Anda di halaman 1dari 41

KULIAH 10

GAGAL JANTUNG

DOSEN PEMBINA
DRS.NOPRIZON, M.Kes (M.Biomed),Apt
PENDAHULUAN
Gagal Jantung (Decompensatio Cardis)
Berdasar definisi patofisiologik gagal jantung
(decompensatio cordis) atau dalam bahasa
inggris Heart Failure adalah keadaan
ketidakmampuan jantung sebagai pompa darah
untuk memenuhi secara adekuat kebutuhan
metabolisme jaringan (tubuh) pada saat
istirahat atau kerja ringan, sedangkan tekanan
pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi
(1).
Keadaan ini dapat disebabkan oleh karena
gangguan primer otot jantung atau beban
jantung yang berlebihan atau kombinasi
keduanya (1).
Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh,
jantung yang bertindak sebagai pompa sentral
akan memompa darah untuk menghantarkan
bahan-bahan metabolisme yang diperlukan ke
seluruh jaringan tubuh dan mengangkut sisa-sisa
metabolisme untuk dikeluarkan dari tubuh (2)
Beban jantung yang berlebihan pada preload
atau beban volume terjadi pada defek dengan
pirau kiri ke kanan, regurgitasi katup, atau
fistula arteriovena.
Sedangkan beban yang berlebihan pada
afterload atau beban tekanan terjadi pada
obstruksi jalan keluar jantung, misalnya
stenosis aorta, stenosis pulmonal atau
koarktasio aorta. (2)
Gagal jantung kongestif pada bayi dan anak merupakan
kegawatdaruratan yang sangat sering dijumpai oleh
petugas kesehatan dimanapun berada.
Keluhan dan gejala sangat bervariasi sehingga sering
sulit dibedakan dengan akibat penyakit lain di luar
jantung (3)
Gagal jantung yang merupakan ketidakmampuan jantung
mempertahankan curah jantung (cardiac output=CO)
dalam memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Penurunan CO mengakibatkan volume darah yang
efektif berkurang.
Untuk mempertahankan fungsi sirkulasi yang
adekuat, maka di dalam tubuh terjadi suatu refleks
homeostasis atau mekanisme kompensasi melalui
perubahan-perubahan neurohumoral, dilatasi
ventrikel dan mekanisme Frank-Starling.
Dengan demikian manifestasi klinik gagal jantung
terdiri dari berbagai respon hemodinamik, renal,
neural dan hormonal yang tidak normal.
Salah satu respon hemodinamik yang tidak normal
adalah peningkatan tekanan pengisian (filling
pressure) dari jantung atau preload(4).
Gagal jantung adalah keadaan patifisiologik di
mana jantung sebagai pompa tidak mampu
memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme
jaringan.
Ciri-ciri yang penting dari definisi ini adalah
pertama, definisi gagal adalah relatif
terhadap kebutuhan metabolisme tubuh, dan
kedua, penekanan arti gagal ditujukan pada
fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada
fungsi miokardium; gagal miokardium umumnya
mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme
kompensatorik sirkulasi dapat menunda atau
bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal
jantung dalam fungsi pompanya. (5)
Gagal jantung merupakan suatu masalah kesehatan
masyarakat yang banyak dijumpai dan menjadi
penyebab morbiditas dan mortalitas utama baik di
negara maju maupun di negara sedang berkembang.
(6)
Etiologi Gagal Jantung
Terdapat tiga kondisi yang mendasari terjadinya gagal
jantung, yaitu :
1. Gangguan mekanik ; beberapa faktor yang mungkin
bisa terjadi secara tunggal atau bersamaan yaitu :
Beban tekanan
Beban volume
Tamponade jantung atau konstriski perikard, jantung
tidak dapat diastole
Obstruksi pengisian ventrikel
Aneurisma ventrikel
Disinergi ventrikel
Restriksi endokardial atu miokardial
2. Abnormalitas otot jantung
Primer : kardiomiopati, miokarditis metabolik (DM,
gagal ginjal kronik, anemia) toksin atau sitostatika.
Sekunder: Iskemia, penyakit sistemik, penyakit
infiltratif, korpulmonal
3. Gangguan irama jantung atau gangguan
konduksi (3)
Di samping itu penyebab gagal jantung berbeda-
beda menurut kelompok umur, yakni pada masa
neonatus, bayi dan anak (1)
Periode Neonatus
Disfungsi miokardium relatif jarang terjadi
pada masa neonatus, dan bila ada biasanya
berhubungan dengan asfiksia lahir, kelainan
elektrolit atau gangguan metabolik lainnya.
Lesi jantung kiri seperti sindrom hipoplasia
jantung kiri, koarktasio aorta, atau stenosis
aorta berat adalah penyebab penting gagal
jantung pada 1 atau 2 minggu pertama (1).
Periode Bayi
Antara usia 1 bulan sampai 1 tahun penyebab
tersering ialah kelainan struktural termasuk
defek septum ventrikel, duktus arteriosus
persisten atau defek septum atrioventrikularis.
Gagal jantung pada lesi yang lebih kompleks
seperti transposisi, ventrikel kanan dengan
jalan keluar ganda, atresia tricuspid atau
trunkus arteriosus biasanya juga terjadi pada
periode ini (1)
Periode Anak
Gagal jantung pada penyakit jantung bawaan
jarang dimulai setelah usia 1 tahun.
Di negara maju, karena sebagian besar pasien
dengan penyakit jantung bawaan yang berat
sudah dioperasi, maka praktis gagal jantung
bukan menjadi masalah pada pasien penyakit
jantung bawaan setelah usia 1 tahun (1).
Patofisiologi Gagal Jantung
Gagal jantung bukanlah suatu keadaan klinis
yang hanya melibatkan satu sistem tubuh
melainkan suatu sindroma klinik akibat kelainan
jantung sehingga jantung tidak mampu memompa
memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Gagal jantung ditandai dengan satu respon
hemodinamik, ginjal, syaraf dan hormonal yang
nyata serta suatu keadaan patologik berupa
penurunan fungsi jantung.
Respon terhadap jantung menimbulkan
beberapa mekanisme kompensasi yang
bertujuan untuk meningkatkan volume darah,
volume ruang jantung, tahanan pembuluh darah
perifer dan hipertropi otot jantung.
Kondisi ini juga menyebabkan aktivasi dari
mekanisme kompensasi tubuh yang akut
berupa penimbunan air dan garam oleh ginjal
dan aktivasi system saraf adrenergik (3).
Kemampuan jantung untuk memompa darah guna
memenuhi kebutuhan tubuh ditentukan oleh
curah jantung yang dipengaruhi oleh empar
faktor yaitu: preload; yang setara dengan isi
diastolik akhir, afterload; yaitu jumlah tahanan
total yang harus melawan ejeksi ventrikel,
kontraktilitas miokardium; yaitu kemampuan
intrinsik otot jantung untuk menghasilkan tenaga
dan berkontraksi tanpa tergantung kepada
preload maupun afterload serta frekuensi denyut
jantung.
Dalam hubungan ini, penting dibedakan antara
kemampuan jantung untuk memompa (pump
function) dengan kontraktilias otot jantung
(myocardial function).
Pada beberapa keadaan ditemukan beban berlebihan
sehingga timbul gagal jantung sebagai pompa tanpa
terdapat depresi pada otot jantung intrinsik.
Sebaliknya dapat pula terjadi depresi otot jantung
intrinsik tetapi secara klinis tidak tampak tanda-
tanda gagal jantung karena beban jantung yang
ringan. (1)
Pada awal gagal jantung, akibat CO yang rendah, di
dalam tubuh terjadi peningkatan aktivitas saraf simpatis
dan sistem renin angiotensin aldosteron, serta pelepasan
arginin vasopressin yang kesemuanya merupakan
mekanisme kompensasi untuk mempertahankan tekanan
darah yang adekuat.
Penurunan kontraktilitas ventrikel akan diikuti
penurunan curah jantung yang selanjutnya terjadi
penurunan tekanan darah dan penurunan volume darah
arteri yang efektif.
Hal ini akan merangsang mekanisme kompensasi
neurohumoral. (4)
Vasokonstriksi dan retensi air untuk
sementara waktu akan meningkatkan tekanan
darah sedangkan peningkatan preload akan
meningkatkan kontraktilitas jantung melalui
hukum Starling.
Apabila keadaan ini tidak segera teratasi,
peninggian afterload, peninggian preload dan
hipertrofi/ dilatasi jantung akan lebih
menambah beban jantung sehingga terjadi
gagal jantung yang tidak terkompensasi (4)
Manifestasi Klinik Gagal Jantung
Manifestasi klinis gagal jantung bervariasi,
tergantung dari umur pasien, beratnya gagal
jantung, etiologi penyakit jantung, ruang-ruang
jantung yang terlibat, apakah kedua ventrikel
mengalami kegagalan serta derajat gangguan
penampilan jantung (1,6).
Pada bayi, gejala Gagal jantung biasanya berpusat
pada keluhan orang tuanya bahwa bayinya tidak kuat
minum, lekas lelah, bernapas cepat, banyak
berkeringat dan berat badannya sulit naik.
Pasien defek septum ventrikel atau duktus arteriosus
persisten yang besar seringkali tidak menunjukkan
gejala pada hari-hari pertama, karena pirau yang
terjadi masih minimal akibat tekanan ventrikel kanan
dan arteri pulmonalis yang masih tinggi setelah
beberapa minggu (2-12 minggu), biasanya pada bulan
kedua atau ketiga, gejala gagal jantung baru nyata.
Anak yang lebih besar dapat mengeluh lekas
lelah dan tampak kurang aktif, toleransi
berkurang, batuk, mengi, sesak napas dari yang
ringan (setelah aktivitas fisis tertentu), sampai
sangat berat (sesak napas pada waktu istirahat).
Pasien dengan kelainan jantung yang dalam
kompensasi karea pemberian obat gagal jantung,
dapat menunjukkan gejala akut gagal jantung
bila dihadapkan kepada stress, misalnya
penyakit infeksi akut (1).
Pada gagal jantung kiri atau gagal jantung
ventrikel kiri yang terjadi karena adanya
gangguan pemompaan darah oleh ventrikel kiri,
biasanya ditemukan keluhan berupa perasaan
badan lemah, berdebar-debar, sesak, batuk,
anoreksia, keringat dingin.
Tanda obyektif yang tampak berupa takikardi,
dispnea, ronki basah paru di bagian basal, bunyi
jantung III, pulsus alternan.
Pada gagal jantung kanan yang dapat terjadi karena
gangguan atau hambatan daya pompa ventrikel
kanan sehingga isi sekuncup ventrikel kanan
menurun, tanpa didahului oleh adanya gagal jantung
kiri, biasanya gejala yang ditemukan berupa edema
tumit dan tungkai bawah, hepatomegali, lunak dan
nyeri tekan; bendungan pada vena perifer (vena
jugularis), gangguan gastrointestinal dan asites.
Keluhan yang timbul berat badan bertambah
akibat penambahan cairan badan, kaki
bengkak, perut membuncit, perasaan tidak
enak di epigastrium (2).
Pada penderita gagal jantung kongestif, hampir
selalu ditemukan :
Gejala paru berupa : dyspnea, orthopnea dan
paroxysmal nocturnal dyspnea.
Gejala sistemik berupa lemah, cepat lelah,
oliguri, nokturi, mual, muntah, asites,
hepatomegali, dan edema perifer.
Gejala susunan saraf pusat berupa insomnia,
sakit kepala, mimpi buruk sampai delirium.
Pada kasus akut, gejala yang khas ialah gejala edema
paru yang meliputi : dyspnea, orthopnea, tachypnea,
batuk-batuk dengan sputum berbusa, kadang-kadang
hemoptisis, ditambah gejala low output seperti :
takikardi, hipotensi dan oliguri beserta gejala-gejala
penyakit penyebab atau pencetus lainnya seperti
keluhan angina pectoris pada infark miokard akut.
Apabila telah terjadi gangguan fungsi ventrikel yang
berat, maka dapat ditemukn pulsus alternan.
Pada keadaan yang sangat berat dapat terjadi syok
kardiogenik (4).
Diagnosis Gagal Jantung
Bayi dan anak yang menderita gagal jantung yang
lama biasanya mengalami gangguan pertumbuhan.
Berat badan lebih terhambat daripada tinggi
badan.
Tanda yang penting adalah takikardi (150x/mnt
atau lebih saat istirahat), serta takipne
(50x/mnt atau lebih saat istirahat).
Pada prekordium dapat teraba aktivitas jantung
yang meningkat.
Bising jantung sering ditemukan pada
auskultasi, yang tergantung dari kelainan
struktural yang ada.
Terdapatnya irama derap merupakan penemuan
yang berarti, khususnya pada neonatus dan bayi
kecil.
Ronki juga sering ditemukan pada gagal jantung.
Bendungan vena sistemik ditandai oleh
peninggian tekanan vena jugular, serta refluks
hepatojugular.
Kedua tanda ini sulit diperiksa pada neonatus dan bayi
kecil, tampak sianosis perifer akibat penurunan perfusi
di kulit dan peningkatan ekstraksi oksigen jaringan
ekstremitas teraba dingin, pulsasi perifer melemah,
tekanan darah sistemik menurun disertai penurunan
capillary refill dan gelisah.
Pulsus paradoksus (pirau kiri ke kanan yang besar),
pulsus alternans (penurunan fungsi ventrikel stadium
lanjut).
Bising jantung menyokong diagnosis tetapi tidak adanya
bising jantung tidak dapat menyingkirkan bahwa bukan
gagal jantung (1,3).
Foto dada : dengan sedikit perkecualian, biasanya
disertai kardiomegali. Paru tampak bendungan vena
pulmonal (1).
Elektrokardiografi : di samping frekuensi QRS yang
cepat atau disritmia, dapat ditemukan pembesaran
ruang-ruang jantung serta tanda-tanda penyakit
miokardium/ pericardium (1).
Ekokardiografi : M-mode dapat menilai kuantitas ruang
jantung dan shortening fraction yaitu indeks fungsi
jantung sebagai pompa. Pemeriksaan Doppler dan
Doppler berwarna dapat menambah informasi secara
bermakna (1).
Penatalaksanaan Gagal Jantung
Terdapat tiga aspek yang penting dalam
menanggulangi Gagal jantung: pengobatan
terhadap Gagal jantung, pengobatan terhadap
penyakit yang mendasari dan pengobatan
terhadap faktor pencetus.
Termasuk dalam pengobatan medikamentosa
yaitu mengurangi retensi cairan dan garam,
meningkatkan kontraktilitas dan mengurangi
beban jantung.
Pengobatan umum meliputi istirahat, pengaturan suhu
dan kelembaban, oksigen, pemberian cairan dan diet.
Selain itu, penatalaksanaa gagal jantung juga berupa:
Medikamentosa :
Obat inotropik (digitalis, obat inotropik intravena),
Vasodilator : (arteriolar dilator : hidralazin),
(venodilator : nitrat, nitrogliserin), (mixed dilator :
prazosin, kaptopril, nitroprusid)
Diuretik
Pengobatan disritmia
Pembedahan :
- Penyakit jantung bawaan (paliatif, korektif)
- Penyakit jantung didapat (valvuloplasti,
penggantian katup)
Komplikasi Gagal Jantung
Pada bayi dan anak yang menderita gagal jantung
yang lama biasanya mengalami gangguan
pertumbuhan.
Berat badan lebih terhambat daripada tinggi badan.
Pada gagal jantung kiri dengan gangguan
pemompaan pada ventrikel kiri dapat
mengakibatkan bendungan paru dan selanjutnya
dapat menyebabkan ventrikel kanan berkompensasi
dengan mengalami hipertrofi dan menimbulkan
dispnea dan gangguan pada sistem pernapasan
lainnya.
Pada gagal jantung kanan dapat terjadi
hepatomegali, ascites, bendungan pada vena
perifer dan gangguan gastrointestinal (1,3,6).
Prognosis Gagal Jantung
Pada sebagian kecil pasien, gagal jantung yang berat
terjadi pada hari/ minggu-minggu pertama pasca lahir,
misalnya sindrom hipoplasia jantung kiri, atresia aorta,
koarktasio aorta atau anomali total drainase vena
pulmonalis dengan obstruksi.
Terhadap mereka, terapi medikmentosa saja sulit
memberikan hasil, tindakan invasif diperlukan segera
setelah pasien stabil.
Kegagalan untuk melakukan operasi pada golongan pasien
ini hampir selalu akan berakhir dengan kematian (1,3)
Pada gagal jantung akibat PJB yang kurang berat,
pendekatan awal adalah dengan terapi medis
adekuat, bila ini terlihat menolong maka dapat
diteruskan sambil menunggu saat yang baik untuk
koreksi bedah (1,4)
Pada pasien penyakit jantung rematik yang berat
yang disertai gagal jantung, obat-obat gagal
jantung terus diberikan sementara pasien
memperoleh profilaksis sekunder, pengobatan
dengan profilaksis sekunder mungkin dapat
memperbaiki keadaan jantung (1).
Pustaka
1. Oesman I.N, 1994. Gagal Jantung. Dalam buku ajar kardiologi
anak. Binarupa Aksara. Jakarta. Hal 425 441
2. Abdurachman N. 1987. Gagal Jantung. Dalam Ilmu Penyakit
Dalam. Balai penerbit FKUI. Jakarta. Hal 193 204
3. Ontoseno T. 2005. Gagal Jantung Kongestif dan
Penatalaksanaannya pada Anak. Simposium nasional perinatologi
dan pediatric gawat darurat. IDAI Kal-Sel. Banjarmasin. Hal 89 103
4. Kabo P, Karim S. 1996. Gagal Jantung Kongestif. Dalam : EKG dan
penanggulangan beberapa penyakit jantung untuk dokter umum.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Hal 187 205
5. Price, Sylvia A 1994. Gangguan Fungsi Mekanis Jantung dan
Bantuan Sirkulasi. Dalam : Patofisiologi konsep klinis proses-proses
penyakit. EGC. Jakarta. 582 593
6. Mappahya, A.A. 2004. Dari Hipertensi Ke Gagal Jantung.
Pendidikan Profesional Berkelanjutan Seri II. FKUH. Makassar. 2004.
TERIMA KASIH
SAMPAI MINGGU DEPAN