Anda di halaman 1dari 17

Deviasi

Septum
Nasi
Disusun oleh :
1. Adita Choiri Fadhila (01)
2. Bangkit Andi Kurniawan (12)
3. Desi Uswatun Hasanah (13)
4. Imas Caemora Menati K (24)
5. Istika Anggi Priharjanti (25)
6. Rachmani Ridhawati (36)
7. Risky Martha Kusuma (37)
Defin
isi
Deviasi septum nasi didefinisikan
sebagai bentuk septum yang tidak lurus di
tengah sehingga membentuk deviasi ke
salah satu rongga hidung atau kedua
rongga hidung yang mengakibatkan
penyempitan pada rongga hidung.
Anatomi
Fisiologi
Septum nasi merupakan dinding medial rongga
hidung bagian paling menojol pada wajah, paling
mudah dan sering terkena trauma yang dibentuk oleh
tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah lamina
perpendikularis os etmoid, vomer, krista nasalis os
maksila dan krista nasalis os palatina.
Sedangkan bagian tulang rawan adalah kartilago,
septum (lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum
dilapisi oleh perikondrium pada bagian tulang rawan
dan periosteum pada bagian tulang, sedangkan
diluarnya dilapisi oleh mukosa hidung.
Lajutan...
Struktur dari septum nasi
memungkinkannya bertindak sebagai shock
absorber.Di bagian posterior, septum
berartikulasi dengan lamina perpendikularis os
etmoid, os nasal dan vomer.
Artikulasi ini berbentuk panah dan tekanan
yang diarahkan pada ujung hidung melewati
artikulasi ini dan ditransmisikan ke kranium
yang lebih tebal sehingga daerah kribiform
akan terlindugi.
Patofisiologi
Trauma yang terus menerus
pada tulang rawan hidung secara
langsug ataupun tidak langsung
menyebabkan perubahan dan
pertumbuhan struktur mukosa tulang
rawan sehingga drainage dari sekret
terganggu dan hal inilah yang
membuat hidung berbau dan dirasa
buntu.

Etiologi
Penyebab deviasi septum nasi antara
lain:
trauma Birth Moulding kelainan trauma
langsung Theory kongenital sesudah lahir

trauma waktu perbedaan pertumbuhan


lahir antara septum dan palatum

Faktor resiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan.Setelah


lahir, resiko terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak
langsung (tinju, karate, judo) dan tidak menggunakan helm atau
sabuk pengaman ketika berkendara
Gejala klinik
Keluhan yang paling sering terjadi pada
deviasi septum adalah sumbatan
hidung.Sumbatan bisa unilateral, dapat pula
bilateral, sebab pada sisi deviasi terdapat konka
hipotrofi, sebagai akibat mekanisme kompensasi.
Keluhan lainnya ialah rasa nyeri di kepala dan
di sekitar mata.Selain dari itu penciuman bisa
terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian
atas septum.Deviasi septum dapat menyumbat
ostium sinus, sehingga merupakan faktor
predisposisi terjadinya sinusitis.
Penatalaksa
naan
1 Analgesik untuk mengurangi rasa
sakit

2 Dekongestan untuk mengurangi


sekresi cairan hidung

1. Septoplasti
3 Pembedahan endoskopi

2. SMR(Sub-Mucous
Resection)
Klasifikasi
deviasi septum
nasi
Deviasi septum nasi dibagi Mladina atas beberapa
klasifikasi berdasarkan letak deviasi yaitu:
1. Tipe I : Benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran
udara.
2. tipe II : Benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara,
namun masih belum menunjukkan gejala klinis yang .bermakna.
3. Tipe III : Deviasi pada konka media/area osteomeatal.

4. Tipe IV : Disebut juga tipe S dimana septum bagian posterior dan


anterior berada pada sisi yang berbeda.
5. Tipe V : Tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara
di sisi lain masih normal.
6. Tipe VI : Tipe VI ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral,
sehingga menunjukkan rongga yang asimetri.
7. Tipe VII : Kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI
Asuhan Keperawatan pada Deviasi
Septum Nasi
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN:
a.Perubahan pola nafas sehubungan dengan
tampon pada hidung.
b.Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan
dengan luka operasi.
c.Resiko tinggi gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi sehubungan dengan intake
yang kurang.
2. PENATALAKSANAAN
a) Perubahan pola nafas sehubungan
dengan tampon pada hidung 4)Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian kalmethason dan
Tujuan : Perubahan pola nafas teratasi bronchodilator.
dalam 2 x 24 jam. 5)Monitor vital sign.
Kriteria hasil : Rasional:
) Tampon di lepas. 6)Klien / keluarga mengerti sebab
) Klien dapat bernafas melalui hidung. akibat perubahan pola nafas.
Intervensi : 7)Membuat paru mengembang dengan
1) Jelaskan tentang perubahan pola nafas baik.
dan bernafas melalui mulut. 8)Memberi rasa nyaman dan
2) Anjurkan klien untuk tidur duduk mencegah infeksi.
(semi fowler) dan nafas melalui mulut.
9)Fungsi interdependent untuk
3) Beri tindakan perawatan untuk:
mengencerkan sekret dan
)Oral hygiene melonggarkan pernafasan.
)Rawat luka dengan BWC dan H2O2
10)
Mengetahui kelainan dini.
dan xylocain/LA
)Nebulizer tanpa obat
b) Gangguan rasa nyaman (nyeri) 2) Menentukan tindakan keperawatan
sehubungan dengan luka operasi dalam hal untuk penanganan nyeri.
3) Mengurangi nyeri
Tujuan : nyeri berkurang dalam 2 x 24 4) Mengetahui kelainan dini terhadap
jam. respon nyeri
Kriteria hasil :
)klien bisa tidur c) Potensial gangguan pemenuhan
)klien merasa tenang, T 110/80 nutrisi sehubungan dengan intake
mmHg, N 88 x/menit. kurang
Intervensi : Tujuan : pemenuhan nutrisi teratasi
1) Kaji faktor faktor yang dalam 2x24 jam.
mempengaruhi nyeri, misal takut / Kriteria hasil :
posisi yang salah. )Klien mau menghabiskan
2) Kaji tingkat nyeri / lokasi nyeri / makanannya.
intensitas nyeri. )BB dalam batas normal, turgor baik.
3) Anjurkan klien untuk Intervensi :
menggunakan teknik :distraksi,
1) Jelaskan pada klien untuk boleh
relaksasi progresif, cutaneus
dan tetap makan secara hati hati
stimulation.
dan sedikit sedikit.
4) Monitor vital sign.
2) Monitor makan tiap hari.
Rasional :
3) Beri diet halus dan lunak.
5) Ketakutan / posisi salah dapat
meningkatkan respon nyeri. 4) Kontrol berat badan tiap 2 hari.
Rasional :
1) Klien tetap mau makan tanpa
takut tersedak.
2) Mengetahui seberapa banyak
makanan yang masuk.
3) Memudahkan pencernaan dan
mencegah perdarahan
4) Perkembangan asupan yang
adekuat.
3. PELAKSANAAN
Adalah pengelolaan dan perwujudan
dari rencana perawatan yang telah
disusun pada tahap perencanaan dengan
tujuan agar terpenuhnya kebutuhan klien
secara optimal.
4.EVALUASI
Evaluasi dilakukan dengan mengacu
pada tujuan dan kriteria yang telah
ditetapkan dalam perencanaan.