Anda di halaman 1dari 61

Suhu, Salinitas Dan Tekanan

Udara Di Perairan
Kualitas air laut

Kualitas air laut dapat dilihat berdasarkan


parameter temperatur/suhu, salinitas dan
kecerahan (warna) air laut.
1. Temperatur air laut :
ditentukan oleh radiasi matahari. Karena itulah,
temperatur air laut cenderung berkurang
sesuai dengan perubahan kedalaman dan juga
semakin berkurang apabila semakin jauh dari
ekuator.
2. Salinitas (kadar garam)
Salinitas adalah jumlah garam garam
yang terkandung dalam setiap satu
kilogram air laut yang dinyatakan dengan
prosen (%) atau promil. Salinitas di
setiap laut berbeda-beda.
Faktor-faktor yang menyebabkan
perbedaan kadar garam di setiap perairan
laut adalah sebagai berikut :
Kadar penguapan
Curah hujan
Banyak sedikitnya air tawar yang masuk ke laut
Banyak sedikitnya cairan es yang masuk ke
dalam laut
Arus laut.
3. Kecerahan (warna) air laut
Warna air laut bergantung kepada zat
terlarut yang ada di dalamnya. Zat ini
dapat berupa : endapan dan organisme
yang hidup di dasar laut dan pengaruh
gelombang elektromagnetik dari
matahari.
Warna air laut antara lain :

Biru : disebabkan oleh sinar matahri yang


bergelombang pendek (biru) dipantulkan
lebih banyak daripada sinar lain
Kuning : di dasar laut terdapat lumpur
kuning yang diangkut Sungai
Kuning (hoang-Ho)dari daratan Indo
China.
Hijau: terdapatnya lumpur hijau
Putih: terdapat es
Ungu: adanya organisme yang
mngeluarkan sinar-sinar fosfor
Hitam: adanya lumpu tanah chernozem
Merah: terdapatnya binatang-binatang
kecil berwarna merah.
Klasifikasi Laut menurut Zona Kedalamannya/kemampuan
cahaya matahari menembus dasar laut,

Wilayah laut pasang surut (litoral)


Wilayah laut dangkal(Neritis)
Wilayah laut dalam (batyal)
Wilayah laut sangat dalam (abysal)
Suhu yg sesuai utk kehidupan
Ikan
No Jenis Ikan Suhu ( C) No Jenis Ikan Suhu (C)
1. Karper/Mas 20 25 9. Jelawat 25 27

2. Tawes 25 33 10. Toman 20 31,7

3. Nilem 18 28 11. Nila 14 38

4. Tambakan 25 30 12. Mujahir 25 30

5. Gurami 24 28 13. Bandeng 15 30

6. Sepat Siem 25 30 14. Kerapu 27 32

7. Gabus 28 31 15. Bubara 26 36

8. Patin 28 - 32 16. Kakap 28 30


Suhu dan Pertumbuhan Ikan
Pertumbuhan ikan y g baik memerlukan suhu 25 29 C
dan perbedaan suhu siang dan malam tidak lebih dari 5
C.
Pada suhu < 15 C ikan sudah tidak dapat tumbuh dg
baik
Pada suhu < 11 C dan > 42 C : ikan mati
Daerah tropis memiliki suhu air lebih rendah dibandingkan
suhu air laut di daerah subtropis. Hal ini karena faktor
keawanan yang menutupi di daerah tropis banyak awan yang
menutupi dibandingkan dengan di daerah subtropik. Awan
banyak menyerap sinar datang dan menimbulkan nilai
kelembaban udara yang tinggi.
Teluk Palabuhan Ratu dan sekitarnya berkisar antara 28 - 31C
sebagaimana suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Teluk Palabuhan Ratu variasi suhu lapisan permukaan adalah
21C (Pariwono et al. 1988).
Sebaran suhu secara vertikal di
Perairan Indonesia
1. lapisan epilimnion : lapisan hangat di bagian paling atas
dimana pada lapisan ini gradien suhu berubah secara
perlahan,
2. lapisan termoklin : lapisan dimana gradien suhu berubah
secara cepat sesuai dengan pertambahan kedalaman,
3. lapisan hipolimnion : lapisan dingin di bawah lapisan
termoklin di mana suhu air laut konstan sebesar 4oC.

Pada lapisan termoklin , suhu menurun 0.1oC untuk setiap


pertambahan kedalaman 1 m (Nontji 1987).
Wilayah Laut yg Dapat Ditembus Cahaya
Matahari
Wilayah ekosistem laut sangat terbuka sehingga pengaruh
cahaya Matahari sangat besar.
Daya tembus cahaya Matahari ke laut terbatas, sehingga
ekosistem laut terbagi menjadi dua daerah :

1. Fotik : daerah laut yg masih dapat ditembus cahaya


Matahari (0 200 m)
2. Afotik : daerah laut yang gelap gulita

Di antara keduanya terdapat daerah remang2 cahaya yg


disebut daerah disfotik
Berdasarkan jarak dari pantai dan kedalamannya
ekosistem laut dibedakan menjadi :

1. Zona litoral
2. Zona neritik
3. Zona oseanik.
1. Zona litoral/ekosistem perairan dalam
Komunitas ekosistem perairan dalam di Indonesia belum
banyak diketahui secara pasti. Komunitas yg ada hanya
konsumen dan pengurai, tidak terdapat produsen karena
pada daerah ini cahaya Matahari tidak dapat tembus.
Makanan konsumen berasal dari plankton yg
mengendap dan vektor yg telah mati. Jadi, di dalam laut
ini terjadi peristiwa makan dan dimakan. Hewan-hewan
yg hidup di perairan dalam warnanya gelap dan
mempunyai mata yg indah yg peka dan mengeluarkan
cahaya.
Daur mineralnya terjadi karena gerakan air dalam pantai
ke tengah laut pada lapis atas. Perpindahan air ini
digantikan oleh air dari daerah yang terkena cahaya,
sehingga terjadi perpindahan air dari lapis bawah ke
atas.[1]
2. Zona neritik/ekosistem pantai pasir dangkal

Komunitas ekosistem pantai pasir dangkal terletak di


sepanjang pantai pada saat air pasang. Luas wilayahnya
mencakup pesisir terbuka yg tidak terpengaruh sungai
besar atau terletak di antara dinding batu yg
terjal/curam.
Komunitas di dalamnya umumnya didominasi oleh
berbagai jenis tumbuhan ganggang dan atau rerumputan

Jenis ekosistem pantai pasir dangkal ada tiga, yaitu


1. Ekosistem terumbu karang
2. Ekosistem pantai batu
3. Ekosistem pantai lumpur
3. Zona oseanik

Zona oseanik merupakan wilayah ekosistem


laut lepas yg kedalamannya tidak dapat
ditembus cahaya Matahari sampai ke dasar,
sehingga bagian dasarnya paling gelap.
Akibatnya bagian air dipermukaan tidak
dapat bercampur dengan air dibawahnya,
karena ada perbedaan suhu. Batas dari
kedua lapisan air itu disebut daerah
Termoklin, daerah ini banyak ikannya
Secara vertikal/ kedalaman dibedakan :

1. Epipelagik
2. Mesopelagik
3. batio pelagik
4. abisal pelagik
5. hadal pelagik.
1. Zona Eufotik/photic

Memiliki rentang dari permukaan laut s/d


kedalaman di mana cahaya masih
memungkinkan untuk keberlangsungan
proses fotosintesis
Disebut : Zona Epipelagis (0-150 meter)
2. Zona Disfotik

Terdapat dibawah zona eufotik dimana


cahaya yang ada sudah terlalu redup
untuk mendukung proses fotosintesis
Disebut Zona Mesopelagis (150-1.000 m)
3. Zona Afotik

Zona yang paling bawah dan merupakan zona


yang gelap gulita sepanjang masa, umumnya
terdapat pada kedalaman >1.000 meter

Afotik dibagi menjadi 3 kedalaman:


Zona Batipelagis yaitu 150/1.000 3.000 m
Zona Abisal yaitu 3.000 6.000 m
Zona Hadal yaitu > 6.000 m
Cahaya berpengaruh besar dalam orientasi migrasi ikan.
Arah migrasi ikan secara muda dapat berhubungan
dengan siklus diurnal dan cahaya matahari. Contoh: ikan
salmon berenang diwaktu siang hari dan istirahat
didasar lautan pada malam hari. Sedang belut laut
keluar dari dasar laut diwaktu sore hari dan malam hari,
kemudian memasuki dasar lautan lagi disiang hari
(Brotowijaya, 1999).
Suhu Permukaan Laut
Setiap spesies ikan mempunyai kisaran suhu yang sesuai
dengan lingkungan untuk makan, memijah dan aktifitas lainnya.
Sebagian besar organisme laut (kecuali burung dan mamalia
laut) bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi oleh
lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan
penyebaran organisme.
Gunarso (1985) mengatakan bahwa SPLoptimum untuk
penangkapan ikan cakalang di perairan Indonesia adalah 28
29 oC. SPL memegang peranan dalam penentuan daerah
penangkapan ikan.
Suhu permukaan laut
Suhu permukaan laut dipengaruhi oleh panas matahari,
arus permukaan, keadaan awan,
upwelling, divergensi dan konvergensi terutama pada
daerah muara dan sepanjang garis pantai ( Hela dan
Laevastu, 1981).
Faktor-faktor meteorologi juga berperan yaitu curah
hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara,
kecepatan angin dan intensitas radiasi matahari.
Variasi suhu musiman pada permukaan untuk daerah
tropis sangat kecil, dimana variasi rata-rata musiman
kurang dari 2oC yang terjadi di daerah khatulistiwa.
Variasi Suhu Perairan
Suhu perairan bervariasi baik secara vertikal
maupun horizontal. Secara horizontal suhu bervariasi
sesuai dengan garis lintang dan secara vertikal sesuai
dengan kedalaman.
Variasi suhu secara vertikal di perairan Indonesia pada
umumnya dapat dibedakan menjadi tiga lapisan :
1. lapisan homogen (mixed layer) di bagian atas,
2. lapisan termoklin di bagian tengah
3. lapisan dingin di bagian bawah.
Lapisan Suhu Di Perairan
1. Lapisan homogen :
kedalaman 50-70 m, pada lapisan ini terjadi
pangadukan air yang mengakibatkan suhu lapisan
menjadi homogen (sekitar 28oC),
2. lapisan termoklin merupakan lapisan dimana suhu
menurun cepat terhadap kedalaman, terdapat pada
lapisan 100-200 m.
3. Lapisan dingin biasanya kurang dari 5oC, terdapat pada
kedalaman > 200 meter.
Cahaya Matahari pada
kedalaman
Kegelapan warna cahaya matahari di lautan terjadi
secara berlapis-lapis, yg disebabkan air menyerap
warna pada kedalaman yg berbeda-beda.
Kegelapan di laut dalam semakin bertambah seiring
kedalaman laut, hingga didominasi kegelapan pekat yg
dimulai dari kedalaman >200 m.
Cahaya tidak dapat masuk sama sekali pada kedalaman
mulai dari 1000 meter dan kegelapannya berlapis-lapis.
Tembusan cahaya berbanding terbalik dengan
bertambahnya kedalaman.
Air yang jernih tampak berwarna biru
karena, panjang gelombang yang pendek
(seperti biru) lebih sedikit diserap dan
lebih banyak dihamburkan. Tetapi kita
tidak dapat melihat warna biru pada air di
dalam gelas karena lapisan air yang
terdapat di segelas air tidak cukup untuk
untuk menyerap warna cahaya yang
diterima.
Plankton, biota laut lainnya serta zat organic
terlarut yang dalam istilah Jerman disebut
gelbstoff. Materi materi inilah yang
menyebabkan penyerapan cahaya matahari
sehingga hanya menyisakan warna dark blue
pada lautan. Selain penyerapan atau adsorpsi
cahaya, warna laut juga disebabkan oleh
penghamburan cahaya oleh makhluk makhluk
mikro di laut seperti fitoplankton (tumbuhan sangat
kecil) dan zooplankton (hewan sangat kecil).
Semua faktor tersebutlah yang menyebabkan warna laut
menjadi biru cerah kehijauan di daerah perairan laut
tropis termasuk di Indonesia.
Cahaya matahari yang berlimpah dan iklim panas sangat
baik bagi pertumbuhan plankton, dan hal ini lebih
menguatkan lagi untuk pembentukan warna cerah
kehijauan di laut. Pantulan dari langit sebenarnya juga
berperan tetapi hanya berperan kecil.
Cahaya matahari terdiri dari tujuh warna (merah,
oranye, kuning, hijau, biru, nila, violet).
Masing-masing warna memiliki panjang
gelombang yang berbeda. Hal ini berpengaruh
pada kemampuan cahaya untuk menembus air
Cahaya warna merah
Cahaya warna merah mampu terserap pada kedalam
kurang dari 20 meter, lebih dari itu warna merah tidak
lagi nampak. Disinilah muncul kegelapan warna merah.
Sebagai contoh, ada seorang penyelam yang terluka
dan berdarah di kedalaman 25 meter maka darah yang
terlihat bukan lagi berwarna merah melainkan warna
hitam. Ini dikarenakan warna merah sudah tidak mampu
menembus kedalaman tersebut.
Cahaya Oranye, Kuning, Hijau dan Biru

Cahaya warna oranye terserap pada kedalaman sekitar


30 meter, setelah ada kegelapan warna merah maka
dibawahnya ada kegelapan warna oranye.
Cahaya warna kuning dapat terserap pada kedalam
sekitar 50 meter.
Cahaya warna hijau dapat terserap pada kedalaman
sekitar 100 meter.
Pada kedalaman 200 meter cahaya warna biru terserap
dan begitu seterusnya.
Panjang gelombang Dari Cahaya Tampak
(visible light)
Panjang Gelombang Warna
400 440 nm Violet
440 480 nm Biru
480 560 nm Hijau
560 590 nm Kuning
590 630 nm Oranye
630 700 nm Merah
Dengan demikian, terciptalah kegelapan warna cahaya
matahari di lautan secara berlapis-lapis, yg disebabkan
air menyerap warna pada kedalaman yang berbeda-
beda.
Kegelapan di laut dalam semakin bertambah seiring
kedalaman laut, hingga didominasi kegelapan pekat
yang dimulai dari kedalaman lebih dari 200 m.
Cahaya tidak dapat masuk sama sekali pada kedalaman
mulai dari 1000 meter dan kegelapannya berlapis-lapis.
Tembusan cahaya berbanding terbalik dengan
bertambahnya kedalaman.
Plankton, biota laut lainnya serta zat organic terlarut yang dalam
istilah Jerman disebut gelbstoff. Materi materi inilah yang
menyebabkan penyerapan cahaya matahari sehingga hanya
menyisakan warna dark blue pada lautan.
Selain penyerapan atau adsorpsi cahaya, warna laut juga
disebabkan oleh penghamburan cahaya oleh makhluk makhluk
mikro di laut seperti fitoplankton (tumbuhan sangat kecil) dan
zooplankton (hewan sangat kecil). Semua faktor tersebutlah yang
menyebabkan warna laut menjadi biru cerah kehijauan di daerah
perairan laut tropis termasuk di Indonesia. Cahaya matahari yang
berlimpah dan iklim panas sangat baik bagi pertumbuhan plankton,
dan hal ini lebih menguatkan lagi untuk pembentukan warna cerah
kehijauan di laut. Pantulan dari langit sebenarnya juga berperan
tetapi hanya berperan kecil.
Air yang jernih tampak berwarna biru
karena, panjang gelombang yang pendek
(seperti biru) lebih sedikit diserap dan
lebih banyak dihamburkan. Tetapi kita
tidak dapat melihat warna biru pd air di
dalam gelas karena lapisan air yg terdapat
di segelas air tidak cukup untuk untuk
menyerap warna cahaya yg diterima.
Ekosistem Laut
ekosistem yg terdapat di perairan laut, terdiri atas ekosistem
perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal/bitarol, dan
ekosistem pasang surut.

Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri umum sbb :


Memiliki salinitas tinggi, semakin mendekati khatulistiwa
semakin tinggi.
NaCl mendominasi mineral ekosistem laut hingga mencapai
75%.
Iklim dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada ekosistem laut.
Memiliki variasi perbedaan suhu di permukaan dengan di
kedalaman.
Ekosistem laut juga berperan penting bagi lingkungan di daratan.
50% oksigen yg dihisap organisme di daratan berasal dari
fitoplankton di lautan. Habitat pantai (estuari, hutan bakau, dan
sebagainya) merupakan kawasan paling produktif di bumi.
Ekosistem terumbu karang menyediakan sumber makanan dan
tempat berlindung bagi berbagai jenis organisme dengan
keanekaragaman hayati tingkat tinggi di lautan.

Ekosistem lautan pada umumnya memiliki tingkat keanekaragaman


hayati yang tinggi sehingga diperkirakan memiliki ketahanan yg baik
terhadap spesies invasif. Namun beberapa kasus yg melibatkan
spesies invasif telah ditemukan dan mekanisme yg menentukan
kesuksesan spesies invasif ini belum dipahami secara pasti.[4]
Sebaran Ikan Tuna Berdasarkan Suhu dan Kedalaman
di Samudera Hindia
Abram Barata*, Dian Novianto dan Andi Bahtiar
ILMU KELAUTAN September 2011. Vol. 16 (3) 165-170

Tuna jenis yellowfin didominasi 80 % berukuran >100 cm


berada pada kedalaman 85,73-167,80 m dg suhu 22,20-
26,40 C,
Bigeye didominasi 60 % berukuran >100 cm berada
pada kedalaman 193,97-470,12 m dg suhu 8,35-15,30 C
Albacore didominasi 64 % berukuran >100 cm pada
kedalaman 85,73-124,74 m dengan suhu 21,41-26,40 C
Bluefin berukuran >100 cm tertangkap pada kedalaman
190,15-194,21 m dg suhu 14,99-15,12 C
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi
secarahorizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan kedalaman.
Suhumerupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur proses kehidupan dan
penyebaranorganisme. Proses kehidupan yang vital yang secara kolektif disebut
metabolisme,
hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang relative sempit biasanya antara 0-
40C, meskipundemikian bebarapa beberapa ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu
sampai 85C.Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan,
karena suhumempengaruhi baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme
tersebut. Olehkarena itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan
yang terdapat
di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada yangme
mpunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat
euryterm.Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm. Sebagai
contoh ikandi daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang rendah,
sedangkan ikan didaerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu optimum dibutuhkan
oleh ikan untuk

Toleransi Ikan terhadap Suhu


Selain itu, suhu juga sangat penting bagi kehidupan organisme di
perairan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas maupun
perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena itu, tidak
heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang
terdapat
di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terha
dap suhu. Ada yangmempunyai toleransi yang besar terhadap
perubahan suhu (bersifat euryterm) ,yang toleransinya kecil
(bersifat stenoterm).
Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu
mentolerir suhu yang rendah, sedangkan ikan didaerah tropis
menyukai suhu yang hangat.
Suhu Dan Pertumbuhan Ikan
Ikan yang berada pada suhu yang cocok, memiliki selera
makan yang lebih baik.
Sverdrup, et al,(1942) dikutip oleh Inrawati (2000) suhu merupakan
parameter
yang penting dalam lingkungan laut dan berpengaruh secara langsu
ng maupun tidak langsung terhadap kehidupan di laut.
Pengaruh suhu secara langsung terhadap kehidupan di laut adalah
dalam hal laju fotosintesa tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi
hewan, khususnya aktivitas metabolisme dan siklus reproduksi.
Secara tidak langsung suhu berpengaruh terhadap dayalarut
oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Daya larut
oksigen berkurang, jika suhu naik, dan sebaliknya kandungan
kabondioksida bertambah
Nontji (1987), menyatakan suhu merupakan parameter
oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan
terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya h
ayati laut pada umumnya.
Hela dan Laevastu (1970), hampir semua populasi ikan
yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk
kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum
dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan
kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan
untuk tujuan perikanan
Nybakken (1988), sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubu
h dipengaruhilingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang
sangat pentingdalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran
organisme. Sesuai apa yg
dikatakan Nybakken pada tahun 1988 bahwa Sebagian besar organisme la
ut bersifat poikilotermik (suhu tubuh sangat dipengaruhi suhu massa air
sekitarnya), oleh karenanya pola penyebaranorganisme laut sangat
mengikuti perbedaan suhu laut secara geografik. Berdasarkan penyebaran
suhu permukaan
laut dan penyebaran organisme secara keseluruhan maka dapatdibedakan
menjadi 4 zona biogeografik utama yaitu: kutub,tropic,beriklim
sedang panas,beriklim sedang dingin.

Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan


adalah dalam prosesmetabolisme, seperti pertumbuhan dan
pengambilan makanan, aktivitas tubuh, sepertikecepatan renang,
serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah
laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat
mempercepat atau memperlambatmulainya pemijahan pada
beberapa jenis ikan.
Suhu air dan arus selama dan
setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang
paling penting yang menentukan kekuatan
keturunandan daya tahan larva pada spesies-
spesies ikan yang paling penting secara
komersil.
Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground)
selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk
memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut.
Suhu berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan,
mulai dari telur, benih sampai ukurandewasa.
Suhu air akan berpengaruh terhadap proses penetasan
telur dan perkembangan telur.
Rentang toleransi serta suhu optimum tempat
pemeliharaan ikan berbeda untuk
setiap jenis/spesies ikan, hingga stadia pertumbuhan yg
berbeda.
Suhu memberikan dampak sbb terhadap
ikan :

Suhu dapat mempengaruhi aktivitas makan ikan peningkatan suhu


Peningkatan aktivitas metabolisme ikan
Penurunan gas (oksigen) terlarut
Efek pada proses reproduksi ikan
Suhu ekstrim bisa menyebabkan kematian ikan.
Suhu merupakan parameter fisik air laut yang sangat berpengaruh
terhadap kehidupan dilaut terutama terhadap laju fotosintesa
dan proses fisiologi hewan, khususnya derajat metabolisme dan
siklus reproduksi dan secara tidak langsung berpengaruh
terhadapdaya larut oksigen yang digunakan untuk respirasi biota
laut.

Suhu Air Laut

Suhu Air Laut pada Perairan Indonesia yang terletak di daerah tropik, maka
hampir sepanjang tahun suhu lapisan permukaan air lautnya tinggi, berkisar 26
C 30 C. Perubahan temperatur (amplitudo) air laut, kecil karena air laut lambat
menjadi panas dan lambat menjadi dingin. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor:
Air laut selalu bergerak sehingga panas yang diterimanya dijalarkan dan disebar
kemana-mana.
Permukaan air laut bertindak sebagai cermin sehingga panas matahari yang
diterimanya dipantulkan kembali. Sedangkan panas yang diterima air sebagian
digunakan untuk penguapan.
Pada malam lambat menjadi dingin karena:
- Uap air di atas permukaan air laut yang telah menjadi dingin menghalangi
pelepasan panas.
- Permukaan air laut yang mengkilat menghalangi pelepasan panas.
Suhu air laut makin ke dalam makin turun temperaturnya, pada kedalaman lebih
kurang 4.000 meter, temperaturnya antara 1 C 2 C.
- See more at: http://acep-cyber.blogspot.com/2012/06/perairan-laut-
geografi.html#sthash.AhNc0XAd.dpuf
3.Ekosistem air laut

Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang.
1. Laut
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi
dengan ion Cl- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena
suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar
25C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan
air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah
disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka
daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan.
Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke
bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentulazya rantai
makanan.
Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah
permukaannya secara horizontal.
. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi
sebagai berikut.
a)Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan
darat.
b) Neritik merupakan daerah yang masih dapat ditembus
cahaya matahari sampai bagian dasar, dalamnya 300
meter.
c) Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar
antara 200-2.500 meter.
d) Abisal merupakan daerah yang lebih jauh clan lebih
dalam dari pantai (1.500-10.000 m).
2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari
tepi laut, laut dibedakan sebagai berikut.
a) Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air
sekitar 200 m.
b) Mesopelagik merupakan daerah di bawah epipelagik dengan kedalam
an 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
c) Batiopelagik merupakan daerah jereng benua dengan kedalaman 200-
2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
d) Abisalpelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000
m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak
mampu menembus daerah iii. e) Hadal pelagik merupakan bagian laut
terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya
terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai
produser di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang ter
tentu.