Anda di halaman 1dari 63

Pembimbing : Meiria Sari (03011186)

dr. Kartika Budi P M.Kes, Scherlly Reviana


Sp.OG (03011289)
IDENTITAS

Nama : Ny. J
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Gemah timur
Tanggal Masuk : 15 April 2016
Tanggal Keluar : 23 April 2016
No CM : 199583
Riwayat Penyakit
Sekarang
Benjolan pada tempat kencing sejak
1 bulan lalu
Ukurannya semakin hari tidak
mengalami perubahan
Nyeri perut (+) saat aktivitas berat
Riwayat diurut dan pengobatan
alternatif (+) tapi tidak ada
perubahan
Nyeri perut sempat hilang tapi
benjolan tetap
Riwayat keluar
lendir/darah/keputihan disangkal
Merokok/minum minuman beralkohol
(-)
BAB/BAK tidak ada keluhan
HT (+) ibu kandung
DM (+) ibu kandung
Penyakit jantung, paru, alergi (-)
Ibu pasien pernah mengalami
PEMERIKSAAN FISIK
KU : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Suhu : 36,5 0C
TD : 150/100 mmHg
Nadi : 86 x / menit
RR : 22x / menit
SpO2 : 99%
GCS : E4 M6 V5 (GCS = 15)
TB : 149 cm
BB : 62 kg
STATUS GENERALIS
Pemeriksaan Sistematis Hasil
Kepala
Bentuk dan ukuran Normocephali, tidak ada
Rambut deformitas
hitam, distribusi merata, tidak
mudah dicabut
Mata Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik
-/-, mata cekung -/-
Telinga serumen -/-, membran timpani
intak
Hidung Sekret -/-, deviasi septum -/-
Pemeriksaan Sistematis Hasil
Mulut
Bibir Lembab, kemerahan
Mukosa oral Basah
Lidah Bersih
Tonsil T1/T1, tidak hiperemis
Leher Tidak ada pembesaran kelenjar
getah bening
Thorax
Inspeksi Pergerakan nafas simetris baik
statis maupun dinamis tanpa
adanya retraksi
Bentuk dada: normal
Palpasi Tactile fremitus simetris +/+
Perkusi Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi Vesikular +/+, Rhonchi -/-
Wheezing -/-
Suara jantung S1/S2 normal
tanpa adanya bunyi tambahan
Pemeriksaan Sistematis Hasil
Abdomen
Inspeksi Tidak ada bekas luka, kelainan (-)
Auskultasi Bising usus (+) 4-6x/menit
Palpasi Tidak teraba adanya massa. Nyeri
Perkusi tekan (-)
Timpani pada seluruh abdomen
Vertebrae Skoliosis, kyphosis, lordosis (-)
Anus Liang anus normal, tidak ada
sekret
Ekstremitas Hangat, capillary refill time <2
detik, tidak ada deformitas
Kulit Tidak pucat, sianosis (-),turgor baik
Genitalia Inspeksi: tampak massa uterus
keluar seluruhnya dari introitus
vagina, bentuk bulat, warna merah
muda, rugae pada mukosa vagina
berkurang, sekresi vagina
berkurang, perineum tipis,
discharge (-)
Palpasi : Teraba massa ukuran
8x8x8 cm3, konsistensi kenyal,
nyeri tekan (-), dapat dimasukkan
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

Laboratorium Hematologi
Hemoglobin 12.5 g/dl 11,7-15,5
(15 April 2016) Hematokrit 36.20 35-47
Jumlah leukosit 10.3 u/dl 3,6-11,0

Jumlah trombosit 340 ml 150-400

Kimia Klinik
GDS 237 Mg/dl 70-115
Hitung jenis

Netrofil 70.3 50-70


Limfosit 22.2 23-40
Monosit 5.2 2-8
Eosinofil 2.0 2-4
Basofil 0.3 0-1
MCV 83 fL 150-400
MCH 29.3 pg 80100
MCHC 34.5 26-34
Masa perdarahan/BT 2min00sec 2-7

Masa pembekuan/CT 08min15sec 4-10

Kimia Klinik
Ureum 21.0 Mg/dL 17-42
Creatinin 0.5 Mg/dL 0.5-0.8
Natrium 136 Mmol/L 135-140
Laboratorium
(16 April 2016) Nilai
Pemeriksaan Hasil Satuan
normal

Hematologi

Hemoglobin 9.7 g/dl 11,7-15,5

Hematokrit 29.5 35-47

Jumlah leukosit 10.4 u/dl 3,6-11,0

Jumlah
271 ml 150-400
trombosit
Laboratorium
(18 April 2016) Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal

Hematologi

Hemoglobin 9.9 g/dl 11,7-15,5

Hematokrit 30.30 35-47

Jumlah leukosit 10.9 u/dl 3,6-11,0

Jumlah
283 ml 150-400
trombosit
Foto thorax
RESUME

Pasien datang ke IGD RSUD Kota Semarang dengan


keluhan adanya benjolan pada tempat kencing. Pasien
mengatakan keluhan sudah dirasakan 1 bulan yang lalu
sebelum masuk rumah sakit. Semakin hari benjolannya
tidak mengalami perubahan ukuran, tidak membesar dan
juga tidak mengecil. Pasien juga merasakan adanya nyeri
perut yang memberat terutama saat sedang melakukan
aktivitas berat seperti mengangkat perabotan rumah dan
makan berlebihan. Pasien mengatakan telah mendapatkan
pengobatan alternative/diurut di dekat rumahnya. Nyeri
perut sempat hilang tapi benjolan tidak hilang. Pada
inspeksi tampak massa uterus keluar seluruhnya dari
introitus vagina, bentuk bulat, warna merah muda, rugae
pada mukosa vagina berkurang, sekresi vagina berkurang,
perineum tipis, discharge (-). Pada palpasi teraba massa
15 April 2016

S Adanya benjolan di tempat kencing

O KU / Kes : Baik / CM
TD : 140 / 90 mmHg N : 74 x / m
S : 36,5 0C RR : 20 x / m
A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr. I,
DM tipe 2
P Konservatif, Bed rest
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
Infus RL 20 tpm
Konsul interna
Pro histrektomi Senin 18 April 2016
16 April 2016

S -

O KU / Kes : Baik / CM
TD : 130 / 80 mmHg N : 84 x / m
S : 36,2 0C RR : 18 x / m
A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM
tipe 2
P Konservatif, Bed Rest
Observasi keadaan umum dan tanda vital ibu
Infus RL 20 tpm
Interna: Amlodipin 1x5mg, metformin 2x500, diomycron 60
mg, KSR 2x500mg, spironolacton 25 mg
Sharox 2x1
17 April 2016

S -

O KU / Kes : Baik / CM
TD : 150/90 mmHg N : 80 x / m
S : 36,2 0C RR : 20 x / m
A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM
tipe 2
P Konservatif, Bed Rest
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu dan ppv
Infus RL 20 tpm
Pro histrektomi 18 April 2016 jam 09.00
18 April 2016

S -

O TD : 140/90 mmHg N : 88 x / m
S : 36,7 0C RR : 22 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Advice post hostrektomi:
Infus RL 20 tpm, Inj. Sharox 2x1, Co amoxiclav3x1, Asam
mefenamat 3x1, BC/C 3x1, SF 3x1, Aff infus hari ke-3, BT hari
ke-3, Aff DC hari ke-4
19 April 2016

S Nyeri ulu hati

O TD : 110/70 mmHg N : 84 x / m
S : 36,3 0C RR : 21 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Konservatif, Bed Rest
Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu
Inj. Sharox 2x1
Inj. Deksketoprofen 2x1
Inj. Ranitidine 2x1 amp
Antasid syr 4x2 sdm
20 April 2016

S -

O TD : 130/70 mmHg N : 84 x / m
S : 36,5 0C RR : 20 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu
Infus RL 20 tpm
Anjuran mobilisasi
Penuhi kebutuhan nutrisi
Memberikan terapi sesuai advice
21 April 2016

S -
O TD : 120/80 mmHg N : 86 x / m
S : 36,7 0C RR : 21 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Observasi dan perbaikan keadaan umum dan tanda-tanda
vital ibu
Aff tampon
Aff infuse
Co amoxiclav 3x625 mg
Asam mefenamat 2x500mg
Metronidazol 3x1
Etabion 1x1
22 April 2016

S -

O TD : 130/80 mmHg N : 80 x / m
S : 36,2 0C RR : 20 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital ibu
Aff DC
GDS pagi
Terapi sesuai advice
23 April 2016

S -

O TD : 130/80 mmHg N : 88 x / m
S : 36,7 0C RR : 22 x / m

A P2 A0, Umur 53 tahun, prolaps uteri gr. IV, hipertensi gr.I, DM


tipe 2
P Pasien dipulangkan atas indikasi medis
Obat pulang: metformin 3x500mg, Amlodipin 1x5mg,
Diamicorn 60mg, KSR 2x500 mg, Spironolakton 25mg,
Paracetamol 3x1, Antasid syr 4x2, Co amoxiclav 3x1,
metronidazol 3x1, Asam mefenamat 3x1, BC/C 3x1, Sucralfat
syr 3x1
Anatomi Dasar Panggul
Anatomic Supports
Muscular : Levator Ani (Pelvic Floor Ms.)
Ligaments : Uterosacral-Cardinal Complex
Fascial : Endopelvic (Pubocervical &
Rectovaginal)
Penyokong Uterus
Lig. kardinale sinistrum et dekstrum
(Mackenrodt)
Lig. sakro-uterinum sinistrum et dekstrum
Lig. rotundum sinistrum et dekstrum
Lig. latum sinistrum et dekstrum
Lig. infundibulo-pelvikum
DEFINISI
Penurunan uterus dan serviks melalui kanalis
vaginalis menuju introitus vagina
ETIOLOGI
Trauma obstetrik (meningkat dengan multiparitas, ukuran janin lahir
per vaginam) akibat peregangan dan kelemahan jaringan penyokong
pelvis
Kelemahan kongenital dari jaringan penyokong pelvis (berhubungan
dengan spina bifida pada neonatus)
Penurunan kadar estrogen (contohnya menopause) berakibat
hilangnya elastisitas struktur pelvis.
Peningkatan tekanan intraabdominal, contohnya obesitas, penyakit
paru kronik, asma
Varian anatomi tertentu seperti wanita dengan diameter transversal
pintu atas panggul yang lebar atau pintu atas panggul dengan
orientasi vertikal yang kurang, serta uterus yang retrograde.
PATOFISIOLOGI
Rendahnya kadar kolagen berperan penting dalam prolaps uteri,
ditunjukkan oleh peningkatan risiko pada pasien dengan sindrom
Marfan dan sindrom Ehlers-Danlos. Pada neonatus, prolaps uteri
disebabkan oleh kelemahan otot atau defek persarafan pelvis secara
kongenital.8
DIAGNOSIS
Anamnesis Pemeriksaan Fisik
Pelvis terasa berat dan nyeri pelvis
Protrusi atau penonjolan jaringan
Disfungsi seksual seperti dispareunia,
penurunan libido, dan kesulitan orgasme
Nyeri punggung bawah
Konstipasi
Kesulitan berjalan
Kesulitan berkemih
Peningkatan frekuensi, urgensi, dan
inkontinensia dalam berkemih
Nausea
Discharge purulen
Perdarahan
Ulserasi
Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium Radiologi
-mengidentifikasi komplikasi yang serius
(infeksi, obstruksi saluran kemih, USG pelvis dapat berguna
perdarahan, strangulasi), dan tidak untuk memastikan prolaps
diperlukan untuk kasus tanpa komplikasi.
Urinalisis dapat dilakukan untuk
ketika anamnesis dan
mengetahui infeksi saluran kemih. Kultur pemeriksaan fisik
getah serviks diindikasikan untuk kasus
yang disertai ulserasi atau discharge
meragukan. USG juga dapat
purulen. Pap smear atau biopsi mungkin mengeksklusi hidronefrosis.
diperlukan bila diduga terdapat MRI dapat digunakan untuk
keganasan. Jika terdapat gejala atau tanda
obstruksi saluran kemih, pemeriksaan menentukan derajat prolaps
BUN dan kadar kreatinin serum namun tidak rutin
dilakukan untuk menilai fungsi ginjal. 8
dilakukan.8
PENATALAKSANAAN
A. Terapi Medis
Prolaps uteri ringan tidak memerlukan terapi, karena
umumnya asimtomatik.
pengobatan simtomatik saja. 7,9
B. Terapi Konservatif
prolapsus ringan tanpa keluhan
menginginkan anak lagi
menolak untuk dioperasi
kondisinya tidak mengizinkan untuk dioperasi. 8-10
Latihan
Pessarium
otot dasar panggul
Indikasi :
prolapsus ringan (pasca
kehamilan
persalinan < 6 bulan. )
belum siap/menolak operasi
menguncupkan anus dan terapi tes
jaringan dasar panggul menghilangkan gejala
Kontraindikasi :
Radang pelvis akut/subakut
Karsinoma
Komplikasi :
Penyakit inflamasi akut pelvis
Nyeri setelah insersi
Rekuren vaginitis
Fistula vesikovaginal
prolaps vagina ialah adanya keluhan.8,10
Terapi Operatif
Terapi pembedahan pada jenis-jenis prolapsus vagina:8
Sistokel
Operasi yang lazim dilakukan ialah kolporafia anterior. Setelah diadakan sayatan dan dinding vagina depan dilepaskan dari kandung kencing dan urethta, kandung kencing didorong ke atas, dan fasia
puboservikalis sebelah kiri dan sebelah kanan dijahit digaris tengah. Sesudah dinding vagina yang berlebihan dibuang, dinding vagina yang terbuka ditutup kembali. Kolporafia anterior dilakukan pula pada
urethrokel.
Rektokel
Operasi disini adalah kolpoperinoplastik. Mukosa dinding belakang vagina disayat dan dibuang berbentuk segitiga dengan dasarnya batas antara vagina dan perineum, dan dengan ujungnya pada batas atas
retrokel. Sekarang fasia rektovaginalis dijahit di garis tengah, dan kemudian m. levator ani kiri dan kanan didekatkan di garis tengah. Luka pada dinding vagina dijahir, demikian pula otot-otot perineum yang
superfisial. Kanan dan kiri dihubungkan di garis tengah, dan akhirnya luka pada kulit perineum dijahit.
Enerokel
Sayatan pada dinding belakang vagina diteruskan ke atas sampai ke serviks uteri. Setelah hernia enterokel yang terdiri atas peritoneum dilepaskan dari dinding vagina, peritoneum ditutup dengan jahitan setinggi
mungkin. Sisanya dibuang dan di bawah jahitan itu ligamentum sakrouterinum kiri dan kanan serta fasia endopelvik dijahit ke garis tengah.
Prolapsus uteri
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri tergantung dari beberapa faktor, seperti umur penderita, keinginannya untuk masih mendapatkan anak atau untuk mempertahankan uterus, tingkat prolapsus,
dan adanya keluhan.
Macam-macam Operasi:8-10
Ventrofikasasi
Pada golongan wanita yangmasih muda dan masih ingin mempunyai anak, dilakukan operasi untuk membuat uterus ventrofiksasi dengan cara memendekkan lIgamentum rotundum atau mengikat ligamentum
rotundum ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare.
Operasi Manchester
Pada operasi ini biasanya dilakukan amputasi serviks uteri, dan penjahitan ligamentum kardinale yang telah dipotong, di muka serviks; dilakukan pula kolporafia anterior dan kolpoperioplastik. Amputasi serviks
dilakukan untuk memperpendek serviks yang memanjang (elongasi colli). Tindakan ini dapat menyebabkan infertilitas, abortus, partus prematur, dan distosia servikalis pada persalinan. Bagian yang terpenting dari
operasi Menchester adalah penjahitan ligamentum kardinale di depan serviks karena dengan tindakan ini ligamentum kardinale diperpendek, sehingga uterus akan terletak dalam posisi anteversifleksi, dan
turunnya uterus dapat dicegah.
Histerektomi vaginal
Operasi ini tepat untuk dilakukan pada prolaps uteri tingkat lanjut, dan pada wanita menopause. Keuntungannya adalah pada saat yang sama dapat dilakukan operasi vagina lainnya (seperti anterior dan posterior
kolporafi dan perbaikan enterokel), tanpa memerlukan insisi di tempat lain maupun reposisi pasien. Saat pelaksanaan operasi, harus diperhatikan dalam menutup cul-de-sac dengan menggunakan kuldoplasti
McCall dan merekatkan fasia endopelvik dan ligamen uterosakral pada rongga vagina sehingga dapat memberikan suport tambahan. Setelah uterus diangkat, puncak vagina digantungkan pada ligamentum
rotundum kanan kiri, atas pada ligamentum infundibulo pelvikum, kemudian operasi akan dilanjutkan dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi untuk mencegah prolaps vagina di kemudian hari.
Kolpokleisis (Operasi Neugebauer-Le Fort)
Pada waku obat-obatan serta pemberian anestesi dan perawatan pra/pasca operasi belum baik untuk wanita tua yang secara seksual tidak aktif, dapat dilakukan operasi sederhana dengan men jahitkan dinding
vagina depan dengan dinding belakang, sehingga lumen vagina tertutup dan uterus letaknya di atas vagina. Tetapi, operasi ini tidak memperbaiki sistokel dan rektokelnya sehingga dapat menimbulkan
inkontinensia urine. Obstipasi serta keluhan prolaps lainnya juga tidak hilang.
PENCEGAHAN
pemendekan waktu persalinan
membuat episiotomi
memperbaiki dan mereparasi luka atau kerusakan jalan
lahir dengan baik
memimpin persalinan dengan baik
menghindari paksaan dalam pengeluaran plasenta
(perasat Crede
mencegah atau mengobati hal-hal yang dapat
meningkatkan tekanan intraabdominal
KOMPLIKASI
Vaginitis
Perdarahan
Ulserasi
Obstruksi saluran kemih (retensi, fistula, erosi)
PROGNOSIS
Bila prolaps uteri tidak ditatalaksana, maka secara
bertahap akan memberat. Prognosis akan baik pada
pasien usia muda, dalam kondisi kesehatan optimal
(tidak disertai penyakit lainnya), dan IMT dalam
batas normal. Prognosis buruk pada pasien usia
tua, kondisi kesehatan buruk, mempunyai
gangguan sistem respirasi (asma, PPOK), serta
IMT diatas batas normal. Rekurensi prolaps uteri
setelah tindakan operasi sebanyak 16%.
Predisposing Factors
Hereditary (genetic) predisposition
Race: White > Black > Asian
Pregnancy and Vaginal Childbirth
Age and Menopause
Raised intra-abdominal pressure (e.g.:
obesity, cough, constipation, lifting, etc)
Iatrogenic: surgical procedure
Types of Pelvic Organ Prolaopse

1. Urethra
2. Bladder
3. Uterus/ Vaginal Vault
4. Small Bowel
5. Rectum
6. Perineum
Compartments
Anterior : Cystocele
Urethrocele
Middle : Uterine prolapse
Enterocele/vault prolapse
Posterior : Rectocele
Rectal prolapse
Classification of Prolapse
Baden Walker (1972)
Each site graded from 1 4

POPQ: quantifies using specific points


Measured relation to the hymenal ring
More widely used
Symptoms of Prolapse
Pelvic pressure
Pelvic pain
Feeling of a lump
Back pain
Urinary dysfunction
Bowel dysfunction
Complications of Prolapse
Bleeding
Infection
Recurrent UTIs
Urinary obstruction
Renal failure
Associated conditions
Urinary Incontinence : Stress
Urge
Mixed
Fecal Incontinence : sphincter injury
Options of Management
No Treatment ( pelvic floor exercise)

Conservative: such as
Physiotherapy or Pessary

Surgical Treatment
Aims of prolapse surgery
Alleviate symptoms

Restore normal anatomy

Restore normal visceral function

Avoid new bladder or bowel symptoms

Preserve sexual function

Avoid surgical complications


Conclusions
Pelvic organ prolapse is common
Results from injury to soft tissue and nerves
Childbirth most significant association
Treatment requires understanding of anatomic
relationships
Treated with a combination of physio/pessary
and often complex surgery