Anda di halaman 1dari 35

KEBIJakan perpajakan

sektor usaha perbankan,


lembaga pembiayaan,
leasing, modal ventura
dan pasar modal
LEMBAGA PEMBIAYAAN

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 448/KMK.017/2000


tentang Perusahaan Pembiayaan, memberikan
pengertian lembaga pembiayaan sebagai suatu
kegiatan pembiayaan yang dilakukan dalam bentuk
penyediaan dana bagi konsumen untuk pembelian
barang yang pembayarannya dilakukan secara
angsuran atau berkala oleh konsumen. Berdasarkan
definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
sebenarnya antara kredit konsumsi dengan
pembiayaan konsumen sama saja. Hanya pihak
pemberi kreditnya yang berbeda.
Lanjutan

Lembaga pembiayaan termasuk bagian dari lembaga


keuangan.
Lembaga keuangan meliputi:
1. Badan usaha yang mempunyai kekayaan dalam
bentuk aset keuangan yang disediakan untuk
menjalankan usaha dibidang jasa keuangan termasuk
juga pembiayaan.
2. Badan usaha yang hanya menjalankan usaha
dibidang jasa pembiayaan, menyediakan dana dan
barang modal tanpa menarik dana secara langsung
dari masyarakat.
Pengertian Perbankan
Sebagai lembaga keuangan bank memiliki fungsi pokok
berupa mengumpulkan dana dari masyarakat dalam
bentuk tabungan dan kemudian disalurkan kembali
kepada masyarakat dalam bentuk pemberian pinjaman
kepada pihak lain, juga menjamin keamanan uang
masyarakat yang disimpan tersebut dari risiko hilang,
kebakaran, dan lain- lain. Hal ini tentu akan
mendatangkan laba kepada bank tersebut melalui selisih
bunga simpanan dan bunga pinjaman tersebut.
Bank memperoleh sebagian besar dananya berasal dari
simpanan masyarakat berupa giro, deposito, tabungan
dan sebagainya yang mana dana yang telah dihimpun
tersebut disalurkan kembali kepada masyarakat,
terutama pada dunia usaha dalam bentuk kredit.
Dasar perpajakan perbankan

Terhitung mula;tanggal 19Agustus 2011, Menteri


Keuangan (Menkeu) menetapkan Pengenaan Pajak
Penghasilan (PPh) Untuk Kegiatan Usaha Perbankan
Syariah melalui Peraturan Menkeu Nomor
136/PMK.03/2011. Kebijakan ini ditetapkan dalam
rangka melaksanakan ketentuan Pasal 4 Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pajak
Penghasilan Kegiatan Usaha Berbasis Syariah.
Ketentuan dan
pemungutan
Perpajakan
Untuk Perbankan
PPh Pasal 21 untuk Gaji, upah , honorarium, insentif, imbalan lainnya
dalam bentuk dan nama apapun
PPh Pasal 22 untuk Pengadaan (Pembelian) Barang oleh Bank BUMN/D
Pemungutan:
Pemungutan PPh Pasal 22 diatur dalam KMK-254/KMK.03/2001 sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan PMK-210/PMK.03/2008). Menyebutkan bahwa :
Atas pembelian barang yang dilakukan oleh :
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan
pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN)
dan/atau belanja daerah (APBD)
Bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber dari
APBN maupun non-APBN
Wajib dipungut PPh Pasal 22 dari wajib pajak penjual
dengan tarif efektif 1,5% x Harga Jual (belum termasuk PPN). PPh Pasal 22 dipungut
pada saat pembayaran.
PPh Pasal 4 ayat (2)
untuk PPh
yang bersifat final
PPh Final atas Bunga Deposito/Tabungan diatur dalam PP Nomor 131 Tahun 2000 dan
KMK-51/KMK.04/2001. Pokok-pokok ketentuan adalah sebagai berikut :
PPh Final dikenakan atas bunga yang berasal dari deposito/tabungan baik yang ditempatkan
pada bank yang didirikan di dalam negeri maupun bank di luar negeri melalui cabangnya di di
Indonesia, termasuk jasa giro serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia, kecuali WP Orang Pribadi
yang seluruh penghasilannya dalam 1 tahun pajak termasuk bunga dan diskonto tidak melebihi
PTKP.
PPh yang terutang adalah sebesar 20% dari jumlah bruto (terhadap wajib pajak dalam negeri
atau BUT) dan 20% dari jumlah bruto atau sesuai tarif P3B yang berlaku (terhadap wajib pajak
luar negeri).
Dikecualikan dari pemotongan PPh :
Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI sepanjang jumlah deposito dan tabungan serta
sertifikat Bank Indonesia tersebut tidak melebihi Rp 7.500.000,00 dan bukan merupakan jumlah
yang dipecah-pecah.
Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau cabang
bank luar negeri di Indonesia.
Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun
yang telah disahkan Menteri Keuangan, sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 UU Nomor 11 Tahun 1992 Tentang Dana Pensiun.
Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka pemilikan
rumah sederhana dan sangat sederhana, kapling siap bangun untuk rumah
sederhana dan sangat sederhana, atau rumah susun sederhana sepanjang untuk
dihuni sendiri.
Pembebasan pemotongan PPh atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto
SBI yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang telah disahkan Menteri
Keuangan, sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 UU Nomor 11 Tahun 1992 Tentang Dana Pensiun dapat
diberikan berdasarkan SKB Pemotongan PPh atas Bunga Deposito dan Tabungan
serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia yang diterbitkan oleh KPP tempat dana
pensiun terdaftar.
PPh Final atas Penghasilan dari Hadiah atas Undian diatur dalam PP Nomor 132
Tahun 2000, KEP-395/PJ/2001, dan SE-19/PJ.43/2001. Pokok-pokok ketentuannya
adl sebagai berikut :
Hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun melalui cara undian yang
diterima atau diperoleh orang orang pribadi/badan dalam negeri dan orang
pribadi atau badan luar negeri dikenakan PPh Final sebesar 25% dari jumlah bruto
nilai undian.
Penyetoran PPh tersebut oleh penyelenggara undian dengan SSP secara kolektif
selambat-lambatnya tanggal10 bulan berikutnya.
Pelaporan ke KPP setempat dengan SPT Masa PPh atas hadiah undian selambat-
lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya setelah dibayarkannya atau
diserahkannya hadiah undian tersebut.
PPh Pasal 25 Wajib Pajak Bank
Contoh soal

PT Bank Dana Sejahtera dalam laporan triwulan April


s.d.Juni 2009 menunjukan penghasilan neto Rp.250.000,00.
Penghasilan PPh Pasal 25 untukmasa Juli, Agustus,
September 2009 adalah sebagai berikut:
Penghasilan neto triwulan Rp. 250.000.000,00
Penghasilan neto disetahunkan
4 x Rp. 250.000.000,00 Rp. 1.000.000.000,00
PPh Terutang 28% x Rp. 1.000.000.000,00 = Rp.
280.000.000,00
PPh Pasal 25 masa Juli, Agustus, September 2009:
Rp. 280.000.000,00/12 =Rp. 23.333.333,00
Untuk triwulan berikutnya dihitung kembali PPh Pasal 25
tiap-tiap triwulan seperti pada perhitungan di atas.
Jenis-Jenis Lembaga
Pembiayaan
Sewa guna usaha (leasing)
Modal Ventura (ventura capital)
Perdagangan surat berharga (securities
company)
Asuransi
Anjak Piutang (Factoring)
Usaha kartu kredit (credit card)
Pembiayaan konsumen (consumer
finance)
Sewa guna usaha (leasing)

Leasingdiartikan sebagai Sewa Guna Usaha


(SGU).Leasingmerupakan salah satu jenis jasa
pembiayaan yang dilakukan dalam bentuk penyediaan
barang modal bagi perusahaan yang membutuhkan
barang modal tersebut.
Keterangan gambar
1. Lesse menghubungi pemasok untuk pemilihan dan penentuan jenis
barang, spesifikasi, harga, jangka waktu penagihan, dan jaminan purna
jual atas barang yang akan disewa.
2. Lesse melakukan negosiasi dengan lesor mengenai kebutuhan
pembiyaan barang modal. Dalam hal ini, lesse dapat memintalease
quotationyang tidak mengikat dari lessor. Dalam quotation terdapat
sayrat-syarat pokok pembiyaan leasing, antara lain: keterangan barang,
harga barang, cash security deposit, residual value, asuransi, biaya
administrasi, jaminan uang sewa (lease rental), dan persyaratan lainnya.
3. Lessor mengirimkanletter of offerataucommitment letterkepada
lesse yang berisi syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai
barang modal yang dibutuhkan lesse menandatangani dan
mengembalikannya kepada lessor.
4. Penandatangan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi
lesse dimana kontrak tersebut mencakup hal-hal: pihak-pihak yang
terlibat , hak milik, jangka waktu, jasa leasing, opsi bagi lesse, penutupan
asuransi, tanggung jawab atas objek leasing, perpajakan jadwal
pembayaran angsuran sewa dan sebagainya.
5. Pengiriman order beli kepada pemasok disertai
instruksi pengiriman barang kepada lesse sesuai dengan
tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.
6. Pengiriman barang dan pengecekan barang oleh lesse
sesuai peranan serta menandatangani surat tanda
terima dan perintah bayar yang selanjutnya diserahkan
kepada pemasok.
7. Penyerahan dokumen oleh pemasok kepada lessor
termasuk faktur dan bukti-bukti kepemilikan barang
lainnya.
8. Pembayaran oleh lessor kepada pemasok
9. Pembayaran sewa (lease payment) secara berkala oleh
lessee kepada lesor selama leasing yang seluruhnya
mencakup pengembalian jumlah yang dibiayai beserta
bunganya.
Dasar Perpajakan Atas Leasing

Ketentuan yang mengatur tentang perlakukan


perpajakan terhadap kegiatan (transaksi) sewa guna
usaha yang masih berlaku sampai dengan saat ini
adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor :
1169/KMK.01/1991 tanggal 27 Nopember 1991,
berdaya laku surut sejak tanggal 19 Januari 1991.
SE-129/PJ/2010(berlaku sejak 29 November
2010)tentang perlakuan PPN atas transaksi leasing
dengan hak opsi dan sale and leaseback
Perlakuan Pajak
Penghasilan pada Sewa
Guna Usaha Dengan Hak
Opsi bagi lessee dan
Lesse: lessor
a. Selama masa sewa-guna-usaha, lessee tidak boleh melakukan penyusutan
atas barang modal yang disewa-guna-usaha, sampai saat lessee
menggunakan hak opsi untuk membeli;
b. Setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal
tersebut, lessee melakukan penyusutan dan dasar penyusutannya adalah
nilai sisa (residual value) barang modal yang bersangkutan;
c. Pembayaran sewa-guna-usaha yang dibayar atau terutang oleh lessee
kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto lessee sepanjang transaksi sewa-guna-usaha tersebut
memenuhi ketentuan dalam Pasal 3 Keputusan ini;
d. Dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang
ditentukan dalam Pasal 3 Keputusan ini, Direktur Jenderal Pajak melakukan
koreksi atas pembebanan biaya sewa-guna-usaha.
e. Lessee tidak memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas pembayaran sewa-
guna-usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa-guna-
usaha dengan hak opsi.
Lessor:

a. Penghasilan lessor yang dikenakan Pajak Penghasilan adalah


sebagian dari pembayaran sewa guna usaha dengan hak opsi yang
berupa imbalan jasa sewa guna usaha;
b. Lessor tidak boleh menyusutkan atas barang modal yang disewa-
guna-usahakan dengan hak opsi;
c. Dalam hal masa sewa-guna-usaha lebih pendek dari masa yang
ditentukan yaitu sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal
Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7
(tujuh) tahun untuk Golongan bangunan, maka Direktur Jenderal Pajak
melakukan koreksi atas pengakuan penghasilan pihak lessor;
d. Lessor dapat membentuk cadangan penghapusan piutang ragu-
ragu yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, setinggi- tingginya
sejumlah 2,5% (dua setengah persen) dari rata-rata saldo awal dan saldo
akhir piutang sewa-guna-usaha dengan hak opsi.
e. Kerugian yang diderita karena piutang sewa-guna-usaha yang nyata-
nyata tidak dapat ditagih lagi dibebankan pada cadangan penghapusan
piutang ragu-ragu yang telah dibentuk pada awal tahun pajak yang
bersangkutan;
f. Dalam hal cadangan penghapusan piutang ragu-ragu tersebut
tidak atau tidak sepenuhnya dibebani untuk menutup kerugian
dimaksud maka sisanya dihitung sebagai penghasilan, sedangkan
apabila cadangan tersebut tidak mencukupi maka kekurangannya dapat
dibebankan sebagai biaya yang dikurangkan dari penghasilan bruto.
Perlakuan Pajak Penghasilan pada
Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi
bagi Lessor dan Lesse

Lessor:
a. Seluruh pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang
diterima atau diperoleh lessor merupakan obyek Pajak Penghasilan.
b. Lessor membebankan biaya penyusutan atas barang modal yang
disewa-guna-usahakan tanpa hak opsi, sesuai dengan ketentuan
Pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984 beserta peraturan
pelaksanaannya.

Lessee:
a. Pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang dibayar atau
terutang oleh lessee adalah biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto.
b. Lessee wajib memotong Pajak Penghasilan Pasal 23 atas
pembayaran sewa-guna-usaha tanpa hak opsi yang dibayarkan atau
terutang kepada lessor.
Perlakuan perpajakan bagi yang
menyewakan(lessor)dan penyewa (leasee):.
Lessor: Leasee:
a. Seluruh pembayaran a. Jumlah biaya sewa yang
dibayar/terutang pada tahun tersebut
sewa yang boleh menjadi pengurang
diterima/diperoleh penghasilan(Deductible Expense).
olehlessor, merupakan objek
PPh Pasal 23; b.Lesseetidak boleh menyusutkan
barang modal karena barang masih
miliklessor.
b.Lessorberhak
menyusutkan barang modal c.Lesseememotong PPh Pasal 23
setiap kali membayar sewa
yang di-SGU-kan karena kepadalessordengan tarif 3% jika
kepemilikan barang ada di barang modal yang disewakan
tangan-nya. kendaraan angkutan darat; 10% jika
barang modalnya berupa tanah dan
bangunan; dan tarif 6% jika barang
c.Lessormemungut Pajak modal yang disewakan selain
Pertambahan Nilai (PPN) atas kendaraan angkutan darat juga selain
jasa sewa yang diberikan. tanah dan bangunan serta 10%.
Contoh Soal
LessorPT. XYZ men-SGU-kan mesin golongan II dengan harga
pokokRp.200.000.000,00kepada PT ABC(lessee). Jangka
waktu leasing 24 bulan dan nilai sisa barang setelah
periodeleasingadalah nihil. Dalam kontrak SGU tidak
tercantum klausul pilihan bagilesseeuntuk membeli mesin
tersebut dengan harga murah pada akhir periode SGU.
Pembayaran per bulan Rp.8.000.000,00.
Solution
Jumlah seluruh pembayaran yang akan diterimalessorPT XYZ
sebesar Rp.8.000.000,00 x 24 bulan =Rp.192.000.000,00.
Jumlah tersebut lebih kecil dari harga pokok mesin
sebesarRp.200.000.000,00. Selain itu tidak ada klausul pilihan
bagi penyewa untuk memiliki mesin tersebut pada akhir
periodeleasing. Oleh karena itu SGU ini tergolong SGU tanpa hak
opsi(Operating Lease)atau sewa menyewa biasa.

Lessor
Menerima pendapatan sewa setiap bulan
= Rp.8.000.000,00
Leasee
Memungut PPN 10%= Rp. 800.000,00
Membayar sewa= Rp.8.000.000,00
Dipotong PPh Pasal 23
Membayar PPN= Rp. 800.000,00
=(Rp.480.000,00)
Memotong PPh Pasal 23
Diterima dari lessee= Rp. 8.320.000,00
=(Rp.480.000,00)
Dibayar ke lessor= Rp.8.320.000,00
Menyusutkan mesin sebesar per tahun
=Rp.50.000.000,00
Modal Ventura (ventura
capital)
Istilah ventura berasal dari kata venture, yang berarti sesuatu
yang mengandung risiko atau dapat pula diartikan sebagai
usaha. Jadi, modal ventura (venture capital) adalah modal
yang ditanamkan pada usaha yang mengandung risiko.
Perusahaan modal ventura adalah badan usaha yang
melakukan usaha pembiayaan dalam bentuk dengan
penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang
menerima bantuan pembiayaan untuk jangka waktu tertentu.
Modal ventura merupakan pembiayaan yang memiliki risiko
tinggi. Pembiayaan modal ventura berbeda dengan bank yang
memberikan pembiayaan berupa pinjaman atau kredit, karena
modal ventura memberikan pembiayaan dengan cara
melakukan penyertaan langsung ke dalam perusahaan yang
dibiayainya. Perusahaan yang memperoleh pembiayaan
modal ventura disebut Perusahaan Pasangan Usaha (PPU)
atau investee company. Instrumen yang dapat digunakan
dalam rangka modal ventura adalah obligasi konversi
(convertible bond) yang memiliki hak opsi untuk ditukarkan
dengan saham PPU.
Perlakuan Perpajakan Atas Modal
Ventura

Bagian laba yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura dari
penyertaan modal pada perusahaan kecil dan menengah (nilai penjualan bersih
tahun sebelumnya tidak melebihi Rp 5 Milyar), bukan merupakan obyek PPh
apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut :
- Perusahaan pasangan usaha tersebut belum go publik.
- penyertaan tersebut dilakukan tidak melebihi jangka waktu 10 tahun.
Apabila penyertaan tersebut telah melewati jangka waktu 10 tahun, maka
bagian laba tersebut merupakan penghasilan (obyek PPh).
Peruahaan modal ventura wajib membukukan secara terpisah antara
penghasilan yang merupakan obyek PPh dan bukan obyek PPh.
Atas penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham
atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usahanya
(dengan syarat tersebut di atas) dikenakan PPh Final sebesar 0,1% dari jumlah
bruto nilai penjualan/pengalihan ( Peraturan Pemerintah Nomor 4
Tahun 1995 ).
Tarif Pajak Penghasilan atas
bunga Obligasi
a.Bunga dari Obligasi dengan kupon sebesar:
15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
20% (dua puluh persen) aau sesuai dengan tariff berdasarkan P3B bagi WLPN selain BUT, dari
jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan obligasi.
b.Diskonto dari obligasi dengan kupon sebesar:
15% (lima belas persen) bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tariff berdasarkan P3B bagi WLPN selain BUT, dari
selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atsa harga perolehan obligasi tidak termasuk bunga
berjalan.
c.Diskonto dari Obligasi tanpa bunga sebesar:
15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
20 % (dua puluh persen) atau sesuai dengan tariff berdasarkan P3B bagi WLPN selain BUT, dari
selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan obligasi
d.Bunga dan atau diskonto dari obligasi yang diterima dan/atau dipeoleh Wajib Pajak
reksadana yang terdaftar pada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sebesar:
0% (nol Persen) untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010
5% (lima persen) untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013
10% (sepuluh persen) untuk tahun 2014 dan seterusnya
PROSEDUR MEKANISME MODAL
VENTURA
1.Single Tier Approach
Perusahaan modal ventura menghimpun dana dan
mengelola dana yang diinvestasikan dalam bentuk
penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha.

2.Two Tier Approach


Pengelolaan modal ventura yang melibatkan dua badan
usaha terpisah, dimana yang satu sebagai perusahaan
penyedia dana (fund company) dan yang lain sebagai
perusahaan pengelola (management company) yang
melakukan pengelolaan fund company yang bersangkutan.
Contoh Soal
a.Pada Tanggal 1 Mei 2008, pemerintah A (emiten) menerbitkan Surat
Perbendaharaan Negara sebagai berikut:
Nilai nominal Rp.100.000.000,00
Jangka waktu SPN 12 (dua belas) bulan jatuh tempo tanggal 1 Mei 2009
PT D (investor) pada saat penerbitan perdana membeli SPN dengan harga
Rp.94.000.000,00
PT D tetap memegang SPN tersebut hingga saat jatuh tempo
Penghitungan diskonto dan PPh final terutang oleh PT D pada saat jatuh tempo SPN
adalah sebagai berikut:
Diskonto: Rp.100.000.000,00 Rp.94.000.000,00 = Rp.6.000.000,00
PPh Final: 20% x Rp.6.000.000,00 = Rp.1.200.000,00
Dipotong oleh emiten atau kusodian yang ditunjuk selaku agen pembayaran

b.Pada contoh sebelumnya PT D tidak memegang SPN tersebut sampai saat jatuh
tempo melainkan menjual seluruh SPN tersebut kepada PT M pada tanggal 1 Juli 2008
(di Pasar sekunder) melalui perusahaan efek PT X sekuritas dengan harga jual
Rp.95.000.000,00. Penghitungan diskonto dan PPh final terutang oleh PT D pada saat
penjualan SPN tanggal 1 juli 2008 adalah sebagai berikut:
Diskonto: Rp.95.000.000,00 Rp.94.000.000,00 = Rp.1.000.000,00
PPh Final: 20% x Rp.1.000.000,00 = Rp. 200.000,00 dipotong oleh PT X sekuritas
selaku pedagang perantara
Pasar Modal
Pengertian
a. Bursa efek adalah penyelenggaraan transaksi jual beli efek,
seperti Bursa Efek Indonesia dan Bursa Paralel Indoneia ;
b.Perantara perdagangan efek adalah perusahaan yang telah
menjadi anggota bursa yang melakukan transaksi jual beli
efek di bursa, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan pihak lain ;
c.Pendiri adalah orang pribadi atau badan yang namanya
tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan Terbatas
atau tercantum dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas
sebelum pernyataan pendaftaran yang diajukan kepada Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dalam rangka penawaran
umum perdana (initial public offering IPO) menjadiefektif.
Perlakuan Perpajakan Atas Pasar
Modal
Tarif Pajak
a.Besarnya Pajak Penghasilan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
orang pribadi atau badan dari transaksi penjualan saham di bursa efek adalah 0,1%
(satu per seribu) dari jumlah bruto nilai transaksi penjualan saham, baik saham biasa
maupun saham pendiri.
b.Khusus untuk transaksi penjualan saham pendiri, terhadap pemilik saham pendiri
dikenakan tambahan Pajak Penghasilan sebesar 0,5% (setengah persen) dari nilai jual
saham. Nilai jual saham dimaksud ditetapkan sebagai berikut.
Bagi perusahaan yang telah menjual sahamnya di bursa efek sebelum tanggal 1
Januari 1997, nilai jual saham ditetapkan sebesar nilai saham pada saat penutupan
bursa diakhir tahun 1996 (30 Desember 1996).
Apabila saham perusahaan diperdagangkan di bursa efek pada atau setelah 1 Januari
1997, nilai jual saham tersebut ditetapkan sebesar harga saham pada saat penawaran
umum perdana.
Bagi Wajib Pajak pemilik saham pendiri yang tidak memilih untuk dikenakan tarif final
sebesar 0,5% berdasarkan ketentuan ini, atas penghasilan berupacapital gaindari
transaksi penjualan saham pendiri dikenakan Pajak Penghasilan sesuai dengan tarif
umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan. Oleh
karena itu, Wajib Pajak tersebut harus melaporkan pilihannya itu kepada Direktur
Jenderal Pajak dan penyelenggaraan bursa efek.
PROSEDUR MEKANISME
PEMOTONGAN,
PENYETORAN, DAN
PELAPORAN PASAR MODAL
Pemotongan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan yang
terutang sebesar 0,1% (nol koma satu persen) untuk setiap transaksi
penjualan saham, dilakukan oleh penyelenggaraan bursa efek
sebagai berikut.
a.Pemotongan Pajak Penghasilan oleh penyelengaraan bursa
efek dilakukan melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan
transaksi penjualan saham. Transaksi penjualan saham di bursa efek
hanya dapat dilakukan oleh investor melalui perantara pedagang
efek, sehingga penyelenggaraan bursa efek tidak dapat melakukan
pemotong secara langsung pada pihak yang menjual saham. Oleh
karena itu, pemotongan Pajak Penghasilan harus dilakukan melalui
perantara pedagang efek pada saat perantara tersebut melakukan
pelunasan transaksi penjual tersebut kepada investor. Dengan
demikian, perantara pedagang efek ikut bertanggung jawab atas
pemotongan Pajak Penghasilan tersebut.
PROSEDUR MEKANISME PEMOTONGAN,
PENYETORAN, DAN PELAPORAN PASAR
MODAL

b.Penyelenggara bursa efek wajib menyetor Pajak


Penghasilan tersebut ke bank persepsi atau Kantor Pos
selambat-lambatnya tanggal 20 (dua puluh) bulan berikutnya
setelah bulan terjadinya transaksi penjualan saham. Sebagai
contoh, untuk transaksi penjualan saham yang terjadi selama
bulan September 1997, Pajak Penghasilan yang telah
dipotong oleh penyelenggara bursa efek harus disetorkan
selambat-lambatnya tanggal 20 Oktober 1997.
c.Penyelenggaraan bursa efek wajib menyampaikan
laporan tentang pemotongan dan penyetoran Pajak
Penghasilan tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
setempat selambat-lambatnya tanggal 25 (dua puluh lima)
bulan yang sama dengan bulan penyetoran.
PROSEDUR MEKANISME
PEMOTONGAN, PENYETORAN,
DAN PELAPORAN PASAR
Tata cara penyetoran MODAL
dan pelaporan tambahan PPh yang terutang atas saham pendiri
(sebesar 0,5%), dilakukan sebagai berikut.
1.Emiten atas nama yang terutang sebesar 0,5% kepada Bank Persepsi atau Kantor Pos:
a.Sebelum penjualan seham pendiri, selambat-lamabatnya tanggal 29 November 1997,
apabila saham tersebut telah diperdagangan di bursa efek sebelum tanggal 29 Mei 1997;
b.Sebelum penjualan saham pendiri, selambat-lambatnya satu bulan setelah saham
tersebut diperdagangkan di bursa efek pada atau setelah tanggal 29 Mei 1997.
2.Emiten wajib menyampaikan laporan mengenai penyetoran tambahan Pajak
Penghasilan yang terutang tersebut kepada Kepala Pelayaan Pajak setempat selambat-
lambatnya tanggal 20 (dua puluh ) bulan berikutnya setelah bulan penyetoran.
Laporan dimaksud sekurang-kurangnya berisikan:
a.Nama dan NPWP pemilik saham pendiri;
b.Nilai saham;
c.Pajak Penghasilan Terutang;
d.Tanggal penyetoran pajak;
Laporan penyetoran ini dilampiri dengan Surat Setoran Pajak (SSP) lembar ke 3.
3.Emiten wajib melaporkan kepada penyelenggaraan bursa efek bahwa atas seluruh
saham pendiri telah dibayarkan tambahan Pajak Penghasilan sebesar 0,5%, sehingga untuk
selanjutnya transaksi penjualan saham pendiri hanya dikenakan Pajak Penghasilan 0,1%.
Contoh Soal

1. Pemegang saham pendiri menjual 1000 lembar saham


pada saat IPO dengan harga pada saat IPO Rp 100 per
lembar.
Solution : Maka ia dikenakan tambahan pajak
penghasilan sebesar 0,5% X 1000 X 100 = Rp 5000

2. Pemegang saham pendiri menjual 1000 lembar saham


dan harga per lembar 100. Ketika nantinya dijual ia
misalnya mendapat keuntungan Rp 10.
Solution : Maka ia dikenakan pajak penghasilan sebesar
5% X Rp10 = Rp 0,5. Tetapi besar pajak ini belum final,
bisa dikreditkan akhir tahun buku. Pajak ini bisa
mengurangi kewajiban perpajakan di akhir tahun buku.
Asuransi

Menurut KUHD pasal 246 disebutkan bahwa "asuransi


atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan
mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada
seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi,
untuk penggantian kepadanya karena suatu kerusakan
atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang
mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang
tidak tentu".
Pengertian asuransi yang lain adalah merupakan suatu
pelimpahan risiko dari pihak pertama kepada pihak lain.
Dalam pelimpahan dikuasai oleh aturan-aturan hukum
dan berlakunya prinsip-prinsip serta ajaran yang secara
universal yang dianut oleh pihak pertama maupun pihak
lain.
Dari segi ekonomi, asuransi berarti suatu pengumpulan
dana yang dapat dipakai untuk menutup atau memberi
ganti rugi kepada orang yang mengalami kerugian.
Perlakuan Perpajakan Atas Asuransi

Premi asuransi Unitlink yang dibayarkan pemberi kerja


untuk karyawan dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan (deductible expenses). Dalam hal ini, premi
asuransi tsb dihitung sebagaitambahan penghasilan
bagi karyawan yang dikenakan pajak penghasilan PPh
pasal 21. Tarif PPh pasal 21 antara 5% s/d 30%,
sedangkan tarif PPh Badan 25%.
Contoh Soal

Si A ber-NPWP memperoleh penghasilan neto sebagai


agen asuransi sebesar Rp 100.000.000, mempunyai
istri ber-NPWP dan memperoleh penghasilan neto
sebagai agen asuransi Rp 150.000.000. Pajak yang
terutang atas jumlah penghasilan tersebut adalah Rp
27.550.000, maka bagaimana untuk masing-masing
suami dan istri pengenaan pajaknya?
Solution

maka untuk masing-masing suami dan istri pengenaan


pajaknya dihitung sebagai berikut :

Suami: (Rp 100.000.000 dibagi Rp 250.000.000) x Rp


27.550.000 = Rp 11.020.000

Istri: (Rp 150.000.000 dibagi Rp 250.000.000) x Rp


27.550.000 = Rp 16.530.000 +

Maka total keseluruhan adalah Rp 27.550.000