Anda di halaman 1dari 144

PENYUSUNAN STUDI

PERENCANAAN SISTEM
DRAINASE
Definisi
Definisidan
dan Issue
Issue
Pengertian
Pengertian Drainase
Drainase

Bangunan
Bangunan Bangunan
Bangunan
Resapan
Resapan Pelengkap
Pelengkap

Dimensi
Dimensi Master
MasterPlan
Plan
Saluran
Saluran
Drainase
Drainase
Intensitas
Intensitas Perkotaan
Perkotaan Studi
Studi
Curah
CurahHujan
Hujan Kelayakan
Kelayakan

Koefisien
Koefisien Peran
PeranSerta
Serta
Limpasan
Limpasan Masyarakat
Masyarakat

Daerah
Daerah
Tangkapan Kelembagaan
Kelembagaan
Tangkapan Operasi
Operasidan
dan
Pemeliharaan
Pemeliharaan
EL KHOBAR M. NAZECH
Perencanaan Drainase
1. Menerapkan teknis hidraulik yang benar, meliputi:
- Kegiatan perencanaan agar selalu berpedoman pada
kriteria hidrologi, kriteria hidraulika dan kriteria struktur
yang ada
- Kegiatan pelaksanaan pembangunan, agar selalu
berpedoman pada peraturan-peraturan pelaksanaan,
spesifikasi administrasi, spesifikasi teknik dan
gambar-gambar perencanaan yang ada
- Kegiatan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan agar
selalu berpedoman pada criteria sistim drainase
perkotaan dan peraturan-peraturan pelaksanaan
operasi dan pemeliharaan yang ada.
Perencanaan Drainase
2. Pembenahan aspek non struktural, meliputi:
Pemantapan perundangan dengan persampahan,
perumahan, peil banjir, masterplan drainase, dan
lain-lain.
Pemantapan organisasi pengelola yang ada, secara
berkesinambungan.
Penyediaan dana yang mencukupi, baik untuk
pembangunan maupun untuk biaya operasi dan
pemeliharaan.
Peningkatan peranserta masyarakat dan peranserta
swasta dalam penanganan drainase perkotaan,
Dan lain-lain
TATA LETAK SISTEM DRAINASE

Tata letak sistem drainase pada model drainase permukaan


dan drainase bawah permukaan berbeda.

Drainase permukaan
tata letaknya akan mengikuti jaringan jalan raya yang ada
dan tata guna lahannya.

Drainase bawah permukaan


arah aliran air tanah, kemampuan air mengalir secara
gravitasi dan sistem drainase alam menjadikan pedoman
penyusunan tata letak.

EL KHOBAR M. NAZECH
TATA LETAK SISTEM DRAINASE

Secara umum tata letak drainase dapat :


Acak tidak teratur (terutama daerah yang
perkembangannya tidak terencana)
Sejajar satu dengan yang lainnya
Memotong lereng atau mengikuti garis tinggi

Sistem drainase yang baik adalah mempunyai ciri-ciri :


Mudah dikerjakan dengan biaya relatif murah
Memungkinkan kapasitas penyaluran air sesuai aliran
Dapat dikerjakan baik dengan tenaga manusia ataupun
mekanis
Pemeliharaan dan operasinya mudah dan murah

EL KHOBAR M. NAZECH
Drainase Kota:

Direncanakan dengan Hidrologi dan Hidrolika

Hidrologi: Data Curah Hujan dianalisis untuk mendapatkan


debit rencana dari saluran dan bangunan-bangunan
drainase

Hidrolika: Debit dari hasil perhitungan analisis hidrologi,


dengan kaidah-kaidah hidrolika dapat dihitung dimensi
saluran dan bangunan-bangunan drainase

EL KHOBAR M. NAZECH
PERENCANAAN DRAINASE

1. Direncanakan terpisah, pada kondisi tertentu bisa


gabungan, melalui koordinasi dgn instansi yang
berwenang

2. Direncanakan sebagai saluran terbuka atau


tertutup, dengan pertimbangan tersedianya
tanah/alam setempat, kemudahan Operasi dan
Pemeliharaan, dll

EL KHOBAR M. NAZECH
STUDI PERENCANAAN DRAINASE

Rencana Induk (Master Plan)

Outline Plan

Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Detailed Engineering Design

EL KHOBAR M. NAZECH
RENCANA INDUK/MASTER PLAN

Rencana induk sistem drainase


perkotaan adalah perencanaan
dasar yang menyeluruh pada
suatu daerah perkotaan untuk
jangka panjang
RENCANA INDUK/MASTER PLAN
Penanganan harus memakai pendekatan sistem,
parameter-parameter teknis ditentukan faktor alam
setempat

Physical Plan dalam wujud Master Plan/ Outline Plan


menjadi vital/mendasar:
1. Seluruh kota Metro & Besar
2. Kota sedang dengan teknis sulit/spesifik
3. Kota-kota yang mempunyai nilai strategis nasional
atau regional

Outline Plan sama dengan Master Plan yang tingkat


kerincian dan komprehensifitasnya lebih kecil

EL KHOBAR M. NAZECH
TATA CARA
RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN

RENCANA INDUK

PERENCANAAN DASAR YANG MENYELURUH PADA


DRAINASE PERKOTAAN UNTUK JANGKA PANJANG.

- TERPADU DENGAN PRASANA & SARANA


KOTA LAINNYA

- JANGKA WAKTU TERTENTU (20 atau 25 Thn)

- DISAHKAN INSTANSI BERWENANG


Rencana Induk Drainase
Berisi Informasi/Gambaran antara lain :

Jaringan saluran drainase existing, kaitan dengan sektor lain


Distribusi Debit Air (Q)
Tampak lintang saluran utama, elevasi m-a, dasar saluran
Dimensi pokok bangunan pelengkap (PA, waduk, dll)
Metode penanganan drainase lokal (gravitasi, polder)
Perkiraan biaya awal (fisik+tanah)
Urutan prioritas program setelah melalui analisa tertentu
Kelayakan ekonomis
Jadwal rencana pelaksanaan
Organisasi pelaksana yang diperlukan
Data/Informasi atau kajian antara lain
Peta genangan (lokasi, luas, lama, frekuensi dan
kedalaman rata-rata)
Identifikasi keadaan jaringan saluran dan
kapasitasnya
Hasil analisis permasalahan dan rumusan
persoalannya (problem statement), teknis/non teknis
Studi studi yang relevan
Hasil analisis alternatif yang ditinjau
Kriteria desain yang dipakai
Analisis/perhitungan hidrolik dari sistem drainase
utama
Kerugian/kerusakan (loss and damage) akibat
banjir/genangan
Ketentuan ketentuan umum yang harus dipenuhi adalah
sebagai berikut :

Rencana induk disusun dengan memperhatikan rencana


pengembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota
lainnya;
Rencana induk disusun dengan memperhatikan keterpaduan
pelaksanaannya dengan prasarana dan sarana kota lainnya,
sehingga dapat meminimalkan biaya pelaksanaan, biaya
operasional dan pemeliharaan;
Rencana induk disusun untuk arahan pembangunan sistem
drainase didaerah perkotaan selama 25 tahun, dan dapat
dilakukan peninjauan kembali disesuaikan dengan keperluan;
Rencana induk disahkan oleh instansi atau lembaga yang
berwenang.
Data dan informasi yang diperlukan adalah sbb :

Data klimatologi yang terdiri dari data hujan, angin, kelembaban dan
temperatur dari station klimatologi atau Badan Meteorologi dan
Geofisika terdekat;
Data hidrologi terdiri dari data tinggi muka air, debit sungai, laju
sedimentasi, pengaruh air balik, peil banjir, karakteristik daerah aliran
dan data pasang surut;
Data sistem drainase yang ada yaitu : data kuantitatif
banjir/genangan berikut permasalahannya dan hasil rencana induk
pengendalian banjir di daerah tersebut;
Data peta yang terdiri dari peta dasar (peta daerah kerja), peta
sistem drainase dan sistem jaringan jalan yang ada, peta tata guna
lahan, peta topografi masing-masing berskala antara 1 : 5.000
sampai dengan 1 : 50.000 atau disesuaikan dengan tipologi kota;
Data kependudukan yang terdiri dari jumlah, kepadatan, laju
pertumbuhan, penyebaran dan data kepadatan bangunan.
CARA PENGERJAAN
A. MENGUMPULKAN DATA
Data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :
kumpulkan studi-studi terkait;
kumpulkan data hidrologi, hidrolika dan bangunan pelengkap;
kumpulkan data sosial ekonomi, penduduk dan data lainnya yang ada hubungan
dengan studi terkait;
kumpulkan data keadaan saluran drainase dan badan air penerima yang ada,
sistem, geometri dan dimensi saluran;
kumpulkan data daerah pengaliran sungai atau saluran meliputi topografi,
morfologi, sifat tanah dan tata guna lahan;
kumpulkan data prasarana dan fasilitas kota yang telah ada dan yang
direncanakan;
kumpulkan data rencana pengembangan kota, foto udara, pembiayaan, institusi
dan kelembagaan dan peran serta masyarakat.
B. MENYUSUN KONDISI SISTEM DRAINASE

Menyusun kondisi sistem drainase dilakukan dengan langkah-langkah


sbb:
susun besaran daerah pengaliran (cathment area) dalam ha, saluran,
sungai, menjadi sub-sub sistem daerah pengaliran;
hitung panjang saluran (dalam m) dan nama badan air penerimanya
dari setiap saluran yang ada;
ukur penampang saluran dan kemiringan saluran minimal 3 titik
berbeda (awal, tengah, dan akhir) dari masing-masing saluran;
gambar bentuk dan ukuran penampang saluran-saluran yang ada,
serta mencatat kondisinya saat ini dan tahun pembuatannya;
kumpulkan data, gambar dan kapasitas bangunan pelengkap yang
ada dan dilengkapi dengan mencatat kondisi saat ini dan tahun
pembuatan;
catat permasalahan utama yang terjadi pada masing-masing saluran.
C. MEMBUAT PETA GENANGAN

Membuat peta genangan meliputi genangan rutin dan


genangan potensial yang perlu dilakukan meliputi :

petakan lokasi genangan yang berada dalam area studi;


catat luas, tinggi, dan lamanya genangan, serta frekuensi
dan waktu kejadian dalam satu tahun, untuk setiap
daerah genangan;
catat penyebab genangan;
taksiran dan catat besaran kerusakan atau kerugian
yang ditimbulkan dalam bentuk biaya.
D. ANALISIS
Analisis yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut :

Analisis kondisi yaitu :


analisis kapasitas saluran dan genangan;
analisis kapasitas bangunan pelengkap;
analisis struktur saluran dan bangunan pelengkap.
Analisis kebutuhan :
tentukan rencana alur saluran sesuai topografi dan
tata guna lahan;
tentukan kala ulang pada masing-masing saluran;
analisis intensitas hujan sesuai dengan kala ulang;
hitung debit rencana masing-masing saluran;
analisis perbedaan antara kebutuhan dan kondisi
yang ada.
E. MENYUSUN USULAN PRIORITAS
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun usulan
prioritas adalah sebagai berikut:

susun tabel skala prioritas berdasarkan kepentingan dan


pengembangan daerah;
analisis berdasarkan pembobotan;
usulkan skala prioritas;
catat kepentingan daerah yang strategis;
catat pengaruh langsung terhadap daerah lingkungan kumuh;
catat fasilitas umum dan fasilitas sosial;
catat pengaruh terhadap pengembangan tata ruang perkotaan;
susun kegiatan berdasarkan tahapan mendesak 5, 10, 20 dan 25
tahun.
F. MENYUSUN USULAN SISTEM DRAINASE
PERKOTAAN
Menyusun usulan sistem drainase perkotaan dilaksanakan
dengan langkah-langkah sebagai berikut :

susun pola aliran dan sistim drainase kota dengan alternatif


sistem;
buat urutan prioritas sub sistem drainase;
tentukan debit rencana (m3/detik) dari masing-masing
saluran;
rencanakan bentuk-bentuk penampang dan bangunan
pelengkapnya pada masing-masing saluran;
tentukan luas yang akan dibebaskan;
perkirakan besar biaya ganti rugi lahan.
G.MEMBUAT JADWAL KEGIATAN
PEMBANGUNAN SISTEM DRAINASE

Membuat jadwal kegiatan pembangunan sistem


drainase dilakukan sebagai berikut:

tentukan jadwal prioritas zona yang akan ditangani;


tentukan zona sistem drainase yang akan dikerjakan;
tentukan waktu pembuatan studi kelayakan;
tentukan waktu pembuatan rencana teknik;
tentukan waktu pelaksanaan pembangunan fisik;
tentukan waktu kegiatan operasional dan pemeliharaan
dimulai.
H. REKOMENDASI
Untuk mendukung pengembangan sistem drainase perkotaan perlu
diusulkan langkah-langkah sebagai berikut :

usulkan bentuk kelembagaan;


usulkan instansi yang berwenang menangani sistem
drainase;
usulkan peningkatan fungsi organisasi pengelola;
usulkan jumlah personil dan uraian tugas dari masing-
masing satuan organisasi;
usulkan koordinasi kegiatan pembangunan prasarana dan
sarana kota lainnya;
usulkan kebutuhan aspek hukum dan peraturan;
usulkan mekanisme dan peningkatan partisipasi masyarakat dan
swasta.
STUDI KELAYAKAN
Suatu studi kelayakan dilaksanakan untuk menindaklanjuti
Rencana Induk Sistem Drainase. Sasaran hasil studi
kelayakan dipusatkan pada implementasi sistem
drainase untuk alternatif yang terpilih.

Diperlukan kajian kelayakan secara :


- Teknis
- Ekonomi
- Lingkungan
- Sosial

EL KHOBAR M. NAZECH
Tahap awal sebelum dilakukan proses
perencanaan, konstruksi, operasi, dan
pemeliharaan harus dilakukan terlebih
dahulu Studi Kelayakan.
Kelayakan adalah rencana kegiatan
yang diusulkan telah memenuhi kriteria
tertentu yang ditetapkan;
Ketentuan-ketentuan umum yang harus
dipenuhi adalah sebagai berikut :
penyusunan studi kelayakan drainase
dilakukan berdasarkan prioritas zona yang
telah ditentukan dalam Rencana Induk
Sistem Drainase;
pengesahan rencana teknik oleh
penanggung jawab yang ditunjuk instansi
yang berwenang menggunakan data
paling mutakhir;
CARA PENGERJAAN
A. MENGUMPULKAN DATA

Data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :


Umum : kumpulkan rencana induk, studi terkait,
data penduduk dan data sosial ekonomi
Teknis : inventarisasi sistem drainase, kumpulkan
data hidrologi, data hidrolik dan data kapasitas
dan struktur bangunan
Ekonomi : kumpulkan data aspek sosial ekonomi,
data kerugian langsung dan tidak langsung
Lingkungan: kumpulkan data lingkungan
B. KELAYAKAN TEKNIK
Kelayakan teknik meliputi :
analisis permasalahan :
lakukan evaluasi terhadap kapasitas
sistem saluran berdasarkan data primer
dan sekunder yang tersedia;
lakukan evaluasi permasalahan :
frekuensi genangan;
tinggi, lamanya genangn serta luasnya
genangan;
sedimentasi;
bangunan pelengkap yang tidak berfungsi;
pemeliharaan yang tidak memadai.
analisa kebutuhan
tentukan lokasi prioritas yang akan ditangani, berdasarkan arah
perkembangan kota dan permasalahan yang ada;
buat rencana perbaikan dan pemeliharaan yang disesuaikan
dengan kondisi setempat;
buat rencana pembangunan baru sistem drainase yang
dibutuhkan;
hitung debit rencana untuk masing-masing sistem saluran dan
bangunan perlengkapannya;
hitung besaran penampang saluran dan besaran fasilitas
bangunan pelengkapnya;
buat kebutuhan penampang saluran dan besaran fasilitas
bangunan pelengkapnya;
lakukan kajian teknis terhadap rencana kegiatan dan tentukan
kelayakannya berdasarkan kriteria kelayakan teknis;
tentukan rencana teknik untuk masing-masing saluran dan
bangunan pelengkapnya, dengan prioritas produksi dalam
negeri;
buat rencana kerja pembangunan masing-masing usulan.
C. KELAYAKAN EKONOMI
Kelayakan ekonomi akibat banjir atau
genangan :
hitung biaya kerugian akibat banjir atau
genangan;
hitung rencana biaya pembangunan operasi
dan pemeliharaan;
buat analisis ekonomi dan keuangan (besaran
EIRR, NPV, dan BCR);
tentukan kelayakan proyek berdasarkan
kriteria yang berlaku;
tentukan sumber pembiayaan untuk
pembangunan, perbaikan dan pemeliharaan
E. USULAN KEGIATAN PROYEK
Untuk rencana kegiatan yang telah teruji
kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungannya
susun jadwal kegiatan pelaksanaan yang
meliputi:
kegiatan persiapan;
kegiatan pembebasan tanah;
kegiatan rencana detil;
kegiatan pengadaan jasa pemborong;
kegiatan konstruksi;
kegiatan uji coba;
kegiatan operasi dan pemeliharaan.
D. KELAYAKAN LINGKUNGAN
Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan
berdasarkan peraturan yang berlaku:
buat klasifikasi kegiatan yang memerlukan
Amdal dan yang tidak memerlukan Amdal;
buat RKL dan RPL untuk kegiatan yang
memerlukan kegiatan Amdal (sesuai dengan
ketentuan yang berlaku);
buat UPL dan UKL untuk kegiatan yang tidak
memerlukan Amdal (sesuai dengan tata cara
penyusunan UKL dan UPL drainase
perkotaan);
buat Amdal untuk kegiatan yang memerlukan
TATA CARA
STUDI KELAYAKAN DRAINASE

Teknis
Hidrologi & Hidrolika
Ada Alternatif
Struktur
Material
Pelaksanaan
Kemudahan O & P

Ekonomi
NPV (Net Present Value) > 1
EIRR > Tingkat Bunga Yang Berlaku
BCR > 1
Lanjutan :
Menyusun Urutan Prioritas

Menyusun Usulan Sistem Drainase Perkotaan

Menyusun Usulan Biaya

Jadwal Kegiatan Pembangunan

Rekomendasi

Aspek Kelembagaan

Aspek Hukum dan Peraturan

Partisipasi Masyarakat & Swasta


Curah hujan rencana
Disain Periode Ulang Curah Hujan Rencana untuk Drainase Kota

Kelas Kota Luas Daerah Tangkapan (catchment area)


10 ha 10 100 ha 100 500 ha > 500 ha

Metropolitan 12 25 5 10 10 25
Besar 12 25 25 5 15
Sedang 12 25 2-5 5 10
Kecil 12 12 12 25
Sangat Kecil 1 1 1 -

Metropolitan: Jumlah penduduk > 1,000.000 orang


Kota Besar: Jumlah penduduk antara 500,000 hingga 1,000,000
orang
Kota Sedang: Jumlah penduduk antara 100,000 hingga 500,000
orang
Kota Kecil: Jumlah penduduk antara 20,000 hingga 100,000 orang
EL KHOBAR M. NAZECH
Sungai/ kali
Iklim (musim) Selokan (Got)
Cuaca Bendungan dll

Curah Hujan Infrastruktur Air

DRAINASE

Daerah Resepan
Pengelolaan
Lahan Terbuka
Kepadatan penduduk Peran serta masyarakat
Jumlah bangunan Pemerintah
Lahan (luas)

EL KHOBAR M. NAZECH
PERENCANAAN SISTEM DRAINASE
DIAGRAM ALIR PERENCANAAN SALURAN DRAINASE
PENINJAUAN LAPANGAN

PETA SITUASI POLA ALIRAN

DATA CURAH HUJAN PEMBAGIAN DAERAH ALIRAN

DATA CURAH HUJAN HARIAN


MAKSIMUM DENGAN CATCHMENT AREA Tc = To + Td
PERIODE ULANG TERTENTU

INTENSITAS CURAH HUJAN Qr = C . I . A

V = 1/n x R2/3 x S1/2 Ar = Qr / V DIMENSI

GAMBAR TEKNIS

EL KHOBAR M. NAZECH
EVALUASI SISTEM DRAINASE
DIAGRAM ALIR EVALUASI SALURAN DRAINASE

EL KHOBAR M. NAZECH
PERBEDAAN ANTARA PROSES PERENCANAAN DENGAN
PROSES EVALUASI SISTEM DRAINASE

hanya pada proses setelah perhitungan dimensi, yaitu :

- Pada proses perencanaan setelah diperoleh dimensi


penampang maka langsung dibuat gambar teknis lengkap
dengan skema penampang.

- Pada proses evaluasi setelah diperoleh dimensi penampang


maka langsung dibandingkan dengan besar penampang
existing, apakah penampang yang ada masih efektif, over,
atau sudah tidak mampu lagi menampung jumlah debit yang
terjadi, debit yang terjadi dapat dibandingkan dalam
prosentase antara evaluasi dengan existing.

EL KHOBAR M. NAZECH
PROSES PERHITUNGAN
PENINJAUAN LAPANGAN

Data-data lapangan yang diperoleh berupa :


Peta wilayah (1:5,000 s/d 1:50,000)
Peta kontur / topography (penentuan alur saluran)
Foto-foto lapangan
Data saluran existing (untuk evaluasi sal. drainase)
Data kependudukan (sebaran, kepadatan, pertumbuhan)
Data bangunan (peruntukan, sebaran, kepadatan)
Fasilitas umum dn fasilitas sosial dll

EL KHOBAR M. NAZECH
PETA WILAYAH

Dari peta wilayah yang ada dilakukan :

Pembagian menjadi beberapa jenis wilayah tangkapan


hujan/ catchment area, berdasarkan tabel nilai koefisien
C (koefisien run-off)).

Pembagian dan perencanaan jumlah dan letak saluran


kemudian hitung kemiringan slope saluran-saluran
tersebut.

EL KHOBAR M. NAZECH
PETA SITUASI

Dari peta situasi diperoleh data:

Kemiringan saluran rencana atau existing (untuk


evaluasi)
Panjang saluran rencana atau existing (untuk evaluasi)
Luas masing-masing jenis catchment area untuk masing-
masing saluran.
Luas total catchment area untuk masing-masing saluran.
Koefisien runoff masing-masing jenis catchment area
untuk masing-masing saluran.

Sodetan pengaliran aliran sungai


Aliran Saluran dengan energi Gravitasi dan Pompa
Kawasan yang perlu dibangun dengan sistem polder

EL KHOBAR M. NAZECH
PRINSIP DASAR
PENGENDALIAN BANJIR dan DRAINASE
JAKARTA

LAUT
Pompa Pompa Pompa
WADUK WADUK
WADUK

WADUK Daerah Rendah Pompa


Pengaliran Dengan
Mekanisasi
(Sistem Polder)
WADUK

WADUK WADUK
Main Drain
Daerah Cukup Tinggi
Pengaliran Dengan Gravitasi

BANJIR KANAL BARAT


(7.500 ha)
SUNGAI YG MASUK DKI JAKARTA BANJIR KANAL TIMUR
(16.500 ha)
WADUK

Sumber:
Pengendalian Banjir DKI Jakarta, Ditjen SDA,
Dept PU, Seminar Sehari Air Jakarta 2005, 30 EL KHOBAR M. NAZECH
Drainasi Sistem Polder*di DKI-Jakarta

Marund
Pluit a
Sunter

Banjir * Sistem
Kanal Banjir Drainasi
Barat Kanal terdiri dari
Timur Saluran,
Waduk &
Pompa
Sumber: Djakarta Master Plan for Drainage & Flood Control , EL KHOBAR M. NAZECH
Sistem polder

Daerah rendah
dilindungi dengan
cara membuat
tanggul sepanjang
aliran sungai atau
laut
Waduk dibuat
untuk menampung
limpasan hujan
Stasiun pompa
dibangun untuk
memompa air
waduk ke sungai
atau ke laut
Sumber:
Pengendalian Banjir DKI Jakarta, Ditjen SDA,
Dept PU, Seminar Sehari Air Jakarta 2005, 30 EL KHOBAR M. NAZECH
PERAN SERTA MASYARAKAT

No Tahapan Pelaksanaan Partisispasi dari Masyarakat Instansi


. Kegiatan

1. Penentuan Lokasi Penjelasan/ penyuluhan Pemda


Izin lokasi
Menyerahkan lokasi

2. Survey dan Penyuluhan Izin mengukur Dep. PU, Pemda,


Ikut menyuluh Masyarakat
Ikut partisipasi/ penyuluhan
Format dan bangunan

3. Perencanaan Memberikan masukan dalam Pemda dan masyarakat


Perencanaan

4. Pelaksanaan Pengerahan tenaga Pemda, Masyarakat

5. Operasional & Pemeliharaan Pengerahan tenaga Pemda dan masyarakat

EL KHOBAR M. NAZECH
Peran
PeranMasyarakat
Masyarakatdan
danInstansi
InstansiTingkat
TingkatKelurahan
Kelurahandan
dan
Kecamatan
Kecamatan

Instansi Kelurahan dan Kecamatan

Inventarisasi data Identifikasi dan Evaluasi

Jenis Sumber Genangan


Bahan Koordinasi
Badan air Penyebab Genangan
Lokasi genangan RT/RW/Kel
Penanganan per instansi
Peta Lokasi (RT/RW), Kel
Luas dan kepadatan penduduk
Fasilitas sanitasi lingkungan Evaluasi Pengendalian
Jumlah Penduduk, di lokasi tsb
Daerah rawan Genangan
Kebijakan tingkat
Kelurahan - Kecamatan
EL KHOBAR M. NAZECH
Peran
PeranInstansi
InstansiPengelola
Pengeloladan
danPengendali
Pengendali
Genangan
GenanganPerkotaan
Perkotaan

Jenis Sumber Genangan Kebijakan Lingkungan


Lokasi dan luas area Genangan Pemerintah Daerah /
Fasilitas pengendali genangan yg ada Kota
Badan badan air penerima
Peta wilayah genangan Instansi Pengelola &
Kegiatan pengelolaan yang ada Pengendali Lingkungan
Rencana kegiatan per instansi / sektor Pemerintah Daerah / Kota

Program pengelolaan &


Inventarisasi data Pengendalian

Koordinasi dengan
Instansi sektoral & Instansi Instansi sektoral
Wil. dan Instansi wilayah

Evaluasi keg.
pengendalian

Perbaikan
pelaksanaan
Program Kegiatan EL KHOBAR M. NAZECH
PEMULIHAN DAERAH GENANGAN DI PERKOTAAN

Penentu Kebijakan Pelaksanaan


Pembangunan Kota

Stakeholders
Pelaksana Pembangunan Tata Ruang Kota

Kebijakan Pemanfaatan Tata Ruang

Studi Strategi Pemanfaatan


Pemanfaatan Kawasan
Tata Ruang

Program sektoral Pemanfaatankawasan

Sistem Drainase Evaluasi


Pola Pemanfaatan Pengelolaan Air Pelaksanaan
ruang Existing dan Limbah Program
Rencana Sanitasi Wilayah sektoral
Kota
Pengembangan

Pelaksanaan Program Kegiatan

Evaluasi Pelaksanaan
Pemanfaatan ruang PEMBANGUNAN
di lapangan
EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Kelembagaan
N LEMBAGA DRAINASI MAYOR DRAINASI MINOR
o
NON RE/BTN REAL ESTATE/BTN

1 PEM. PENGARAHAN & PENGARAHAN & PENGARAHAN &


PUSAT BIMBINGAN BIMBINGAN BIMBINGAN
2 PEMDA TKT PENGARAHAN & PEMANTAUAN PEMANTAUAN
I BIMBINGAN
3 PEMDA TKT -SURVAI -SURVAI -BIMBINGAN
II -INVESTIGASI -DESAIN -INVESTIGASI -DESAIN PERENCANAAN
-BEBASKAN TANAH -BEBASKAN TANAH -PEMANTAUAN
-PENGAWAS -PENGAWAS -OPERASI
-PELAKSANAAN -PELAKSANAAN -PEMELIHARAAN
-OPERASI -OPERASI
-PEMELIHARAAN -PEMELIHARAAN
4 SWASTA/ PENGGUNA - PENGGUNA -SURVAI
BUMN/ - OPERASI DAN -INVESTIGASI -DESAIN
BUMD/ PEMELIHARAAN -BEBASKAN TANAH
KOPERASI -PENGAWAS
-PELAKSANAAN
-OPERASI
-PEMELIHARAAN
5 MASYARAK -PENGGUNA -PENGGUNA -PENGGUNA
AT -OPERASI -OPERASI
-PEMELIHARAAN -PEMELIHARAAN
EL KHOBAR M. NAZECH
IDENTIFIKASI Start
Start

MASALAH DAN Pengumpulan


Pengumpulan data
data
SOLUSINYA Menghitung
Menghitung beban
beban banjir
banjir
(Q
(QBB =
= C.
C. I.
I. A)
A)

Menghitung
Menghitung Kapasitas
Kapasitas Saluran
Saluran
Utama
Utama (Q
(QSS))
Y
Crash
Crash Program
Program Q
QBB >
>QQSS
N
Mempertahankan
Mempertahankan kondisi
kondisi
Alternatif
Alternatif existing
Solusi
Solusi
existing
Struktural
Struktural RUTR
RUTR
Program
Program jangka
jangka menengah
menengah dan
dan
N Cek
Cek Prasyarat
Prasyarat panjang
panjang

Y
SOLUSI
SOLUSI
Solusi
Solusi Crash
Crash Program
Program
terpilih Hidrologi sebagai suatu Framework yang terpadu
terpilih Hidrologi sebagai suatu Framework yang terpadu
Menggunakan Mikro-manejemen
Menggunakan Mikro-manejemen
Pengendalian Stormwater pada Sumbernya
Pengendalian
Penggunaan Stormwater
Metode pada Sumbernya
yang Sederhana dan Non-
Penggunaan Metode struktural
yang Sederhana dan Non-
Membuat Landscape
Landscapestruktural
Multi-fungsional
Membuat Landscape
Landscape
Multi-fungsional

Implementasi
Implementasi

EL KHOBAR M. NAZECH
Pengembangan Sungai

Alternatif Tanggul
Normalisasi
Solusi Sodetan
Banjir kanal
Penampungan Air
Dam
Retarding Basin
Retention Pond

Menghitung
Menghitung Luasan
Luasan yang
yang dibutuhkan
dibutuhkan
untuk
untuk menampung
menampung banjir
banjir (A
(ALL))

Menghitung
Menghitung Luasan
Luasan yang
yang bisa bisa
dimanfaatkan
dimanfaatkan (A Exist))
(AExist

N A
ALL <
<AAExist
Exist

Y
Menghitung
Menghitung besarnya
besarnya kerugian
kerugian bila
bila
terjadi banjir (C
terjadi banjir (CFL )
FL )

Menghitung
Menghitung biaya
biaya konstruksi/sosial
konstruksi/sosial (C SOL))
(CSOL

N ALL < AExist


Exist

Y
Solusi
Solusi Crash
Crash
Program
Program terpilih
terpilih
EL KHOBAR M. NAZECH
OPERASI & PEMELIHARAAN

OPERASI, adalah menjaga agar sarana dan prasarana


drainase perkotaan tetap berfungsi sesuai dengan
maksud dan tujuannya.

PEMELIHARAAN, adalah kegiatan yang dilakukan untuk


menjamin fungsi sarana dan prasarana drainase
bekerja sesuai dengan rencana.

PERENCANAAN O & P:
1. Meliputi: Perencanaan Pemrograman dan
Perhitungan Biaya
2. Sumber daya: (5 M: manusia, alat, dana, material,
metode)

EL KHOBAR M. NAZECH
PERKEMBANGAN KONSEP DRAINASE

KONSEP LAMA / AWAL


Air
Airsecepatnya
secepatnyadapat
dapatdialirkan
dialirkankebagian
kebagianhilir
hilirdari
daridaerah
daerah
yang
yangtergenang
tergenang((ke
kesungai,
sungai,waduk,
waduk,laut
laut).
).

KONSEP BARU / KINI pelita V 1989


Drainase
Drainase perkotaan
perkotaan sebagai
sebagai prasarana
prasarana perkotaan,
perkotaan, yang
yang
berlandaskan
berlandaskan konsep
konsep pembangunan
pembangunan berwawasan
berwawasan
lingkungan
lingkungan..
Mengendalikan
Mengendalikanair
airhujan
hujanagar
agarlebih
lebihbanyak
banyakmeresap
meresapkedalam
kedalam
tanah
tanahdan
dantidak
tidakbanyak
banyakterbuang
terbuangsebagai
sebagaialiran
aliranpermukaan
permukaan

Melalui
Melaluibangunan
bangunanresapan,
resapan,
Kolam tandon
Kolam tandon
Penataan
Penataanlansekap
lansekapdan
dansengkedan
sengkedan

EL KHOBAR M. NAZECH
Dampak Urbanisasi pada Skala Banjir

Sesudah

Debit
Urbanisasi
mempersingkat
Waktu Konsentrasi &
meningkatkan
Koefisien Aliran

Sebelu
m

Waktu

EL KHOBAR M. NAZECH
DKI Jakarta 1970 - 1990

Sumber:
Dinas Tata Kota DKI Jakarta, dalam disertasi Rudi Tambunan, 2004
EL KHOBAR M. NAZECH
Drainase dan Konservasi Air

Curah Hujan

Tata Guna Lahan

Q Infiltrasi Q limpasan

Waktu Konsentrasi

Diperlambat Ditahan

Q Air Tanah
Tanah Q Sungai

EL KHOBAR M. NAZECH
BANGUNAN RESAPAN

EL KHOBAR M. NAZECH
BANGUNAN RESAPAN

EL KHOBAR M. NAZECH
Perkerasan RESAPAN

EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Median Parkir sebagai Resapan

EL KHOBAR M. NAZECH
Kolam Resapan

EL KHOBAR M. NAZECH
Bidang Resapan

EL KHOBAR M. NAZECH
Saluran Resapan

EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Analisis Hidrologi
Tujuan dan Manfaat:

Pemanfaatan potensi air: Pengamanan terhadap


daya rusak air:
Air Rumah Tangga /
- Banjir yang harus
Domestik
dilalukan dengan aman
Industri
Irigasi - Limpasan hujan yang
PLTA harus dialirkan agar
Perikanan tidak menimbulkan
Pariwisata genangan yang
Transportasi sungai mengganggu
Dll.
EL KHOBAR M. NAZECH
DAUR HIDROLOGI

DEFINISI DAUR HIDROLOGI

Pengertian dari daur hidrologi, yaitu pergerakan air laut ke


udara, kemudian jatuh ke permukaan tanah dan kemudian
mengalir ke laut kembali. Daur hidrologi dapat dibagi
menjadi dua macam yaitu :
daur pendek : pergerakan air laut ke udara
kemudian jatuh kembali ke
laut.
daur panjang : pergerakan air laut ke udara,
kemudian jatuh ke permukaan
tanah dan kemudian mengalir ke laut
kembali.

EL KHOBAR M. NAZECH
Didalam daur hidrologi terjadi empat macam proses, yaitu : presipitasi, evaporasi,
infiltrasi, serta limpasan permukaan (surface runoff) dan limpasan air tanah
(subsurface runoff). EL KHOBAR M. NAZECH
Debi
t
I

t t
Operator


Input Output

EL KHOBAR M. NAZECH
Batas DAS
Permukaan DAS
Batas sistem
Aliran sungai

Luas DAS = 1 km2 = 1,000,000 m2

Intensitas hujan 10 mm/menit = 0,01 m/menit.

Debit yang terjadi = 10,000 m3/menit

EL KHOBAR M. NAZECH
DAERAH TANGKAPAN:

Di mana air hujan yang


jatuh di daerah tangkapan
mengisi cekungan menuju
bagian yang rendah
mengalir ke sungai.

EL KHOBAR M. NAZECH
A3

A5
A2

A4
A1

Luas Daerah Tangkapan (A)

EL KHOBAR M. NAZECH
POLA ALIRAN

Pola aliran (arah aliran) diperoleh


berdasarkan peta situasi, yaitu
berdasarkan beda tinggi antara
hulu dan hilir saluran.

Bila pola aliran dibuat sedemikian


sehingga tidak mengikuti kontur
maka perlu dilakukan pekerjaan
galian atau timbunan agar pola
aliran sesuai dengan yang
direncanakan.

EL KHOBAR M. NAZECH
PEMBAGIAN DAERAH ALIRAN

Pembagian darah aliran juga diperoleh berdasarkan peta situasi


dan pola aliran

Contoh Skema Pembagian Daerah Aliran & Pola Aliran


EL KHOBAR M. NAZECH
DAERAH TANGKAPAN / CATCHMENT AREA

Catchment area merupakan nilai rata-rata koefisien runoff


berdasarkan data-data dari peta situasi.

Koefisien runoff rata-rata untuk seluruh catchment area


untuk masing-masing saluran.
dengan rumus :

Ai Ci
C
Ai

EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
MEMPEROLEH WAKTU KOSENTRASI (Tc)
(Tc = To + Td)

Perhitungan To
Data yang diperoleh :
Jarak terjauh yang ditempuh air dari catchment area sampai ke
hulu saluran (S).
Beda tinggi antara bagian hulu dengan hilir saluran
Dari kedua hal diatas dapat diperoleh Slope catchment area
rata-rata.
Dari data slope diplot ke tabel Hubungan antara Kecepatan rata-
rata dengan
Slope, diperoleh nilai
kecepatan rata-rata (V) (dalam ft/sec)
Dari data kecepatan rata-rata diperoleh data To (dlm menit),
dengan rumus: To = S/V

EL KHOBAR M. NAZECH
MEMPEROLEH Tc (Tc = To + Td) (Cont.)

Tabel Untuk
mencari waktu
inlet (To)

Sumber : SCS, 1975

EL KHOBAR M. NAZECH
MEMPEROLEH Tc (Tc = To + Td) (Cont.)

PERHITUNGAN Td
Data yang diperoleh :
Panjang saluran yang ditinjau (meter)
Beda tinggi saluran (meter)

Kedua data tersebut diplot ke dalam tabel hubungan antara jarak


dengan beda tinggi sehingga diperoleh nilai conduit time (Td)
(Td dalam tabel ini dalam satuan 10 menit).

Bila letaknya misalnya antara 2 dan 3 maka ditarik garis


diantaranya dan diperkirakan nilai conduit time-nya

EL KHOBAR M. NAZECH
MEMPEROLEH Tc (Tc = To + Td) (Cont.)

Tabel Untuk mencari


Conduit time (Td)

Sumber : Outline study pembuangan air


hujan kota Palu, Departemen Pekerjaan
Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya. 1984

EL KHOBAR M. NAZECH
MEMPEROLEH Tc (Tc = To + Td)

PERHITUNGAN Tc
Tc diperoleh dengan rumus :
Tc = To + Td (dalam menit)

Inlet time

EL KHOBAR M. NAZECH
HIDROLOGI:

Data curah hujan didapat dari Badan Meteorologi dan Geofisika


terdekat.

DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN PERIODE ULANG


TERTENTU

Perhitungan Analisa Frekuensi Curah Hujan dengan Metode


Gumbel

Urutan perhitungan :
Data curah hujan maksimum dapat diperoleh dari BMG
(Badan Meteorologi dan Geofisika).
Hitung Jumlah data curah hujan maksimum (x)
Data curah hujan maksimum yang masih mentah tersebut
terlebih dahulu diurutkan dari yang paling maksimum.
Susun tabel dengan keterangan kolom seperti berikut:
EL KHOBAR M. NAZECH
Data Curah Hujan Tahunan di Stasion Pengamatan Depok
Data dari BMG

EL KHOBAR M. NAZECH
x xi x ( xi x ) 2 x n

DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN PERIODE ULANG


TERTENTU (Cont.)

Contoh perhitungan :

No xi x xi x ( xi x ) 2 x N Yn
1 162 99.85714 62.14286 3861.735 27.20898 1.0696 0.5252
2 141 99.85714 41.14286 1692.735 27.20898 1.0696 0.5252
3 131 99.85714 31.14286 969.8776 27.20898 1.0696 0.5252
4 128 99.85714 28.14286 792.0204 27.20898 1.0696 0.5252
5 120 99.85714 20.14286 405.7347 27.20898 1.0696 0.5252
6 120 99.85714 20.14286 405.7347 27.20898
x 1.0696 0.5252
7 120 99.85714 20.14286 405.7347 27.20898 1.0696 0.5252
8 110 99.85714 10.14286 102.8776 27.20898 1.0696 0.5252
9 103 99.85714 3.142857 9.877551 27.20898 1.0696 0.5252

EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN
PERIODE ULANG TERTENTU

Nilai x diperoleh dari : ( xi x ) 2


x
N 1

Nilai N diperoleh dari : Tabel a (berdasarkan jumlah data


c. hujan)
Nilai Yn diperoleh dari : Tabel b (berdasarkan jumlah data
c. hujan) x
x
Nilai x diperoleh dari : N
Nilai YT diperoleh dari : tabel c berdasarkan periode ulang
yang digunakan
Dari data tersebut diperoleh persamaan garis regresi :
x
xT x (YT Y N )
N
EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN PERIODE
ULANG TERTENTU (Cont.)
Tabel a, Harga reduced standard deviation (N)

Sumber : J.Nemec, Engineering Hidrology, Tata Mc. Graw Hill Publishing Company ltd, New Delhi, 1973

Cat : Bila jumlah data 21 maka N = 1,0696

EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN PERIODE
ULANG TERTENTU (Cont.)
Tabel b, Harga reduced mean (YN)

Sumber : J.Nemec, Engineering Hidrology, Tata Mc. Graw Hill Publishing Company ltd, New Delhi, 1973

Cat : Bila jumlah data 21 maka YN = 0,5252

EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN
PERIODE
ULANG TERTENTU (Cont.)
Tabel c, Harga reduced variated berdasarkan periode ulang
(YT)
Periode Ulang (tahun) Reduced variate (YT)

2 0,3665
5 1,4999
10 2,2502
15 2,6844
20 2,9700
25 3,1985
50 3,9019

Sumber : J.Nemec, Engineering Hidrology, Tata Mc. Graw Hill Publishing Company ltd, New Delhi, 1973

Cat : bila periode ulangnya 5 tahun maka YT = 1,4999

EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN
PERIODE ULANG TERTENTU (Cont.)
Perhitungan Intensitas Hujan dengan Metode
Hasper der Weduwen (Menggambar Grafik IDF)
Untuk menghitung intensitas hujan dalam satuan waktu
tertentu digunakan rumus :
1218(t ) 54 R
R '24 R24 I
t
R24 .(1 t ) 1272(t )
1218(t ) 54 11300 (t )
R24
11300 (t ) R24 .(1 t ) 1272(t ) (t 3,12)
R R '24 I

(t 3,12) t
Keterangan :
R 24 = curah hujan harian maksimum (mm) yang sesuai
dengan periode ulangnya = XT
t = durasi hujan (jam)
I = Intensitas hujan (mm/jam)

EL KHOBAR M. NAZECH
DATA CURAH HUJAN MAKSIMUM DENGAN
PERIODE ULANG TERTENTU

Nilai I diperoleh berdasarkan durasi hujan (t), sehingga dengan


nilai t yang berbeda akan diperoleh sebuah grafik IDF
(hubungan antara durasi (menit) dan intensitas (mm/jam)
Contoh :

EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Hidrolika

DEBIT PADA SALURAN (Qr) (Cont.)

Dari data-data sebelumnya diperoleh data :


Nilai koefisien runoff rata-rata (C)
Nilai intensitas hujan (I) untuk waktu (Tc) tertentu di saluran
yang ditinjau(mm/jam)
nilai I diperoleh dengan memasukkan nilai Tc kedalam rumus
I atau dengan mengeplotnya pada grafik IDF
Luas catchment area total (A) untuk saluran yang ditinjau
(m2)

Debit pada saluran dari catchment area dihitung dengan rumus :


Qr = C.I.A

EL KHOBAR M. NAZECH
Contoh Perhitungan Koefisien Limpasan
Kawasan
Tata Guna Lahan Luas (ha) Koef. C
Perumahan tunggal 30 0,4
Perniagaan 3 0,6
Taman 7 0,25

Rumus:
Ai Ci
C (30x0,4 + 3x0,6 + 7x0,25) / (30 + 3 + 7) =
Ai
= 0,38875

EL KHOBAR M. NAZECH
DEBIT PADA SALURAN (Qr)

Selain itu debit pada saluran yang ditinjau juga dapat berasal dari debit saluran lain,
sehingga

Qtotal sal x = Qr + Q1 + Q2 + + Qn

Keterangan :
Q total sal x = debit total pada saluran x
Qr = debit yang berasal dari catchment area saluran x, nilai ini 0
apabila saluran x tidak memiliki wilayah catchment area
Q1 = debit yang berasal dari saluran lain ke saluran x, misalnya
saluran 1
Q2 = debit yang berasal dari saluran lain ke saluran x, misalnya
saluran 2
Qn = debit yang berasal dari saluran lain ke saluran x, bila ada n
saluran maka n debit itu dijumlahkan semuanya
EL KHOBAR M. NAZECH
DEBIT KAWASAN YANG MASUK KE
SALURAN

Q = C.I.A
C = koefisien aliran
I = intensitas hujan
A = luas daerah aliran

Bila intensitas hujan: 142 mm/jam


Debit kawasan Q = 0,00278 x 0,38875 x 142
x 40
= 6,1385 m3/detk
EL KHOBAR M. NAZECH
Dimensi Saluran (rumus Manning)

Q = V. A = (1/n) . (R2/3) . (S1/2). A


V = kecepatan aliran
n = Koefisien kekasaran dinding
saluran menurut Manning
R = Jari-jari hidrolis saluran, R = A/O
A = Luas penampang saluran
O = Keliling penampang saluran
S = Kemiringan saluran

EL KHOBAR M. NAZECH
Faktor Yang Dipertimbangkan dalam Perencanaan Saluran

1.Jenis material yang membentuk badan saluran, yang


menentukan koefisien kekasaran;
2. Kecepatan minimum yang diijinkan untuk mencegah
pengendapan bila air mengangkut lanau (silt) atau
serpihan kasar lainnya (Kecepatan rata-rata untuk
mencegah pertumbuhan gulma air > 0,70 m/detik);
3. Kemiringan dasar saluran dan kemiringan talud perlu
memperhatikan batas kecepatan maksimum yang
diijinkan (atau dengan prinsip gaya seret yang
tergantung jenis material saluran);
4. Jagaan (freeboard); 5-30% kedalaman aliran (Chow,
Open Channel Hydraulics)
5. Penampang yang paling efisien secara hidrolis
(penampang hidrolis terbaik/ekonomis).
EL KHOBAR M. NAZECH
PENAMPANG HIDRAULIS TERBAIK (EFEKTIF) BENTUK SEGI
EMPAT:

R =A / O
A =B . y
B =A / y
O =B + 2y y

= A/y + 2y
V = C (RI)
Q max bila V max B
V max bila R max
R max bila O min

EL KHOBAR M. NAZECH
PENAMPANG HIDRAULIS TERBAIK (EFEKTIF) BENTUK SEGI
EMPAT
Syarat O minimum : dO/dy = 0
-A/y2+2= 0
A = 2y2
Sedangkan A = B.y diperoleh B = 2.y
Syarat agar diperoleh Q max
R= A/O = B.y = 2y2 = y
B+2y 2y+2y 2
R=y/2
O = B + 2y = 2y + 2y = 4y

EL KHOBAR M. NAZECH
KECEPATAN (V)
Data yang telah diperoleh :
- Debit total pada saluran tertentu (Q total) (m3/s)
- Nilai n manning (sesuai dengan bahan pembentuk saluran)
- Kemiringan saluran (S)
- Misal digunakan penampang berbentuk segi empat
Maka : B = 2y
A = B.y
A = 2y.y = 2y2
O = B + 2y = 2y + 2y = 4y
R = A/O = 2y2/4y = y/2

EL KHOBAR M. NAZECH
KECEPATAN (V) (Cont.)
Rumus Kecepatan :
A = Q
1/n x R2/3 x S1/2
2y2 = Q
1/n x (y/2)2/3 x S1/2
- Pada persamaan di atas yang merupakan variabel hanya y,
sehingga diperoleh nilai y.
- Karena diperoleh nilai y maka, diperoleh nilai B berdasarkan
penampang hidrolis efektif, B = 2y
- Tinggi jagaan yang sebenarnya (H) adalah 20% dari y,
sehingga H = y x 20%
- Dengan demikian diperoleh dimensi penampang saluran yaitu
H dan B

EL KHOBAR M. NAZECH
Contoh Perhitungan

Q = 10 m3/det
n = 0,010
S = 0,005
b = 2y

Q = V. A y

V =1/n.R2/3.S1/2

R = A/O B

A = y.b = 2y2
O = 2y + b = 4 y 10 =1/0,01(0,5y) 2/3(0,005)1/2.(2y2)= 8,909y8/3
y = (1,225)3/8 = 1,04 m; b = 2,08 m
R = 2y2/4y = 0.5
EL KHOBAR M. NAZECH
Nilai koefisien
n Manning

EL KHOBAR M. NAZECH
SALURAN YANG TIDAK DIPERKERAS
EL KHOBAR M. NAZECH
SALURAN YANG DIPERKERAS
EL KHOBAR M. NAZECH
Koefisien Kekasaran Manning (n)

TIPE SALURAN n

Lapisan beton 0,015

Batu kali diplester 0,025

Batu kali tidak diplester 0,035 0,045

Batu kali tidak diplester 0,040 0,050

EL KHOBAR M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Kembali Ke Halaman
EL KHOBAR Awal
M. NAZECH
EL KHOBAR M. NAZECH
Bangunan liar di talud
sungai
Sebelum Sesudah
Sebelum Sesudah