Anda di halaman 1dari 22

Analisis Percobaan

Percobaan ini memiliki tujuan menentukan besarnya koefisien perpindahan


massa rata-rata dari lapisan air yang mengalir secara turbulen ke dalam aliran
udara serta mengamati karakteristik perpindahan massa air-udara pada suatu
dinding kolom yang terbasahi.
Pada percobaan WWC ini fluida yang digunakan untuk dikontakkan satu
dengan yang lainnya adalah udara dan air. Kedua fluida tersebut akan
dikontakkan melalui kolom atau dalam pipa transparan.
Percobaan kali ini dilakukan pada tiga jenis aliran, aliran laminar, transisi, dan
turbulen. Selain itu, peristiwa yang terjadi antara dua jenis aliran tersebut
merupakan perpindahan massa, yaitu perpindahan air dari kolom ke udara.
Analisis Percobaan (contd)
Pada percobaan ini yang menjadi variabel bebas adalah besar perbedaan tekanan (h),
yaitu bernilai 0.005m, 0.01m, 0.015m, dan 0.02m. Tujuannya ialah untuk melihat
pengaruhnya terhadap proses perpindahan massa. Pengaturan tekanan dilakukan
dengan mengatur tekanan dari kompresor (laju alir udara) dengan melihat perbedaan
ketinggian cairan dalam manometer.
Pada percobaan ini, variabel yang diamati adalah suhu udara masuk (Tin dry), suhu
udara keluar (Tout dry), Twet, dan kelembaban udara (H). Tin dry merupakan suhu
udara kering sebelum berinteraksi dengan air (sebelum masuk kolom) sedangkan Tout
dry merupakan suhu udara setelah berinteraksi dengan air (keluaran kolom). Twet
merupakan suhu yang dianggap sebagai referensi dimana pada Twet, kelembaban
relatifnya diasumsikan bernilai 100%. Proses perpindahan massa yang terjadi diamati
dari perubahan kelembaban udaranya.
A. Analisis Aliran
Laminar
Hubungan Tin, Tout dry, Tout wet
Berdasarkan teori: Tin > Tout dry > Tout wet pada 1
jenis delta H
Karena terjadi kontak antara udara dan air di dalam 31
kolom, suhu udara keluar (Tout dry ) akan menjadi
30
lebih rendah suhu udara masuk (Tin). Hal ini
disebabkan perpindahan kalor dari udara ke aliran 29

air, dan molekul-molekul air sebagian terbawa oleh 28


aliran udara, dimana molekul air mempunyai suhu
27
yang lebih rendah daripada suhu udara masuk.
26
Pada Tout wet (suhu udara dengan asumsi humidity
100%) yang berarti titik jenuh penyerapan air telah 25
0 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.02 0.02 0.02 0.02
tercapai, sehingga udara untuk mencapai bullb
harus memanaskan air yang membungkus bulb, lalu
barulah suhu udara terbaca oleh bulb thermometer.
Hal ini menyebabkan suhu yang mencapai bulb
sudah lebih rendah.
Hubungan Tout dengan
Laju Alir Udara

Berdasarkan teori: Semakin 30.5

cepat laju alir udara maka 30

29.5

suhu keluaran udara akan 29

semakin rendah, hal ini


28.5

28

disebabkan semakin banyak 27.5

27

jumlah udara pada setiap unit 26.5

26

waktunya dan semakin tinggi 25.5


0.35 0.4 0.45 0.5 0.55 0.6 0.65 0.7

pula konsentrasi air yang


berpindah ke udara.
Data yang dihasilkan
B. Analisis Aliran
Transisi
Hubungan Tin, Tout
dry, Tout wet

Berdasarkan teori: Tin > Tout dry > Tout wet pada 1 jenis delta H
Karena terjadi kontak antara udara dan air di dalam 31

kolom, suhu udara keluar (Tout dry ) akan menjadi lebih 30


rendah suhu udara masuk (Tin). Hal ini disebabkan
29
perpindahan kalor dari udara ke aliran air, dan molekul-
molekul air sebagian terbawa oleh aliran udara, dimana 28

molekul air mempunyai suhu yang lebih rendah daripada


27
suhu udara masuk.
26
Pada Tout wet (suhu udara dengan asumsi humidity 100%)
yang berarti titik jenuh penyerapan air telah tercapai, 25

sehingga udara untuk mencapai bullb harus memanaskan 24


air yang membungkus bulb, lalu barula suhu udara 0 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.02 0.02 0.02 0.02

terbaca oleh bulb thermometer. Hal ini menyebabkan suu


yang mencapai bulb sudah lebih rendah.
Data yang dihasilkan percobaan mendukung teori
Hubungan Tout dengan
Laju Alir Udara
30

Berdasarkan grafik dapat diliihat bahwa hubungan 29.5

antara temperatur dengan lajur alir berbanding 29

terbalik, karena besarnya laju alir air yang mengalir 28.5

28
dalam kolom akan mendinginkan temperatur udara
27.5
(dalam air), sehingga suhu kolom yang tadinya 27
lebih tinggi karena udara akan menurun setelah 26.5
dialiri air. Semakin besar lajunya akan semakin 26
turun, karena lebih banyak banyak air yang dialir. 25.5

25
0.35 0.4 0.45 0.5 0.55 0.6 0.65 0.7

Pada dua kurva disamping terdapat gap. Gap


menunjukkan kurva T dry (Tin = Tou) lebih besar,
dan kondisinya menurun setelah terbasahi (slop
menurun).
C. Analisis Aliran
Turbulen
Hubungan Tin, Tout
dry, Tout wet

Berdasarkan teori: Tin > Tout dry > Tout wet pada 1 jenis delta H
30.5
Karena terjadi kontak antara udara dan air di dalam kolom,
suhu udara keluar (Tout dry ) akan menjadi lebih rendah suhu 30

udara masuk (Tin). Hal ini disebabkan perpindahan kalor dari 29.5
udara ke aliran air, dan molekul-molekul air sebagian terbawa
oleh aliran udara, dimana molekul air mempunyai suhu yang 29

lebih rendah daripada suhu udara masuk. 28.5

Pada Tout wet (suhu udara dengan asumsi humidity 100%) yang 28
berarti titik jenuh penyerapan air telah tercapai, sehingga
udara untuk mencapai bullb harus memanaskan air yang 27.5

membungkus bulb, lalu barula suhu udara terbaca oleh bulb 27


thermometer. Hal ini menyebabkan suu yang mencapai bulb
sudah lebih rendah. 26.5
0 0.01 0.01 0.01 0.01 0.01 0.02 0.02 0.02 0.02

Data yang dihasilkan percobaan mendukung teori, terlihat dari


grafik Tin > Tout dry > Tout wet pada 1 jenis delta H
Hubungan Tout dengan
Laju Alir Udara

28.6

Berdasarkan teori: Semakin cepat laju alir udara 28.4

maka suhu keluaran udara akan semakin 28.2

rendah, hal ini disebabkan semakin banyak 28

jumlah udara pada setiap unit waktunya dan 27.8


semakin tinggi pula konsentrasi air yang 27.6
berpindah ke udara.
27.4
0.35 0.4 0.45 0.5 0.55 0.6 0.65 0.7
Data yang dihasilkan percobaan tidak sesuai
karena data tersebut harusnya menurun.
D. Analisis hubungan
bilangan,sc,sh,Re dan
Difusivitas terhadap
profil laju udara
Hubungan kG dengan Laju
Alir Udara

Berdasarkan teori: Laju alir uadara berbanding


lurus dengan koefisien perpindahan massa Profil Laju Alir Udara terhadap Koefisien Perpindahan Massa
0.000210
(kG) karena semakin banyak udara yang dialirkan 0.000190
Transien

ke dalam kolom pada satuan waktu, maka


0.000170
semakin banyak air yang berpindah ke udara.
0.000150
Berdasarkan persamaan koefisien perpindahan
massa (kG), kG berbanding lurus dengan laju alir 0.000130
Koefisien Perpindahan Massa
massa gas (G), dimana G berbanding lurus 0.000110
dengan debit udara (Q). Q merupakan perkalian 0.000090
laju alir uadara dengan luas penampang,
0.000070
sehingga laju alir udara berbanding lurus dengan
0.000050
nilai kG 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00

Data yang dihasilkan percobaan mendukung teori, Laju Alir Udara

terlihat dari gradien grafik positif


Hubungan Bilangan Sherwood
dengan Laju Alir Udara

Bilangan Sherwood menunjukkan besar Profil Laju Alir Udara terhadap Sh


kemampuan untuk dapat terjadi perpindahan Transien
massa melalui mekanisme difusi.
1.30E-16
Berdasarkan teori: Bilangan Sherwood 1.20E-16
1.10E-16
berbanding lurus dengan kG. Berdasarkan
1.00E-16
persamaan koefisien perpindahan massa (kG), kG Sh 9.00E-17
berbanding lurus dengan laju alir massa gas (G), 8.00E-17
dimana G berbanding lurus dengan debit udara 7.00E-17
6.00E-17
(Q). Q merupakan perkalian laju alir udara dengan 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 2.00
luas penampang. Sehingga nilai bilangan Laju Alir Udara
Sherwood berbanding lurus dengan laju alir udara.
Data yang dihasilkan percobaan mendukung teori,
terlihat dari gradien grafik positif
Hubungan Difusivitas
dengan Laju Alir Udara

Berdasarkan teori: Semakin besar laju alir Kecepatan Udara Vs Difusifitas


udaranya maka konstanta difusivitasnya Transisi
semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh 2.283E+10
semakin besar kecepatan udara maka waktu 2.282E+10
kontak antara udara dengan air semakin 2.282E+10

cepat sehingga semakin sedikitnya air yang 2.281E+10

akan berdifusi ke udara. D (cm^2/s) 2.281E+10


2.280E+10
2.280E+10
2.279E+10
Data yang dihasilkan percobaan mendukung 2.279E+10
teori, terlihat dari gradien grafik negatif 0.400 0.500 0.600 0.700

v (m/s)
Hubungan Bilangan Schimidt
dengan Bilangan Reynolds
1.60E-16

Berdasarkan teori: Persamaan untuk


1.40E-16
mendapatkan bilangan Schimidt
menunjukkan bilangan Schimidt 1.20E-16

berbanding terbalik dengan besar 1.00E-16


difusi. Dimana besar difusi berbanding
terbalik dengan besar laju alir. Hubungan 8.00E-17

laju alir dengan bilangan Reynolds adalah 6.00E-17

berbanding lurus. Semakin besar laju alir


4.00E-17
maka semakin besar nilai bilangan
Reynolds. Sehingga bilangan Schimidt 2.00E-17

berbanding lurus dengan bilangan Reynolds 0.00E+00


1200 1400 1600 1800 2000 2200 2400 2600
Data yang dihasilkan percobaan tidak
sesuai teori, kemungkinan kesalahan dalam
pembacaan termometer atau waktu steady
state tidak cukup namun sudah diambil
datanya
Analisis Kesalahan
Beberapa kesalahan yang mungkin dilakukan pada percobaan ini sehingga didapat hasil perhitungan
yang kurang baik:
Kesalahan saat membaca temperatur pada termometer, saat mengatur perbedaan ketinggian pada
manometer, maupun saat menentukan volume air pada gelas ukur serta waktunya (penentuan jenis
aliran).
Ketidak tepatan waktu saat pengambilan data yang mengakibatkan ketidak akuratan pada
pengambilan data.
Kelembaban (humidity) yang ditunjukkan pada alat tidak konstan dan terus mengalami perubahan
sehingga sulit ditentukan nilai kelembaban yang tepat. Karena hal inilah, maka nilai kelembaban
yang digunakan adalah nilai perkiraan yang sering muncul pada pembacaan alat. Sebagai akibatnya,
data yang diperoleh menjadi kurang akurat dan mengalami penyimpangan.
Kemungkinan kondisi steady state belum tercapai sehingga data yang diperoleh belum menunjukkan
kondisi setimbang dan proses difusi yang terjadi belum selesai.
Perubahan suhu yang terjadi sangat kecil dan sulit diamati (ketelitian dari alat pengukur yang
digunakan sebesar 0,5C) sehingga data yang diperoleh menjadi kurang akurat dan tentunya hal ini
akan mempengaruhi hasil perhitungan.
Kesimpulan
Bilangan Reynold semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju alir udara, semakin turbulen alirannya
maka semakin besar bilangan Reynoldnya.
Konsentrasi mengalami perpindahan dari konsentrasi tingi ke konsentrasi yang rendah atau dengan kata lain
perpindahan dari air ke udara. Hal ini membuktikan bahwa peristiwa perpindahan terjadi karena adanya
perbedaan konsentrasi.
Bilangan Sherwood, Schmidt, dan Reynold berhubungan satu sama lainnya melalui persamaan, dan hal ini
dibuktikan dalam pengolahan data.
Bilangan Sherwood ialah sebuah bilangan tak berdimensi yang menggambarkan besarnya kemampuan
terjadinya perpindahan massa melalui mekanisme difusi.
Bilangan Reynold merupakan bilangan tak berdimensi yang paling sering dijumpai untuk menjelaskan kasus
mikrofluida dari segi alirannya.
Bilangan Schmidt merupakan bilangan tak berdimensi yang merupakan perbandingan antara viskositas
kinematik dengan difusivitas massa.
Kelembaban udara memiliki nilai yang bervariasi. Peristiwa perpindahan terjadi pada saat udara dialirkan ke
atas melalui kolom yang terbasahi oleh aliran air dari atas kolom. Hal ini dibuktikan dengan bervariasinya
hasil pengukuran kelembaban udara pada udara yang keluar dari kolom.
Semakin besar kecepatan udaranya maka konstanta difusivitasnya semakin kecil.
Berikut merupakan hasil perhitungan nilai Sh, Re dan Sc
untuk percobaan aliran laminer :
PBM Sh Re Sc

0,975 7,93E-17 1377,788 7,01E-12

0,975 1,12E-16 1791,191 6,99E-12

0,975 1,37E-16 2206,076 6,98E-12

0,975 1,21E-16 2481,928 7,00E-12


Berikut merupakan hasil perhitungan nilai Sh, Re dan Sc
untuk percobaan aliran transisi :
PBM Sh Re Sc

0,975 5,25E-17 1381,425 6,99E-12

0,974 9,81E-17 1795,327 6,99E-12

0,974 9,76E-17 2208,986 6,98E-12

0,975 9,60E-17 2484,382 6,98E-12


Berikut merupakan hasil perhitungan nilai Sh, Re dan Sc
untuk percobaan aliran turbulen :
PBM Sh Re Sc

0,974 7,94E-17 1378,242 7,03E-12

0,975 9,78E-17 1791,780 6,99E-12

0,976 1,09E-16 2206,803 6,98E-12

0,976 1,23E-16 2483,563 6,98E-12


REFERENSI