Anda di halaman 1dari 19

Analisis Persebaran Batuan

Dangkal dengan Metode


Resistivitas Wenner di
Lapangan Pertamina ITS

Nama Anggota:
Margiasih Putri Liana 11111100001
Philin Yolanda Dwi S 11111100003
Irmayatul Hikmah 11111100005
Asdi Prasetyo 11111100013
Gita Ayu 11111100014
Ayu Jati Puspita 11111100016
Friska Ayu Fitrianti 11111100017
Perbedaan sifat kelistrikan
memiliki respon berbeda
Struktur lapisan terhadap arus yang diberikan
batuan melalui metode geolistrik
mempunyai sifat
kelistrikan yang
Perbedaan respon digunakan
ada dalam batuan
sebagai data acuan untuk
itu sendiri. menentukan lapisan yang ada di
bawah permukaan dan kondisi
bawah permukaan melalui harga
resistivitas yang didapatkan.

I. PENDAHULUAN
Batuan dan mineral yang ada di
bumi memiliki sifat-sifat listrik
seperti; potensial listrik alami,
konduktivitas listrik, dan konstanta
dielektrik.

Geolistrik adalah salah satu


metode dalam geofisika yang
mempelajari sifat aliran listrik
di dalam bumi

II. DASAR TEORI


Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu metode
dalam bidang Geofisika yang digunakan untuk menyelidiki
lapisan bawah permukaan (subsurface prospecting method)
dangkal berdasarkan tingkat resistivitas batuannya di
bawah permukaan bumi, dilakukan dengan cara
menginjeksikan arus melalui elektroda

Resistivitas yang dihasilkan


bukanlah nilai sebenarnya,
melainkan resistivitas semu

II. DASAR TEORI


Gambar 1. Pola aliran dan bidang ekipotensial

I. DASAR TEORI
Gambar 2. Konfigurasi Wenner
I. DASAR TEORI
Material bumi resistivitas
WENNER Air (udara) 0
Pirit 0.01-100
Kuarsa 500-800.000
Kalsit 1012-1013
Garam batu 30-1013
Granit 200-100.000
Andesit 1,7x102-45x104
Basal 200-100.000
Gamping 500-10.000
Batu pasir 200-8.000
Batu tulis 20-2.000
Pasir 1-1000
Lempung 1-100
Air tanah 0.5-300
Air asin 0.2
Magnetit 0.01-1000
Kerikil kering 600-10000
Alluvium 10-800
Kerikil 100-600
II. DASAR TEORI
1.Tolong masukkan gambart desain line2nya yang ada di depan
lapangan pertamina.
2. Masukkan gambar2 alat dan bahan yang dibutuhkan..nanti
gag usah ada kata-kata yaaaa.

III. METODOLOGI
Struktur Geologi
pada daerah depan pertamina ITS adalah berupa tanah rata
dan berupa alluvial. Tanah ITS dulunya merupakan rawa.
Tanah rawa yang sekarang berubah menjadi tanah berupa
tanah urukan. Namun pada lapisan atasnya tanah di
lapisan permukaan sangat padat(padas), tanah yang sangat
kering dan banyak kerikil-kerikil.

tanah tidak bersifat homogen sehingga nilai resisitivitas yang


diperoleh merupakan nilai resistivitas yang mewakili nilai
resisitivitas seluruh lapisan yang terlalui garis ekipotensial.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 3. Model inversi 2 dimensi lintasan 1 pada tanah depan
lapangan pertamina ITS
eror pengolahan datanya adalah sebesar 3.8%. lapisan atas
(top soil) karena memiliki restivitas antara 27.8-71.8
pada kedalaman 0.775 meter . Pada 4.30 meter lebih
dominan berisi pasir dan alluvium. Pada kedalaman
1.353meter hingga 3.46 meter pada bentangan 9.58 meter
maka didapatkan data yang menunjukkan tanah lempung
yang basah(lembab) namun pada bentangan 17.5meter-
33.5meter adalah dicurigai sebagai air asin. Air ini
kemungkinan besar adalah air payau karena pada dasarnya
adalah dahulunya rawa. Distribusi aliran air asin ini
kontinyu. Sehingga kemungkinan besar adalah air laut yang
asin yang terjebak karena hasil tanah urukan sebelumnya.
Gambar 4. Model inversi 2 dimensi lintasan 2 pada tanah tanah
depan lapangan Pertamina ITS
eror paling besar bila dibandingkan dengan line 1 dan line 3.
lapisan atas (top soil) pada bentangan 1.5meter hingga
41.5meter dengan kedalaman hingga 0.775 meter merupakan
pasir yang basah dan alluvium. kondisi lingkungannya hujan.
Kemungkinan struktunya menjadi lembek. Pada kedalaman
1.35meter hingga 1.99meter adalah tanah pasir kering dan
kerikil-kerikil kecil dan tanah lempung. Pada kedalaman
2.69meter hingga 4.30 meter pada bentangan 9.50 meter
adalah berupa batuan basal dan batuan granit. Batuan ini
merupakan batuan yang bersala dari batuan asal daerah yang
menempati wilayah ini. Namun pada bentangan 17.5 meter
hingga 25.5 dicurigai adalah air asin(air payau). Air ini wajar
karena keadaan lokasi sebelumnya adalah rawa.
Gambar 5. Model inversi 2 dimensi lintasan 3 pada tanah depan
lapangan Pertamina ITS
eror yang didapatkan adalah sebesar 2.8%. Pada lapisan
atas(top soilnya) hingga kedalaman 0,775meter dan
kedalaman 4.30 meter dengan bentangan maksimum sebesar
41.5 meter merupakan pasir dan lempung. Namun pada
lapisan ini juga adalah lapisan alluvium yang hasil
tersedimentasi oleh pengendapan sebelumnya. Namun tanah
ini merupakan tanah urukan. Pada kedalaman 1.3 meter
hingga 3.46meter kemungkinan besar adalah air asin. Namun
air asin ini terjebak pada satu lokasi-lokasi tertentu missal
pada bentangan titik 33.5 meter. Ini terpisahkan oleh lempung
basah. Namun ini juga tercampur oleh pirit dan air hujan.
Gambar 5. Model inversi 2 dimensi lintasan 3 pada tanah depan lapangan Pertamina ITS

Gambar 6. Hubungan model inverse 2 dimensi pada masing-


masing line di lapangan pertamina ITS
Dari hubungan tersebut didapatkan bahwa sebagaian besar
interpretasinya menunjukkan bahwa anomaly yang terjadi
merupakan air asin(air payau). Yang merupakan hasil dari air
laut yang terjebak pada daerah rawa yang sudah ditindih oleh
tanah urukan.
semakin besar nilai resisitivitasnya berarti kondisi batuan
atau tanah semakin berongga atau memang merupakan
terdiri dari material yang sulit dilewati listrik. Sedangkan
untuk nilai resisitivitas yang kecil menunjukkan struktur
tanah semakin padat dan dapat mengalirkan arus listrik
dengan lebih baik

Struktur tanah pada daerah depan lapangan pertamina ITS


memiliki lapisan yang beramacam macam, yang sebagaian
besar adalah pasir dan kerikil yang termasul aluvial.
Anomaly terbesar menunjukkan bahwa adanya air asin(air
payau) yang terjebak oleh tanah

V. KESIMPULAN
TERIMAKASIH

Beri Nilai