Anda di halaman 1dari 31

PENDAHULUAN

Suhu biasanya diukur dengan termometer air raksa , tempat


pengambilannya dapat di aksila, oral atau rektum.
Suhu tubuh normal berkisar antara36,5-37,2C.
Suhu subnormal di bawah 36C.
Demam, diartikan suhu tubuh di atas 37,2C.
Hiperpireksia adalah suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai
setinggi 41,2C atau lebih
Hipotermia bila suhu tubuh dibawah 35C.
Ada perbedaan antara pengukuran suhu di aksila dan oral
maupun rektal. Dalam keadaan biasa perbedaan ini berkisar
sekitar 0,5C; suhu rektal lebih tinggi daripada suhu oral.
Dalam keadaan tertentu,perlu pengukuran suhu yang lebih
akurat seperti pada pasien yang banyak berkeringat atau dengan
frekuensi pernapasan yang tinggi. Pada keadaan tersebut, lebih
baik diukur suhu rektal karena perbedaan nya mungkin pada
pengukuran suhu di berbagai tempat dapat mencapai 2-3C.
PENDAHULUAN
Demam pada mamalia ,memberi petunjuk bahwa pada temperatur
39C, produksi antibodi dan proliferasi sel limfosit-T meningkat
sampai 20 kali dibandingkan dengan keadaan pada temperatur normal
(37C).
Dalam evolusi kehidupan, tubuh telah mengembangkan suatu sistem
pertahanan yang cukup ampuh terhadap infeksi ,peninggian suhu badan
memberikan suatu peluang kinerja yang optimal bagi sistem pertahanan
tubuh.
Demam terjadi karena penglepasan pirogen dari leukosit yang sebelum
nya telah terangsang oleh pirogen eksogen, yang dapat berasal dari
mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang
tidak berdasarkan suatu infeksi.
Diduga bahwa pirogen adalah suatu protein yang identik dengan
interleukin- 1 (IL-1)
IL-1merangsang hipotalamus untuk melepasan asam arakidonat serta
mengakibatkan peningkatan sintesis prostaglandin E2 yang menyebab
kan suatu pireksia akibat adanya reaksi inflamasi
(calor,dolor,rubor,tumor,functiolesa).
PENDAHULUAN
Mekanisme lain yang menambah peningkatan Suhu tu
buh yaitu (kompensasi):
o Pengaturan oleh sistem autonom, mengakibatkan
terjadinya vasokonstriksi perifer sehingga pengeluaran
panas menurun
o meningkatnya aktivitas metabolisme mengakibatkan
penambahan produksi panas dan karena kurang
adekuat penyalurannya ke permukaan maka rasa
demam bertambah
TIPE DEMAM
1. Demam septik
Pada tipe demam septik, suhu badan berangsur naik ke
tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun
kembali ke tingkat diatas normal pada pagi hari. Sering
disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam
yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal
dinamakan juga demam hektik.
2. Demam remiten
Pada tipe demam remiten, suhu badan dapat turun setiap
hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal.
Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai
dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat
pada demam septik.
TIPE DEMAM
3. Demam intermiten
Pada tipe demam intermiten, suhu badan turun ke tingkat
yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila
demam seperti ini terjadi setiap dua hari sekali disebut
tersiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara
dua serangan demam disebut kuartana.
4. Demam kontinyu
Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari
tidak berbeda lebih dari satu derajat.
Pada tingkat demam yang terus menems tinggi sekali
disebut hiperpireksia.
TIPE DEMAM
5.Demam siklik
Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu badan
selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas
demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti
oleh kenaikan suhu seperti semula.
PENYEBAB DEMAM
Kausa demam antara lain :
o Infeksi
o Toksemia
o Keganasan
o Reaksi terhadap pemakaian obat.
o Gangguan pada pusat regulasi suhu sentral (heat
stroke, perdarahan otak, koma atau gangguan sentral
lainnya)
o Perdarahan internal, terjadi reabsorpsi darah dapat
menyebabkan peningkatan temperatur.
SIFAT DEMAM
Beberapa hal yang secara khusus perlu diperhatikan
pada demam, adalah :
o Cara timbul demam
o Lama demam
o Sifat harian demam
o Tinggi demam
o Keluhan serta gejala lain yang menyertai demam.
Demam yang tiba-tiba tinggi lebih sering disebabkan
oleh penyakit virus.
DEMAM BELUM TERDIAGNOSIS
Suatu keadaan di mana seorang pasien mengalami demam terus
menerus selama 3 minggu ,dengan suhu badan di atas 38,3C .
Belum /tidak ditemukan penyebabnya ,walaupun telah diteliti
secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium mau-
pun penunjang medis lainnya.
Istilah yang digunakan untuk penyakit ini antara lain: febris et
causa ignota, fever of obscure origin, fever of undetermined
origin dan fever of undiagnosed origin (FUO).
Penyebab FUO, sesuai golongan penyakitnya antara lain:
o Infeksi (40%)
o Neoplasma (20%)
o Penyakit Kolagen (20%)
o Penyakit lain (10%)
Yang tidak diketahui sebabnya ( 10%).
SERO-IMUNOLOGI
Pemeriksaan serologis sebenarnya sangat
bermanfaat pada seorang pasien "demam belum
terdiagnosis".
Biasanya diperlukan dua spesimen darah untuk
pemeriksaan ini. Hal ini perlu diusahakan, untuk
memudahkan interpretasi titer serologik yang
ditemukan. Suatu kenaikan titer sebesar 4 kali atau
lebih mempunyai arti yang sangat besar untuk
dapat menentukan kemungkinan penyebab
penyakit.
.
SERO-IMUNOLOGI
Untuk penunjang diagnosis infeksi akut selalu harus
berpedoman pada keberadaan imunoglobulin M yang
spesifik atau peningkatan bermakna dari IgG
Pemeriksaan-pemeriksaan jenis lainnya yang dapat
membantu , misalnya :
o Faktor artritis reumatoid (Rh F)
o Imunoglobulin (Ig)
o Antibodi Antinuklear (ANA)
o Antigen otot polos serta tes auto-antibodi lainnya
o Imuno-elektroforesis.
MIKROBIOLOGI
Isolasi kuman penyebab infeksi merupakan kriteria diagnosis
utama pada pasien yang tersangka demam karena infeksi.
Pengambilan darah untuk kultur mikroorganisme harus
dilakukan secara aseptik dengan mengambil sekitar l0 ml yang
kemudian dilarutkan dalam media yang masing-masing dapat
menumbuhkan kuman aerob dan kuman anaerob. Sebaiknya
usaha untuk mengambil darah untuk mengisolasi kuman
dilaksanakan beberapa kali pada hari pertama dan selalu harus
dipegang prinsip pengambilan sesteril mungkin.
Selain kultur darah, mikroorganisme dalam urin juga penting;
dalam hal ini harus dijaga cara pengambilan sampel yang
reprsentatif.
Semua sampel harus segera dibawa ke laboratorium dan harus
segera dikultur. Isolasi virus biasanya diambil dari seket hidung,
usap tenggorok atau sekresi bronkial. Untuk TBC diperlukan
pemeriksaan sputum minimal 3 hari berturut-turut. Untuk infeksi
saluran cerna pemeriksaan mikroorganisme dari feses diperlukan
untuk memantau spektrum kuman penyebab.
HEMATO-KIMIA KLINIS
Dengan meluasnya spektrum penyakit virus dewasa ini
dan karena pengaruh urbanisasi, globalisasi maupun
lingkungan yang kurang memadai lebih
memungkinkan pasien mengalami demam karena
terjangkit infeksi virus.
Pada saat ini diperlukan patokan yang dapat
membedakan pasien terjangkit virus atau bakteri yang
penatalaksanaannya berbeda total. Salah satu
pengukuran yang dapat dilaksanakan dalam tahap awal
adalah pemeriksaan hematologis yang pada infeksi
bakteri akut dapat menunjukkan pergeseran hitung
jenis ke kiri dengan atau tanpa leukositosis.
HEMATO-KIMIA KLINIS
Bila keadaan ini tidak dijumpai dan kita tetap ingin
membedakan antara infeksi virus dan bakteri dapat
dilakukan pemeriksaan C-reaktif protein (CRP),yang dapat
meningkat lebih dari l0 kali pada infeksi bakteri akut.
Kenaikan ini masih perlu dibedakan dengan artritis di mana
keluhan pada sendi lebih dominan.
Kimia klinis selanjutnya dapat membantu dengan
mengukur kadar serum kalsium yang dapat meningkat pada
sarkoidosis dan beberapa karsinomatosis. Selanjutnya pada
penyakit hati dapat diperiksa enzim SGOT/ SGPT/GAMA
GT yang dapat memberi petunjuk mengenai fungsi sel hati.
Selanjutnya tes fungsi hati lainnya dapat diperiksa bila
terdapat kelainan pada nilai enzim-enzim tersebut.
SINAR TEMBUS
Foto rontgen merupakan pemeriksaan penunjang medis
sangat vital terutama dalam membantu diagnosis kelainan
paru dan ginjal.
Sumsum tulang belakang dan persendian juga merupakan
bagian-bagian yang ideal untuk diperiksa dengan sinar
tembus.
Juga masih relatif mudah dikerjakan adalah pemeriksaan
saluran pencernaan, baik yang meliputi bagian atas tengah
atau bawah.
Kolangiografi dapat membantu diagnosis bila diduga
kemungkinan terdapat suatu kelainan di kuadran kanan atas
abdomen sebagai penyebab demam.
SINAR TEMBUS
Angiografi dapat membantu menegakkan diagnosis
emboli paru-paru sedangkan angiokardiografi dapat
digunakan untuk membuat diagnosis miksoma atrium.
Angiokardiografi ini serta angiografi abdominal yang
sebelumnya sering digunakan terutama untuk
diagnostik organ-organ viseral pada saat ini mulai
terdesak oleh pemeriksaan ampuh lain disamping
ultrasonografi untuk membantu menegakkan diagnosis
penyakit organik di abdomen.
Limfangiografi berguna untuk mendeteksi suatu
limfoma abdominal atau retroperitoneal.
ENDOSKOPI
Indikasi untuk melakukan pemeriksaan ini terutama
dengan penyakit demam lama yang disertai diare dan
nyeri perut.
Pasien serupa ini mungkin menderita kolitis ulserativa
dan dapat didiagnosis secara pasti dengan
sigmoidoskopi atau kolonoskopi
Pemeriksaan lain yang dikenal dengan ERCP atau
endoscopic retrograde choledocho pancreatography
mungkin, akan dapat memberi informasi yang lengkap
mengenai kandung empedu, dan pancreas dengan cara
memasukkan cairan kontras dalam ampul Vateri
ELEKTROKARDIOGRAFI
Pemeriksaan ini sebenarnya kurang bermanfaat pada
pasien demam tetapi khususnya di Indonesia mungkin
dapat melengkapi diagnosis pada pasien tersangka
demam tifoid.
BIOPSI
Peran biopsi dalam menentukan penyebab demam
belum terdiagnosis sangat besar dan dapat
dilaksanakan dimana fasilitas-fasilitas penunjang
medis yang modern tidak tersedia
Pada instansi pertama dapat dilakukan biopsi kelenjar-
kelenjar yang membesar atau massa tumor yang jelas
dan mudah dicapai. Hal ini berguna untuk menetapkan
diagnosis penyakit-penyakit seperti limfoma,
metastasis keganasan, tuberkulosis atau infeksi jamur,
terutama pada kelenjar-kelenjar yang membesar.
BIOPSI
Informasi yang kadang-kadang berguna di perifer tanpa
fasilitas ultrasonografi adalah biopsi hati. Akan sangat
membantu bila terdapat kelainan primer atau sekunder
dihati terutama yang meliputi keganasan granuloma
gambaran infeksi spesifik lainnya dan hepatitis alkoholik
Biopsi kulit atau otot mungkin dapat membenarkan
persangkaan ke suatu penyakit kolagen atau penyakit
lainnya seperti misalnya trikinosis.
Biopsi baru akan bermanfaat pada massa tumor padat.
Biopsi dapat juga sekaligus dilaksanakan untuk
pengeluaran cairan dari rongga-rongga badan. Ini akan
dapat membantu diagnostik bila terdapat demam belum
terdiagnosis
ULTRASONOGRAFI (USG)
Mengingat mudahnya cara pemeriksaan Ultrasonografi
(USG), pada saat ini asosiasi antara suatu gangguan
internistis terutama di daerah jantung atau daerah
abdominal dengan jenis pemeriksaan ini makin lama makin
berkembang dan makin banyak dilakukan.
Pemeriksaan ini secara khusus akan berguna untuk kelainan
seperti miksoma di atrium atau vegetasi dikatub-katub
jantung
Di daerah abdomen melalui pemeriksaan USG dapat
dideteksi kelainan terutama di hati, ginjal, retroperitoneal
dan juga gangguan di daerah pelvis. Selalu harus diingat
bahwa mungkin diperoleh hasil-hasil yang false-positive
dan selalu harus dianggap sebagai suatu pemeriksaan
penunjang dengan sepenuhnya memperhatikan penyakit
secara menyeluruh
PENCITRAAN
Pencitraan dapat banyak membantu untuk pemeriksaan khusus
terhadap hati. Scanning paru-paru dapat membantu diagnosis
pada kecurigaan tentang adanya emboli paru sedangkan dengan
scanning. Sekaligus hati dan paru, dapat ditunjukkan adanya
abses di subdiafragma. Demikian pula scanning dengan gallium
sitrat dapat memperlihatkan titik fokus infeksi di daerah
abdominal yang sulit untuk ditemukan secara rutin. Dalam
beberapa keadaan, scanning tulang belakang lebih dini dapat
memberi informasi tentang adanya metastasis daripada
penggunaan sinar tembus konversional.
Di masa yang akan datang diperkirakan bahwa pemeriksaan
dengan computerized tomography, (CT-Scan) akan dapat sangat
membantu diagnostik dan dapat menunjukkan kelainan pada
badan melalui pemotongan lintang letak anatomis organ tubuh.
Untuk kelainan retroperitoneal pemeriksaan ini sangat ideal
LAPAROTOMI
Laparotomi mungkin dapat memegang peran penting di tempat
dimana fasilitas kesehatan yang masih memiliki peralatan yang
sederhana dan sistem rujukan yang belum sempurna dan hanya
dibenarkan bilamana ada suatu petunjuk keras bahwa penyebab
demam adalah karena suatu kelainan utama di abdomen
Di satu pihak konklusi dapat dicapai sangat cepat, karena pasien
dapat segera mengetahui sebab panyakitnya dan terhindar dari
biaya-biaya pemeriksaan yang sangat mahal, tetapi di lain pihak
cara pendekatan diagnosis seperti ini tidak tanpa bahaya,
khususnya pada mereka yang sudah menurun keadaan umum.
Tindakan yang lebih sederhana seperti peritoneoskopi akan dapat
membantu untuk mencapai diagnosis seperti misalnya peritonitis
tuberkulosa, karsinomatosis peritoneal, kolesistitis dan infeksi
rongga pelvis.
Laparatomi telah bermanfaat sekali pada penyakit-penyakit yang
masih dapat diobati seperti abses lokal, limfoma dan penyakit
autoimun
Terapi Ad Juantibus
Usaha untuk mengatasi demam belum terdiagnosis
dengan terapi ad juvantibus hanya dapat dibenarkan dalam
instansi terakhir da mana tidak lagi dapat ditempuh jalan
lain untuk memperoleh suau kepastian diagnosis.
Prinsip pelaksanaannya adalah bahwa obat yang digunakan
harus berdasarkan suatu indikasi yang kuat sesuai
pengalaman setempat dan harus bersifat spesifik.
Cara pemakaian kombinasi antibiotika berspektrum luas
tidak dapat dibenarkan mengingat bahwa penyebabnya
demam belum terdiagnosis terbanyak bukan karena
infeksi bakterial dan potensial dapat menyebabkan efek
samping atau super infeksi yang tidak diinginkan.
Terapi Ad Juantibus
Keadaan dimana diizinkan pemakaian terapi ad
juvantibus antara lain :
o Kloramfenikol untuk persangkaan demam tifoid
o Obat antituberkulosis untuk persangkaan tuberkulosis
o Aspirin untuk demam reumatik
o Antikoagulansia untuk emboli paru dan kortikosteroid
untuk keadaan seperti lupus eritematosus sistemik atau
reumatoid
DEMAM OBAT (DRUG FEVER)
Diperkirakan bahwa efek samping pengobatan berupa
demam obat terjadi pada 3-5% dari seluruh reaksi obat
yang dilaporkan.
Obat-obat yang mengakibatkan demam dapat
digolongkan sebagai obat yang sering mengakibatkan
demam dan obat yang secara insidentil sekali dapat
mengakibatkan demam
Salah satu ciri demam obat adalah bahwa demam akan
timbul tidak lama setelah pasien mulai dengan
pengobatan
DEMAM OBAT (DRUG FEVER)
Tipe demam obat dapat berupa :
o Remitan
o Intermiten
o Hektik atau kontinyu
Demam dengan cepat menghilang bila pengobatan
dihentikan dan merupakan sebuah tanda patognomosis
untuk jenis demam ini
Melalui berbagai mekanisme dapat terjadi demam obat
ini yang paling umum adalah karena terjadi suatu
reaksi imunologis
DEMAM DIBUAT-BUAT
Kadang-kadang seorang pasien dengan sengaja berusaha
dengan berbagai cara agar suhu badan yang akan dicatat
lebih tinggi daripada suhu badan sesungguhnya. Keadaan
suhu badan yang sengaja dibuat lebih tinggi ini dikenal
sebagai demam faktisius (factitious fever).
Bila diduga bahwa seorang berpura-pura sakit demam
(malinger) maka sewaktu diadakan pencatatan suhu badan
harus dilakukan pengawasan yang ketat dalam mengukur
suhu badan.
Pasien serupa ini mungkin memerlukan bantuan dokter ahli
jiwa dan keadaan seperti ini memang perlu disingkirkan
dahulu karena sia-sia saja dicari penyebab demamnya
melalui pemeriksaan penunjang yang ada