Anda di halaman 1dari 38

AQIDAH

DI SUSUN OLEH
ANGGA SAPUTRA

MOHAMAD RIZAL MAULANA

OKSA RESTU PUTRA


PEMBAHASAN

RUANG
PENGERTIAN SUMBER
LINGKUP

TUJUAN AQIDAH ISTILAH

PENYIMPANGAN
& JENIS
PENANGANAN
Pengertian AQIDAH
Secara Etminologi ( Bahasa )

Kata aqidah diambil dari kata dasar al-aqdu yaitu:


ar-rabth ( ikatan )
al-Ibraam ( pengesahan )
al-ihkam ( penguatan )
at-tawatsuq ( menjadi kokoh, kuat )
at-tamaasuk ( pengokohan )
al-itsbaatu ( penetapan )
al-yaqiin ( keyakinan )
al-jazmu ( penetapan )
asy-syaddu biquwwah ( pengikatan dengan kuat )
Pengertian AQIDAH
Secara Terminologi ( Istilah )

Aqidah menurut istilah adalah perkara yang wajib


dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram
karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang
teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan
dan kebimbangan.
Menurut Ahli Agama

Hasan al-Banna

"Aqa'id bentuk jamakraiaqidah adalah


beberapa perkara yang wajib diyakini
kebenarannya oleh hati, mendatangkan
ketentraman jiwa yang tidak bercampur
sedikit dengan keraguan-raguan".
Menurut Ahli Agama

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani

Aqidah adalah iman. Iman merupakan


pembenaran (keyakinan) yang bersifat
pasti (tashdiqu al-jaaziim) yang sesuai
dengan kenyataan berdasarkan dalil.
Sumber Aqidah Islam
Al Quran

AQIDAH
As - Sunnah
Islam

Ijma Ulama
Al - Quran
Al-Quran adalah perkataan Allah yang hakiki, diturunkan
kepada Rasulullah dengan proses wahyu, membacanya
termasuk ibadah, disampaikan kepada kita dengan jalan
mutawaatir (jumlah orang yang banyak dan tidak mungkin
bersepakat untuk berbohong), dan terjaga dari
penyimpangan, perubahan, penambahan dan pengurangan.
Dalam hal ini Allah Iberfirman:






Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al-
Hijr: 9).
Al - Quran
Allah telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh
hamba-Nya sebagai bekal kehidupan di dunia maupun di akhirat.
Ia merupakan petunjuk bagi orang-orang yang diberi petunjuk,
pedoman hidup bagi orang yang beriman, dan obat bagi jiwa-
jiwa yang terluka. Keagungan lainnya adalah tidak akan pernah
ditemui kekurangan dan celaan di dalam Al Quran,
sebagaimana dalam firman-Nya:





Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al Quran) sebagai kalimat
yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah
kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui (Q.S. Al Anam:115)
Al Quran
Allah menurunkan Al-Quran sebagai sumber hukum aqidah
karena Allah mengetahui kebutuhan manusia sebagai seorang
hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan
jika dicermati akan ditemui banyak ayat dalam Al-Quran yang
dijelaskan tentang aqidah, baik secara tersurat maupun
secara tersirat. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajib jika
kita mengetahui dan memahami aqidah yang bersumber dari
Al-Quran. Kitab mulia ini merupakan penjelasan langsung dari
Rabb manusia, yang hak dan tidak pernah sirna ditelan masa.
As - Sunnah
Seperti halnya Al-Quran, As-Sunnah adalah satu jenis wahyu
yang datang dari Allah Swt walaupun Lfadznya bukan dari
Allah tapi maknanya datang darinya. Hal ini diketahui dalam
firman Allah QS. An-Najm: 3-4

((4)


( 3)

dan tidaklah yang diucapkan-Nya itu (Al-Quran) menurut


keinginan-Nya. Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang
diwahyukan kepadanya.
As - Sunnah
Sekarang banyak hadist lemah yang beredar di
masyarakat yang dari Rasulullah saw dinisbahakan kepada
beliau. Tapi maha suci ALLAH yang telah menjaga kemurnian
As-Sunnah hingga akhir zaman melalui para ulama ahli ilmu.
ALLAH telah menjadikan As-Sunnah sebagai sumber
hukum.dalam Agama. Kekuatan As-Sunnah dalam
menetapkan syariat termasuk perkara aqidah ditegaskan
dalam banyak ayat Al-Quran, diantaranya firman ALLAH
As - Sunnah
QS.An-nisa:59

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah


Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan)
diantara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah pada Allah (Al-Quran) dan Rasul
(As-Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu, lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.
Ijma Ulama
Sumber aqidah yang berasal dari kesepakatan para mujtahid
Umat Muhammad saw setelah beliau wafat, tentang urusan pada
suatu masa. Mereka bukanlah orang yang sekedar tahu tentang
ilmu tetap juga memahami dan mengamalkan ilmu. Berkaitan
dengan ijma, Allah swt berfirman dalam QS.An-Nisa:115.

dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas


kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-
orang mukmin, kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah
dilakukannya itu dan akan masukkan ia kedalam Neraka
Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
Ijma Ulama
Imam SyafiI menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil
pembolehan disunnatkannya Ijma, yaitu diambil dari kalimat
Jalannya orang-orang yang beriman yang berarti Ijma.
Beliau juga menambahkan bahwa dalil ini adalah dalil SyarI
yang wajib untuk diikuti karena Allah menyebutkannya secara
bersamaan dengan larangan menyelisihi Rasul. Sedangkan
fungsi Ijma adalah menguatkan Al-Quran dan As-Sunnah
serta menolak kemungkinan terjadinya kesalahan dalam
penafsirannya
Ruang lingkup Aqidah
Menurut Hasan al-Banna sistematika ruang lingkup
pembahasan aqidah adalah:

1. Ilahiyat

2. Nubuwat

3. Ruhaniyat

4. Sam'iyyat
Ruang lingkup Aqidah
1.Ilahiyat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu
yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud
Allah dan sifat-sifat Allah, dan lain-lain.
Ruang lingkup Aqidah
2. Nubuwat
Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan Nabi dan Rasul, termasuk
pembahasan tentang Kitab-Kitab Allah, mu'jizat, dan lain
sebagainya.
Ruang lingkup Aqidah
3. Ruhaniyat
Yaitu pembahsasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan alam metafisik seperti
malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
Ruang lingkup Aqidah
4. Sam'iyyat
Yaitu pembahahasan tentang segala sesuatu yang
hanya bisa diketahui lewat sam'I (dalil naqli berupa Al-
Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab
kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
Ruang lingkup Aqidah
Di samping sistematika tadi, pembahasan
aqidah bisa juga mengikuti sistematika
arkanul iman, yaitu :
1. Iman kepada Allah SWT.
2. Iman kepada malaikat.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah.
4. Iman kepada nabi dan rasul Allah.
5. Iman kepada hari akhir.
6. Iman kepada qadha dan qadar Allah.
Penggunaan Istilah
Kemudian ada beberapa istilah yang semakna dengan akidah yang
juga digunakan oleh para ulama, diantaranya :

1. Al Fiqhul Akbar
2. Al Iman
3. As Sunnah
4. At Tauhid
5. Ushulud Din
Jenis Aqidah
Aqidah secara umum terbagi menjadi dua :

1. Aqidah Shahihah ( aqidah yang benar ),

2. Aqidah Fasidah ( aqidah yang salah )


Jenis Aqidah
1. Aqidah Shahihah (aqidah yang benar),
yaitu aqidah yang bersumber dari Allah SWT, yang dibawa para
Rasul-Nya pada zaman dan tempat manapun juga. Pada dasarnya
aqidah yang dibawa para Rasul itu satu, karena sumbernya satu. Jadi
Tidak mungkin aqidah yang sumbernya satu itu berbeda dari seorang
Rasul dengan Rasul yang lain, atau berbeda dari satu zaman dengan
zaman yang lain.
Jenis Aqidah
2. Aqidah Fasidah (aqidah yang salah),
yaitu aqidah yang bersumber pada akal fikiran manusia. Setinggi
apapun derajat manusia, maka ilmunya tetap terbatas dan terpengaruh
oleh adat istiadat, pemikiran-pemikiran orang lain dan hawa nafsunya
sendiri.
Rusaknya aqidah itu bisa juga karena adanya penyimpangan dan
perubahan walaupun asalnya benar, seperti aqidah agama Yahudi dan
Nasrani di masa sekarang yang keduanya sudah mengalami
penyimpangan dan perubahan sejak masa yang lama. Aqidah yang
benar sekarang ini hanya terdapat dalam Islam, karena Islam adalah
agama yang terpelihara, yang Allah menjamin kemurniannya





Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan
sesungguh-nya Kami benar-benar memeliharanya (QS. al-Hijr/15 : 9)
Penyimpangan Aqidah
1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah

karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau


karena kurangnya perhatian terhadapnya, sehingga tumbuh suatu
generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak
mengetahui lawan atau kawan. Akibatnya, mereka meyakini sesuatu
yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai
haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar bin Khattab:
Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu,
manakala di dalam Islam terhadap orang yang tumbuh tanpa mengenal
kejahiliyahan.
Penyimpangan Aqidah
2. Ta,asub ( Fanatik )
Fanatik kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek
moyangnya, sekalipun hal itu batil dan mencampakkan apa yang
menyalahinya, sekalipun hal itu benar. Sebagaimana firman Allah:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutlah apa yang telah


diturunkan Allah, mereka menjawab, Tidak! Tetapi kami hanya
mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang
kami. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat
petunjuk? (QS Al-Baqarah: 170).
Penyimpangan Aqidah
3. Taklid (buta)

Dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah


tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh
kebenarannya, sebagaimana yang terjadi pada golongan - golongan
mutazilah, jahmiyah, dan lainnya. Mereka bertaklid kepada orang-
orang sebelum mereka dari para pemimpin yang sesat, sehingga
mereka juga sesat, dan jauh dari aqidah yang benar.
Penyimpangan Aqidah
4. Ghuluw (berlebihan)

Berlebihan dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih,


serta mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya, sehingga
meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan
kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun
menolak kemudharatan, juga menjadikan para wali itu sebagai
perantara antara Allah dan Makhluk-Nya, sehingga sampai pada
tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah.
Penyimpangan Aqidah
5. Ghaflah (lalai)

Lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat


raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam
kitab-Nya (ayat-ayat Quraniyah). Di samping itu, juga terbuat dengan
hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa
itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka
mengagung-agungkan manusia serta menisbathkan seluruh kemajuan
ini kepada jerih payah dan penemuan-penemuan manusia semata
sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan,
Penyimpangan Aqidah



Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku,
(QS Al-Qashsh: 78).

Dan sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong:

Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku, (QS Az-
Zumar: 49).
Penyimpangan Aqidah
6. Kurangnya pengarahan dalam keluarga
Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari
pengarahan yang benar (menurut Islam). Padahal, Rasulullah telah
bersabda:

Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua


orangtuanyalah yang kemudian membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani,
atau Majusi, (HR Bukhari).

Jadi, orang tua mempunya peranan besar dalam meluruskan jalan


hidup anak-anaknya
Penyimpangan Aqidah
7. Enggannya penerapan dalam media pendidikan dan media
informasi

Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian


yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak
peduli sama sekali. Sedangkan media informasi baik media cetak
maupun elektronik berubah menjadi sarana peghancur dan perusak,
atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat
materi dan hiburan semata
Penanganan penyimpangan
1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah untuk mengambil aqidah yang
benar dan lurus.
2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah
berdasarkan aqidah yang salah dan benar .
3. Harus ditetapkan kita-kitab salaf yang bersih
sebagai materi pelajaran. Sedangkan kita-kitab
kelompok yang menyimpang harus dijauhkan.
4. Menyebar para dai yang meluruskan aqidah
umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf
serta menjawab dan menolak seluruh aqidah
batil. Wallahualam bish shawwab
Tujuan Aqidah
1. Untuk mengihlaskan niat dan ibadah kepada Allah semata

2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekacauan yang timbul


dari kosongnya hati dari aqidah

3. Ketenangan jiwa dan pikiran, tidak cemas dalam jiwa dan


tidak goncang dalam pikiran.

4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam


beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan orang lain.
Tujuan Aqidah
5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak menghilangkan
kesempatan beramal baik, kecuali digunakannya dengan mengharap pahala

6. Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala yang mahal maupun
yang murah untuk menegakkan agamanya serta memperkuat tiang
penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi untuk menempuh jalan
itu

7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki individu-


individu maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan
TERIMA KASIH