Anda di halaman 1dari 8

LEGAL ETIK KEPERAWATAN

MATERNITAS

Kelompok 2
1. FRANICO 7. MEWI RUMESTI A
2. HENDRI FARIZAL 8. MIRA AGUSTINA
3. HERLI CARLO 9. NETTY BR SIMANJUNTAK
4. INDRI PIJU 10. NIA RHAMADANTI
5. JUWITA EKA P 11. RADA PERMATA SARI
6. MARYANTI INDAH SARI 12. REBA ADEVIO

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


DEHASEN BENGKULU
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
LATAR BELAKANG

Asuhan keperawatan maternitas dan perinatal sering menimbulkan


lebih banyak pertanyaan etik dan hukum kepada perawat dibandingkan
area asuhan keperawatan lain. Perawat maternitas dan perinatal
memberikan pelayanan dan keperawatan yang luas untuk klien diberbagai
lingkungan praktik yang berbeda. Perawat ini dihadapkan dengan isu
seputar kelahiran, kehidupan, kematian dan kemampuan untuk menjalani
kehidupan sehari- hari. Hal yang penting dalam isu ini adalah keterlibatan
dua klien, ibu dan janin atau bayi baru lahir.
Perawat profesional harus menghadapi tanggung jawab etik dan konflik
yang mungkin meraka alami sebagai akibat dari hubungan mereka dalam
praktik profesional.
PENGERTIAN
Etik merupakan prinsip prilaku yang mengarahkan hubungan seseorang
dengan orang lain. Etik merupakan keyakinan dasar tentang nilai- nilai
yang benar dan salah menyediakan sebuah kerangka untuk pengambilan
keputusan dan tindakan.
Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu ethos yang berarti adat
istiadat/ kebiasaan yang baik. Etika sendiri adalah Ilmu tentang apa yang
baik dan yang buruk,tentang hak dan kewajiban moral
LEGAL ETIK KEPERAWATAN
MATERNITAS
1. Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi.
Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi menjadi
:
.Abortus iminens
.Abortus insipiens
.Abortus inkomplit
.Abortus komplit
.Missed abortion
Proses abortus dapat berlangsung spontan (suatu peristiwa patologis), atau
artifisial / terapeutik (suatu peristiwa untuk penatalaksanaan masalah / komplikasi).
Abortus spontan diduga disebabkan oleh :
kelainan kromosom (sebagian besar kasus)
infeksi (chlamydia, mycoplasma dsb)
gangguan endokrin (hipotiroidisme, diabetes mellitus)
oksidan (rokok, alkohol, radiasi dan toksin)

Pertimbangan Etik dan Hukum dalam Aborsi


Perkembangan Etik
Etika dalam masalah aborsi berkisar pada masalah mengakhiri kehidupan janin dengan
cara memindahkan janin dari sistem pendukung kehidupannya. Telah diperdebatkan
bahwa apabila manusia diberika sebuah pilihan, ia akan memilih kesehatan dan tidak
akan mengalami penderitaan.
Pertimbangan Hukum
Pada tahun 1973, dalam kasus bersejarahRos vs wade,Mahkamah Agung
Amerika Serikat memutuskan bahwa aborsi adalah tindakan yang sah di
Amerika serikat. Keputrusan tersebut membuat hukum- hukum negara bagian
yang melarang aborsi menjadi tidak berlaku karena hukum- hukum semacam
itu menyerang privasi ibu
Keputusan tersebut juga menetapkan beberapa point lain sebagai berikut :
Negara bagiantidak dapatmencegah sorang wanita untuk
melakukan aborsi setiap saat pada trisemester pertama yang
dilakukan oleh dokter yang memiliki izin.
Negara bagian dapat mengatur dan bahkan melarang aborsi pada
trisemester ke tiga, kecuali jika kehidupan atau keselamatan ibu
terancam.
Negara bagian memiliki hak untuk memberi perlindungan terhadap
janin pada trisemester terakhir
2. Amniosintesis
Amniosintesis telah ada lebih dari satu dekade. Masalah etik dan hukum
mengenal prosedur ini mencakup kesalahan kelalaian dan kesalahan
perbuatan.
Resiko dan keuntungan tes juga harus dijelaskan kepada klien, dan harus
mendapat persetujuan tindakan.

3. Inseminasi
Inseminasi adalah salah satu teknik untuk membantu proses reproduksi
dengan cara menyemprotkan sperma yang telah dipreparasi (diproses) ke
dalam rahim menggunakan kateter dengan tujuan membantu sperma
menuju telur yang telah matang (ovulasi) sehingga terjadi pembuahan.
Berbeda dengan bayi tabung, proses pembuahan pada teknik inseminasi
terjadi di saluran telur. Biasanya teknik ini ditujukan untuk membantu
problem infertilitas seperti jumlah sperma yang sedikit atau bentuk rahim
yang susah dijangkau oleh sperma dalam perjalanan menuju telur.
Berkaitan dengan masalah inseminasi buatan, pemerintah Indonesia telah
mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang menyinggung tentang hal
tersebut. Dalam Undang-Undang No.23/1992 tentang Kesehatan, pada pasal 16
menyebutkan:
1. Kehamilan di luar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir

untuk membantu suami istri mendapat keturunan.


2. Upaya kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan
ketentuan :
hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan, ditanamkan
dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
dilakukan oleh tenaga keschatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu;
pada sarana kesehatan tertentu.
Selain UU No.23/1992 tentang Kesehatan, dibawahnya terdapat Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi
Reproduksi Buatan. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan inseminasi
buatan yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah, lalu
menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian
embrionya ditanam dalam rahim isteri.