Anda di halaman 1dari 41

Analisa Bahan

Tambahan Pangan
dan Kontaminan
Ardhea Mustika Sari, S.T.P., M.Sc
Kuliah Analisis Pangan
S1 Ilmu dan Teknologi Pangan
Universitas Sebelas Maret
Definisi Bahan Tambahan
Pangan
BTP Suatu senyawa atau
campuran beberapa senyawa
selain bahan baku yang
terdapat dalam makanan
sebagai hasil dari adanya
proses produksi, pengolahan,
penyimpanan dan
pengemasan
Menurut FDA BTP adalah
suatu senyawa yang
ditambahkan dalam makanan
sesuai dengan penggunaanya
yang mempunyai tujuan
memperbaiki karakteristik
makanan baik secara
langsung maupun tidak
langsung
Tujuan penggunaan BTP
Mempertahankan
kualitas gizi makanan
Meningkatkan
kualitas atau
kestabilan makanan
mengurangi
limbah
Membuat makanan
lebih menarik
konsumen
Mempermudah
pengolahan
Kontaminan

Senyawa yang terdapat dalam bahan


makanan karena proses produksi,
pengolahan, pengemasan dan penyimpanan
yang berpotensi menimbulkan bahaya
Kontaminan dalam bahan pangan dapat
berasal dari lingkungan, cemaran mikrobia
penghasil toksin, cemaran fisik
Misalnya cemaran cadmium pada biji-bijian,
mercuri pada ikan (lingkungan), cemaran
aflatoksin (mikrobia), rambut, kuku (cemaran
fisik)
Mengapa BTP & Kontaminan Perlu
Dievaluasi?
Membatasi penggunaan BTP meyakinkan
konsumen penambahan BTP sesuai aturan yang
berlaku
Mengetahui BTP yang diperbolehkan dalam
makanan perlu diinformasikan kepada
konsumen
Mengetahui cemaran pada makanan Food
quality and food safety
Asam
Benzoat
Asam benzoat (2,4-hexadienoic acid) banyak
digunakan pada jus buah, keju, kue dan roti, dan
berbagai produk pangan lainnya sebagai bahan
pengawet.
Sifatnya dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme khususnya jamur,
penggunaannya sedikit, aman jika ditambahkan
pada bahan pangan atau makanan, dan
mempunyai efek treshold tinggi.
Persyaratan yang ada untuk kecap dan minuman
ringan maksimum 600 mg/kg, acar ketimun
dalam botol, margarin, pekatan sari nanas (jam,
jelly), saus tomat, dan makanan lainnya 1 g/kg.
Cara I (FAO, 1986)
Preparasi
sample
Umum
1) bahan berbentuk padatan atau semi padatan digiling sampai
lembut dan homogen
2) ambil sampel (150 ml atau 150 g), pindahkan ke dalam labu takar
500 ml
3) tambahkan sedikit garam NaCl
4) tambahkan pula sedikit larutan 10% NaOH
5) tambahkan larutan NaCl jenuh sampai volume total mendekati
500 ml
6) campur dengan baik, diamkan pada suhu kamar selama kurang
lebih dua jam
7) aduk kemudian saring dengan kertas saring Whatman, kumpulkan
filtratnya
8) tambahkan beberapa milliliter larutan 10% NaOH
9) ekstraksi dengan eter, kumpulkan fase organiknya
10)uapkan pelarut eter dengan rotary evaporator, kumpulkan
residunya.
Bahan mengandung garam
1) bahan berbentuk padatan atau semi padatan digiling sampai
lembut dan homogen
2) ambil sampel (150ml atau 150g), pindahkan ke dalam labu takar
500 ml
3) tambahkan air, tambahkan pula sedikit larutan 10% NaOH
4) tambahkan larutan NaCl jenuh sampai volume total mendekati
500ml
5) campur dengan baik, diamkan pada suhu kamar selama kurang
lebih dua jam
6) aduk kemudian saring dengan kertas saring Whatman, kumpulkan
filtratnya
7) netralkan dengan larutan 0,01 N HCl
8) tambahkan 5 ml HCl yang sama
9) ekstraksi dengan kloroform (70 ml / 100 ml filtrat), pisahkan fase
kloroform, jika terjadi emulsi lakukan pengadukan dengan gelas
pengaduk
10) uapkan kloroform dengan rotary evaporator dan kumpulkan
residunya.
Bahan mengandung alkohol
1) sampel bahan (250 ml atau 250 g) ditambah
sedikit larutan 10% NaOH sampai bersifat alkali
(cek dengan kertas lakmus)
2) panaskan pada penangas uap sampai volumenya
tinggal 100 ml
3) pindahkan ke labu takar 250 ml, tambahkan kristal
garam, campur dengan baik sampai jenuh
4) encerkan dengan larutan NaCl jenuh sampai 250
ml
5) biarkan pada suhu kamar selama kurang lebih dua
jam
6) gojog kemudian saring dengan kertas saring
Whatman, kumpulkan filtratnya
7) ekstraksi dengan pelarut organik seperti pada
preparasi sampel (i) atau (ii), kumpulkan residunya
Prosedur analisis
larutkan sampel berbentuk residu dari penguapan
pada prosedur preparasi sampel dalam dietileter
secukupnya
periksa pada spektrofotometer pada panjang
gelombang 272 nm
cocokan hasilnya dengan kurva standar asam
benzoat murni dengan konsentrasi bervariasi.
Cara II (FAO, 1986)
sampel bahan (30-300 ml atau 30-300 g)
dimasukkan dalam labu destilasi
tambahkan aquades secukupnya, NaCl 40 g / 100ml
sampel, dan sedikit asam fosfat
segera lakukan destilasi uap, tampung destilatnya
pada penampung yang berisi 10 ml 0,1 N NaOH
hentikan destilasi jika telah memperoleh 25-50 ml
destilat
cuci kondenser dengan 25 ml 0,1N NaOH,
campurkan cucian ini pada destilat
uapkan destilatnya pada penangas uap sampai
volumenya tinggal 20 ml
tambahkan larutan 5% kalium permanganat sampai
warnanya pink
tambahkan natrium sulfit sampai warna pink hilang
tambahkan larutan encer asam sulfat untuk
melarutkan endapan permanganat oksida dan
membuat larutan menjadi asam
tambahkan garam NaCl sampai larut menjadi jenuh
ekstraksi dengan 4 x 15 ml eter atau petroleum eter,
kumpulkan fase pelarut organiknya
uapkan pelarut organiknya dengan rotary evaporator,
kumpulkan residunya
larutkan lagi dalam dietil eter
periksa pada spektrofotometer pada panjang
gelombang 272 nm
cocokan hasilnya dengan kurva standar asam benzoat
murni dengan konsentrasi bervariasi.
p - Hidroksi
benzoate
p-Hidroksi benzoat (sering disebut paraben)
fungsinya dapat menggantikan asam benzoat.
Persyaratan untuk acar ketimun dalam botol 250
mg/kg, ekstrak kopi cair 450 mg/kg, dan pasta
tomat 1 g/kg
Prosedur
analisis
timbang 10 g sampel bahan, dan giling sampai lembut
tambahkan 5 ml 10% asam sulfat dan kristal garam natrium sulfat
(Na2SO4) secukupnya
campurkan dengan sampel sampai benar-benar homogen dan kering
tambahkan kristal natrium sulfat secukupnya
giling lagi sampai homogen
tambahkan eter, aduk dengan baik
saring dengan kertas saing, kumpulkan fltratnya
uapkan eternya pada suhu kamar, larutkan residunya pada 0,5 ml
etanol
ambil 20 l dengan syringe, spotkan pada pelat lapis tipis gel silika G,
spotkan juga standar larutan 2% etil-, metil-, dan propil-para-hidroksi
benzoat dalam etanol
kembangkan pada pelarut campuran toluen, metanol, asam asetat
kering anginkan, periksa di bawah sinar ultra violet, jika terdapat para-
hidroksi benzoat ditandai warna hitam
periksa dengan TLC scanner untuk menentukan Rf dan jumlah
(konsentrasi) nya.
Garam benzoate
Dalam praktek, penggunaan garam benzoat
(natrium benzoat, kalium benzoat) lebih banyak
daripada penggunaan asam benzoat atau p-
hidroksi benzoat.
Garam benzoat juga banyak dipakai untuk
mengawetkan jus buah sebagai anti yeast dan anti
jamur.
Prosedur
analisis
(Bennet and Petrus, 1977)
1) Sampel ditimbang secukupnya, dihomogenisasi menggunakan
blender dengan ditambah aquades kurang lebih 100 ml
2) Sentrifugasi, buang padatannya
3) Supernatan disaring dengan kertas Whatman no. 1, filtratnya
dikumpulkan pada labu takar 100 ml
4) Encerkan dengan larutan 0,225 M KH2PO4 menjadi 100 ml
5) Pindahkan 10 ml dengan pipet ke dalam gelas Erlenmeyer,
tambah 10 ml larutan 1 N HCl
6) Ekstrak dengan campuran metilsikloheksana dengan pentana
dengan perbandingan 10:4
7) Pisahkan fase organiknya
8) Periksa menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang
226 nm
9) Cocokkan dengan kurva standar larutan natrium benzoat dalam
0,225 M KH2PO4 konsentrasi 0-0,1% w/v
Nitrat

Garam nitrat banyak digunakan pada pengolahan


daging untuk beberapa tujuan, yaitu memberikan
warna merah pink pada produk, meningkatkan
treshold, dan menghambat pertumbuhan bakteri
khususnya Clostridium botulinum serta produksi
toksinnya yaitu botulinin.
Pemakaiannya sering bersama-sama dengan garam
nitrit.
Sebagai bahan pengawet penggunaannya dibatasi,
untuk keju maksimum 50 mg/kg, daging 500 mg/kg.
Cara I: metoda gravimetri (Garratt, 1979)
Prosedur ini diadopsi dari pemeriksaan kadar nitrat pada obat-
obatan
sampel bahan dilembutkan, ditimbang dan dipindahkan ke
Erlenmeyer
tambahkan 100 ml aquades, tutup dan goyang-goyang pada
shaker selama 3 menit
saring, kumpulkan filtratnya pada labu takar 100 ml
jadikan volume filtrat tepat 100 ml dengan menambahkan
aquades
ambil 10 ml, tambah 70 ml aquades dan 1 ml asam asetat glasial
panaskan sampai hampir mendidih
tambahkan 7 ml larutan 10% nitron, aduk dengan baik
dinginkan dan tempatkan pada air dari es yang mencair selama 2
jam
saring dengan menggunakan kertas saring Whatman no. 2
cuci endapan yang tertingal dengan 5 ml air es, ulangi sekali lagi
keringkan kertas saring dengan endapan yang tertinggal pada
o
Cara II: metoda spektrofotometri (Garrat, 1979)

Sampel bahan 5 g (atau 5 ml) ditempatkan pada labu destilasi


tambahkan 15 ml Larutan 85% w/w asam sulfat dan 1 ml
Larutan 5% 2,4-xylenol dalam asam asetat glasial
campur dengan baik pada 35oC dan pertahankan pada suhu
tersebut selama 30 menit
tambahkan 100 ml aquades
lakukan destilasi, tampung destilatnya pada 10 ml larutan 2N
NaOH
sebanyak 40ml destilat harus terkumpul dalam waktu tidak
lebih dari 15 menit, lalu hentikan destilasi
periksa pada spektrofotometer dengan menggunakan panjang
gelombang 437 nm
cocokkan dengan kurva standar larutan natrium nitrat yang
dipreparasi dengan cara yang sama.
Nitrit
Garam nitrit banyak digunakan pada pengawetan
daging, fungsinya sama dengan garam nitrat.
Batas maksimum residu nitrit dalam bahan pangan
tau makanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan
RI 1987 adalah untuk daging 125 mg/kg dan kornet
kaleng 50 mg/kg.
Prosedur
analisis
Cara I (Pearson and Tauber, 1984; Garrat, 1979)
sampel daging (20 g) diblender dengan ditambah
sedikit larutan 0,1N NaOH panas
pindahkan ke gelas Erlenmeyer 500 ml yang
mempunyai tutup kaca, cuci blendernya dengan air
panas dan campuran air cucian ini ke gelas
Erlenmeyer tersebut
tambah larutan 0,1 N NaOH sampai volumenya
mendekati 300 ml, tutup
panaskan pada suhu 80oC selama dua jam, sekali-kali
lakukan penggojogan
tambahkan 5 ml larutan merkuri klorida jenuh, campur
dan dinginkan pada suhu kamar
saring dengan kertas Whatman, tampung filtratnya
dengan labu takar 500 ml, encerkan dengan air dan
gojog sampai homogen
pipet 2 ml, masukkan ke dalam labu takar 50 ml yang
sudah dimasukkan ke dalamnya reagen Griess (1 ml
asam sulfanilat dan 1ml reagen -naftilamin)
encerkan dengan air sampai volumenya 50 ml, campur
dengan baik, kemudian diamkan selama satu jam
periksa dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 520 nm, dengan blangko larutan reagen
Griess dalam aquades
Cocokan dengan kurva standar yang dibuat seperti
pada analisis garam nitrat dengan menggunakan garam
nitrit
Preparasi kurva standar unuk
analisis nitrit
Larutkan 0,493 g NaNO dalam 1000 ml aquades,
3
larutan ini mengandung 0,01 NO2-N/ml
Siapkan 5 gelas Erlenmeyer, isi masing-masing dengan
0 ml, 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml, dan 5 ml larutan garam
nitrat
Tambahkan aquades sampai masing-masing volumenya
20ml, tambahkan sedikit larutan 0,1N NaOH panas
Selanjutnya perlakukan seperti prosedur untuk sampel,
no. 2 dan seterusnya
Plot data absorban versus konsentrasi nitrit, pada
sumbu X sebagai konsentrasi nitrit dan sumbu Y
sebagai absorban
Cara II (Garrat, 1979)
Sampel daging diblender dengan ditambah air
secukupnya
Saring dengan kertas saring, kumpulkan filtratnya
Panaskan campuran 50 ml larutan 0,1N kalium
permanganat dan 5ml larutan asam sulfat pekat,
dan 100 ml aquades, kemudian titrasi dengan filtrat
daging sampai warna permanganat hilang, cocokkan
dengan standar
Lakukan titrasi sekali lagi dengan mengganti filtrat
daging dengan larutan 0,1 N NaNO3 untuk standar,
1 ml 0,1 N larutan nitrit = 0,003450 g NaNO3.
Asam Sorbat
Asam sorbat (2,4-hexadionic acid) banyak digunakan
sebagai pngawet pada pengolah jus buah, keju,
bakeri, dan berbagai produk pangan lainnya.
Asam sorbat mempunyai sifat anti mikroorganisme
khususnya jamur, aman sebagai bahan tambahan
makanan (BTM), penggunaannya sedikit (efektif), dan
mempunyai efek treshold tinggi.
Ambang batas menurut Paturan Menteri Kesehatan
RI Tahun 1987 adalah 3 g/kg untuk keju, 500 mg/kg
aprikot kering dan marmalade, dan 1 g/kg untuk jenis
makanan lainnya.
Prosedur
analisis
(Vidyasagr and Arya, 1983)
Jus buah ditimbang secukupnya, untuk sampel keju cukup 2
g, diperkirakan mengandung 1-2 mg asam sorbat, pindahkan
ke dalam labu destilasi
Tambah 50 ml larutan 0,1N H2SO4 dan 50 g MgSO4
Lakukan destilasi uap, kumpulkan 350 ml destilat
Atur pH nya menjadi 5,0 dengan larutan NaOH atau HCl
Encerkan menjadi 500 ml
Periksa absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang 258 nm
Cocokkan dengan kurva standar
Formaldehida
Formaldehida sering dinamakan formalin adalah senyawa
golongan aldehida sering digunakan pada pengolahan
pangan sebagai bahan pengawet karena daya pembunuhnya
terhadap bakteri dan mikroorganisme lainnya sangat tinggi.
Formaldehida dengan protein akan bereaksi membentuk
suatu senyawa baru yang bersifat lentur, dan oleh karenanya
dalam beberapa hal formaldehida digunakan untuk
memperbaiki sifat fisik bahan pangan seperti pada
pengolahan mi atau tahu dan beberapa produk makanan
lainnya.
Meski pun demikian penggunaan formaldehida yang
berlebihan akan sangat membahayakan kesehatan. Senyawa
ini dapat menimbulkan kematian.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
722/MEN.KES/PER/IX/88 tanggal 20 September 1988, formalin
dilarang untuk digunakan sebagai bahan pengawet makanan.
Prosedur
analisis
(FAO, 1980)
Sampel ditimbang kurang lebih 10-20 g, kemudian
dimasukkan dalam labu destilasi
Tambahkan 200 ml aquades
Tambahkan 5 ml larutan 10% asam ortofosfat (H3PO4).
Jika kondisinya belum asam, tambahkan sedikit lagi
larutan asam ortofosfatnya.
Pasang pada unit destilasi, masukkan ujung
kondensernya pada air yang diisikan pada penampung.
Mulailah melakukan destilasi secara perlahan-lahan
sampai memperoleh destilat kurang lebih 90 ml
Encerkan destilat menjadi 100 ml tepat
Pindahkan 1 ml destilat ke dalam tabung reaksi
bertutup, tambahkan 5 ml larutan asam kromotropat.
Campur dengan baik, kemudian tutup tabung reaksinya.
Panaskan pada penangas air selama 15 menit
Biarkan 30 menit pada suhu kamar supaya menjadi dingin
Periksa pada spektrofotometer pada panjang gelombang
565 nm dan catat absorbansinya
Buat kurva standar dengan menggunakan larutan
formaldehida 0-15 g/ml
Hitung kadar formaldehida dalam 1 ml destilat dengan
mencocokkan absorbasinya dengan kurva standar
Hitung kadar formaldehida dalam bahan sebagai berikut

( g / ml ) * 100
Formaldehida g / g
w
di mana w adalah berat bahan (sampel) yang diuji dalam
gram
eparasi larutan standar formaldehida :
Timbang 1 g formaldehida
Larutkan dengan aquades sehingga volumenya tepat
1000 ml
Ambil 100 ml pengenceran, tambahkan 25 ml 0,1M
NaOH dan 10 ml larutan 3% H2O2 netral
Tutup wadahnya dan panaskan pada penangas uap
selama 5 menit. Sekali-kali diaduk
Dinginkan pada suhu kamar, kemudian titrasi dengan
larutan asam klorida
Kadar formaldehida dalam larutan standar adalah :
25 A 1000
Formaldehi da x0,1x x30,0264 g / l
1000 100
di mana A adalah jumlah larutan asam yang digunakan untuk
titrasi.
Cemaran Logam
Berat
Penentuan merkuri pada ikan (Bache et al., 1971)
Siapkan kertas Whatman 41, potong-potong menjadi ukuran 1,5
inci2
Tempatkan tumpang tindih pada gelas arloji
Timbang 1 g daging ikan yang sudah dilembutkan pada gelas arloji
yang ada potongan kertas saringnya tersebut
Ratakan daging ikan di atas kertas saring
Biarkan selama 3 jam
Masukkan dalam desikator yang berisi H 2SO4 pekat. Hampakan
desikator dengan menyedot udaranya sehingga tekanan di
dalamnya tinggal 2 cmHg
Ambil gelas arloji berisi contoh
Ambil kertas saring yang paling bawah, letakkan di atas contoh
Secara hati-hati, lipat kertas saring tersebut bersama contoh
sehingga terbentuk gulungan kecil atau persegi
Masukkan ke dalam suatu wadah
Tambahkan 100 ml 0,2 N HCl dan 10 ml 0,02 M KMnO4
Panaskan sambil diaduk
Saring dengan kertas Whatman 41. Tampung filtratnya pada corong
pemisah
Cuci bekasnya dengan 50ml 0,2N HCl. Campurkan air cuciannya
pada filtrat
Tambahkan 5ml 20% hidroksiamin-HCl, campur baik-baik selama 1
menit
Biarkan 10 menit
Tambahkan 10ml larutan dithizone (4mg/l CHCl3), campur baik-baik
selama 10 menit
Diamkan sampai terjadi dua fase yang memisah
Ambil fase CHCl3 nya
Periksa pada spektrofotometer pada panjang gelombang 490nm.
Buat kurva standar dengan prosedur yang sama. Gunakan larutan
dithiozon sebagai standarnya
Hitung kadar merkuri dalam bahan dengan mencocokkan dengan
kurva standar
Penentuan logam arsen (Fries and Getrost, 1977)
Encerkan sampel sampai 40ml ke dalam generator arsen
Tambahkan 10ml larutan asam staniumklorida (0,33g
SnCl2.2H2O dalam 100ml 32% HCl)
Tambahkan 5ml larutan 15% potasium iodida
Diamkan selama 15 menit
Tambahkan 1ml larutan 20% tembaga sulfat dan 8g
granula seng (Zn)
Segera tutup alat dengan tabung absorber yang berisi
3000ml larutan reagen (1000 perak dietilditiokarbamat
dicampur dengan piridin sampai volumenya tepat 200ml)
Hentikan reaksi setelah satu jam, dan periksa pada
sektrofotometer pada panjang gelombang 540nm dan
catat absorbansinya
Analisis Senyawa
Tannin

Ditimbang 5 gr sampel halus dan ditambah 400 ml aquades


didihkan selama 30 mnt dinginkan encerkan sampai
tepat 500ml disaring filtrat(-1)
Dipipet 10ml filtrat(-1) ditambah 25ml lart indigo-karmin ( 6gr
Na-indigotin-disulfonat + aquades 500ml panaskan dinginkan +
50ml as.sulfat + aquadest sampai 1Lt disaring) dan 750ml
aquades. Kmd dititrasi dng lart 0.1N KmnO 4 sampai warna
kuning emas misal A ml
Diambil 100ml filtrat-1 ditambah 50ml lart gelatin ( 25gr gelatin
+ 500ml NaCl jenuh) panaskan sampai larut tambah
1000ml NaCl jenuh) kmd di + 100ml lart garam-asam +
10gr kaolin bubuk gojog kuat-kuat bbrp menit disaring
filtrat(-2)
Dipipet 25ml filtrat (-2) ditambah 25ml
lart indigokarmin dan 750ml aquades, kmd
dititrasi dng lart 0.1N KmnO4 misal = B
ml
Standardisasi Lart KMnO4 dng Na-oxalat
1 ml KMnO 0.1 N ~ 0.00416 gr
tannin
(50A 50B) x N/0.1 x 0.00416
Kadar tannin = x 100%
5
[ N = normalitas KMnO4 ]
Analisis Nikotin

Nikotin, C10H14N2 dng BM = 162.23 berasal dari daun


tembakau(Nicotiana tabacum dan N.rus-tica ).
Daun keringnya mengandung 2-8% nikotin yg membentuk
garam dng asam sitrat dan malat.
Extrak nikotin berupa cairan seperti minyak tak berwarna s/d
kuning pucat yg akan menjadi coklat bila terkena udara atau
cahaya.
Sangat higroskopis dan mudah membentuk garam dng
semua asam.
Sangat mudah larut dlm alkohol, khloro-form, ether,
pet.ether, kerosen, dan minyak nabati.
Analisis kuantitatif:
Pindahkan 1 gr sampel bubuk ke dlm erlenmeyer 50ml
bertutup dan + 1ml lart 20% NaOH dng pipet ukur
campur merata dng gelas pengaduk tambah 20ml
pet.ether dan ditutup rapat gojog homogen
Diamkan 2 jam shg lapisan ether bag atas jernih dipipet
10ml cairan ether dan pindahkan ke erlenmeyer bersih
Uapkan ether pd waterbath shg volume tinggal 2ml
tambah 10ml aquades + 2 tetes indikator metil merah
Titrasi dng 0.01N HCl shg warna hijau-kekuningan berubah
menjadi merah muda
1 ml HCl 0.01N ~ 1.6223 mg nikotin
Analisis Residu Sulfit

Senyawa sulfit sbg asam sulfit (SO2 dlm air)


atau sbg garam Na-bisulfit NaHSO3 sering
digunakan sebagai antibrowning enzimatis atau
sebagai bahan pemucat warna.
Dalam industri gula putih, sulfit digunakan sbg
bahan penjernih nira tebu
Residu sulfit dalam makanan perlu diawasi
karena dikawatirkan berpengaruh negatif bagi
fungsi-fungsi organ tubuh .
ANALISIS SULFIT
Analisa residu sulfit dapat dilakukan secara
cepat dng titrasi Iodin (indikator amilum).
Cara ini agak kurang cermat !!
Sampel diextrak dng aquades, disentrifuge
dan aliquot di + H2SO4 + Na-karbonat
Dititrasi dng lart standar Iodin 0.02N
1 ml 0.02 N Iodin ~ 1.28 mg SO2
ANALISIS SULFIT DNG SPEKTROMETER
Produk buah kering diblender dng air
disen-trifuge aliquot di + NaOH encer
digojog kmd dinetralkan dng lart H2SO4
Kmd di + reagent merkurat dan diencerkan
100 ml
Dipipet 2 ml di + 5 ml reagen rosanilin + 10ml
lart formaldehid 0.15% digojog
Biarkan 10 menit dan dibaca Absorbansinya
dng spektrofotometer
Dibuat kurva baku standar SO2 dengan
konsentrasi berkisar 0 s/d 8 g SO2 per ml .
TERIMA KASIH