Anda di halaman 1dari 34

Aplikasi Thermodinamika pada

Proses Alir Tunak

By: Marsya Masyita (2016710450253)


Rara Robiulsani (2016710450286)
Introduction

Penjabaran materi ini merupakan aplikasi dari Hukum


Pertama Thermodinamika yaitu pada analisis aliran tunak untuk
pemakaian rekayasa. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam
pemecahan masalah aplikasi aliran tunak adalah :
1. Kekekalan massa
2. Kekekalan energi atau H. I Thermodinamika
Tujuan dari pembahasan materi ini yaitu mengembangkan
bentuk volume atur (control volume) dari prinsip kekekalan
massa dan H. I Thermodinamika.

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Introduction

Volume Atur
Volume dalam Ruang (daerah) yang diselidiki yang
dibatasi oleh permukaan atur.

Laju Aliran Massa ketika t 0


dmcv
m i m 0 Laju aliran massa sesaat pada sisi masuk dan
dt keluar

Laju perubahan massa yang berada dalam volum


atur pada waktu t

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (1)
Adiabatik, steady state (Tunak), Aliran one-
dimensional (1 Dimensi) pada fluida kompresibel
No shaft work dan tidak ada perubahan pada
energi potensial
Persamaan Energy Balance 1st law
Steady state 0 0 0 0
d (mU ) CV 1 2
H u zg m Q W
dt 2 fs

Perubahan pada enthalpy


1 2
H u 0 dH udu Secara langsung akan
2 berpengaruh pada
perubahan kecepatan
/velocity
By: Marsya Masyita
Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (2)

Persamaan Mass balance Persamaan Kontinuitas

dmcv uA
m fs 0 d (m ) d ( ) 0
dt V

dV du dA
0
V u A

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (3)

Hubungan secara Thermodinamik


dH TdS VdP
Penggantian V pada term S dan P
V V 1 V (pers. 3-2)
dV dP dS
P s S P V T P
V V T S C p (pers. 6-17)

S P T P S P T P T
V VT

S P CP

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (4)

Hubungan dengan Fisika


Velocity of sound (kecepatan
P
c 2 V 2 suara) secara medium
V S
berhubungan dengan tekanan
derivative w.r.t volume
dengan nilai S const.

V V
dV dP dS
P s S P
dV T V
dS 2 dP
V CP c

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (5)

Variabel : dH, du, dV, dA, dS, dP


Persamaan : 4
dH udu dS, dA : independent

dV du dA Dapat dikembangkan
0 persamaan dari
V u A derivatives lain dengan
dS and dA
dH TdS VdP

dV T V
dS 2 dP
V CP c

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (6)

u 2 u2
(1 M )VdP
2
1 TdS dA 0
Cp A

u 2 2
M
Cp 1
udu TdS 1 M 2 dA 0
1 M 2



M : Mach number = u/c

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7-1 Duct Flow pada Fluida Kompresibel (7)

dP u 2 dS u 2 dA
(1 M )V
2
1 T 0
dx
C p dx A dx
u 2 2
M
du C p dS 1 dA
u T 2
0
dx 1 M 2
dx 1 M dx



Berdasarkan pada hukum kedua, (dS/dx) >= 0

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Pipe Flow/Aliran Pipa

Pipe Flow : constant cross sectional area (dA/dx=0)


u 2
1 Subsonic flow :
dP T C p dS
(1 M 2 ) dx
dx V (1 M 2 ) 0
Implies :

dP
0 Pressure drops
u 2 2 dx pada Arah alir
M
du Cp dS du
u T 0 Kenaikan Kecepatan/
dx 1 M 2 dx dx Velocity Pada Arah alir


By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Pipe flow

Kecepatan/velocity Tidak meningkat secara


indefinitely.
Jika Kecepatan/velocity melampaui nilai sonic,

dP du
0 0 Aliran Supersonic
dx dx Shock wave dan Aliran turbulence
tidak stabil

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Nozzle
Nozzle merupakan peralatan yang menyebabkan
energi dalam (U) dan kinetik (Ek) saling berubah
yang diakibatkan oleh peristiwa Cross Sectional Area
Cross Sectional Area meliputi converging dan
diverging section

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Nozzle
Aliran dalam pipa atau duct flow (variable cross-
sectional area)
Asumsikan prinsip kerja isentropic flow
reversible flow dH udu
Neraca Energi Mekanik Vdp udu

dP u 2 1 dA
2
dx VA 1 M dx
du u 1 dA
2
dx A 1 M dx

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Nozzle

Converging Diverging

Subsonic (M<1) Supersonic(M>1)

Converging Diverging Converging Diverging

dA/dx - + - +

dP/dx - + + -

du/dx + - - +

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Converging Nozzle

Pressure Velocity
Maximum attainable velocity = speed of sound
Kenaikan velocity yang dibutuhkan akan meningkatkan cross-sectional
area pada diverging section
Converging nozzle dapat digunakan untuk untuk mengalirkan constant
flow ke region variable pressure
P1 P2
Pada Penurunan P2, Kenaikan velocity dan nilai maximum pada sonic
velocity.
Penurunan selanjutnya pada P2 tidak berefek pada velocity.

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Converging / Diverging Nozzle
Speed of sound (kecepatan suara) tercapai pada
throat di converging/diverging nozzle hanya ketika
tekanan pada throat lebih rendah dari nilai kritikal
pada P2/P1.

Gambar 7.1 (Diverging/Converging Nozzle)

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Value of critial pressure ratio

dH udu
udu VdP
dH TdS VdP
dS=0 Adiabatik , PV const P1V1
1/
PV
V 1 1

P

2P1V1
P2 ( 1) /
P2
u 2 u1 2 VdP
2 2
1
1 P1
P1

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Nilai Rasio Tekanan Kritis

2P1V1
P2 ( 1) /
P2
u 2 u1 2 VdP
2 2
1
1 P1
P1
Critical value u=c

u1 0
2 P
u 2 c V
2 2
u22 P2V2
V S

P P P2 2 1

V S V P1 1
u 22 P2V2

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Proses Throttling/ Pencekikan

Proses Throttling: Perubahan Ep dan Ek diabaikan,


tidak ada perpindahan kalor dengan sekitarnya, tidak
ada usaha yang dilakukan.
Primary result : pressure drop H 2 H1
H 0,
Untuk gas ideal, H=H(T) serta tidak ada perubahan
pada T
Untuk real gas, slight change in T

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Contoh Soal 7.5 Joule-Thompson Coefficient

Hasil Temperatur berubah dari throttling real gas.


Joule-Thompson coefficient

T

P H

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Joule/Thomson Coefficient and other
properties

T

P H

1
T T H H H

P H H P P T T P P T

1 H

CP P T
J-T coeff. Berasal dari
penjabaran tekanan
dari H

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Joule/Thomson Coeff. Dari Hubungan PVT

H V Dengan relasi antara


V T Cp dan PVT,
P T T P beberapa properti
H RT 2 Z dapat diprediksikan.

P T P T P

RT 2 Z

C P P T P

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7.2 Turbin /Expander

Turbin uap merupakan sebuah peranti yang dapat


mengubah energi uap menjadi energi mekanis rotasi
Semua turbin merupakan peranti aliran tunak

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7.2 Turbin /Expander

Turbin terdiri dari nozzle dan rotating blades


Fluida kerja (working fluid) berupa gas mengalir dari
nozzle dan blade tsb
Gas yang mengalir mengalami ekspansi adiabatik
dimana U (energi dalam) yang ada pada gas
bertekanan tinggi diubah menjadi Ws (Kerja poros)

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7.2 Turbin /Expander

Expansi gas Produksi Work


Internal Energy Kinetic Energy Work

Ws

2
By: Marsya Masyita
Rara Robiulsani
Turbin /Expander
Heat effects dapat diabaikan, perubahan Inlet dan
outlet velocity sangat kecil
W s m H m ( H 2 H1 )
Ws H ( H 2 H1 )
Secara Normal T1, P1 dan P2 diketahui
Maximum work : isentropic process (adiabatic
process)
Ws (isentropic ) (H ) S

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Turbin /Expander

Efisiensi Turbin

Ws

Ws (isentropic )
H

(H ) S

Efisiensi Turbin yang wajar pada design: 0.7 to 0.8

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Turbin / Expander

H
Proses Ekspansi Adiabatis pada turbin/expander

H (H ) S
P1

P2
S

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
7.4 Proses Kompresi

Peranti Kompresi : Rotating blades, Reciprocating


piston
2

Ws

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Compressor

Compressor efficiency : 0.7 to 0.8

Ws (isentropic )

Ws
(H ) S

H

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Compressor

H Adiabatic compression process

(H ) S H
P1

P2
S

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani
Compressor

Da
ri P .
T2 P2 Ch ersa
S (C p ) s ln R ln ap ma
T1 P1 ter a
5 n
R /( C ' p ) s
P2
T2 ' T1
P1 (H ) s (C ' p ) H (T '2 T '1 )
aan
sa m Ws ( Isentropik ) (C ' p ) H (T '2 T '1 )
P er ter 4
ri p
Da Cha Ws (isentropik )
.
Ws

H
T2 T1
(C p ) H
By: Marsya Masyita
Rara Robiulsani
Compressor

P R / Cp
Ws C pT1 2 1
P1
T2 'T1
T2 T1

By: Marsya Masyita


Rara Robiulsani