Anda di halaman 1dari 30

Menganalisa Kematian

Akibat Keracunan Arsen


Kelompok E3
Novia Yosephin Nirigi 102011332
Billy Gerson 102011345
Caturya Windy Cita Maellya 102012054
Albert 102012060
Jennifer Tannus 102012155
Felix Winata 1020121556
Vatia Satyani 102012275
Fanly 102012362
Yuviani 102012424
Skenario 2
Suatu hari anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka
dalam memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut
penyidik, TKP adalah sebuah rumah yang cukup besar milik seorang
perkayuan yang terlihat sukses. Tadi pagi si pengusaha dan istrinya
ditemukan meninggal dunia didalam kamarnya yang terkunci di dalam.
Anaknya yang pertama kali mencurigai hal itu (pukul 08.00) karena si
ayah yang biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari
kamarnya. Ia bersama dengan pak ketua RT melaporkan kepada polisi.
Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang
tersebut tiduran di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada
tanda-tanda perkelahian di ruang tersebut, segalanya masih tertata rapi
sebagaimana biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan sementara tidak
ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang
hilang. Salah seorang penyidik ditelpon oleh petugas asuransi bahwa ia
telah dihubungi oleh anak si pengusaha berkaitan dengan kemungkinan
klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.
Identifikasi istilah : -

Rumusan masalah : sepasang suami


istri ditemukan meninggal di dalam
kamar.
Aspek
hukum
yanng
terkait

Pemeriksa Rumus
an an Tanatologi
Laboratori masala
um
h

Pemeriksa
an luar
dan
Toksikologi pemeriksa
an
dalam
Aspek hukum
Pasal 4 KUHAP: penyelidik adalah setiap pejabat
polisi Negara Republik Indonesia

Pasal 6 KUHAP:
1. Penyidik adalah: a. pejabat polisi negara Republik Indonesia;
b. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenangn
khusus oleh undang-undang.
2. Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.

Pasal 189 UU No. 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan
Aspek Medikolegal
Pasal 133 KUHAP
Pasal 134 KUHAP
Pasal 179 KUHAP
Pasal 168 KUHAP
Pasal 170 KUHAP
Pasal 183 KUHAP
Pasal 184 KUHAP
Pasal 185 KUHAP
Pasal 186 KUHAP
Aspek medikolegal
Pasal 187 KUHAP
Pasal 65 KUHAP
Pasal 66 KUHAP
Pasal 180 KUHAP
Pasal 216 KUHP
Pasal 222 KUHP
Pasal 224 KUHP
Pasal 522 KUHP
Tanatologi
Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran
forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta
faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.

Dalam tanatologi dikenal beberapa jenis-jenis


kematian:
Mati somatik
Mati suri
Mati seluler
Mati serebral
Mati otak
Tanda kematian pasti
Lebam mayat (livor mortis)
Kaku mayat (rigor mortis)
Cadaveric spasm (instantaneous rigor)
Heat stiffening
Cold stiffening
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Pembusukan
Adiposera (lilin mayat)
Mummifikasi
Toksikologi
Toksikologi: ilmu yang mempelajari
sumber, sifat, serta khasiat racun,
gejala-gejala, dan pengobatan pada
keracunan, serta kelainan yang
didapatkan pada korban yang
meninggal.
Penggolongan racun berdasarkan
sumber :
tumbuh- hewan mineral Sinteti
tumbuhan k
Faktor yang mempengaruhi
keracunan

Cara masuk umur Kondisi


tubuh

kebiasaan Idiosinkrasi dan Waktu


alergi pemberian
Keracunan Arsen
Keracunan Arsen kadang-kadang dapat
terjadi karena kecelakaan dalam industri
dan pertanian akibat memakan/meminum
makanan/ minuman yang terkontaminasi
dengan Arsen.Kematian akibat keracunan
Arsen sering tidak menimbulkan
kecurigaan karena gejala keracunan
akutnya menyerupai gejala gangguan
gastrointestinal yang hebat sehingga dapat
didiagnosa salah sebagai suatu penyakit.
Sumber senyawa arsen
Industri dan pertanian
Tanah
Air
Bir
Kerang
Tembakau
Obat-obatan
Tanda dan gejala
1. Keracunan akut : Timbul gejala gastrointestinal
hebat mula-mula rasa terbakar di daerah
tenggorok dengan rasa logam pada mulut, diikuti
mual dan muntah-muntah hebat. Kematian dapat
terjadi sebagai akibat dehidrasi jaringan dan syok
hipovolemik yang terjadi.

. Pemeriksaan kedokteran forensik: Pada


pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda dehidrasi.
Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda-tanda
iritasi lambung, mukosa berwarna merah, kadang-
kadang dengan perdarahan (flea bitten appearance)
2. Keracunan arsin: Arsin yang berbentuk gas ini masuk ke
dalam tubuh melalui inhalasi, yang selanjutnya akan
mencapai darah dan menimbulkan hemolisis hebat serta
penekanan terhadap SSP. Korban menunjukan gejala
menggigil, demam, muntah, nyeri punggung, ikteris, anemia
dan hipoksia, terkadang disertai kejang. Kematian terjadi
karena kegagalan kardio-respirasi.

Pemeriksaan kedokteran forensik: Bila korban cepat


meninggal setelah menghirup arsin, akan terlihat tanda-
tanda kegagalan kardio-respirasi akut.Bila meninggalnya
lambat, dapat ditemukan ikterus dengan anemi hemolitik,
tanda-tanda kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak
dengan nekrosis total serta nekrosis tubuli.
3. Keracunan kronik: Pada keracunan kronik, korban
tampak lemah, melanosis arsenik berupa pigmentasi kulit
yang berwarna kuning coklat, lebih jelas pada daerah
fleksor, puting susu dan perut sebelah bawah serta
aksila. Rambut tumbuh jarang.

Pemeriksaan kedokteran forensik: Pada


pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk.Pada kulit
terdapat pigmentasi coklat (melanosis arsenik),
keratosis telapaktan-gan dan kaki (keratosis
arsenik).Kuku memperlihatkan garis-garis putih (Mee's
lines) pada bagian kuku yang tumbuh dan dasar
kuku.Temuan pada pemeriksaan dalam tidak khas.
Pemeriksaan Kedokteran
Forensik
1. Tempat kejadian perkara (TKP):
tempat ditemukannya benda bukti dan
atau tempat terjadinya peristiwa
kejahatan atau yang diduga kejahatan
menurut suatu kesaksian.
Persiapan dokter sebelum ke TKP
adalah:

Mendapat permintaan Mendapatkan Perlengkapan


pemeriksaan TKP Informasi tentang yang sebaiknya
Pemeriksaan luar

Pemeriksaan Pemeriksaan lebam Perubahan warna


bau mayat kulit

Pemeriksaan Pemeriksaan kuku


pakaian Pemerisaan rambut

Pemeriksaan sklera
Pembedaan jenazah
Pemeriksaan dalam
Pemeriksaan kelenjar
Pemeriksaan lidah suprarenalis
Pemeriksaan tonsil Pemeriksaan ginjal, ureter,
Pemeriksaan kelenjar gondok dan kandung kemih
Pemeriksaan esofagus Pemeriksaan hati dan
Pemeriksaan trakea kandung empedu
Pemeriksaan kartilago tiroidea Pemeriksaan limpa dan
dan kartilago krikoidea
kelenjar getah bening
Pemeriksaan arteri karotis
interna Pemeriksaan lambung, usus
Pemeriksaan kelenjar timus halus, dan usus besar
Pemeriksaan paru-paru Pemeriksaan pankreas
Pemeriksaan jantung Pemeriksaan otak besar, otak
Pemeriksaan aorta torakalis kecil, dan batang otak
Pemeriksaan aorta Pemeriksaan alat kelamin
abdominalis
dalam (genitalia interna)
Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan
toksikologi)

Pemeriksaan Pemeriksaan darah Pemeriksaan rambut


urin dan kuku

Uji Reinsch Uji Gutzeit Uji Marsh

Fisika Komatografi gas i


Pemeriksaan Laboratorium
Pada kasus keracunan arsen, kadar As dalam
darah, urin, rambut dan kuku meningkat. Nilai
batas normal kadar As adalah sebagai berikut
:
Rambut kepala normal : 0,5 mg/ kg BB
Curiga keracunan : 0,75 mg/ kg BB
Keracunan akut : 30 mg/ kg BB
Kuku normal : sampai 1 mg/ kg BB
Curiga keracunan : 1 mg/ kg BB
Keracunan akut : 80 mikrog/ kg BB
Aspek asuransi jiwa
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992
Menurut ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang-undang Nomor 2
Tahun 1992:

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua)


pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan
diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk
memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau
taggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan
diderita tertanggung, yang timbul dan suatu peristiwa tidak pasti
atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas
meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Asuransi jiwa berakhir
1. Karena terjadi evenemen
2. Karena jangka waktu berakhir
3. Karena asuransi gugur
4. Karena asuransi dibatalkan
Visum et Repertum