Anda di halaman 1dari 51

Sistem Pengelolaan Keuangan

Negara dan Daerah


Awanda Putra Ardian (2014031081)
Fathan Nugraha (2014031141)
Feodoranus Valentio Bisa
(2014031090)
Kresno Rilo Fradhana (2014031129)
Muhammad Rifany (2014031146)
Rendy Harlensyah Putra
(2014031077)
Latar Belakang
Sistem Pengelolaan Laporan Keuangan Negara dan
Daerah. Sistem ini melibatkan SAPP (Sistem
Akuntansi Pemerintah Pusat) dan SAPD (Sistem
Akuntansi Pemerintah Daerah). Tujuan SAPP dan
SAPD adalah untuk menyediakan informasi
keuangan yang diperlukan dalam hal perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan,
pengendalian anggaran, perumusan kebijaksanaan,
pengambilan keputusan dan penilaian kinerja
pernerintah, sebagai upaya untuk mempercepat
penyajian Perhitungan Anggaran Negara (PAN) dan
Daerah, serta memudahkan pemeriksaan oleh
aparat pengawasan fungsional secara efektif clan
efisien.
Dasar Hukum Keuangan
Negara
Wujud pelaksanaan keuangan Negara dapat
diidentifikasi sebagai segala bentuk kekayaan,
hak, dan kewajiban Negara yang tercantum
dalam anggaran pendapatan dan belanja
(APBN) serta laporan pelaksanaannya.
Pelaksanaan kewajiban atau tugas-tugas
pemerintah dilakukan dalam bentuk
pengeluaran dan diakui sebagai belanja
negara. Dalam UUD 1945 Amandemen III, hal
keuangan Negara, secara khusus diatur, yaitu
pada BAB VIII pasal 23, 23 A, 23 B, 23 C, dan
23 D.
Indra Bastian, hal 42-47
Dasar Hukum Keuangan
Negara Indra Bastian, hal 42-47
Pasal 23
1. APBN sebagai wujud pengelolaan keuangan Negara ditetapkan setiap tahun
dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka.
2. RUU anggaran pendapatan dan belanja negara diajaukan oleh presiden untuk
dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD
3. Apabila DPR tidak menyutujui rancangan APBN yang diusulkan presiden,
pemerintah menjalankan APBN tahun yang lalu.
Pasal 23 A
Pajak dan pemungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan
Negara diatur dengan Undang-undang.
Pasal 23 B
Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang
Pasal 23 C
Hal-hal lain yang mengenai keuangan Negara diatur dengan Undang-
undang.
Pasal 23 D
Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan,
tanggung jawab, dan indepedensinya diatur oleh Undang-undang.
Dasar Hukum Keuangan
Negara
Selain UUD 1945, keuangan Negara diatur juga
pada Undang-undang No 17 tahun 2003
tentang keuangan Negara, Undang-undang No
1 Tahun 2004 tentang perpendaharaan Negara,
Undang-undang No 15 Tahun 2004 tentang
pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan Negara, Undang-undang No 25
Tahun 2004 tentang system perencanaan
pembangunan nasional, dan Perpres No 32
tahun 2005 tentang perubahan ke dua atas
keputusan presiden No 80 tahun 2003 tentang
pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa
pemerintah. Indra Bastian, hal 42-47
Proses Perencanaan Keuangan
Negara
Untuk menjamin agar kegiatan pembangunan
berjalan efektif, efisien, dan bersasaran maka
diperlukan Perencanaan Pembangunan Nasional
serta keseragaman peraturan yang berlaku guna
tercapainya tujuan bernegara dan menghindarkan
dari ketimpangan antar wilayah. Ketentuan
mengenai sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional, yang mencakup penyelenggaraan
perencanaan makro atau perencanaan yang berada
pada tataran kebijakan nasional atas semua fungsi
pemerintahan dan meliputi semua bidang kehidupan
secara terpadu dalam Wilayah Negara Republik
Indonesia diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Tahapan Perencanaan
Pembangunan
1) Penyusunan rencana
Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan
rancangan lengkap dari suatu rencana yang siap untuk
ditetapkan, yang terdiri dari 4 (empat) langkah, yaitu:
) Penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat
teknokratik, menyeluruh, dan terukur. Masing-masing instansi
pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan
berpedoman
) pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan.
) Melibatkan masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan
rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing
jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan
pembangunan.
) Penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan.
Tahapan Perencanaan
Pembangunan
2) Penetapan rencana
Penetapan rencana menjadi produk
hukum sehingga mengikat semua pihak
untuk melaksanakannya. Menurut
Undang-Undang ini, rencana
pembangunan jangka panjang
Nasional/Daerah ditetapkan sebagai
Undang-Undang/Peraturan Daerah,
sedangkan rencana pembangunan
jangka menengah Nasional/Daerah dan
rencana pembangunan tahunan
Tahapan Perencanaan
Pembangunan
3) Pengendalian pelaksanaan rencana
Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan
dimaksudkan untuk menjamin tercapainya tujuan dan
sasaran pembangunan yang tertuang dalam rencana
melalui kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian
selama pelaksanaan rencana tersebut oleh pimpinan
Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Selanjutnya Menteri Negara Badan Perencanaan dan
Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dan Kepala Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan
pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-
masing pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) sesuai dengan tugas dan
kewenangannya.
Tahapan Perencanaan
Pembangunan
4) Evaluasi pelaksanaan rencana
Evaluasi pelaksanaan rencana adalah bagian dari
kegiatan perencanaan pembangunan yang secara
sistematis mengumpulkan dan menganalisis data dan
inforrnasi untuk menilai pencapaian sasaran, tujuan dan
kinerja pembangunan. Evaluasi ini dilaksanakan
berdasarkan indikator dan sasaran kinerja yang
tercantum dalam dokumen rencana pembangunan.
Indikator dan sasaran kinerja mencakup masukan (input),
keluaran (output), hasil (result), manfaat (benefit) dan
dampak (impact). Dalam rangka perencanaan
pembangunan, pemerintah, baik Pusat maupun daerah,
berkewajiban untuk melaksanakan evaluasi kinerja
pembangunan yang merupakan dan atau terkait dengan
fungsi dan tanggungjawabnya.
Rencana Pembangunan

a) Rencana Pembangunan Jangka Panjang


(RPJP)
RPJP Nasional merupakan penjabaran
tujuan Nasional kedalam Visi, misi dan
Arah pembangunan Nasional. Sedangkan
RPJP Daerah mengacu pada RPJP
Nasional dan memuat tentang visi, misi
dan arah dalam pembangunan Daerah.
Rencana Pembangunan
b) Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi, dan
program Presiden. Penyusunannya berpedoman pada RPJP
Nasional, yang memuat strategi pembangunan Nasional,
kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas
Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan,
serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran
perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan
fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan
kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Sedangkan RPJM
Daerah merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program
Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP
Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah
kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah,
kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah,
lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan
disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi
dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Rencana Pembangunan
c) Rencana Strategis (Renstra)
Renstra Kementerian/Lembaga pada tingkat nasional
memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan,
program, dan kegiatan pembangunan sesuai dengan
tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga yang disusun
dengan berpedoman pada RPJM Nasional dan bersifat
indikatif. Sedangkan Renstra-Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) pada tingkat daerah memuat visi, misi,
tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan
pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan
fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta
berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat
indikatif.
Rencana Pembangunan
d) Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional, memuat
prioritas pembangunan, rancangan kerangka ekonomi
makro yang mencakup gambaran perekonomian secara
menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, serta program
Kementerian/Lembaga, lintas Kementerian/Lembaga,
kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka
pendanaan yang bersifat indikatif. Sedangkan RKP Daerah
merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu
pada RKP, memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah,
prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan
pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh
pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong
partisipasi masyarakat.
Rencana Pembangunan
e) Rencana Kerja (Renja)
Renja Kementerian/Lembaga pada tingkat nasional disusun
dengan berpedoman pada Renstra Kementerian/Lembaga
dan mengacu pada prioritas pembangunan Nasional dan
pagu indikatif, serta memuat kebijakan, program, dan
kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung
oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan
mendorong partisipasi masyarakat. Sedangkan Renja-SKPD
disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan
mengacu kepada RKP, memuat kebijakan, program, dan
kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung
oleh Pemerintah Daerah maupun yang ditempuh dengan
mendorong partisipasi masyarakat.
Pelaksanaan Anggaran Keuangan
Negara
Tahun anggaran meliputi masa satu tahun mulai dari
tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun
yang bersangkutan. APBN dalam satu tahun anggaran
meliputi:
a) Hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih;
b) Kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih;
c) Penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada
tahun-tahun anggaran berikutnya. Semua penerimaan
dan pengeluaran negara dilakukan melalui Rekening
Kas Umum Negara dengan menggunakan sistem giral.
Secara garis besar, tahap-tahap siklus anggaran
dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Penyusunan RAPBN oleh pemerintah;
2. Penyampaian RAPBN kepada
DPR/pengesahannya;
3. Pelaksanaan APBN oleh pemerintah;
4. Pengawasan pelaksanaan APBN oleh BPK;
5. Pertanggungjawaban/Perhitungan Anggaran
Negara (PAN);
6. Persetujuan RUU PAN menjadi UU PAN oleh DPR.
Berdasarkan fungsinya,
penganggaran pemerintah
mempunyai tiga fungsi utama yaitu:
1. Stabilitas fiskal makro,
2. Alokasi sumber daya sesuai
prioritas, dan
3. Pemanfaatan anggaran secara
efektif dan efisien.
Struktur Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara
1. Belanja Negara
Belanja terdiri atas dua jenis:
a) Belanja Pemerintah Pusat, adalah belanja yang digunakan untuk
membiayai kegiatan pembangunan Pemerintah Pusat, baik yang
dilaksanakan di pusat maupun di daerah (dekonsentrasi dan
tugas pembantuan). Belanja Pemerintah Pusat dapat
dikelompokkan menjadi: Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja
Modal, Pembiayaan Bunga Utang, Subsidi BBM dan Subsidi Non-
BBM, Belanja Hibah, Belanja Sosial (termasuk Penanggulangan
Bencana), dan Belanja Lainnya.
b) Belanja Daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke Pemerintah
Daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah
yang bersangkutan. Belanja Daerah meliputi:
1) Dana Bagi Hasil
2) Dana Alokasi Umum
3) Dana Alokasi Khusus
4) Dana Otonomi Khusus
Struktur Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara
2. Pembiayaan
Pembiayaan meliputi:
a) Pembiayaan Dalam Negeri, meliputi
Pembiayaan Perbankan, Privatisasi, Surat
Utang Negara, serta penyertaan modal
negara.
b) Pembiayaan Luar Negeri, meliputi:
1) Penarikan Pinjaman Luar Negeri, terdiri atas
Pinjaman Program dan Pinjaman Proyek
2) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri,
terdiri atas Jatuh Tempo dan Moratorium.
Pelaporan Keuangan Negara
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (disingkat
LKPP) adalah laporan pertanggung-jawaban
pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang terdiri dari Laporan
realisasi anggaran, Neraca, Laporan arus kas
dan Catatan atas laporan keuangan yang
disusun sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah. LKPP Merupakan konsolidasi
laporan keuangan Kementerian
Negara/Lembaga yang disusun dengan
berdasarkan praktik terbaik internasional (best
practice) dalam pengelolaan keuangan
Negara. LKPP diterbitkan setiap tahun.
Pengawasan Keuangan
Negara
Pengawasan atas pelaksanaan keuangan Negara
dilaksanakan oleh pemeriksa internal maupun eksternal.
Pengawasan secara internal dilakukan oleh Inspektorat
Jenderal (Itjen) dan Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP). Itjen melakukan pengawasan dalam
lingkup masing-masing departemen/lembaga, sedangkan
BPKP melakukan pengawasan untuk lingkup semua
departemen atau lembaga.
Pengawasan eksternal dilakukan oleh BPK. Sebagaimana
telah ditetapkan dalam UUD 1945, pemeriksaan yang
menjadi tugas BPK meliputi pemeriksaan atas pengelolaan
dan tanggung jawab mengenai keuangan negara.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi seluruh unsur
keuangan negara seperti yang dimaksud dalam Pasal 2
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara. Selain disampaikan kepada lembaga perwakilan
(DPR) hasil pemeriksaan BPK juga disampaikan kepada
Pemerintah.
Pertanggungjawaban dan Evaluasi
atas Keuangan Negara
Pada tahap ini Presiden menyampaikan rancangan
undang-undang tentang pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN berupa laporan keuangan yang
sudah diaudit BPK kepada DPR selambat-lambatnya
6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Laporan keuangan yang disampaikan tersebut
menurut Pasal 30 Undang-undang 17 Tahun 2003
tentang keuangan Negara adalah Laporan Realisasi
APBN, Neraca, Laporan arus kas, dan Catatan atas
Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan
keuangan perusahaan Negara dan badan lainnya.
Contoh Praktek-Praktek Perencanaan
Pemerintah Pusat
Untuk menyusun rencana kerja pemerintah pusat yang
berfungsi sebagai perencanaan tahunan nasional,
pemerintah perlu menyelenggarakan Musrenbang
(Musyawarah rencana Pembangunan) pusat, Musrenbang
provinsi dan Musrenbang nasional. Semua masukan yang
diperoleh dari Musrenbang secara berjenjang ini dapat
dipengaruhi rencana kegiatan pembangunan yang terkait
dengan pendanaan atau anggaran kegiatan di daerah.
Tahapan dalam system perencanaan nasional adalah:
a. Tahap persiapan perencanaan
b. Tahap perencanaan dan anggaran
c. Tahap pelaksanaan pembangunan dan pembelanjaan
Negara
d. Tahap pelaporan dan pertanggungjawaban
Indra Bastian, hal 177
Musrenbang pusat dilakukan pada bulan Maret yang
menhasilkan beberapa hal pokok yang antara lain:
Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
Rancangan Rencana Kerja Kementrian / Lembaga
(Renja-KL). Acuannya adalah rencana pembangunan
jangka menengah nasional yang sedang berlaku
Pesertanya adalah seluruh kementrian atau lembaga
pemerintahan non departemen dan seluruh gubernur
sebagai peninjau
Musrenbang nasional dilaksanakan pada bulan April
pada tahap ini hasil Musrenbang provinsi disampaikan
ke seluruh kementrian atau lembaga, gubernur, dan
kepala Bappeda provinsi untuk disepakati sebagai
program prioritas pembangunan nasional, prioritas
pendanaan RAPBN, dan rancangan akhir RKP untuk
disampaikan serta dibahas dalam sidang kabinet.

Indra Bastian, hal 177


Dasar Hukum keuangan
Daerah
Pembangunan daerah sebagai bagian intergral dari
pembangunan nasional, didasarkan pada prinsip otonomi daerah
dalam pengelolaan sumber daya. Prinsip otonomi daerah
memberikan kewenangan yang luas dan tanggung jawab yang
nyata pada pemerintahan daerah secara proposional dengan
mengatur, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional,
baik yang berupa uang maupun sember daya alam, pemerintah
pusat dan daerah yang adil.
Pada pasal 18 UUD 1945, disebutkan bahwa NKRI dibagi atas
daerah-daerah Provinsi. Selanjutnya, daerah provinsi itu dibagi
lagi atas kabupaten dan kota, dimana setiap provinsi, kabupaten
dan kota itu mempunyai pemerintah daerah yang diatung dengan
undang-undang. Dalam rangka penyelenggaraan daerah otonomi,
pasal 18 A (2) UUD 1945 menjelaskan bahwa hubungan
keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumberdaya alam,
dan sumberdaya lainnya antara pemerintah piusat dan daerah
diatur serta dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan
undang-undang.
Proses Perencanaan Keuangan
Daerah
Perencanaan anggaran keuangan
daerah secara keseluruhan
mencakup penyusunan Kebijakan
Umum APBD sampai dengan
disusunnya Rancangan APBD terdiri
dari beberapa tahapan proses
perencanaan anggaran daerah (5).
Berdasarkan Undang-Undang No. 17
Tahun 2003 serta Undang-Undang
No. 32 dan 33 Tahun 2004, tahapan
Proses Perencanaan Keuangan
Daerah
a) Pemerintah daerah menyampaikan kebijakan umum
APBD tahun anggaran berikutnya sebagai landasan
penyusunan rancangan APBD paling lambat pada
pertengahan bulan Juni tahun berjalan. Kebijakan
umum APBD tersebut berpedoman pada RKPD. Proses
penyusunan RKPD tersebut dilakukan antara lain
dengan melaksanakan musyawarah perencanaan
pembangunan (musrenbang) yang selain diikuti oleh
unsur-unsur pemerintahan juga mengikutsertakan
dan/atau menyerap aspirasi masyarakat terkait,
antara lain asosiasi profesi, perguruan tinggi, lembaga
swadaya masyarakat (LSM), pemuka adat, pemuka
agama, dan kalangan dunia usaha.
Proses Perencanaan Keuangan
Daerah
b) DPRD kemudian membahas kebijakan umum APBD
yang disampaikan oleh pemerintah daerah dalam
pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran
berikutnya.
c) Berdasarkan Kebijakan Umum APBD yang telah
disepakati dengan DPRD, pemerintah daerah bersama
DPRD membahas prioritas plafon anggaran sementara
untuk dijadikan acuan bagi setiap SKPD.
d) Kepala SKPD selaku pengguna anggaran menyusun
RKA-SKPD tahun berikutnya dengan mengacu pada
prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah
ditetapkan oleh pemerintah daerah bersama DPRD.
e) RKA-SKPD tersebut kemudian disampaikan kepada
DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan
RAPBD.
Proses Perencanaan Keuangan
Daerah
f) Hasil pembahasan RKA-SKPD disampaikan kepada
pejabat pengelola keuangan daerah sebagai bahan
penyusunan rancangan perda tentang APBD tahun
berikutnya.
g) Pemerintah daerah mengajukan rancangan perda
tentang APBD disertai dengan penjelasan dan
dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD
pada minggu pertama bulan Oktober tahun
sebelumnya.
h) Pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai
rancangan perda tentang APBD dilakukan selambat-
lambatnya satu bulan sebelum tahun anggaran
yang bersangkutan dilaksanakan.
Pelaksanaan Anggaran Keuangan
Daerah
Setelah APBD ditetapkan secara terperinci dengan
undang-undang, maka pelaksanaan di atur lebih
lanjut dengan keputusan presiden sebagai pedoman
bagi kementrian negara/lembaga dalam pelaksanaan
anggaran. Pengaturan dalam keputusan presiden
tersebut terutama dalam hal-hal yang belum di
perinci di dalam Undang-Undang APBDN, seperti,
alokasi anggaran untuk kantor daerah kementrian
Negara/lembaga, pembayaran gaji dalam belanja
pegawai, pembayaran untuk tunggakan yang menjadi
beban kementerian Negara/lembaga, dan alokasi
dana perimbangan untuk provinsi/kabupaten/kota
dan alokasi subsidi sesuai dengan keperluan
perusahaan/badan yang menerima.
Pelaksanaan Anggaran Keuangan
Daerah
Pemerintahan pusat dan pemirintah daerah
menyampaikan laporan realisasi semester pertama
kepada DPR/DPRD pada akhir juli tahun anggran yang
bersangkutan untuk memberi informasi mengenai
perkembangan pelaksanaan APBN/APBD. Laporan
realisasi tersebut menjadi bahan evaluasi
pelaksanaan APBN/APBD semester pertama dan
penyesuain/perubahan APBN/APBD pada semester
berikutnya.Ketentuan megenai pegelolaan keuangan
Negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD
ditetapkan tersendiri dalam Undang-Undang yang
mengatur perbendaharaan negara mengingat lebih
banyak menyangkut hubung administratif antar-
kementerian negara/lembaga di linkungan
pemerintah.
Pelaporan Keuangan Daerah
Setelah anggaran selesai disusun, organisasi sektor publik
melaksanakan apa yang dianggarkan dalam kegiatan-
kegiatan tahun berjalan. Pelaksanaan anggaran kinerja
tidak bisa dilepaskan dari proses pelaporan dan evaluasi
atas aktivitas yang telah dilaksanakan. Hal ini menjadi
sangat penting karena salah satu ukuran keberhasilan
anggaran kinerja adalah kemampuannya untuk diukur dan
dievaluasi guna mendapatkan umpan balik.
Untuk itu, setiap organisasi sektor publik harus melaporkan
pada tingkat di mana mereka telah mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Artinya, setiap organisasi harus
menyediakan informasi mengenai aktivitas yang telah
dilakukan. Informasi ini seharusnya meliputi input, output,
dan outcome, dan berbagai indikator kualitatif lainnya
yang dirasakan perlu. Hal ini berbeda dengan pelaksanaan
anggaran tradisional yang hanya menekankan pada
pelaporan kuantitatif.
Penyusunan dan Penetapan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Stuktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:
A. Pendapatan Daerah
Pendapatan daerah terdiri dari:
1. Pendapatan asli daerah (PAD), yang bertujuan memberikan
kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai
pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah
sebagai perwujudan desentralisasi. PAD merupakan
pendapatan dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah, dan lain- lain pendapatan asli
daerah yang sah. Pajak dan retribusi daerah merupakan
pendapatan daerah yang telah diatur dalam perundang-
undangan mengenai pajak dan retribusi daerah. Hasil
pengeloaan kekayaan daerah merupakan pendapatan daerah
dari bagian laba dari penyertaan pemerintah daerah.
Penyertaan daerah tersebut terdiri dari penyertaan pada badan
usaha milik daerah (BUMD), badan usaha milik negara (BUMN)
dan usaha milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.
2. Dana perimbangan, yang bertujuan mengurangi
kesenjangan fiskal antara pemerintah dan
pemerintahan daerah dan antarpemerintah daerah.
Dana perimbangan merupakan pendapatan daerah
dari transfer dana dari pemerintah pusat berupa
belanja untuk daerah. Dana perimbangan terdiri dari :
Dana bagi hasil yang meliputi pajak terdiri atas pajak
bumi dan bangunan, bea perolehan atas hak tanah dan
bangunan, serta pajak penghasilan dan sumber daya
alam terdiri atas kehutanan, pertambangan umum,
perikanan, pertambangan minyak bumi, gas dan
pertambangan panas bumi. Dana alokasi umum suatu
daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi
dasar. Dana alokasi khusus dialokasikan kepada
daerah tetentu untuk mendanai kegiatan khusus yang
merupakan urusan daerah yang telah ditetapkan
dalam APBN.
3. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah,
yang memberi peluang kepada daerah untuk
memperoleh pendapatan selain yang berasal
pendapatan asli daerah, dana perimbangan
dan pinjaman daerah. Lain-lain pendapatan
asli daerah yang sah merupakan pendapatan
dari hibah, dana darurat, dana bagi hasil
pendapatan dari propinsi, dana penyesuaian,
dana otonomi khusus dan bantuan keuangan
dari pemerintah lain.
Penyusunan dan Penetapan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

B. Belanja Daerah
Dua klasifikasi belanja daerah, yaitu :
1. Belanja tidak langsung
Belanja tidak langsung merupakan belanja yang
dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja tak
langsung terdiri dari belanja pegawai, bunga, subsidi,
hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan
keuangan dan belanja tak terduga. Belanja pegawai
dalam hal ini belanja untuk gaji dan tunjangan secara
penghasilan lain yang diberikan kepada pejabat dan
pegawai negeri sipil daerah, termasujk di dalamnya
pimpinan dan anggota DPRD.
Penyusunan dan Penetapan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

2. Belanja langsung
Belanja langsung, merupakan belanja yang
dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja
langsung terdiri dari belanja pegawai,
belanja barang/ jasa dan belanja modal.
Klasifikasi belanja sesuai sama dengan
klasifikasi belanja sesuai fungsi dalam APBN.
Hal ini untuk memudahkan keselarasan dan
keterpaduan pengelolaan keuangan negara.
Penyusunan dan Penetapan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

C. Pembiayaan Daerah
Pembiayaan merupakan penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan/ atau pengeluaran yang akian
diterima kembali dan/ atau pengeluaran terkait
dengan kekayaan daerah yang dipisahkan yang
digunakan untuk menutup defisit atau menggunakan
surplus. Adapun sumber pembiayaan diantaranya
yaitu :
a) Sisa lebih perhitungan anggaran daerah.
b) Penerimaan pinjaman daerah.
c) Dana cadangan daerah.
d) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
Contoh Praktek Keuangan
Daerah
Dalam rangka menyusun rencana kerja pemerintah daerah yang
berfungsi sebagai dokumen perencanaan tahunan, pemerintah
daerah perlu menyelenggarakan Musrenbang secara berjenjang,
mulai dari tingkat dea atau kelurahan, kecamatan, kabupaten
atau kota, hingga provinsi, termasuk menyelnggarakan forum
SKPD.
Perencanaan pembangunan daearah disusun oleh pemerintah
daerah provinsi, daerah kabupaten, atau daerah kota sesuai
dengan kewenangan yang dilaksanakan oleh BPPD. Berikut ini
adalah dokumen pelaksanaan berdasarkan dimensi waktu:
a. RPJP Daerah yang berjangka waktu 20 tahun yang ditetapkan
dengan Perda
b. RPJM Daerah yang berjangka waktu 5 tahun yang ditetapkan
dengan Perda
c. RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJM Daerah untuk
jangka waktu 1 tahun dengan mengacu pada rencana kerja
pemerintah pusat.
SAPP (Sistem Akuntansi Pemerintah
Pusat)
SAPP adalah sistem akuntansi yang
mengolah semua transaksi keuangan,
aset, kewajiban, dan ekuitas dana
pemerintah pusat, yang menghasilkan
informasi akuntansi da n laporan keuangan
yang tepat waktu dengan mutu yang
dapat diandalkan, baik yang diperlukan
oleh badan-badan di luar pemerintah pusat
seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat
manajemen pada pemerintah pusat.
Kerangka Umum Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
disampaikan kepada DPR sebagai
pertanggungjawaban atas
pelaksanaan APBN. Sebelum
disampaikan kepada DPR, laporan
keuangan pemerintah pusat tersebut
diaudit terlebih dahulu oleh pihak
BPK. Laporan keuangan pemerintah
pusat terdiri dari:
Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat
1. Laporan Realisasi Anggaran
Konsolidasi Laporan Realisasi Anggaran dari seluruh
Kementerian Negara/Lembaga yang telah direkonsiliasi.
Laporan ini menyajikan informasi realisasi pendapatan,
belanja, transfer, surplus/defisit dan pembiayaan, sisa
lebih/kurang pembiayaan anggaran yang masing-masing
diperbandingkan dengan anggaran dalam satu periode.

2. Neraca Pemerintah
Neraca Pemerintah Pusat merupakan konsolidasi Neraca
SAI dan Neraca SAKUN (Sistem Akuntansi Kas Umum
Negara). Laporan in menyajikan informasi posisi
keuangan pemerintah pusat berkaitan dengan aset,
utang dan ekuitas dana pada tanggal/tahun anggaran
tertentu.
Laporan Keuangan Pemerintah
Pusat
3. Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas Pemerintah Pusat merupakan
konsolidasi Laporan Arus Kas dari seluruh Kanwil
Ditjen PBN. Laporan ini menyajikan informasi arus
masuk dan keluar kas selama periode tertentu yang
diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi,
investasi aset non keuangan, pembiayaan dan non
anggaran.
4. Catatan atas Laporan Keuangan
Merupakan penjelasan atau perincian atau analisis
atas nilai suatu pos yang tersaji di dalam Laporan
Realisasi Anggaran, Neraca Pemerintah dan Laporan
Arus Kas dalam rangka pengungkapan yang
memadai.
Tujuan Sistem Akuntansi Pemerintah
Pusat
Tujuan SAPP adalah untuk menyediakan informasi
keuangan yang diperlukan dalam hal perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan,
pengendalian anggaran, perumusan kebijaksanaan,
pengambil keputusan dan penilaian kinerja
pernerintah dan sebagai upaya untuk mempercepat
penyajian Perhitungan Anggaran Negara (PAN),
serta memudahkan pemeriksaan oleh aparat
pengawasan fungsional secara efektif dan efisien.
Di samping itu, SAPP juga dirancang untuk
mendukung transparansi Laporan Keuangan
Pemerintah dan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah
dalam mencapai pemerintahan yang baik, yang
meliputi Akuntabilitas, Manajerial dan Transparansi.
Ciri-Ciri Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat
1. Sistem yang terpadu. Dalam penyusunan sistem digunakan
pendekatan bahwa keseluruhan.Pernerintah Pusat
merupakan kesatuan akuntansi dan ekonomi tunggal.
Presiden sebagai pengelola utama dan DPR sebagai badan
yang bertugas menelaah dan mengevaluasi
pelaksanaannya.
2. Akuntansi Anggaran dan Akuntansi Dana. Undang-Undang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara digunakan
sebagai landasan operasional keuangan tahunan Pemerintah
dan dengan disahkannya UU-APBN maka pelaksanaan
anggaran dapat dilaksanakan
3. Sistem tata buku berpasangan
4. Basis kas untuk pendapatan dan belanja. Penggunaan basis
kas ini sesuai dengan Undang-Undang Perbendarahaan
Indonesia dan Keppres Nomor 16 Tahun 1994 tentang
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Ciri-Ciri Sistem Akuntansi
Pemerintah Pusat
5. Standar dan prinsip akuntansi. Standar dan prinsip akuntansi adalah
norma atau aturan dalam praktek yang dapat diterima oleh profesi, dunia
usaha, dan departemen/lembaga pemerintah yang berkcpentingan dengan
laporan keuangan.
6. Desentralisasi pelaksanaan akuntansi. Sistem dirancang agar pelaksanaan
akuntansi dilakukan secara ber,jenjang dan dimulai pada sumber data di
daerah atau propinsi dan digunakan sebagai pedoman penyusunan unit-
unit akuntansi baik di tingkat wilayah maupun tingkat pusat.
7. Perkiraan standar yang seragam. Perkiraan yang digunakan unit akuntansi
dan mata anggaran pada unit operasional anggaran dan pelaksanaan
anggaran sama, baik klasifikasi maupun istilahnya agar dapat memastikan
bahwa anggaran dan laporan realisasinya menggunakan istilah yang
sama, serta meningkatkan kemampuan sistem akuntansi untuk
memberikan informasi/laporan yang relevan, berarti, dan dapat
diandalkan. Selain itu dapat digunakan untuk memudahkan pengawasan
atas ketaatan dengan pagu yang ditentukan dalam UU-APBN dan dalam
dokumen allotment (DIK/DIP/SKO), serta memungkinkan perbandingan
data laporan keuangan, baik dalam satu laporan maupun antarlaporan
SAPD (Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah)
SAPD adalah serangkaian prosedur
mulai dari proses pengumpulan data,
pencatatan, pengikhtisaran, sampai
dengan pelaporan keuangan dalam
rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD yang dapat
dilakukan secara manual atau
menggunakan aplikasi komputer.
Tujuan SAPD
a. Menyediakan pedoman akuntansi yang
diharapkan dapat diterapkan bagi pencatatan
transaksi keuangan pemerintah daerah yang
berlaku dewasa ini, terutama dengan
diberlakukannya otonomi daerah yang baru.
b. Menyediakan pedoman akuntansi yang
dilengkapi dengan klasifikasi rekening dan
prosedur pencatatan serta jurnal standar
yang telah disesuaikan dengan siklus
kegiatan pemerintah daerah yang mencakup
penganggaran, perbendaharaan, dan
pelaporannya
Subsistem SAPD
1) Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah:
dilaksanakan oleh PPKD (Pejabat Pengelola
Keuangan Daerah) yang akan mencatat
transaksi-transaksi yang dilakukan oleh level
pemda
2) Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat
Daerah: dilaksanakan oleh Pejabat
Penatausahaan Keuangan (PPK) SKPD.
Transaksi-transaksi yang terjadi dilingkungan
satuan kerja harus dicatat dan dilaporkan
oleh PPK SKPD.
Thank You!