Anda di halaman 1dari 32

TITRASI

KOMPLEKSOMETR
I
OLEH

YANA C, STP. DEA


DEFINISI KOMPLEKS
Satuan baru yang terbentuk dari satuan yang dapat
berdiri sendiri, tetapi membentuk ikatan baru dalam
kompleks tersebut
Terdiri dari Inti logam dan ligand

Muatan kompleks
Zn(NH3)42+

Inti logam Ligand Bilangan koordinasi


(jumlah ikatan dgn ligand)

Ikatan antara inti dan ligand Ikatan kovalen koordinat

Pasangan elektron diberikan dari ligand untuk dipakai bersama


LIGAND
Atom atau gugus atom yang mempunyai kelebihan pasangan
elektron; ex N,O,S,P,As, halogen
Macam-macam ligand:
- Monodentat = satu atom donor pasangan elektron
ex; NH3, CN-
- Bidentat = 2 atom donor pasangan electron
ex; H2N-CH2CH2-NH2 (etilendiamin) Polidentat
- Terdentat (multidentat)
- kuadridentat

lat
+2 +2

ke
NH3
H2 N NH2

an
ar
H2 C CH2
H3N Zn NH3

g) gk
Zn

rin k lin
H2 C CH2

lat ntu
NH3
NH2

he e
H2 N

(c emb
e
Monodentat Bidentat

M
Ligand pembentuk kelat disebut pengkelat (Chelating agent)
EDTA (ethylene diamine tetra acetic acid) merupakan pengkelat
yang paling banyak dipakai

HOOC - CH 2 CH 2 - COOH
N - CH 2 - CH 2 - N
HOOC - CH 2 CH 2 - COOH

asam etilen diamin tetra asetat


EDTA ditulis sederhana H4Y, atau
H6Y2+(terprotonasi penuh).
Dalam larutan mengalami ionisasi
H6Y2+ H5Y+ H4Y H3Y - H2Y2- HY3- Y4-
MACAM TITRASI

KOMPLEKSOMETRI
Titrasi kompleksometri non kelat
- Titrasi CN- dengan Ag+
Ag+ + 2CN- Ag(CN)2-

Metode Justus Liebig


# Bila CN- habis bereaksi, terbentuk endapan perak sianida

Ag+ + Ag(CN)2- Ag[Ag(CN)2] (titik akhir titrasi)

- Titrasi dengan Hg(II) (Merkurimetri)


ex: Titrasi Cl- dengan Hg2+
Hg2+ + 2Cl- HgCl2

Titrasi kompleksometri dengan pengkelat (Kelatometri)


-Titrasi dengan NTA (Nitrilotriacetic acid), N(CH 2COOH)3
-Titrasi dengan TRIEN (Trietilentetramina)
-Titrasi dengan EDTA (Schwarzenbach, 1945)
TITRASI KELATOMETRI DENGAN
EDTAEDTA banyak dipakai:
Faktor-faktor yang membuat
a. Terbentuk kompleks 1:1 dengan ion logam, sehingga
reaksi berjalan 1 tahap
1:1
2:1

4:1

pM

Volume reaksi (ml)


b. Konstan kestabilan kelat besar,sehingga reaksinya
sempurna (kecuali dengan logam alkali)

c. Banyak ion logam yang bereaksi cepat


Konstanta pembentukan kompleks EDTA-logam (Kf)
Mn+(aq) + Y4-(aq) MY4-n(aq)
[MY4-n]
Kf =
[Mn+][ Y4-]

EDTA selain sebagai ligand juga merupakan asam lemah.


Bentuk terprotonasi penuh (H6Y2+) mengalami disosiasi
bertahap dengan nilai pKa1=0, pKa2 =1.5, pKa3 =2,
pKa4=2.68, pKa5= 6.11, pKa6 =10.17

Kesempurnaan reaksi EDTA-logam tergantung pH,


sehingga perlu buffer dalam reaksinya.
Konstanta pembentukan kondisional (Kf)

tergantung pH
Konsentrasi EDTA total

Fraksi mol EDTA dalam bentuk Y4-

Maka dengan substitusi, didapat


[MY4-n]
Kf=
[Mn+] CEDTA
Jika reaksi dilangsungkan pada pH tertentu dengan
menggunakan buffer, maka konstan, sehingga:
[MY4-n]
=
[Mn+] CEDTA
Nilai pada berbagai pH

Nilai Konstanta pembentukan kondisional dengan ion Cd 2+


Indikator logam

Indikator logam adalah zat warna yang dapat


membentuk kompleks berwarna dengan ion
logam pd pM tertentu. Indikator logam pd
umumnya merupakan indikator ion hidrogen.
Syarat-syarat yg hrs dipenuhi oleh suatu indikator
logam:
1. Reaksi warna harus sedemikian pd saat sebelum
titik, ketika hampir semua ion logam membentuk
kompleks dengan EDTA, larutannya mempunyai
warna yang jelas.
2. Reaksinya harus spesifik atau selektif
3. Kompleks indikator logam harus stabil
4. Harus ada perbedaan yang jelas antara warna
indikator dan warna kompleks indikator-logam
5. Indikator harus peka thd ion logam (pM) shg
sedapat mungkin perubahan warna terjadi
tepat pd TE
Beberapa contoh indikator logam antara lain :
Eriochrom Black T (EBT)
Camalgite
Naphthyl zoxine
Xylenol Orange
Murexide
Struktur kimia EBT
OH

NaO3S N=N

NO
EBT membentuk
2 kompleks berwarna
merah dengan hampir semua ion logam.
EBT merup. Asam berbasa tiga. H3In
pH 6,3 pH 11,6
-
H 2 In HIn 2- In 3-
merah biru jingga
Pada pH 10 HIn2- berwarna biru. Bentuk
biru ini bereaksi dengan ion Mg2+
membentuk kompleks berwarna merah.
2 2- - H
Mg HIn MgIn
biru
tak berwarna merah

Kompleks MgIn- lebih lemah dari MgY2-,


dengan demikian kelebihan EDTA akan
mengikat Mg dari MgIn- membentuk MgY2-
2 -
HY MgI MgY
- 2-
HIn H
tak berwarna merah tak berwarna biru
Daerah kerja EBT pada pH kisaran 7-11, dengan
titik akhir timbul berwarna biru.
Trayek pM indikator:
#Reaksi logam (M) dengan indikator (Hin2-)
M + Hin2- Min + H+
reaksi ini bisa dibagi dalam 2 tahap yaitu:
# Hin2- H+ + In3-
[H+] [In3-]
Kin=
[Hin2-]
[MIn]
# M +In MIn KMIn =
[M ] [In]
[H+] [MIn]
KInKMIn =
[M ] [HIn]
[H+] [MIn] [MIn]
[M ] = =k
KInKMIn [HIn] [HIn]

Nilai antar 0,1 dan 10


contoh:
Dapatkah Erio T digunakan untuk titrasi 50mL larutan Mg2+ 0.005 M dengan
EDTA 0.01M pada pH=10
KMgY = 4.9 x 108 ; KMgIn = 1x107; HIn2- H+ + In3- dengan KIn =2.8 x 10-12
Jawab:
# Nilai pMg pada titik equivalent
) Nilai 4 pada pH 10 = 0.35, maka
KMgY = KMgY. 4 = 4.9 x 108 x 0.35 =1.72 x 108

[MgY]
) KMgY = [Mg2+] C
EDTA

Pada saat TE, [Mg2+]= CEDTA


[MgY]
Sehingga [Mg2+]=
KMgY
Titik equivalent terjadi ketika tepat semua mol Mg2+ tepat bereaksi dengan mol EDTA.
mol Mg2+ = mol EDTA
50 mL x 0.005 M=VEDTA x 0.01M
VEDTA = 25 mL
Maka [MgY]=(50 x 0.005)/75=3.33 x 10-3 M

3.33 x 10-3
) Sehingga [Mg ]=2+
= 4.4 x 10-6
1.72 x 10 8

pMg = 5.36

# Letak trayek pM Erio T


)KIn x KMgIn =2.8 x 10-12 x 1 x 107 = 2.8 x 10-5

10-10 [MgIn] [MgIn]


) [Mg ]=
2+
x = 3.6 x 10 -6 x
2.8 x 10-5 [HIn] [HIn]
[MgIn]
Perubahan warna terjadi jika 0.1 10
[HIn]
[MgIn]
0.1 x 3.6 x10-6 3.6 x10-6 x 10 x 3.6 x10-6
[HIn]
3.6 x10-7 [Mg2+] 3.6 x 10-5
4.44 pMg 6.44

Jadi, trayek pMg = 5.44 1


Karena nilai pMg pada TE (=5.36) tercakup dalam trayek indikator,bahkan
hampir tepat berimpit dengan nilai tengah pM trayek, maka indikator erio T
ideal untuk titrasi Mg2+ dengan EDTA pada pH 10
EBT kurang baik sbg indikator untuk titrasi Ca2+
dengan EDTA dlm larutan yg tdk mengandung
Magnesium.
kompleks Ca-EBT sangat lemah dibandingkan
dengan kompleks Ca-EDTA, sehingga ttk akhir
titrasi terjadi terlampau cepat.
Penggunaan EBT pd titrasi Ca, lar. EDTA perlu
ditambah sedikit Mg sebelum larutan
distandarkan. Dengan demikian zat penitrasi
terdiri dari campuran MgY2- dan H2Y2-. Jika
campuran ditambahkan kedlm larutan Ca2+, akan
terjadi reaksi :
MgY 2- Ca 2 CaY 2 Mg 2
lebih stabil

Mg 2 HIn 2- MgIn 2- 2H
biru merah

Setelah semua ion Ca2+ habis terpakai, zat penitrasi


selanjutnya (H2Y2-) mengubah MgIn2- MgY2- dan
indikator berubah menjadi biru.
H 2Y 2- MgIn 2- MgY 2- HIn 2- H
merah biru

Latihan: Dengan membandingkan nilai pCa pada titik equivalent


dengan trayek pCa indikator Erio T pd pH 10, apa yang terjadi
jika Erio T digunakan untuk titrasi 50 mL larutan Ca2+ 0.005 M
dengan EDTA 0.01 M?
Diketahui ; KcaY=5 x1010; KCaIn=2.5 x 105; KIn=2.8 x 10-12
Macam-macam Titrasi EDTA
1. Titrasi langsung
lar. yg akan dititrasi diberikan lar. Buffer pH
tertentu. Kemudian dititrasi langsung dgn lar.
standar EDTA. Pengendapan hidroksida dicegah
dgn zat pengkompeks spt : as. Tartarat, as. Sitrat.
2. Titrasi kembali (jika tdk ada indikator yg cocok)
kepada lar. ion logam ditambah lar. EDTA
berlebih,kemudian dibuffer, kelebihan EDTA
dititrasi dgn lar. standar ion logam
( MgCl2,ZnCl2 atau MgSO4/ZnSO4 )
titik akhir ditandai ketika terjadi perubahan warna
dari biru ke merah.
3. Titrasi subsitusi/penggeseran
digunakan untuk jika tdk terdapat indikator yang
baik untuk kation bersangkutan. Ion logam
direaksikan dgn kompleks Mg-EDTA(MgY 2-)

n 2+ yg dibebaskan n - 4 dgn
2
M MgY (MY)
jml Mg 2- ekuivalen Mg logam
ion
tsb,yg dpt dititrasi dgn lar EDTA
4. Titrasi alkalimetri
lar. std EDTA direaksikan dgn lar yg mengandung
1 mol ion logam, maka terbentuk kompleks dan
membebaskan 2 mol H+. Ion H+ dititrasi dgn lar std
NaOH.
n n -4 2
M H 2 Y (MY)
2-
Mg 2H

H OH H 2 O
-

5. Cara lain-lain:
Sulfat ditentukan dgn mengendapkan sbg BaSO4
atau PbSO4. Kemudian endapan BaSO4 atau
PbSO4 dilarutkan dgn lar std EDTA berlebih dan
dititrasi dgn lar Magnesium atau Seng.
Fosfat ditentukan dgn mengendapkan sbg
MgNH4PO4.6H2O. Kemudian endapan dilarutkan
dlm HCl encer, kemudian ditambahkan lar. Std
EDTA, buffer pH 10, kemudian dititrasi dgn lar. std
Mg.
Larutan Standar EDTA
digunakan garam dinatriumnya, dgn rumus
Na2H2C10H12O3N2.2H2O(Mr = 372,25), maka
lar.0,1M = 37,225 g/L
0,05 M = 18,613 g/L
Larutan EDTA distandarkan thd:
a. CaCO3 murni
kalsium karbonat dilarutkan dalam asam,
diencerkan dan ditambahkan lar. Buffer pH 10,
ditambah kompleks Mg-EDTA, lalu dititrasi dgn
EDTA dgn indikator EBT
b. Logam seng murni
logam seng dilarutkan dlm asam,
encerkan, diberi buffer, kemudian dititrasi
dgn EDTA dgn indikator EBT.
Penentuan Magnesium
Lar. Mg2+ langsung dititrasi dgn EDTA
dgn menggunakan indikator EBT
2
Mg HIn MgIn H
2- -

-
HY MgIn MgY 2- HIn 2- H
2-

merah biru
larutan sebelum dititrasi dipanaskan pd
suhu 400C
1 mL 0,1 M EDTA = 2,432 mg Mg
Penentuan kesadahan air
Air sadah : air yg mengandung ion Ca 2+
dan Mg 2+

Kesadahan tetap : CaSO4 dan MgSO


Kesadahan total

Kesadahan sementara : Ca(HCO3)2


dan Mg(HCO3)2
air sadah sementara dpt dihilangkan dgn jalan
pendidihan air.
Ca(HCO3)2 CaCO3 + H2O + CO2

Mg(HCO3)2 MgCO3 + H2O + CO2

Kesadahan air dihitung sbg mg CaCO3 tiap liter


(ppm), tetapi pada analisis kimia biasanya
menyangkut penentuan jml Ca2+ dan Mg2+ dlm
larutan.
Prinsip Penentuan:
Sejumlah volume ttt air,ditambah lar buffer pH 10
kemudian dititrasi dgn EDTA dng indikator EBT.
2 2
Mg Ca 2H 2 Y CaY MgY 4H
2- 2- 2-

H 2 Y 2- MgIn - MgY 2- HIn 2- H


biru
merah
Contoh standarisasi EDTA:
0.4071 g CaCO3 dilarutkan dengan HCl dan diencerkan hinggag 500
mL. Jika 50 mL dari larutan tersebut dititrasi dengan EDTA
membutuhkan 42.63 mL, berapa molaritas EDTA? Dalam reaksi ini
digunakan pH 10 dan ditambahkan Mg-EDTA ke dalam reaksi.

Jawab:
mol EDTA=mol Ca
MEDTA=(MCa x VCa)/VEDTA

MCa = g CaCO3/(Mr CaCO3 x V )=0.4071/(100.09 x 0.5) =8.135 x 10 -3

Jadi MEDTA= 8.135 x 10-3 x 50/42.63 =9.541 x 10-3 M


10 10
9 9
8 8
7 7
pCa2+
6 P Mg2+6

5 5
4 4
3 3
2 2
1 1
0 0
50 100 150 50 100 150
% titrasi
% titrasi

Gambar 3. Kurva Titrasi Ca2+ Gambar 4. Kurva titrasi Mg

Ket : daerah arsir merupakan daerah perubahan indikator EBT