Anda di halaman 1dari 37

Prevention of postoperative nausea and vomiting

JOURNAL READING
with a
subhypnotic dose of Propofol in patients
undergoing lower
abdominal surgery: A prospective, randomized,
doubleblind
study
Khosrou Naghibi, Parviz Kashefi, Hamed Azarnoush1, Parisa Zabih

STASE ANESTESI/RS
Presentan : Reva Adenapio, S.Ked
BAYANGKARA/2017
Pembimbing : dr Yalta, Sp. An
P= pasien yang C= dosis
operasi abdomen propofol dengan
bagian bawah metoclopramide

PICO

O= dosis propofol 30
I= pemberian mg sama efektif
berbagai dosis dengan 10 mg
propofol metocloperamide
LATAR BELAKANG

Postoperative nausea and vomiting (PONV)


adalah komplikasi biasa yang terjadi setelah
anetesi umum pada pasien yang sedang
menjalani operasi abdomen bagian bawah.

Nitrous oxide (N2O) and anestesi inhalasi


meningkatkan kejadian PONV, propofol dilaporkan
sebagai antiemetik yg efektif pada pasien dgn
berbagai jenis operasi. Namun dosis optimal
propofol utk mengurangi kejadian PONV masih
diperdebatkan dan belum terdata.
Tujuan penelitian
Membandingkan efek subhipnotik dosis
propofol dengan obat antiemetik
Metoclopramide dalam pencegahan PONV
setelah operasi abdomen bagian bawah
Desain Penelitian
Penelitian randomized single blind
clinical trial di Shahid Behesti Hospital di
Isfahan, Iran.

Penelitian
ini sudah disetujui Komite di
Ishafan Medical University dan sudah
mendapat informed consent diperoleh
dari semua peserta.
Subjek Penelitian
Terdiri dari 104 pasien dibagi 4 kelompok. 1
kelompok terdiri dari 26 orang.

1. Propofol 20 mg,
2. Propofol 30 mg
3. Metoclopramide 10 mg
4. Isotonic saline as a placebo
METODELOGI
PENELITIAN

Kriteria Penelitian
Kriteria inklusi
Pasien dgn ASA 1 dan II.
Patien umur 18-65 thn yg telah dijadwalkan operasi abdomen
bagian bawah dgn general anesthesia.

Kriteria ekslusi
Pasien dgn faktor risiko PONV.
Riwayat motion sickness or PONV.
Mengkonsumsi antiemetik sebelum operasi.
Pasien dgn riwayat konsumsi obat dan pecandu alkohol.
Pasien dgn (BMI) >30 kg/m2.
Pasien dengan operasi cyto
Komplikasi hipotensi berat SBP <70 % normal
Perdarahan >10 % total blood volume
Metode Penelitian
Setiap pasien dimonitor HR, SBP, DBP, MAP,
SaO2 direkam setiap 15 min selama periode
anestesi dan juga setiap 15 min selama periode
recovery. Tidak ada premedikasi yg diberikan.
Semuanya diinduksi dgn pemberian 6mg/kg
tiopental, fentanyl 2 mic/kg, morphine 0.15
mg/kg, and Atracurium 0.6 mg/kg lalu di
intubasi. Maintenance anestesi dgn 50% N 2O
and O2, Isoflurane 1 % dgn ventilasi terkontrol.
15 menit sebelum dan selesai operasi, pasien
diberikan 20 mg Propofol (G1), 30 mg Propofol (G2),
10 mg Metoclopramide (G3), isotonic saline as
placebo (G4).

Diakhir operasi diberikan reversed dgn 0.02 mg/kg


atropine and 0.04 mg/kg neostigmine.

Insiden PONV dan efek samping obat antiemetik


selama 24 jam setelah operasi di catat

Penilai tidak tahu identitas grup, dibagi menjadi 3


(0-6 h), 6-12 h, and 12-24 h, post operative. Lama
operasi dan lama recovery di catat.
Metode Penelitian
Setelah operasi selesai, diberikan reverse
dgn 0,05 mg/kg neostigmin dan 0,02 mg/kg
atropin.
Setelah di recovery room selama 30 mnt 4
jam post op. Dinilai intensitas nyeri dan mual
dengan VAS (0-10)
Tekanan sistol dan diastol di rekam sebelum
induksi anestesi, sebelum diberi fentanil, lalu
5, 15 dan 30 menit kemudian masuk
recovery room.
Analisa Statistik
Hasil data dianalisa menggunakan SPSS 20.
Data umur, berat, waktu anesthesia, dan
waktu recovery dibandingkan
menggunakan Students ttest .
Distribusi jenis kelamin dan ASA
menggunakan 2test or Fishers exact test.
HR, SBP, DBP, and MAP dianalisis dgn
ANOVA test.
Significant p< 0,05.
Hasil penelitian
DISKUSI
Propofol is a shortacting intravenous
hypnotic agent digunakan utk induksi dan
maintenance anestesi umum dan sedasi
untuk operasi pembedahan dan ventilasi
mekanis pada orang dewasa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis
subhipnotik propofol 30 mgmengurangi
kejadian dan tingkat keparahan mual pada
pasien yang telah menjalani operasi
abdomen bagian bawah.
DISKUSI
Shinn et al melakukan penelitian
dengan metode RCT melaporkan bahwa
dari 38 pasien yg menjalani operasi
laparoskopi ginekologi. Kejadian PONV
selama 24 jam pertama post op pada
pemberian propofol signifikan lebih
rendah dibanding sevofluran.
Kesimpulan
30 mg propofol efektif dalam
mencegah PONV pada pasien yang telah
menjalani operasi abdomen bagian bawah
dgn anestesi yang berbasis isoflurane,
terutama 6 jam pertama setelah operasi.
Kekurangan dan Saran
Kekurangan
Sampel kecil
Pasien hanya di ikuti 24 jam post op

Saran
Penelitian yg sama dgn jenis anestesi yg
berbeda dan jenis operasi lainnya.
Perbedaan waktu injeksi propofol, dosis
propofol.
JOURNAL READING

A Randomized Controlled Trial Comparing The


Effect Intravenous, Subcutaneous, And Intranasal
Fentanyl For Pain Management In Patients
Undergoing Caesarian Section
mitra jabalameli, reihanak talakoub, bita abedi, zahra ghofrani

STASE ANESTESI/RS
Presentan : Reva Adenapio, S.Ked
BAYANGKARA/2017
Pembimbing : dr Yalta, Sp. An
P= Ibu hamil yg C= pemberian
melahirkan fentanil secara
caesarian dengan iv, subkutan, dan
usia kehamilan intranasal
>36 minggu
PICO

O= fentanil subkutan
I= pemberian merupakan alternatif
fentanil efektif utk
tatalaksana nyeri
LATAR BELAKANG

Analgesia optimum post operatif utk caesar


belum sepenuhnya diketahui.

Dosis berbeda pemberian fentanil (75, 100,


150,
or 200 g) diberikan IN dan IV sbg tatalaksana
nyeri akut pada pasien ekstraksi molar pasien
dewasa. Hasilnya onset dan durasi tidak
berbeda jauh.

Pada pasien post op bedah utk abdomen,


ortopedi, operasi tiroid. INF merupakan
alternatif efektif dibanding IVF pada pasien
post op.
Tujuan penelitian
Evaluasi dan membandingkan efek
fentanil sebagai tatalaksana nyeri pada
pasien yang sedang operasi caesar
diberikan secara intravena, subkutan,
intranasal.
Desain Penelitian
Penelitian randomized single blind
clinical trial di Shahid Behesti Hospital di
Isfahan, Iran.

Penelitian
ini sudah di setujui Komite di
Ishafan Medical University dan sudah
mendapat informed consent dari semua
peserta.
Subjek Penelitian
Terdiri dari 75 pasien wanita sedang dalam
proses persalinan umur 20-40 thn, dgn usia
kehamilan > 36 minggu. Dibagi menjadi 25 orang
pada masing-masing grup.
METODELOGI
PENELITIAN

Kriteria Penelitian
Kriteria inklusi
Ibu sehat yg usia kehamilan >36 minggu
berumur 20-40 tahun yang sedang menjalin
operasi caesar dengan anestesi umum.

Kriteria ekslusi
Riwayat putus obat, alergi obat, blocked or
traumatized nose, psychiatric or neurologic
impairment, menolak obat intranasal.
Metode Penelitian
Setiap pasien dimonitor TD, HR, RR, EKG, oksimeter,
capnogram. Anestesi umum dgn pemberian 5mg/kg
tiopental selama 10-15 detik, setelah di oksigen 5
menit. Subjek diberi suksinil kolin dgn dosis 1,5 mg/kg
setelah 60 detik di intubasi.
Anestesi di maintenance 50 % N2O dan O2, 1,2 %
isoflurane. Atracurium sbg muscle relaxan. EtCO2
maintenance 30-40 mmHg selama operasi.
Setelah bayi lahir, 0,1 mg/kg morfin, 20 IU Syntocinon
(iv) di dlm 1 L RL utk inisiasi kontraksi uterus. Diakhir
operasi, setelah insisi ditutup caesar. Pasien dibagi 3
grup.
Grup 1
Desain Penelitian
Pasien yang menerima 50 g fentanil secara intravena

Grup 2
Pasien yg menerima 50 g fentanil (1 ml) secara
subkutan pada didinding anterior abdomen

Grup 3
Pasien yg menerima 50 g fentanil (1 ml) secara
intranasal
Metode Penelitian
Setelah operasi selesai, diberikan reverse
dgn 0,05 mg/kg neostigmin dan 0,02 mg/kg
atropin.
Setelah di recovery room selama 30 mnt 4
jam post op. Dinilai intensitas nyeri dan mual
dengan VAS (0-10)
Tekanan sistol dan diastol dicatat sebelum
induksi anestesi, sebelum diberi fentanil, lalu
5, 15 dan 30 menit kemudian masuk
recovery room.
Analisa Statistik
Analisa menggunakan uji Chi square
dan Kruskal-Wallis tests dengan SPSS
20.
Significant p< 0,05
Hasil penelitian
Hasil Penelitian
The average pain VAS score was less in the
second group who received fentanyl
subcutaneously at the time of recovery
admission (6.8 1.5) (P = 0.037) and after 3 h
(6.36 1.5) (P = 0.033). The mean of VAS score
of nausea was not statistically significant
between three groups throughout the study (P >
0.05).
Although seven patients (28%) in the first group
(IV group) and four subjects in the second and
third groups (16%) had nausea, the Chisquare
test showed that the difference was not
statistically significant.
The mean of systolic and diastolic blood
pressure and the pattern of their change were
not significantly different between groups.
DISKUSI
Onset fentanil cepat diberikan inravena.
Durasi aksi analgetik dari fentanil
didapatkan 30-60 mnt setelah pemberian iv
single dose >100 g. IVF aman digunakan
sbg analgetik pada pasien cancer.
INF bisa digunakan sbg alternatif jika akses
IV tidak bisa digunakan. INF diabsorbsi cepat
(level teraupetik dlm 2 menit) dan
mengurangi nyeri setelah 5 menit
pemberian. Durasi aksi 30 mnt.
DISKUSI
Finn et al.s mengungkapkan bahwa pemberian
INF efikasi dan keamanannya sama dengan oral
morphine for burns wound care pain.
Christrup et al. membandingkan tolerabilitas,
farmakokinetik dan efikasi IN and IV fentanil
pada nyeri acute pasien yang sedang ekstraksi
molar ketiga. Dia mneyimpulkan onset dan
durasi analgetik tidak berbeda secara signifikan
antara single doses INF and IVF, dan keduanya
dpt di toleransi dgn baik.
DISKUSI
Menurut Capper absorbsi SCF sama cepat dgn
pemebrian SC morfin. Waktu paruh fentanil
lebih lama (10 jam) dari morfin (2,1 jam)
Menurut Watanabe et al retrospectively
pemberian subkutan fentanil diabsorbsi primer
melalui difusi kapiler, mencegah metabolisme
lintas pertama. Tidak ada perbedaan
signifikan antara pemberian SC dan IV dari
absorption, efficacy, frekuensi, efek samping.
Hasilnya sama seperti penelitian ini.
Kekurangan
Belum jelas, efek pada pasien dgn
berbagai tipe nyeri.
Subjek relatif muda. Farmakokinetik dan
farmakodinamik INF dan sc fentanil
pada org lebih tua belum dapat
ditentukan
Kesimpulan
Fentanil subkutan dapat dijadikan
alternatif yang efektif sama dgn INF dan
IVF sebagai tatalaksana nyeri utk pasien
jika akses IV tidak memungkinkan.
TERIMA KASIH