Anda di halaman 1dari 33

KELOMPOK :

Angga Wahyu Indarto 121.0011


Emerentiana Dhany E 121.0031
Prasdiana Heny Purwanti 121.0077
Risca Putri Mardayati 121.0087
Shella Putri Purwandani 121.0097
Sofyan Riyandi Utomo 121.0099
EMPIEMA
Empiema adalah pengumpulan
cairan kurulen (pus) dalam kafitas
pleura. Awalnya cairan pleura
sedikit, dengan hitung leukosit
rendah, tetapi sering kali cairan ini
berkembang ketahap fibropurulen,
akhirnya ketahap dimana cairan
tersebut membungkus paru dalam
membran eksodatif yang tebal
ETIOLOGI
1. Infeksi berasal dari paru
2. Infeksi berasal dari luar paru
.

1. Infeksi berasal dari paru


a. Pneumonia

b. Abses paru

c. Fistel bronkopleura

d. Bronkiektasis

e. Tuberkolusis paru

f. Aktinomikosis paru
.

2. Infeksi berasal dari luar paru


a. Trauma toraks

b. Pembedahan toraks

c. Torasentesis

d. Abses subfrenik, misal: abses hati


karena amuba
e. Fistel esofagus pleura
PATOFISIOLOGI
Akibat infasi basil piogenik ke pleura, maka akan timbuk
peradangan akut yang diikuti dengan pembentukan eksudat
serous. Dengan banyaknya sel polimorphonucleus (PMN) baik
yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar
protein, maka cairan menjadi keruh dan kental. Adanya
endapan-endapan fibrin akan membentuk kantung-kantung
yang melokalisasi nanah tersebut. Apabila ananh menembus
bronkus maka timbul fistel bronkopleura, atau apabila
menembus dinding thoraks dan keluar melalui kulit maka
disebut empisema messensiatis. Stadium ini masih disebut
empiema akut yang lama-kelamaan akan menjadi kronis.
MANIFESTASI KLINIS
Dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Empiema akut

2. Empiema kronis
Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan adalah mengalirkan
cairan dalam kavitas pleura dan untuk
mencapai ekspansi paru sempurna. Cairan
dialirkan dan diresepkan antibiotic yang
sesuai berdasarkan pada organisme
penyebab. Antibiotic dalam dosis yang
besar biasanya diberikan.
Drainase cairan pleura tergantung pada tahap penyakit dan
dilakukan dengan:

1. Aspirasi jarum (torasentesis) dengan kateter


perkutan yang kecil, jika cairan tidak terlalu
banyak
2. Drainase dada tertutup menggunaan selang
interkostal dengan diameter besar yang
disambungkan ke drainase water-seal
3. Drainase terbuka dengan cara reseksi iga
untuk mengangkat pleura yang mengalami
penebalan, pus, dan debris serta untuk
mengangkat jaringan paru yang sakit
dibawahnya
Prinsip pengobatan empiema:

1. Pengosongan rongga pleura


2. Pemberian antibiotika yang sesuai
3. Penutupan rongga empiema
4. Pengobatan kausal
5. Pengobatan tambahan
1. Pengosongan Rongga Pleura

Prinsip ini seperti yang dilakukan pada


abses dengan tujuan mencegah efek toksis
dengan cara membersihkan rongga pleura
dari nanah dan jaringan-jaringan yang mati.
2. Antibiotika
Mengingat kematian utama empiema karena
terjadinya sepsis, maka antibiotika
memegang peranan penting. Antibiotika
harus segera diberikan begitu diagnosis
telah ditegakkan dan dosis harus adekuat.
Pemilihan antibiotika didasarkan pada hasil
pengecatan gram dari hapusan nanah.
Pengobatan selanjutnya tergantung dari
hasil kultur dan uji kepekaan. Antibiotika
dapat diberikan secara sistemik atau topical.
3. Penutupan Rongga Empiema

Pada empiema menahun, seringkali rongga


empiema tidak menutup karena penebalan
dan kekakuan pleura. Bila hal ini terjadi,
maka dilakukan pembedahan.
4. Pengobatan Kausal
Pengobatan kausal ditujukan pada
penyakit-penyakit yang terjadinya
empiema, misalnya abses subfrenik.
Apabila dijumpai abses subfrenik, maka
harus dilakukan drainase subdiafragmatika.
Selain itu masih perlu diberikan
pengobatan spesifik, untuk amubiasis,
tuberculosis, aktinomikosis dan sebagainya.
5. Pengobatan Tambahan
Pengobatan ini meliputi perbaikan keadaan
umum serta fisioterapi untuk
membebaskan jalan napas dari secret
(nanah), latihan gerakan untuk mengurangi
terjadinya cacat tubuh (deformitos).
Komplikasi
Kumpulan cairan yang banyak menganggu
pengembangan paru, sehingga terjadi
ketidaksesuaian ventilasi/perfusi dan
hipoksemia. Empiema yang berlokulasi
dapat menyebabkan penempelan
parenkim paru ke dinding dada.
Pemasangan chest tube atau
torakosentesis ke dalam empiema tersebut
dapat menyebabkan perforasi paru atau
pneumotoraks, atau keduanya.
PROGNOSIS
Prognosis empiema dipengaruhi oleh umur
penyakit penyerta, penyakit dasarnya dan
pengobatan yang adekuat. Angka kematian
meningkat pada usia atau penyakit dasar
yang berat dank karena terlambat memberi
pengobatan.
PENCEGAHAN
Pengobatan yang adekuat terhadap
semua penyakit yang mungkin dapat
menimbulkan penyulit berupa empiema.
Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan radiologi
Foto thoraks PA dan lateral didapatkan gambaran
opacity yang menunjukkan adanya cairan dengan
atau tanpa kelainan paru. Bila terjadi
fibrothoraks, trakea di mediatinum tertarik ke sisi
yang sakit dan juga tampak adanya penebalan.
Pemeriksaan pus
Aspirasi pleura akan menunjukkan adanya pus di
dalam rongga dada (pleura). Pus dipakai sebagai
bahan pemeriksaan sitologi, bakteriologi, jamur,
dan amoeba. Untuk selanjutnya dilakukan kultur
(pembiakan) terhadap kepekaan antibiotik.
Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan pola pernapasan yang
berhubungan dengan menurunnya ekspansi
paru sekunder terhadap akumulasi pus.
Ketidakefektifan pola pernapasan yang
berhubungan dengan menurunnya ekspansi
paru sekunder terhadap peningkatan positif
dalam rongga pleura.
Bersihan jalan napas tidak efektif yang
berhubungan dengan adanya akumulasi
sekret jalan napas.
Resiko tinggi infeksi yang berhubungan
dengan adanya port de entree luka
penusukan tindakan WSD.
Next . . .
Kerusakan integritas jaringan yang berhubungan
dengan adanya luka pasca pemasangan WSD.
Resiko tinggi trauma yang berhubungan dengan tidak
optimalnya drainase selang sekunder pipa WSD
terjepit.
Gangguan pemenuhan kebutuhan gizi kurang dari
kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
peningkatan metabolisme tubuh, penurunan nafsu
makan akibat sesak napas sekunder terhadap
penekanan struktur abdomen.
Gangguan ADL (activity daily living) yang berhubungan
dengan kelemahan fisik umum, keletihan sekunder dan
adanya sesak napas.
Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman
kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk
bernapas).
Next . . .
Gangguan pola tidur dan istirahat yang
berhubungan dengan batuk yang
menetap dan sesak napas serta
perubhan suasana lingkungan.
Kurangnya pengetahuan yang
berhubungan dengan informasi tentang
proses penyakit dan pengobatan.
.
.

SYUKRON
Yaa katsir