Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus

Pembimbing : dr. widi

Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah


Jakarta
2

Identitas Pasien

Nama : Tn. Y
Usia : 61 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh
Alamat :
3

Anamnesis
Keluhan Utama : kontrol tekanan darah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang untuk kontrol tekanan darah. Pasien mengaku ingin mengecek
tekanan darah karena sudah lama tidak periksa dan meminum obat selama
lima bulan karena saat itu tekanan darah sudah bagus dan tidak ada keluhan
apapun. Saat ini pasien tidak merasakan adanya nyeri kepala berputar, tidak
merasakan pandangannya kabur, tidak ada rasa lemas pada tangan dan kaki
kiri, tidak ada mual tidak ada muntah, dan tidak pernah terjadi penurunan
kesadaran, tidak ada nyeri dada.
4

Riw. Pengobatan : Pasien mengaku sempat berobat ke dokter


sebanyak 4 kali karena darah tinggi, namun tidak lagi berobat karena
dirasa sudah sehat. Pasien tidak ingat nama obat dan jumlah obat yang
diminum
Riw. Penyakit dahulu :
Pasien mengaku mempunyai riwayat darah tinggi sejak 3 tahun
Riwayat asma disangkal
Riwayat diabetes Mellitus disangkal
5

Riw. Penyakit Keluarga :


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa saat ini
Riwayat hipertensi dalam keluarga tidak diketahui
Riwayat diabetes mellitus dalam keluarga tidak diketahui
Riw. Alergi : tidak terdapat alergi udara, debu, makanan ,
maupun obat-obatan
Riw. Psikososial : setiap hari minum kopi 2-3 gelas, merokok (+)
sejak 10 tahun lalu sampai sekarang 5 batang/hari. Alkohol (-)
6

Pemeriksaan Fisik

Kesadaran : Komposmentis, OS tampak sakit sedang


Tanda-tanda Vital :
Tekanan darah : 180/130 mmHg
Frekuensi nadi : 92 kali/menit
Frekuensi napas : 19 kali/menit
Suhu tubuh : 36,7 C
Status
Generalis
RAMBUT Kuantitas : tebal, warna hitam
Distribusi : merata
Tekstur : halus
Tidak mudah tercabut 8
Dextra Sinistra
Mata Konjungtiva anemis - Konjungtiva anemis -

5/12/17
STASE INTENA - BLUD SEKARWANGI
Sklera ikterik - Sklera ikterik -
Reaksi cahaya + Reaksi cahaya +
Pupil Isokor, ukuran 3 / 3 mm
Telinga Sekret - Sekret -
Perdarahan - Perdarahan -
- -
dll
Hidung Sekret - Sekret -
Perdarahan - Perdarahan -

dll
LEHER
KGB tidak teraba adanya pembesaran
JVP Tidak meningkat
Inspeksi Bentuk simetris saat stastisdan dinamis
dada Tidak terdapat penggunaan otot bantu napas
Ictus cordis tidak terlihat 9
Palpasi Tidak terdapat nyeri tekan, krepitasi, mauapun pelebaran sela iga
Vokal fremitus sama kanan dan kiri

5/12/17
STASE INTENA - BLUD SEKARWANGI
Ictus cordis tidak teraba
Perkusi Jantung :
Batas jantung kanan pada linea midsternalis
Batas jantung kiri pada ICS V linea midclavicularis sinistra
Pinggang jantung pada ICS III sinistra

Paru :
Paru kanan dan kiri sonor
Batas paru-hepar setinggi ICS V midclavicularis dextra
Auskultas Jantung :
i Bunyi jantung, regular
Murmur (-), Gallop (-)

Paru :
Paru kanan dan kiri vesikular, wheezing -/-, ronkhi -/-
Vocal resonance simetris
Inspeksi Datar, tidak ada skar 10
Palpasi Supel, tidak terdapat nyeri tekan epigastrium.
Hepar dan lien tidak teraba

5/12/17
STASE INTENA - BLUD SEKARWANGI
Perkusi Thymphani
Auskultasi Bising usus (+)

Punggung Kelainan pada vertebra tidak ditemukan


Ganitalia, anus, rectum Tidak dilakukan pemeriksaan

Dextra Sinistra
Udem - -
Sianosis - -
Akral Hangat Hangat
RCT < 2 dt < 2 dt
11

Diagnosis

hipertensi urgensi
12

Terapi
Non farmakologis
Edukasi pasien,
Berhenti minum kopi,
berhenti merokok,
istirahat cukup dan hindari stress,
olahraga jalan kaki 30 menit setiap hari,
kontrol rutin jika obat sudah mau habis
13

farmakologi

Nifedipin sublingual di UGD


Follow up 30 menit : 150/90
Captopril 25 mg 3 x 1
Diskusi
15

KRISIS HIPERTENSI ADALAH

Disk SUATU KEADAAN KLINIS YANG


DITANDAI OLEH TEKANAN
DARAH YANG SANGAT TINGGI
(TEKANAN DIASTOLIK > 140

usi
MMHG) DENGAN KEMUNGKINAN
AKAN TIMBULNYA ATAU TELAH
TERJADINYA KELAINAN ORGAN
TARGET
16

Hipertensi emergensi Hipertensi urgensi

ditandai dengan TD TD diastolik > 120 mmHg


Diastolik > 120 mmHg, dan dengan tanpa
disertai kerusakan berat kerusakan/komplikasi
dari organ sasaran yang minimum dari organ
disebabkan oleh satu atau sasaran
lebih penyakit/kondisi
akut.
KRITERIA KRISIS HIPERTENSI
17
Tabel I : Hipertensi emergensi
TD Diastolik > 120 mmHg disertai dengan satu atau lebih kondisi akut.
Pendarahan intracranial, trombotik atau pendarahan subarakhnoid.
Hipertensi ensefalopati.
Aorta diseksi akut.
Oedema paru akut.
Eklampsi.
Insufisiensi ginjal akut.
Infark miokard akut, angina unstable.
Sindroma kelebihan Katekholamin yang lain :
- Sindrome withdrawal obat anti hipertensi.
- Cedera kepala.
- Luka bakar.
- Interaksi obat.
18

Tabel II : Hipertensi urgensi

Hipertensi berat dengan TD Diastolik > 120 mmHg, tetapi dengan minimal
atau tanpa kerusakan organ sasaran dan tidak dijumpai keadaan pada tabel
I. .
Hipertensi post operasi.
Hipertensi tak terkontrol / tanpa diobati pada perioperatif.
19

Anamnesa
Hal yang penting ditanyakan yaitu :
Riwayat hipertensi : lama dan beratnya.
Obat anti hipertensi yang digunakan dan kepatuhannya.
Usia : sering pada usia 40 60 tahun.
Gejala sistem syaraf ( sakit kepala, pusing, perubahan mental,
ansietas ).
Gejala sistem ginjal ( gross hematuri, jumlah urine berkurang ).
Gejala sistem kardiovascular ( adanya payah jantung, kongestif dan
oedem paru, nyeri dada ).
Riwayat penyakit : glomerulonefrosis, pyelonefritis.
Riwayat kehamilan : tanda eklampsi.
20

Pemeriksaan fisik :
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran TD
(baring dan berdiri) mencari kerusakan organ sasaran
(retinopati, gangguan neurologi, gagal jantung
kongestif). Perlu dibedakan komplikasi krisis hipertensi
dengan kegawatan neurologi ataupun payah jantung,
kongestif dan oedema paru. Perlu dicari penyakit
penyerta lain seperti penyakit jantung koroner.
21

Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu :
1. Pemeriksaan yang segera seperti :

a. darah : rutin, BUN, creatinine, elektrolit.


b. urine : Urinalisa dan kultur urine.
c. EKG : 12 Lead, melihat tanda iskemi.
d. Foto dada : apakah ada oedema paru ( dapat
ditunggu setelah pengobatan terlaksana ).
22

Pemeriksaan lanjutan (tergantung dari keadaan klinis dan hasil


pemeriksaan yang pertama) :
a. Sangkaan kelainan renal : IVP, Renal angiography ( kasus tertentu ),
biopsi renal ( kasus tertentu ).
b. Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi : Spinal tab,
CAT Scan.
c. Bila disangsikan Feokhromositoma : urine 24 jam untuk
Katekholamine, metamefrin, venumandelic Acid ( VMA ).
23

DIFERENSIAL DIAGNOSIS
- Hipertensi berat
- Emergensi neurologi yang dapat dikoreksi dengan pembedahan.
- Ansietas dengan hipertensi labil.
- Oedema paru dengan payah jantung kiri.
Terima
Kasih...

Anda mungkin juga menyukai