Anda di halaman 1dari 11

Polymerase Chain Reaction

SHANNEN MUTIARA KISTY


H0714131
Pendahuluan

DNA adalah asam nukleat yang berisi instruksi genetik


yang digunakan dalam perkembangan dan seluruh
fungsi kehidupan organisme
Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah suatu metode
enzimatis untuk amplifikasi DNA dengan cara in vitro.
PCR ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1985
oleh Kary B. Mullis.
Dapat digunakan utk mengamplifikasi segmen DNA
dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.
Amplifikasi berarti memperbanyak/menggandakan
sekuen DNA identik.
Komponen PCR
DNA template, yaitu fragmen DNA yang akan
dilipatgandakan. Dua hal penting tentang DNA
cetakan adalah kemurnian dan kuantitas.
Primer, yaitu suatu polimer asam nukleat pendek
(oligonukleotida) yang mempunyai urutan
nukleotida yang komplementer dengan urutan
nukleotida DNA template
Deoksiribonukelotida trifosfat (dNTP), terdiri dari
dATP, dCTP, dGTP, dTTP. dNTP mengikat ion Mg2+
sehingga dapat mengubah konsentrasi efektif,
yang diperlukan untuk reaksi polimerasi.
Enzim DNA Polimerase, yaitu enzim yang
melakukan katalisis reaksi sintesis rantai DNA.
Enzim ini diperoleh dari bakteri Thermus aquaticus.
Komponen pendukung lain adalah senyawa buffer,
MgCl2, H2O
Tahapan dalam PCR

Ada tiga tahapan penting dalam proses PCR yang selalu


terulang dalam 30-40 siklus dan berlangsung dengan cepat:
Denaturasi
Denaturasi DNA merupakan proses pembukaan DNA untai
ganda menjadi DNA untai tunggal. Waktu yang dibutuhkan 3
menit, pada suhu 90-95C. Denatursi harus dilakukan dalam
jangka waktu yang tepat
Annealing
Primer menempel pada bagian DNA template yang
komplementer urutan basanya. Ini dilakukan pada
suhu antara 4560C. Suhu yang tidak tepat
menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau
primer menempel di sembarang tempat. Durasi tahap
ini 30-45 detik.
Extension
Sintesis dan perpanjangan untai DNA
komplementer dengan menggunakan enzim DNA
polymerase, pada temperature 60-75oC?.
Synthesis diawali dari ujung 5' ke 3 pada setiap
primer.
Hasil PCR

Hasil PCR tidak akan optimal jika terdapat kesalahan-


kesalahan dalam proses pengerjaanya. Optimasi proses
PCR berkaitan dengan faktor-faktor seperti jenis
polimerase DNA, suhu, konsentrasi, dNTPs, MgCl2 dan
DNA polimerase, buffer PCR, dan waktu.
Keunggulan PCR dikatakan sangat tinggi. Hal ini
didasarkan atas spesifitas, efisiensi dan
keakuratannya.
Teknik PCR dapat dimodifikasi ke dalam beberapa
jenis berdasarkan kebutuhan/fungsi, diantaranya:
Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP),
Inverse-PCR, Nested-PCR, Quantitative-PCR, Reverse
Transcriptase (RT-PCR), dan Random Amplified
Polymorphic DNA (RAPD)
Thanks
For your attention