Anda di halaman 1dari 14

KIMIA

PROTEIN
Nama kelompok :

1. Ella Zefanya S.C. (12) 1. Lailatul Ar Rohmah (20)


2. Fadhilah Laela R. (15) 2. Malik Muh. Hermansyah (22)
3. Inayah Wulan Dari 3. Miftahur Rochmah (23)
(16) 4. Rendy Ramadhana (26)
4. Inggrid Darly Maylani (17) 5. M. Haikal Setiadi (27)
5. Intan Dwi Rahayu (18) 6. M. Ivani Maulana (28)
6. Irene Melikna Wati
(19)
Protein

Struktur Pengertian

Fungsi Sifat
PENGERTIAN

Protein merupakan makromolekul yang tersusun dari rantai-


rantai panjang asam amino yang saling berikatan melalui ikatan
peptida. Ikatan peptida adalah ikatan antara dua molekul asam
amino. Jadi, protein dapat dikatakan sebagai suatu kopolimer.
Protein merupakan sumber asam amino yang mengandung Karbon
(C), Hidrogen (H), Oksigern (O), Nitroten (N) dan terkadang
mengandung Belerang (S), dan Fosfor (P). Protein berasal dari tata
bahasa Yunani yaitu Proteos, yang berarti utama atau yang
didahulukan.
Struktur Protein
Struktur Primer
Merupakan urutan-urutan asam amino yang menyusun protein
melalui ikatan peptida. Urutan asam amino akan menentukan
fungsi suatu protein. Struktur primer berupa rantai pendek dari
asam amino dan dianggap lurus. Protein pertama yang berhasil
ditentukan struktur primernya adalah insulin, yaitu hormon yang
berfungsi mengatur kadar gula darah
Struktur Sekunder
Berkaitan dengan bentuk dari berbagai rangkaian asam amino pada
protein, oleh ikatan hidrogen antara atom hidrogen dari gugus amino
dengan atom oksigen dari gugus karboksil. Struktur sekunder
merupakan rangkaian lurus (struktur primer) dari rantai asam amino.
Namun, karena setiap gugus mengadakan ikatan hidrogen, rantai
polipeptida menggulung seperti spiral (alfa helix), lembaran
kertascontinues form(beta-pleated sheet), atau triple helix.
Struktur Tersier
Merupakan bentuk tiga dimensi dari suatu protein. Struktur tersier
terbentuk jika rangkaian heliks (struktur sekunder) menggulung atau
melipat karena adanya tarik-menarik antarbagian polipeptida
sehingga membentuk satu subunit protein tertentu yang disebut
struktur tersier. Bentuk tiga dimensi protein sangat berperan dalam
menentukan fungsi biologis protein tersebut.
Struktur Kuartener
Sebagian protein hanya mengandung rantai tunggal polipeptida, tetapi
ada juga yang disebut protein oligomer, yaitu protein yang terdiri dari
dua atau lebih rantai polipeptida. Sebagai contoh, hemoglobin yang
mempunyai empat rantai. Masing-masing rantai merupakan satu
subunit protein. Susunan subunit dalam protein oligomer disebut
struktur kuartener. Struktur kuarterner terbentuk jika antarsubunit
protein (dari struktur tersier) berinteraksi membentuk struktur
kuarterner. Struktur kuartener mempunyai molekul yang sangat besar.
Sekunde Kuarterne
Primer Tersier
r r
Sifat sifat protein

Protein sukar larut dalam air karena ukuran molekulnya yang


sangat besar.
Protein dapat mengalami koagulasi oleh pemanasan,
penambahan, asam atau basa.
Protein bersifat amfoter karena membentuk zwitter ion. Pada titik
isoelektriknya, protein mengalami koagulasi, sehingga dapat
dipisahkan dari pelarutnya.
Protein dapat mengalami kerusakan (terdenaturasi) oleh
pemanasan. Pada denaturasi, protein dapat mengalami
kerusakan mulai dari kerusakan struktur primernya sampai
kerusakan tersiernya.
Fungsi Protein
Berperan dalam proses pembentukan sel-sel baru untuk menggantikan sel yang rusak
Sebagai enzim: enzim yang merupakan biokatalis
Alat angkut (protein transport): hemoglobin merupakan protein yang berperan
mengangkut oksigen dalam eritrosit, sedangkan myoglobin berperan dalam
pengangkutan oksigen dalam otot. Transferin merupakan protein yang bertugas
mengangkut ion besi di dalam plasma darah yang selanjutnya dibawa ke dalam hati.
Pengatur gerakan (protein kontraktil): gerakan otot disebabkan oleh dua molekul
protein yang saling bergeseran.
Penyusun jaringan (protein structural): berfungsi sebagai pelindung jaringan di
bawahnya
Protein cadangan: merupakan protein yang berfungsi sebagai cadangan makanan
Antibodi (protein antibody): protein yang berperan dalam melindungi tubuh dari
mikroorganisme pathogen
Pengendali pertumbuhan: bekerja sebagai penerima (reseptor) yang dapat
mempengaruhi fungsi bagian-bagian DNA
Denaturas
i
Denaturasi proteinadalah kondisi di mana struktur sekunder, tersier maupun kuartener
dari suatu protein mengalami modifikasi tanpa ada pemecahan ikatan peptida. Jika suatu
larutan protein, misalnya albumin telur, dipanaskan secara perlahan-lahan sampai kira-kira
60-70C, lambat laun larutan itu akan menjadi keruh dan akhirnya mengalami koagulasi atau
penggumpalan. Protein yang telah terkoagulasi tidak dapat larut lagi pada pendinginan.
Perubahan seperti itu disebut denaturasi protein. Denaturasi protein juga dapat disebabkan
perubahan pH yang ekstrim oleh beberapa zat pelarut seperti alkohol atau aseton,
beberapa zat terlarut seperti urea, lalu oleh detergen, logam berat, ataupun oleh
pengguncangan yang intensif.
Protein yang terdenaturasi memiliki struktur yang tidak teratur, sehingga menyebabkan
perubahan yang drastis dalam molekul protein dan membuat protein hampir selalu
kehilangan fungsi biologisnya. Dari penelitian terhadap protein yang terdenaturasi,
diketahui bahwa struktur primer protein (rangkaian urutan asam amino) tidak ada yang
rusak, sedangkan struktur protein yang rusak adalah struktur sekunder, struktur tersier,
atau struktur kuartenernya. Secara singkat, ikatan peptida dalam struktur utama tidak
terhidrolisis, tetapi struktur heliks protein hilang.
Maka dapat disimpulkan bahwa denaturasi protein adalah pecahnya ikatan-ikatan dalam
protein yang mengakibatkan protein menjadi terurai dan tidak bisa kembali ke kondisi awal.
Hidrolisis Protein
Suatu polipeptida atau protein dapat mengalami hidrolisis jika
dipanaskan dengan asam klorida pekat, sekitar 6 M. Dalam hal ini,
ikatan peptida diputuskan sehingga dihasilkan asam amino-asam
amino bebas. Dalam tubuh manusia atau hewan, hidrolisis
polipeptida atau protein terjadi karena pengaruh enzim.
Ikatan peptida yang membangun rantai polipeptida dalam
protein dapat diputus (dihidrolisis) menggunakan asam, basa, atau
enzim. Pemecahan ikatan peptida dalam kondisi asam atau basa
kuat merupakan proses hidrolisis kimia dan pemecahan ikatan
peptida menggunakan enzim merupakan proses hidrolisis biokimia.
Reaksi hidrolisis peptida akan menghasilkan produk reaksi yang
berupa satu molekul dengan gugus karboksil dan molekul lainnya
dengan gugus amina
Uji Protein
Uji Protein Perubahan Warna Keterangan

Biuret Ungu atau Violet Menunjukkan adanya ikatan peptida

Menunjukkan adanya inti benzena


Xantoproteat Jingga
dalam protein

Timbal (II) Asetat atau Menunjukkan adanya unsur belerang


Endapan Hitam
Belerang dalam protein

Menunjukkan adanya fenol dalam


Millon Merah
protein