaan menggunakan tangan (kidal
atau tidak)
Pemeriksaan berbicara spontan
Apakah bicaranya pelo, cadel, tertegun-tegun,
disprosodik (irama, ritme,intonasi bicara terganggu).
Pada afasia sering ada gangguan ritme dan irama
(disprosodi).
TERAPI
Atasi penyebab (stroke, perdarahan akut,
tumor otak)
Rehabilitasi (terapi bicara)
Tujuan melatih sel-sel yang tidak rusak
menggantikan sel-sel yang telah rusak
Dimulai 24 jam pasien stroke masuk rumah
sakit lalu dilakukan berkelanjutan 1-2 tahun
post stroke
Yang diperlukan : motivasi, memberi
stimulasi, melakukan repetisi yang kontinu
Terapi bicara
Dimulai seawal mungkin.
Dikatakan bahwa bina wicara yang diberikan pada bulan
pertama sejak mula sakit mempunyai hasil yang paling
baik.
Hindarkan penggunaan komunikasi non-linguistik (seperti
isyarat).
Program terapi yang dibuat oleh terapis sangat individual
dan tergantung dari latar belakang pendidikan, status
sosial dan kebiasaan pasien.
Program terapi berlandaskan pada penumbuhan motivasi
pasien untuk mau belajar (re-learning) bahasanya yang
hilang.
Terapi dapat diberikan secara pribadi dan diseling dengan
terapi kelompok dengan pasien afasi yang lain.
Penyertaan keluarga dalam terapi sangat mutlak.
KESIMPULAN
Afasia adalah suatu gangguan berbahasa yang
diakibatkan oleh kerusakan otak.
Afasia dapat timbul akibat cedera otak atau proses
patologik pada area lobus frontal, temporal atau
parietal yang mengatur kemampuan berbahasa
Afasia diklasifikasikan berdasarkan manifestasi
klinis, Distribusi anatomi dari lesi yang
bertanggung jawab bagi defek, Gabungan
pendekatan manifestasi klinik dengan lesi
anatomik
TERIMA KASIH