Anda di halaman 1dari 23

EHIA

(Environmental Health Impact Assesment)


ADKL
(Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan)

Latar Belakang

Dalam lampiran KepMenKes RI No.872/MenKes/SK/VIII/1997 tanggal 15


Agustus 1997 disebutkan bahwa kontribusi lingkungan dalam mewujudkan
derajat kesehatan merupakan hal yang essensial disamping masalah
perilaku, keturunan dan pelayanan kesehatan.
Lingkungan memberikan kontribusi terbesar terhadap timbulnya masalah
kesehatan masyarakat, sehingga keterkaitan antara kualitas atau
karakteristik lingkungan yang bermasalah & status kesehatan perlu
difahami dan dikaji secara cermat agar dapat digambarkan potensi besarnya
resiko atau gangguan kesehatan.

Pengertian

ADKL pada dasarnya merupakan model pendekatan guna mengkaji, dan


atau menelaah secara mendalam untuk mengenal, memahami dan
memprediksi kondisi dan karakteristik lingkungan yang berpotensi terhadap
timbulnya resiko kesehatan, mengembangkan tatalaksana pemecahan dan
pengelolaan masalah serta upaya lain yang dilaksanakan terhadap sumber
perubahan, media lingkungan, masyarakat terpajan dan dampak kesehatan
yang terjadi
Ruang Lingkup
Telaah ADKL sebagai pendekatan kajian aspek
kesehatan lingkungan meliputi :

1. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak


rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap
kesehatan
2. Proses dan potensi terjadinya pemajanan
3. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka
kesakitan dan angka kematian)
4. Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko
5. Sumberdaya kesehatan
6. Kondisi sanitasi lingkungan
7. Status gizi masyarakat
8. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses
penyebaran penyakit
PENCEMARAN

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN
Menurut Undang-undang No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 1 ayat (1) LINGKUNGAN adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lain

KESEHATAN LINGKUNGAN
Adalah ilmu yang mempelajari dinamika interaktif antara kelompok penduduk
atau masyarakat dengan segala macam perubahan lingkungan hidup, seperti
berbagai spesies kehidupan, bahan, zat disekitar manusia yang dapat
menimbulkan ancaman atau berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat
serta upaya pencegahannya (Pudon, 1980 dan Trieff, 1981)

PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP


Adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau
komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup
tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. (UU No. 23/1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 ayat (12)
TINGKATAN TAHAP PENCEMARAN MENURUT WHO
(dikutip LAKSMI, 1992).
1. Pencemaran tingkat Pertama, yaitu pencemaran yang tidak menimbulkan
kerugian pada manusia, baik dilihat dari kadar zat pencemar maupun
waktu kontak dengan lingkungan

2. Pencemaran tingkat Kedua, yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan


iritasi ringan pada panca indera dan telah menimbulkan gangguan pada
komponen ekosistem lain

3. Pencemaran tingkat Tiga, yaitu pencemaran yang sudah mengakibatkan


reaksi faal tubuh dan menyebabkan sakit yang kronis

4. Pencemaran tingkat Empat, yaitu pencemaran yang telah menimbulkan


sakit bahkan kematian dalam lingkungan karena kadar zat pencemarnya
terlalu tinggi
LANGKAH-LANGKAH ADKL
Identifikasi Dampak Potensial
Dilakukan dengan penilaian thd parameter lingkungan yg kemungkinan akan
menjadi bagian isu yg berkaitan dengan masalah kesehatan, melalui:
1). Telaah kegiatan proyek
2). Telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan
referensi yg relevan
3). Telaah data dan informasi berdasarkan pengamatan lapangan (survei,
observasi, dll)
4). Telaah hasil uji dan analisis laboratorium
5). Telaah hasil penggunaan / uji binatang percobaan
6). Studi banding terhadap hasilstudi yang pernah dilaksanakan
7). Telah para ahli / profesional
8). Simulasi / model
Identifikasi dampak potensial dari kajian aspek kesehatan dlm studi AMDAL
dpt disusun sebagai berikut :
a). Yang berhubungan dengan cemaran, perlu diperhatikan :
(1). Penyebaran bahan pencemar di media lingkungan
(2). Jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (dimasa datang)
(3). Telaah data dan info berdasar studi toksikologi, epidemiologi, dan
kesling
(4). Pengalaman negara lain untuk kasus sejenis
b). Yang berhubungan dengan perindukan vektor :
(1). Perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air
(2). Perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat
berkembangbiaknya vektor
(3). Telaah data dan info dari studi kesling survei studi epidemio-
logi tentang penyakit bersumber binatang (zoonosis)
(4). Pengalaman negara lain untuk kasus sejenis

c). Yang berhubungan dengan Perilaku Masyarakat :


(1). Kebiasaan pemanfaatan air
(2). Kebiasaan penggunaan bahan / alat pelindung
(3). Kebiasaan penggunaan insektisida
(4). Kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi
(5). Kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan
(6). Kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan
(berobat, kontak penderita)

Evaluasi Dampak Potensial


Bertujuan utk menghilangkan dampak potensial yg dianggap tdk
relevan, sehingga diperoleh dampak penting hipotesis, yaitu
prediski yg menggambarkan potensi besarnya dampak kesehatan
yg kemungkinan dpt timbul akibat perubahan lingkungan
Pemusatan Dampak Penting (Focusing)
Bertujuan utk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan
dari dampak potensial shg diperoleh gambaran ttg isu-isu pokok
permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan kesehatan dgn
memperhatikan :
1). Keterkaitan antara rencana usaha / kegiatan dengan komponen
lingkungan yg mengalami perubahan mendasar (dampak penting)
2). Keterkaitan antara komponen dampak penting yg telah dirumuskan
secara holistik, menurut waktu, tahapan kegiatan, maupun dampak
komunikatif yang terjadi
Dalam proses pemusatan, penyusun aspek kesehatan dalam studi AMDAL
harus memperhatikan prioritas kepentingan sebagai berikut :
a). Sifat Dampak ; akut atau kronis
b). Jumlah Penduduk
c). Beban Ekonomi

Pelingkupan Wilayah Studi


Pelingkupan (Scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan
(Screening) utk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara
cermat dan mendalam. Berkaitan dengan masalah epidemiologi, maka
penjabaran batas-batas pelingkupan wilayah dapat dirinci dengan
memperhatikan :
1). Batas Proyek
2). Batas Ekologis
3). Batas Sosial
4). Batas Administrasi
EVALUASI INFORMASI PENCEMARAN
Dinamika Perubahan Komponen Lingkungan

SUMBER AMBIENT MANUSIA DAMPAK KES


Melalui wahana

Alamiah Udara Komponen Akut


Penderita Air lingk. berada Subklinik
Penyakit Makanan dalam; darah Samar
Infeksi Binatang lemak, urine, Sehat
Mobil Penular jaringan dll (Seimbang)
Industri

A B C D
Gambar : Dinamika Perubahan Komponen Lingkungan yang berpotensi memberikan dampak
kesehatan (Achmadi, 1991)
Informasi Simpul-simpul

1) Simpul A
Pengamatan, pengukuran dan pengendalian emisi pencemaran udara
(mobil, industri, dll) sumber pencemaran air (rumah tangga, industri
dll) sumber penyakit menular (penderita Thypus, penderita malaria dll)
atau sumber perubahan alamiah, misalnya gunung berapi
2) Simpul B
Pengamatan, pengukuran dan pengendalian bila komponen lingkungan
tersebut sudah berada disekitar manusia, (contoh : komponen
konsentrasi pencemaran udara, kadar kandungan residu pestisida
dalam sayur-mayur, bakteri E. Coli dalam air minum, dll)
3) Simpul C
Pengamatan, pengukuran kadar Pb. Dalam darah, kadar Merkuri dlm
rambut, kadar COHb dalam darah, kadar DDT dalam lemak tubuh
ataupun Plasmodium spp dalam darah, dll
4) Simpul D
Pengamatan, pengukuran dan pengendalian Prevalensi korban
keracunan, prevalensi penderita kanker paru akibat asap rokok, kanker
kulit akibat sinar Ultraviolet, ataupun penderita penyakit menular
lainnya
Klasifikasi Manifestasi Klinik Gangguan
Kesehatan Akibat Lingkungan

1) Kelompok Penderita Akut


Jumlahnya relatif sedikit, memiliki gejala klinis jelas, perlu tindakan segera
dan sering diklasifikasikan sebagai kecelakaan. Misalnya penderita
keracunan pestisida dosis besar dan penderita demam Thypus

2) Kelompok Penderita Subklinik


Jumlahnya relatif banyak, memiliki gejala klinis tidak jelas namun memiliki
tanda (indikator) laboratorium khas, sering dihubungkan dengan penyakit
yang diperoleh dari tempat pekerjaan. Contoh : Anemia pada pekerja pompa
bensin, peningkatan kadar COHb darah polisi lalu lintas, dll

3) Kelompok Penderita dengan Gejala Samar


Jumlahnya amat besar gejalanya tidak khas baik secara klinik maupun
secara laboratorika, akibat pemaparan pada komponen lingkungan dalam
intensitas rendah atau dosis kecil. Misalnya sekelompok orang yang
mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pewarna sintesis
berbahaya, pestisida dalam dosis kecil. Kelompok penderita dengan gejala
samar ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan lain, misalnya
kanker (Carcinogenic)
PENGUKURAN POTENSI DAMPAK
KESEHATAN

INFORMASI POTENSI DAMPAK DITENTUKAN ATAU DIUKUR


DENGAN MENGACU KEPADA INDIKATOR YANG SUDAH
DITENTUKAN
BEBERAPA INDIKATOR KESEHATAN DAPAT DIKEMUKAKAN
ANTARA LAIN :
1. ANGKA KEMATIAN KASAR (CRUDE DEATH RATE, CDR)
2. ANGKA KEMATIAN BAYI (INFANT MORTALITY RATE, IMR)
3. ANGKA KEMATIAN IBU (MATERNAL MORTALITY RATE,
MMR)
4. UMUR HARAPAN HIDUP
5. ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)
6. ANGKA PREVALENSI KURANG KALORI PROTEIN
7. BERAT BADAN BAYI LAHIR RENDAH (BBLR)
ANGKA KEMATIAN KASAR

ADALAH JUMLAH SEMUA KEMATIAN YANG DITEMUKAN


PADA SATU JANGKA WAKTU TERTENTU (SATU TAHUN)
DIBANDINGKAN DENGAN JUMLAH PENDUDUK PADA
PERTENGAHAN WAKTU YANG BERSANGKUTAN DALAM
PERSEN

RUMUS :
JUMLAH SELURUH KEMATIAN
AKK : ______________________________________X 100%
JUMLAH PENDUDUK PERTENGAHAN
ANGKA KEMATIAN BAYI

ADALAH JUMLAH SELURUH KEMATIAN BAYI (UMUR


DIBAWAH 1 TAHUN) PADA SATU JANGKA WAKTU TERTENTU
DIBAGI DENGAN JUMLAH SELURUH KELAHIRAN HIDUP
DALAM PERSEN

RUMUS :
JUMLAH SELURUH KEMATIAN BAYI
AKB : _________________________________________X 100%
JUMLAH KELAHIRAN HIDUP
ANGKA KEMATIAN IBU

ADALAH JUMLAH KEMATIAN IBU KARENA KEHAMILAN,


PERSALINAN DAN NIFAS DALAM SATU TAHUN DIBAGI
DENGAN JUMLAH KELAHIRAN HIDUP PADA TAHUN YANG
SAMA DALAM PERSEN

RUMUS :
JUMLAH KEMATIAN IBU KARENA
KEHAMILAN, KELAHIRAN DAN NIFAS
AKI : _________________________________________X 100%
JUMLAH KELAHIRAN HIDUP
ANGKA KESAKITAN

INSIDEN :GAMBARAN TENTANG FREKUENSI PENDERITA BARU


SUATU PENYAKIT YANG DITEMUKAN PADA SUATU WAKTU
TERTENTU DISEKELOMPOK MANUSIA
1. ANGKA INSIDEN
2. ANGKA SERANGAN
3. ANGKA SERANGAN SEKUNDER

PREVALENSI : GAMBARAN TENTANG FREKUENSI PENDERITA LAMA


DAN BARU YANG DITEMUKAN PADA JANGKA WAKTU TERTENTU
DIBAGI DENGAN JUMLAH PENDUDUK PADA PERTENGAHAN
JANGKA WAKTU YANG BERSANGKUTAN DALAM PERSEN
1. ANGKA PREVALENSI PERIODE
2. ANGKA PREVALENSI POINT
UMUR HARAPAN HIDUP
DENGAN ADANYA BERBAGAI PROGRAM DI BIDANG KESEHATAN,
ANGKA HARAPAN HIDUP ORANG INDONESIA MENUNJUKAN
PENINGKATAN

UMUR HARAPAN HIDUP DIDAERAH-DAERAH DI INDONESIA MASIH


MEMILIKI RANGE YANG LEBAR, HAL INI DIHUBUNGKAN DENGAN
FAKTOR-FAKTOR :
1. PERBEDAAN TINGKAT KEBERHASILAN SOSIAL EKONOMI
MENURUT HETEROGENITAS WILAYAH
2. PERBEDAAN TINGKAT KEBERHASILAN UPAYA
KESEHATAN MENURUT HETEROGENITAS WILAYAH
3. PERBEDAAN KONDISI LINGKUNGAN DI MASING-MASING
WILAYAH
4. PERBEDAAN TINGKAT KEBERHASILAN PEMBANGUNAN
SEKTOR-SEKTOR YANG MEMPUNYAI KAITAN BAIK
LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG DENGAN KUALITAS
HIDUP, SEPERTI KEBERHASILAN PENDIDIKAN, PERTANIAN,
PERHUBUNGAN, DLL
DASAR PENILAIAN DOKUMEN ADKL
(BERHUBUNGAN DENGAN AMDAL)

PENDAHULUAN
DASAR HUKUM DIBERLAKUKANNYA ADKL UNTUK AMDAL ADALAH
PASAL 15 UNDANG-UNDANG No. 23/1997 (SEBAGAI PENGGANTI
UU No. 4/1982). PASAL 15 (1) UNDANG-UNDANG No. 23/1997
MENYATAKAN :
(1) SETIAP RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG
KEMUNGKINAN DAPAT MENIMBULKAN DAMPAK BESAR DAN
PENTING TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP, WAJIB MEMILIKI
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP DITENTUKAN
ANTARA LAIN:
A. JUMLAH MANUSIA YANG TERKENA DAMPAK
B. LUAS WILAYAH PERSEBARAN DAMPAK
C. INTENSITAS DAN LAMANYA DAMPAK BERLANGSUNG
D. BANYAKNYA KOMPONEN LINGKUNGAN LAINNYA YANG
TERKENA DAMPAK
E. SIFAT KOMULATIF DAMPAK
F. BERBALIK ATAU TIDAK BERBALIKNYA DAMPAK
PENDAHULUAN lanjutan

(2) KETENTUAN TENTANG RENCANA USAHA DAN/ATAU


KEGIATAN YANG MENIMBULKAN DAMPAK BESAR DAN
PENTING TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP, SEBAGAIMANA
DIMAKSUD PADA AYAT (1), SERTA TATA CARA
PENYUSUNAN DAN PENILAIAN ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DITETAPKAN DENGAN
PERATURAN PEMERINTAH
DENGAN DEMIKIAN MAKA SECARA JELAS TATA CARA
PENILAIAN SUATU DOKUMEN AMDAL AKAN DIATUR
MELALUI SUATU PERATURAN YANG KEDUDUKANNYA
BERADA DIBAWAH UNDANG-UNDANG (UU).
PENDELEGASIAN UNDANG-UNDANG INI SECARA TEGAS
DALAM BENTUK PRODUK HUKUM BERUPA PERATURAN
PEMERINTAH (PP)
PADA SAAT INI PP YANG BERLAKU ADALAH PP No. 27/1999
TENTANG AMDAL
DASAR PENILAIAN DOKUMEN ADKL
(BERHUBUNGAN DENGAN AMDAL)

DOKUMEN AMDAL UNTUK ADKL YANG DINILAI


BERDASARKAN PP No. 27/1999 HANYA
DIISYARATKAN 4 DOKUMEN AMDAL UNTUK
ADKL, YAITU :
A. KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK
LINGKUNGAN (KA-ANDAL)
B. ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN
(ANDAL)
C. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
(RKL)
D. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN
(RPL)
DASAR PENILAIAN DOKUMEN ADKL
(BERHUBUNGAN DENGAN AMDAL)

KOMISI PENILAI ADKL


DEFINISI KOMISI PENILAI AMDAL DIATUR DALAM PASAL 1
(11) PP No.27/1999 YANG MENYATAKAN:
KOMISI PENILAI ADALAH KOMISI YANG BERTUGAS MENILAI
DOKUMEN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
HIDUP DENGAN PENGERTIAN DI TINGKAT PUSAT OLEH
KOMISI PENILAI PUSAT DAN DI TINGKAT DAERAH OLEH
KOMISI PENILAI DAERAH

KOMISI PENILAI AMDAL DIBENTUK :


A. DITINGKAT PUSAT OLEH MENTERI NEGARA
LINGKUNGAN HIDUP
B. DITINGKAT DAERAH OLEH GUBERNUR

SEDANGKAN KEDUDUKAN KOMISI PENILAI BERADA DI


BAPEDAL (PUSAT) DAN BAPEDALDA PROVINSI (DAERAH)
KOMISI PENILAIKOMISI
KEANGGOTAAN AMDAL PENILAI AMDAL
UNTUK ADKL UNTUK ADKL (PUSAT)
Lanjutan.
INSTANSI YANG DITUGASI MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP
INSTANSI YANG DITUGASI MENGENDALIKAN DAMPAK LINGKUNGAN
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG KESEHATAN
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PERTAHANAN KEAMANAN
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PERENCANAAN PEMBANGUNAN
NASIONAL
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PENANAMAN MODAL
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PERTANAHAN
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG ILMU PENGETAHUAN
DEPARTEMEN DAN/ATAU LEMBAGA PEMERINTAH NON DEPARTEMEN
YANG MEMBIDANGI USAHA/ATAU KEGIATAN YANG BERSANGKUTAN
DEPARTEMEN DAN/ATAU LEMBAGA PEMERINTAH NON-DEPARTEMEN
YANG TERKAIT
WAKIL PROPINSI DAERAH TINGKAT I YANG BERSANGKUTAN
WAKIL KABUPATEN/KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II YANG
BERSANGKUTAN
AHLI DIBIDANG LINGKUNGAN HIDUP SESUAI DENGAN BIDANG USAHA
DAN/ATAU KEGIATAN YANG DIKAJI
WAKIL MASYARAKAT TERKENA DAMPAK
ANGGOTA LAIN YANG DIPANDANG PERLU
KOMISI PENILAI AMDAL
KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI
UNTUK ADKL AMDAL UNTUK ADKL (DAERAH)
Lanjutan.
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH TINGKAT I
INSTANSI YANG DITUGASI MENGENDALIKAN DAMPAK
LINGKUNGAN
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PERTAHANAN KEAMANAN
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PENANAMAN MODAL DAERAH
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG PERTANAHAN DIDAERAH
INSTANSI YANG DITUGASI BIDANG KESEHATAN DATI I
WAKIL INSTANSI PUSAT DAN/ATAU DAERAH YANG MEMBIDANGI
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG BERSANGKUTAN
WAKIL INSTANSI TERKAIT DI PROPINSI DATI I
WAKIL KABUPATEN/KOTAMADYA DATI II YANG BERSANGKUTAN
PUSAT STUDI LINGKUNGAN HIDUP PERGURUAN TINGGI DAERAH
YANG BERSANGKUTAN
AHLI DIBIDANG LINGKUNGAN HIDUP
AHLI DIBIDANG YANG BERKAITAN
ORGANISASI LINGKUNGAN HIDUP DIDAERAH
WARGA MASYARAKAT YANG TERKENA DAMPAK
ANGGOTA LAIN YANG DIPANDANG PERLU
KOMISI PENILAI
KOMISI PENILAI PUSAT BERWENANG MENILAI HASIL AMDAL
AMDAL UNTUK ADKL Lanjutan.

BAGI JENIS USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG


MEMENUHI KRITERIA:
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN BERSIFAT
STRATEGIS DAN/ATAU MENYANGKUT
KETAHANAN DAN KEMANAN NEGARA
USAHA DAN/ATAU KEGAIATAN YANG LOKASINYA
MELIPUTI LEBIH DARI SATU WILAYAH PROPINSI
DAERAH TINGKAT I
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG BERLOKASI
DI WILAYAH SENGKETA DENGAN NEGARA LAIN
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG BERLOKASI
DIWILAYAH RUANG LAUTAN
USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG BERLOKASI
DI LINTAS BATAS NEGARA KESATUAN REPUBLIK
INDONESIA DENGAN NEGARA LAIN