Anda di halaman 1dari 25

ADMINISTRATIVE REFORM

(GERALD E CAIDEN)
Kelompok 1 :
Aryo Martanto
Ari
Dipta
Ela Nurlaela
Ikhwan Julia
Reno Palupi
Salman Al Farisi
ADMINISTRATIVE REFORM
(GERALD E CAIDEN)
Gerald Caiden lahir di London pada tahun 1936
dan belajar di London School of Economics and
Political Science, di mana dia mendapatkan gelar
doktornya di bidang pemerintahan komparatif.
Dia telah mengajar di The Australian National
University, Canberra, dan The Hebrew University of
Jerusalem dan saat ini adalah profesor di School of
Policy, Planning, and Development di University of
Southern California.
Profesor Caiden melakukan kerja lapangan dalam
perbandingan administrasi publik di Kanada,
Australia, India dan Israel.
Caiden merupakan anggota Panel Pakar PBB dalam
Administrasi Publik dan Pembangunan dan sejak
tahun 1994
Latar Belakang
Reformasi administrasi sebagai the artificial inducement
of administrative transformation against resistance,
dimana dapat diartikan bahwa reformasi administrasi
merupakan keinginan atau dorongan yang dibuat agar
terjadi perubahan atau transformasi di bidang
administrasi.

Reformasi administrasi sebagai upaya yang terus


menerus untuk meningkatkan kinerja (performance) dan
kegiatan untuk melakukan perbaikan atas kesalahan yang
dilakukan (correction of wrong doing)

Reformasi administrasi merupakanPeningkatan sistemik


kinerja operasional sektor publiksecara terencana
(Caiden,1991).
Ide untuk melakukan reformasi muncul ketika terjadi
penyimpangan, ketidak wajaran ketidakpuasan atau
kekecewaan, ketidak-senangan, keterasingan,
penderitaan dan lain sebagainya dan tujuannya adalah
untuk menuntut perbaikan kinerja.

Reformasi administrasi itu tidak hanya sekedar


perubahan yang bernuansa internal manajerial, tetapi
lebih merupakan perubahan di sektor publik dan
pemerintah yang bersifat terencana, instrumental dan
organisasional dalam rangka memenuhi atau
menyesuaikan diri dengan perubahan tuntutan
lingkungannya.

Reformasi administrasi ini akan terjadi tidak saja untuk


meningkatkan kinerja birokrasi pemerintah tetapi juga
untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan
pemerintah dalam memenuhi harapan-harapan dan
Caiden (1991) yang mengungkapkan alasan
beberapa alasan reformasi karena kelembagaan
aparat masih jauh dari kapasitas potensialnya,
organisasi cenderung konservatif, dan inovasi
lambat.

Alasan Caiden ini mengindikasikan bahwa persoalan


reformasi administrasi adalah persoalan teknis, tidak
memposisikan suatu negara yang memiliki suhu
politik yang bergejolak. Padahal reformasi
administrasi yang menggunakan beberapa
instrumen yang memiliki nilai kontradiktif satu sama
lain dalam dirinya sendirikarena nilai dari
organisasi publik dan private yang digeneralisasi
ternyata telah membuka peluang permainan politik.
Prinsip-Prinsip Reformasi Administrasi
Reformasi administrasi sebagai the artificial inducement of
administrative transformation againts resistance. Dalam pengertian ini
reformasi dirancang dan didisain untuk melakukan perubahan secara
fundamental, disengaja, direkayasa, dan dengan fokus yang terarah.
Reform adalah perbaikan, yakni membentuk sesuatu yang baru
dan mendasar. Pada tataran ini reformasi lebih bersifat holistik dan
mendasar (internal-eksternal).Secara tradisional reformasi administrasi
bertujuan untuk memperbaiki administrasi akibat male-administration
pada masa yang lalu.
Reformasi administrasi bukan hanya perubahan organisasi. Reformasi
administrasi adalah untuk melawan status-quo dengan cara
menghilangkan kesalahan-kesalahan yang menjadi penyakit
administrasi. Tujuan reformasi lebih subyektif dan evaluatif, yakni
untuk mencapai standar kinerja tertentu dan progresif tidak hanya
bergerak dalam satu arah. Reformasi dilakukan untuk merespon
berbagai macam resistensi yang dihadapi pemerintah.
Prinsip-Prinsip Reformasi Administrasi
Reformasi administrasi adalah kekuatan dari
politik praktis (power of politic in action) yang
berisikan hal-hal seperti rasionalisasi ideologis,
berjuang mempertahankan wilayah, pelayanan,
dan seterusnya.Para aktor dan masyarakat
merubah cara-cara berpikir, bersikap-tindak, dan
bahkan cara berperasaan dalam suatu fenomena
administratif. Dengan kekuatan itu baik
administrator maupun masyarakat mampu
mengontrol teritori, pelayanan, orang-orang,
strategi kampanye, kompromi dan konsesi
mereka untuk kesejahteraan bersama.
Prinsip-Prinsip Reformasi Administrasi
Kekuatan tersebut menjadi simbol situasi administratif yang
efisien, efektif, dan responsif dalam suatu organisasi. Politik
praktis adalah kekuasaan aktor yang memiliki potensi besar
dalam mengelola institusi pemerintahan. Reformasi
administrasi, dengan demikian, menyangkut berbagai aspek
kehidupan bersama, sebagai instrumen politik praktis dalam
merubah paradigma pelayanan birokrasi dari suatu format ke
bentuk yang lain. Reformasi administrasi versi Caiden lebih
merupakan bagian dari pembangunan politik suatu bangsa.
Perubahan kemasyarakatan itu mencakup aspek-aspek
pembangunan sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Dengan
demikian, situasi administrasi memungkinkan dimanfaatkan
aktor sebagai sarana social enggineering untuk membangun
atau merubah kondisi pelayanan atau kesejahteraan publik.
3 Unsur Reformasi Administrasi
Reformasi administrasi merupakan usaha
yang dibuat oleh manusia, tidak bersifat
otomatis ataupun alamiah.

Reformasi administrasi merupakan suatu


proses.

Adanya resistensi yang beriringan dengan


proses reformasi administrasi.
Tujuan Internal
Reformasi Administrasi
Efisiensi administrasi dalam arti penghematan uang,
yang dapat dicapai melalui penyederhanaan
formulir, perubahan prosedur, penghilangan
duplikasi dan kegiatan organisasi metode yang lain.

Penghapusan kelemahan atau penyakit administrasi


seperti korupsi, pilih kasih dan sistem teman dalam
sistem politik dan lain-lain.

Pemrosesan data melalui sistem informasi yang


otomatis,peningkatan penggunaan pengetahuan
ilmiah dan lain-lain.
Tujuan lain yang berkaitan dengan
masyarakat
Menyesuaikan sistem administrasi terhadap meningkatnya
keluhan masyarakat.
Mengubah pembagian pekerjaan antara sistem
administrasi dan sistem politik, seperti misalnya
meningkatkan otonomi profesional dari sistem
administrasi dan meningkatkan pengaruhnya pada suatu
kebijaksanaan.
Mengubah hubungan antara sistem administrasi dan
penduduk, misalnya melalui relokasi pusat-pusat
kekuasaan.
Menurut Caiden (1969), tugas dari para pelaku reformasi
administrasi adalah untuk meningkatkan kinerja
administrasi bagi individual, kelompok, dan institusi dan
memberikan masukan tentang cara-cara yang dapat
ditempuh untuk dapat mencapai tujuan dengan lebih
efektif, ekonomis dan lebih cepat
Program Reformasi Administrasi yang harus
diprioritaskan oleh pemerintah di negara-
negara berkembang (Caiden)
1. Privatisasi dan Koproduksi
Privatisasi yang mengalihkan kepemilikan industri dari pemerintah ke
pihak swasta ini secara otomatis dapat mengurangi ukuran
pemerintah, memperlonggar kontrol negara, dan memperingan beban
anggaran publik. Kondisi ini selanjutnya dapat membebaskan
pemerintah dalam melaksanakan detail manajemen sekaligus
mengurangi beban subsidi. Privatisasi dapat menaikkan prospek
perusahaan negara yang tidak menguntungkan, meningkatkan
kinerjanya, dan mengurangi pertentangan dalam hubungan industrial.

2. Debirokrasi
Debirokrasi merupakan upaya untuk menyederhanakan dan
merampingkan birokrasi publik. Debirokrasi tidak ditujukan untuk
menghilangkan birokrasi sama sekali, melainkan untuk
menghilangkan disfungsi birokrasi dan biropatologi
(bureaupathologies), serta mengurangi praktik percaloan antara
publik dan birokrat.
3. Reorganisasi
Reorganisasi mesin pemerintahan seharusnya menjadi
kebutuhan primer dalam proses reformasi administrasi.
Salah satu fokus reorganisasi adalah melaksanakan
konsolidasi di antara unit-unit kerja yang lebih kecil dan
mengintegrasikannya dalam aktivitas tertentu sedemikian
rupa sehingga tidak menciptakan organisasi masif yang
interpersonal, yang kehilangan sentuhan pada publik yang
mereka layani. Integrasi ini juga dapat mengakhiri
kompleksitas kegiatan pemerintahan kontemporer.

Sejumlah negara memutuskan untuk memindahkan pusat


pemerintahan ke tempat lain di luar kota besar yang telah
menjadi basis sebelumnya. Kebijakan ini sejalan dengan
program relokasi unit administrasi keluar dari kota besar,
program dekonsentrasi pegawai publik, dan program
penyebaran investasi secara geografis.
4. Manajemen publik yang lebih efektif
Bersandar pada filosofi baru yang menekankan
kontrol misi, dibutuhkan kualitas dan
keterampilan manajerial baru yang memberikan
kebebasan kepada manajer publik untuk
mengelola. Juga dibutuhkan kepemimpinan baru
yang lebih menekankan kebijakan pengelolaan
dengan pendekatan manajemen inovasi,
dimana evaluasi dan laporan kinerja manajerial
lebih diutamakan daripada kontrol operasional
secara mendetail, serta lebih menekankan
inovasi riset dan redesain terhadap sistem yang
telah usang untuk mencapai sistem manajerial
yang jauh lebih baik.
5. Nilai Uang
Tema sentral kampanye reformasi administrasi pada
dasarnya adalah pemerintah yang tidak menghargai nilai
uang.
Privatisasi memperkenalkan kembali prinsip-prinsip pasar
dan efisiensi ekonomi. Debirokratisasi menghilangkan
hal-hal yang tidak perlu, parasit dan kegiatan
pemerintahan yang tidak produktif
Pentingnya reformasi anggaran lebih-kurang dapat
mempercepat pengadopsian reformasi administrasi
lainnya.
Target reformasi lainnya adalah mengatasi pengeluaran
yang berlebihan dan mencegah pendanaan publik dari
praktik penyalahgunaan wewenang, pemborosan, dam
korupsi. Penghematan dana dapat dicapai jika lubang-
lubang peluang penyalahgunaan kekuasaan ditutup
6. Batasan Reformasi
Reformasi yang realistis juga membutuhkan
pendekatan eksperimental yang pragmatis,
mungkin melibatkan satu kegiatan publik
yang spesifik, atau satu set organisasi publik,
atau satu kelas pekerja publik. Sementara itu,
di luar faktor para ahli, permintaan publik,
hukum dan peraturan baru, organisasi baru,
orang-orang baru dan mekanisme koordinasi
yang baru dapat memberikan sesuatu yang
berarti.
Kesuksesan reformasi tergantung pada
kemampuan operasi organisasi pemerintahan
Kelemahan Dari Pemikiran Caiden

Kelemahan Teori yakni perubahan administrasi dapat membuka


peluang terciptanya kondisi birokrasi yang memihak, menjadi
salah satu tipe birokrasi yang pilih kasih, misalnya. Dengan
kata lain, kekuatan admnistratif boleh jadi dipegang oleh
beberapa orang dari rezim yang sedang berkuasa karena
mereka merasa memberikan saham pada reformasi tersebut.
Sangat mungkin terjadi perpecahan (pembelahan kepentingan)
di kalangan aktor kekuasaan administrasi pemerintah (aktor
yang status quo dan reformer). Untuk mengantisipasi
pemihakan birokrasi yang merugikan masyarakat diperlukan
pengelolaan keseimbangan, suatu manajemen kepentingan
politik yang berimplikasi pada akses sumberdaya ekonomi dan
pelayanan masyarakat oleh pejabat administrasi baik aktor
yang status-quo maupun yang reformis.
Kelemahan Dari Pemikiran Caiden
Reformasi administrasi itu menimbulkan berbagai
konsekuensi, yakni akibat yang manifest dan latent.
Artinya, ada konsekuensi yang intended dan yang
unintended. Salah satu akibat yang tak diharapkan itu
adalah perpecahan di kalangan administrator, ada
pejabat administrasi yang resisten terhadap perubahan
(status-quo) dan mereka yang mendukung perubahan
itu (reformis). Pembelahan semacam ini barang tentu
mengandung potensi konflik yang kental dan
tersembunyi (latency). Ini untuk menunjukkan
reformasi administrasi tidak selalu memberikan hasil
yang memuaskan dalam jangka pendek.
Kelemahan Dari Pemikiran Caiden

Banyak kendala yang dihadapi dan upaya yang diperlukan


untuk mengelola perbedaan atau bahkan pertentangan
(konflik) di antara para administrator atau pejabat
administrasi dalam birokrasi berjalan. Para reformer perlu
menemukan artificial inducement untuk menghadapi
kalangan pejabat administrasi yang resisten atau status-
quo terhadap perubahan. Sebagai upaya untuk
memberikan kepada mereka jaminan dan semangat bahwa
reformasi yang dilakukan membawa kesejahteraan untuk
semua pihak dalam jangka panjang. Startegi pemegang
kekuasaan politik praktis menjadi penting untuk
mendapatkan dukungan bersama meningkatkan
kesejahteraan melalui administrasi pemerintahan.
Keterkaitan teori Caiden
dengan Birokrasi di DKI Jakarta
No Teori Kondisi Riil
1. artificial inducement of Proses dengan UU ASN PNS
administrative Sebagai pelayan masyarakat
transformation against Indikator Kinerja Penyesuaian
resistance. (slide 3) Renumerasi
2. reformasi karena Inovasi : SOTK, Struktur Birokrasi
kelembagaan aparat (merit system)
masih jauh dari kapasitas
potensialnya, organisasi
cenderung konservatif,
dan inovasi lambat. (slide
5)
3. Manajemen publik yang Pembangunan berdasarkan data
lebih efektif (slide 14) (administrative) : membangun fisik
dan manusia
Dampak Administrative
Reform di DKI Jakarta (1)
Internal
Kompetisi jabatan berdasarkan kompetensi
Pendapatan berdasarkan kinerja
Minim penyimpangan dalam pengelolaan anggaran

GG (Tata Pemerintahan Yang Baik)


Transparansi
Responsif
Keadilan
Akuntabilitas
Efektif
Efisien
Dampak Administrative Reform
di DKI Jakarta (2)
Eksternal
ASN orientasi pada pelayanan (bebas pungli,
cepat tanggap akan keluhan Meningkatnya
kepercayaan dan Masyarakat
Pembangunan infrasuktur, ekonomi (PDRB,
Rasio Gini ) dan manusia meningkat (IPM)
Kesimpulan
reformasi itu bukan hanya tataran teknis administratif, tapi
menyangkut simplikasi non-teknis seperti perubahan sosial,
terpenuhinya keadilan politik, dan pertumbuhan ekonomi. Jika
tidak, maka kepentingan elit politik merajalela. Alasannya
karena Ide reformasi selalu datang dari kepentingan ekternal
dan bahkan global, kepentingan global tersebut tidak
selamanya berdimensi tunggal, reformasi administrasi
pastilah produk keputusan politik dan bukan administratif
belaka. Reformasi administrasi yang terbungkus dengan
paradigma-paradigma besar seperti demokratisasi dan
globalisasi langsung maupun tidak mewarnai kebijakan
tataran lembaga-lembaga dan secara langsung berhadapan
dengan rakyat
Saran
Agen Perubahan (Agent of Change), Reformasi aparatur negara adalah
prasyarat mutlak yang diperlukan untuk menjamin berlangsungnya
pengelolaan pemerintahan yang demokratis serta sistem ekonomi yang
dapat menciptakan keadilan sosial bagi semua
Dukungan dan komitmen dari pemimpin politik. secara politik, reformasi
dapat diubah jika kita memiliki otoritas untuk membuat keputusan, dan
memegang kekuasaan.
Lingkungan Sosial dan Ekonomi. pemeberdayaan dari para birokrat muda
(CPNS), hal ini bisa dilakukan bersama-sama dengan para akademisi atau
menjaring kemitraan terutama dalam menjalin mitra sosial tripartit antara
pemerintah, kelompok bisnis, dan para pekerja (birokrat, NGO atau aktivis
lainnya) yang menandai dinamika proses kebijakan di Indonesia karena
tentu saja reformasi administrasi akan mempertemukan birokrasi (pelayan
publik), politisi dan berhadapan dengan rakyat, termasuk pasar juga tak
bisa dipisahkan dari reformasi administrasi
TERIMA KASIH