Anda di halaman 1dari 81

PEMERIKSAAN FISIK

ABDOMEN

Prof. dr. Habibah Hanum,


Sp.PD.K.Psikosomatik
Kontributor Blok Sistem
Gastroenterohepatologi
Fakultas Kedokteran
Materi Pelatihan
Mengetahui Titik & Garis-Garis Pedoman
Pemeriksaan Fisik Abdomen.
Mengetahui Pembagian Kuadran & Regio Abdomen.
Mengetahui Letak (proyeksi) Organ-Organ Abdomen.
Teknik Pemeriksaan Fisik Abdomen :
Persiapan Pemeriksaan.
Persiapan Pasien.
Observasi
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Titik & Garis Pedoman Pemeriksaan Fisik
Abdomen

Processus xyphoideus.
Arcus costae.
Spina illiaca anterior superior.
Simfisis pubis.
Linea alba.
Linea inguinalis.
Umbilicus
Pembagian Kuadran & Regio
Abdomen

Empat Kuadran Abdomen Sembilan Regio Abdomen


Letak (Proyeksi) Organ-Organ
Abdomen

Hepar (hati), berada pada regio


hipokondrium kanan dan regio epigastrium,
atau pada kuadran kanan atas.
Limpa, berkedudukan pada regio
hipokondrium kiri, atau kuadran kiri atas.
Lambung (gaster), berkedudukan pada
regio epigastrium, atau pada kuadran kiri
atas.
Kandung empedu, berada kira-kira pada
perbatasan daerah hipokondrium kanan
dengan epigastrium.
Letak (Proyeksi) Organ-Organ
Abdomen
Kandung kemih bila terisi penuh, dapat
terpalpasi pada regio hipogastrium.
Appendiks, kira-kira berada di antara
regio iliaka kanan, lumbar kanan, dan
bagian bawah regio umbilikal.
Ginjal (renal), terletak kira-kira pada
regio hipokondrium kanan hingga regio
lumbar kanan, serta pada regio
hipokondrium kiri hingga regio lumbar
kiri.
Letak (Proyeksi) Organ-Organ
Abdomen

Proyeksi Organ-Organ Abdomen Pada Dinding Abdomen


Teknik Pemeriksaan Fisik
Abdomen
Persiapan Pemeriksaan
Pastikan pemeriksaan fisik abdomen dilakukan
pada ruangan yang tertutup, sehingga dapat
menjamin kerahasiaan pasien.
Mintalah seorang perawat untuk mendampingi
dokter selama pemeriksaan (terutama pasien
wanita) yang dapat bertindak sebagai saksi
untuk menghindari perlakuan yang tidak
benar, ditinjau dari pihak pemeriksa, maupun
pasien.
Teknik Pemeriksaan Fisik
Abdomen
Persiapan Pasien
Dokter terlebih dahulu memberitahukan pada pasien,
prosedur, maksud dan tujuan pemeriksaan, secara
lisan, dengan bahasa yang dimengerti oleh pasien,
kemudian mintalah persetujuan pasien (informed
consent).
Bila pasien setuju, mintalah pasien untuk duduk, atau
berbaring dengan posisi supinasi, dengan kepala rata
atau ditinggikan sedikit dengan satu bantal,
sementara kedua lengan berada di samping kiri dan
kanan tubuhnya.
Jika kandung kemih dalam keadaan penuh, mintalah
pasien mengosongkan kandung kemih (kecuali pada
pemeriksaan palpasi kandung kemih) terlebih dahulu
sebelum pemeriksaan dimulai.
Teknik Pemeriksaan Fisik
Abdomen
Mintalah perawat untuk mengatur pakaian
pasien, sehingga seluruh abdomen dapat
terlihat mulai dari processus xyphoideus,
hingga pinggir atas simfisis pubis.
Bagian tubuh pasien yang tidak diperiksa,
ditutup dengan kain (doek) bersih.
Pemeriksa kemudian berdiri di sebelah
kanan pasien, dan meminta pasien untuk
rileks, dan tidak menegangkan perutnya.
Persiapan Pasien

Pengaturan Pakaian Pasien Pada Pemeriksaan Abdomen


Observasi (pengamatan awal)

Observasi dilakukan untuk mengetahui ada


tidaknya kelainan di luar abdomen, yang mungkin
berkaitan dengan penyakit sistem
gastroenterohepatologi.
Observasi hendaknya dilakukan secara sistematis
dan cepat, dimulai dari :
Ekstremitas superior.
Kepala dan leher.
Dada, dan punggung bagian atas.
Genitalia.
Ekstremitas inferior.
Observasi (pengamatan
awal)
Ekstremitas Superior.
Pada telapak tangan, carilah ada tidaknya eritema
palmaris, yang ditandai dengan memerahnya
bagian thenar dan hypothenar telapak tangan.
Perhatikan jari-jari tangan dengan seksama, amati
ada tidaknya kontraktur Dupuytren, berupa
deformitas fleksi, biasanya pada jari keempat, dan
kelima.
Perhatikan kuku pada jari-jari tangan, apakah
terdapat leukonikia, dan clubbing finger.
Kontraktur Dupuytren, dan lekonikia terjadi, akibat
hipoproteinemia pada penyakit hati.
Observasi (pengamatan
awal)

Eritema Palmaris Telapak Tangan Kontraktur Dupuytren


Observasi (pengamatan
awal)

Leukonikia Kuku Jari Clubbing Finger (jari tabuh)


Observasi (pengamatan
awal)
Kepala & Leher
Perhatikan dengan seksama sklera mata, apakah sklera
tampak berwarna kekuningan (sklera ikterik).
Perhatikan kelopak mata atas dan bawah, apakah
terdapat Xanthelasma.
Perhatikan apakah terdapat perubahan warna kulit
daerah kepala dan leher menjadi kekuningan (jaundice).
Perhatikan apakah terdapat kerontokan bulu-bulu tubuh
pada pasien pria seperti kumis, jambang, dan jenggot.
Observasi (pengamatan
awal)

Ikterus Sklera Mata Jaundice


Observasi (pengamatan awal)
Dada, Aksila & Punggung Bagian Atas
Perhatikanlah apakah terdapat perubahan warna
kulit menjadi kekuningan (jaundice) pada dada,
dan punggung bagian atas.
Amatilah daerah payudara dengan seksama,
apakah terjadi pembesaran payudara pada
pasien pria (ginekomastia).
Perhatikan kulit daerah dada, punggung bagian
atas, pangkal lengan atas, untuk menemukan ada
tidaknya spider naevi, yaitu malformasi vaskuler
kecil berwarna merah, berbentuk seperti laba-
laba, yang dengan penekanan pada arteriole
sentralnya, dapat berubah warna menjadi pucat.
Perhatikan apakah terdapat kerontokan bulu-bulu
tubuh pada pasien pria seperti bulu dada, dan
bulu ketiak.
Observasi (pengamatan
awal)

Ginekomastia Pada Pria Spider Naevi (spider


angiomata)
Observasi (pengamatan
awal)
Genitalia Eksterna
Perhatikan apakah terdapat kerontokan bulu
kemaluan (bulu pubis) pada pasien pria.
Perhatikan, dan palpasilah daerah skrotum untuk
mengetahui ada tidaknya pengecilan ukuran, dan
melunaknya konsistensi testis (atrofi testis).
Ekstremitas Inferior
Perhatikan ada tidaknya edema pada tungkai
bawah yang dapat ditemukan terutama pada
daerah pretibia.
Inspeksi Abdomen
Pemeriksaan inspeksi abdomen meliputi :
Kesimetrisan Abdomen.
Bentuk & Ukuran Abdomen (kontour
abdomen).
Kondisi Dinding Abdomen.
Pergerakan Dinding Perut.
Kesimetrisan Abdomen

Perhatikan dengan seksama kesimetrisan


abdomen pada pasien dalam posisi
berbaring supinasi.
Pada keadaan normal, dinding perut akan
terlihat simetris.
Dinding perut dapat terlihat asimetris bila
terdapat kehamilan, tumor yang besar,
abses, dan pelebaran setempat lumen
usus.
Kesimetrisan Abdomen

Dinding Abdomen Normal Dinding Abdomen Asimetris


Bentuk & Ukuran Abdomen (kontour
abdomen)
Perhatikan dengan seksama bentuk dan ukuran
abdomen.
Apakah abdomennya tampak datar pada posisi
berbaring telentang.
Apakah tampak cekung dan tipis (skafoid), dan tulang
iga dan pelvis tampak menonjol .
Apakah terlihat menonjol karena penimbunan jaringan
lemak subkutan, karena otot-otot dinding perut yang
melemah, atau terkumpulnya air atau gas berlebihan di
dalam rongga abdomen.
Amatilah dengan seksama kontour abdomen, apakah
terdapat penonjolan abdomen yang asimetris dan
terlokalisasi yang dapat disebabkan oleh kehamilan,
pembesaran organ (organomegali), tumor, atau hernia.
Bentuk & Ukuran Abdomen
(kontour abdomen)

Kontour Dinding Abdomen Normal Kontour Abdomen


Overweight
Kondisi Dinding Abdomen
Perhatikan dengan seksama ada tidaknya perubahan warna
kulit abdomen yang dalam keadaan normal, berwarna sama
atau sedikit lebih putih dari warna kulit anggota tubuh pasien
lainnya. Kulit abdomen dapat terlihat memerah, yang
merupakan tanda peradangan, atau berwarna kuning
(jaundice).
Perhatikan dengan seksama ada tidaknya jaringan parut pada
pasien yang dahulu pernah memiliki riwayat operasi abdomen,
riwayat ulserasi pada kulit, serta riwayat luka tusuk pada
dinding abdomen.
Perhatikan ada tidaknya striae berupa garis-garis putih (striae
alba), dapat ditemukan pada pasien kurus yang dahulu gemuk,
atau pada bekas ascites, striae lividae (pada kehamilan), atau
striae berwarna merah muda pada bagian bawah abdomen,
serta pada lipatan ketiak, pada Sindrome Cushing.
Perhatikan ada tidaknya dilatasi vena-vena dinding abdomen,
yang dalam keadaan normal tidak terlihat.
Kondisi Dinding Abdomen

Dilatasi Vena-Vena Abdomen Caput Medusae


Kondisi Dinding Abdomen

Perhatikan dengan seksama umbilikus, apakah


tampak mencekung ke dalam, walaupun pada
perut yang membuncit karena obesitas.
Perhatikan apakah umbilikus terlihat rata atau
menonjol, misalnya pada :
Distensi abdomen karena penumpukan cairan
berlebihan (misalnya ascites)
Hernia umbilikalis
Kehamilan
Adanya massa abnormal intraabdomen berukuran
besar (mioma uteri atau kista ovarium).
Kondisi Dinding Abdomen

Ascites Hernia Umbilikalis


Pergerakan Dinding Perut
Amatilah pergerakan abdomen, yang dalam
keadaan normal (istirahat) adalah minimal. Dinding
abdomen akan bergerak naik sedikit sewaktu
inspirasi, kemudian menurun kembali saat ekspirasi,
demikian seterusnya secara ritmik.
Perhatikan apakah pergerakan dinding abdomen
pada saat inspirasi dan ekspirasi terlihat berkurang,
atau hilang, misalnya pada infeksi intraabdomen,
misalnya pada peritonitis.
Perhatikan seksama gerakan peristaltik usus pada
dinding abdomen yang dalam keadaan normal tidak
terlihat. Gerakan peristaltik usus dapat terlihat pada
obstruksi ileus, atau invaginasi usus pada anak.
Palpasi Abdomen
Palpasi Superfisial
Palpasi Dalam :
Teknik Pemeriksaan Palpasi Dalam.
Pemeriksaan Nyeri Lepas (rebound
tenderness)
Teknik Pemeriksaan Palpasi Organ Dalam :
Palpasi Lobus Kanan Hati.
Palpasi Lobus Kiri Hati.
Palpasi Limpa Menurut Garis Schuffner.
Palpasi Limpa Menurut Garis Hackett
Teknik Palpasi Superfisial
Aturlah posisi pasien agar berbaring telentang
(supinasi) dengan kepala rata, atau sedikit ditinggikan,
dengan kedua tungkai ditekuk pada pangkal paha dan
lutut.
Gosokkanlah kedua telapak tangan terlebih dahulu,
agar suhunya menjadi sama dengan dinding abdomen
pasien untuk mencegah pasien terkejut saat pertama
kali telapak tangan disentuhkan pada dinding
abdomen.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Sebelum melakukan palpasi, tanyakanlah kepada
pasien, dimana lokasi nyeri yang ia rasakan pada
dinding abdomen.
Teknik Palpasi Superfisial
Selanjutnya, palpasi dilakukan dengan lembut dan
sistematis pada keempat kuadran abdomen,
dimulai dari daerah yang normal, kemudian secara
bertahap mendekati daerah yang nyeri tekan.
Lakukanlah palpasi dengan posisi telapak tangan
pronasi, menggunakan ruas terakhir, dan ruas
tengah jari-jari tangan yang dominan, bukan
menggunakan ujung jari-jari tangan.
Selama palpasi dilakukan, perhatikanlah mimik
muka pasien, sambil menanyakan, apakah daerah
abdomen yang sedang dipalpasi oleh pemeriksa
terasa sakit, atau tidak.
Teknik Palpasi Superfisial

Palpasi Superfisial (light palpation)


Teknik Palpasi Dalam
Aturlah posisi pasien agar berbaring telentang (supinasi)
dengan kepala rata, atau sedikit ditinggikan, dengan
kedua tungkai ditekuk pada pangkal paha dan lutut.
Gosokkanlah kedua telapak tangan terlebih dahulu, agar
suhunya menjadi sama dengan dinding abdomen pasien
untuk mencegah pasien terkejut saat pertama kali
telapak tangan disentuhkan pada dinding abdomen.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Letakkanlah telapak tangan kanan pemeriksa dalam
posisi pronasi pada dinding abdomen, sementara
telapak tangan kiri diletakkan dalam posisi pronasi pada
punggung telapak tangan kanan.
Teknik Palpasi Dalam

Palpasi Dalam (deep palpation)


Teknik Palpasi Dalam

Ujung-ujung jari tangan kiri memberikan


tekanan, sementara ruas terakhir dan ruas
tengah jari pada jari-jari tangan kanan
melakukan palpasi pada dinding abdomen.
Lakukan palpasi dalam secara sistematis, dan
meliputi keempat kuadran abdomen.
Sambil melakukan palpasi dalam, mintalah
pasien untuk relaks, dan ajaklah pasien
berbincang-bincang agar otot-otot perutnya
menjadi lemas.
Teknik Palpasi Dalam

Bila terdapat nyeri tekan, deskripsikanlah


gambaran dari nyeri tekan tersebut, yaitu :
Berat ringannya nyeri tekan yang dirasakan
pasien.
Lokasi nyeri tekan yang maksimal.
Apakah terasa adanya tahanan.
Ada tidaknya nyeri lepas, atau rebound
tenderness.
Teknik Palpasi Dalam

Bila teraba adanya massa intraabdomen,


deskripsikan :
Lokasi massa tersebut.
Seberapa besar ukurannya.
Bagaimana permukaannya.
Bagaimana konsistensinya.
Bagaimana tepi organ atau massa .
Apakah massa atau organ dapat digerakan atau
tidak (mobile atau immobile) .
Apakah massa tersebut berpulsasi, atau tidak.
Ada tidaknya nyeri tekan, pada saat massa atau
organ tersebut terpalpasi.
Pemeriksaan Nyeri Lepas (rebound tenderness)

Sebelum melakukan pemeriksaan nyeri lepas, beritahukan


kepada pasien, bahwa pemeriksaan ini dapat menimbulkan
perasaan tidak nyaman atau nyeri.
Letakkan jari-jari tangan kanan pemeriksa dalam posisi
pronasi pada salah satu kuadran dinding abdomen, menjauhi
daerah abdomen yang terasa nyeri oleh pasien.
Lakukanlah palpasi dalam, dan perlahan dengan
menggunakan ruas terakhir, dan ruas tengah jari-jari tangan
kanan pada dinding abdomen tersebut, kemudian tangan
yang melakukan palpasi, dilepas dengan tiba-tiba.
Pemeriksa kemudian menanyakan kepada pasien, mana yang
lebih sakit, saat perut ditekan, atau saat tekanan dilepaskan.
Jika sensasi nyeri terasa paling hebat pada saat tekanan
dilepaskan, nyeri lepas dinyatakan positif (+).
Pemeriksaan Nyeri Lepas (rebound
tenderness)

Pemeriksaan Nyeri Lepas Pemeriksaan Nyeri Lepas


Palpasi Hati
Catatan
Sesuai instruksi kontributor blok,
pemeriksaan palpasi hati untuk pelatihan
dilakukan seperti di buku panduan (palpasi
lobus kanan dan lobus kiri hati).
Instruktur menjelaskan kepada mahasiswa,
bahwa pada prakteknya, palpasi lobus
kanan dan kiri hati dilakukan sekaligus, dan
dihitung berapa (cm) jaraknya dari bawah
arcus costae (BAC), dan berapa (cm)
jaraknya dari processus xyphoideus (BPX).
Palpasi Lobus Kanan Hati
Dokter terlebih dahulu memberitahukan pada pasien,
prosedur, maksud dan tujuan pemeriksaan, secara lisan,
dengan bahasa yang dimengerti oleh pasien, kemudian
mintalah persetujuan pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring
supinasi dengan kepala rata dengan dada.
Agar dinding perut lemas, mintalah pasien untuk
menekuk kedua tungkainya pada pangkal paha dan
lutut.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Sebelum memulai pemeriksaan, gosokkanlah kedua
tangan pemeriksa, agar suhunya menjadi kurang lebih
sama dengan suhu dinding perut abdomen, untuk
mencegah pasien terkejut saat palpasi mulai dilakukan.
Palpasi Lobus Kanan Hati
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu titik arkus kosta
kanan yang dilalui oleh garis midklavikula kanan.
Letakkanlah telapak tangan kiri pemeriksa dalam posisi
supinasi pada bagian posterior tulang iga yang terbawah
sebelah kanan (iga ke-12).
Letakkan telapak tangan kanan pemeriksa dalam posisi
pronasi pada regio iliaka kanan pasien, sebelah lateral
muskulus rektus abdominis.
Lakukan palpasi dari regio iliaka kanan menuju ke arkus kosta
kanan yang dilalui oleh garis midklavikula kanan.
Palpasi hati dilakukan dengan melakukan penekanan dinding
perut dengan menggunakan sisi lateral telunjuk jari tangan
kanan.
Mintalah pasien untuk menarik nafas panjang ketika jari-jari
tangan kanan pemeriksa ditekan ke arah dalam dan ke arah
atas (dorsokranial), sementara pada saat yang bersamaan jari-
jari tangan kiri menekan ke arah ventral.
Palpasi Lobus Kanan Hati
Lakukanlah gerakan ini berulang-ulang,
dan posisinya digeser 1-2 jari ke arah
lengkung iga.
Diharapkan bila hati membesar, akan
terjadi sentuhan antara sisi lateral jari
telunjuk tangan kanan pemeriksa dengan
tepi hati pada saat inspirasi maksimal.
Pada keadaan normal, hati pada pasien
dewasa tidak terpalpasi.
Palpasi Lobus Kanan Hati
Bila pada palpasi didapatkan pembesaran hati,
lakukanlah penilaian antara lain :
Berapa sentimeter di bawah arkus kosta (BAC)
kanan, misalnya 3 sentimeter BAC, dan berapa
cm dari processus xyphoideus.
Bagaimana keadaan tepi hati, apakah tajam,
misalnya pada hepatitis akut, atau tumpul,
misalnya pada sirosis hati, dan tumor hati.
Bagaimana konsistensi hati yang teraba, apakah
keras, atau kenyal.
Bagaimana pemukaan hati yang dirasakan,
apakah rata atau berbenjol-benjol.
Apakah terdapat nyeri tekan atau fluktuasi,
misalnya pada abses hati.
Palpasi Lobus Kanan Hati

Palpasi Lobus Kanan Hati


Palpasi Lobus Kiri Hati
Dokter terlebih dahulu memberitahukan pada pasien, prosedur,
maksud dan tujuan pemeriksaan, secara lisan, dengan bahasa
yang dimengerti oleh pasien, kemudian mintalah persetujuan
pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring supinasi
dengan kepala rata dengan dada.
Agar dinding perut lemas, mintalah pasien untuk menekuk
kedua tungkainya pada pangkal paha dan lutut.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Sebelum memulai pemeriksaan, gosokkanlah kedua tangan
pemeriksa, agar suhunya menjadi kurang lebih sama dengan
suhu dinding perut abdomen, untuk mencegah pasien terkejut
saat palpasi mulai dilakukan.
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu processus
xyphoideus yang dilalui oleh garis midsternalis.
Letakkanlah telapak tangan kiri pemeriksa dalam posisi
supinasi pada bagian posterior tulang iga yang terbawah
sebelah kanan (iga ke-12).
Palpasi Lobus Kiri Hati
Letakkan telapak tangan kanan pemeriksa dalam posisi pronasi
pada regio hipogastrium pasien.
Lakukan palpasi dari regio hipogastrium, menuju ke processus
xyphoideus yang dilalui oleh garis midsternalis.
Lakukan palpasi lobus kiri hati seperti teknik palpasi pada lobus
kanan hati, dengan arah palpasi ke processus xyphoideus.
Bila pada palpasi didapatkan pembesaran hati, lakukanlah
penilaian antara lain :
Berapa lebar jari tangan di bawah processus xyphoideus (BPX),
misalnya 2 sentimeter BPX
Bagaimana keadaan tepi hati, apakah tajam, misalnya pada
hepatitis akut, atau tumpul, misalnya pada tumor hati
Bagaimana konsistensi hati yang teraba, apakah keras, atau
kenyal
Bagaimana pemukaan hati yang dirasakan, apakah rata atau
berbenjol-benjol
Apakah terdapat nyeri tekan atau fluktuasi, misalnya pada
abses hati.
Murphys sign atau tanda Murphy merupakan salah satu pemeriksaan
fisik yang sangat bermanfaat untuk menunjang diagnosa kolesistitis.
Konfirmasi diagnosis tergantung penemuan pada pemeriksaan fisik,
laboratorium, dan hasil pencitraan sehingga Murphy Sign juga
bermanfaat. Kolesistitis merupakan kondisi yang sering terjadi akibat
peristiwa inflamasi, infeksi, metabolik, neoplasma, dan kelainan
kongenital. Angka terbesar kejadian kolesistitis akut paling banyak pada
dewasa usia 30 sampai 80 tahun. Wanita beresiko dua kali lebih besar
dibandingkan pria. Kolesistitis memiliki ciri khas nyeri ringan hingga
sedang pada regio kuadran kanan atas (hipocondriaca dextra) dan
epigastrium abdomen. Rasa nyeri biasanya menjalar hingga belakang
skapula kanan dan punggung. Mual, muntah, demam derajat ringan, dan
leukositosis sering terjadi. Gejala muncul biasanya sering berhubungan
dengan konsumsi makanan dengan kandungan tinggi lemak pada satu
atau beberapa jam sebelum onset nyeri muncul.
Metode Pemeriksaan
Pasien di periksa dalam posisi berbaring supine,kemudian pemeriksa
menekan / palpasi regio subcostal kanan (hipokondriaka dextra) pasien,
kemudian pasien diminta untuk menarik nafas panjang yang dapat
menyebabkan kandung empedu turun menuju tangan pemeriksa. Ketika
manuver ini menimbulkan respon sangat nyeri kepada pasien,kemudian
tampak pasien menahan penarikan nafas (inspirasi terhenti), maka hal
ini disebut Murphys sign positif
yang sangat bermanfaat untuk menunjang diagnosa Abses hati
amoebik. Abses hati amoebik adalah bentuk infeksi pada hati yang
disebabkan karena infeksi Entamoeba histolytica yang bersumber
dari intestinal yang ditandai dengan adanya proses supurasi
dengan pembentukan pus yang terdiri dari jaringan hati nekrotik,
sel-sel inflamasi atau sel-sel darah dalam parenkim hati.
Pasien umumnya datang dengan keluhan nyeri abdomen kanan
atas. Nyeri dirasakan seperti tertusuk dan ditekan. Nyeri dapat
dirasakan menjalar hingga ke bahu dan lengan kanan. Pasien
merasa semakin nyeri apabila batuk, berjalan, menarik napas
dalam, dan berbaring miring ke sisi tubuh sebelah kanan. Pasien
juga merasa lebih nyaman berbaring miring ke sisi tubuh sebelah
kiri.
Demam dijumpai pada 87-100% kasus, mual dan muntah
ditemukan pada 32-85% kasus, dan dapat dijumpai pula
penurunan berat badan. Keluhan diare dijumpai pada sepertiga
kasus, bahkan pada beberapa kasus dijumpai riwayat disentri
beberapa bulan sebelumnya.
Metode Pemeriksaan
Pemeriksaan Ludwig sign, yakni menekan sela iga ke-6
setentang linea axilaris anterior dextra, apabila terdapat nyeri
tekan maka menguatkan dugaan abses hati atau Ludwig sign
positif.
Palpasi Limpa Menurut Garis
Schuffner
Dokter terlebih dahulu memberitahukan pada pasien, prosedur,
maksud dan tujuan pemeriksaan, secara lisan, dengan bahasa
yang dimengerti oleh pasien, kemudian mintalah persetujuan
pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring supinasi
dengan kepala rata dengan dada.
Agar dinding perut lemas, mintalah pasien untuk menekuk
kedua tungkainya pada pangkal paha dan lutut.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Sebelum memulai pemeriksaan, gosokkanlah kedua tangan
pemeriksa, agar suhunya menjadi kurang lebih sama dengan
suhu dinding perut abdomen, untuk mencegah pasien terkejut
saat palpasi mulai dilakukan.
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu titik arkus kosta kiri
yang dilalui oleh garis midklavikula kiri.
Palpasi Limpa Menurut Garis
Schuffner
Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dalam posisi
supinasi pada bagian posterior tulang iga yang terbawah
sebelah kiri (iga ke-12).
Letakkan telapak tangan kanan pemeriksa dalam posisi
pronasi pada regio iliaka kanan pasien.
Lakukan palpasi secara diagonal ke arah kiri atas, dari regio
iliaka kanan menuju ke umbilikus (S-4), selanjutnya
dilanjutkan ke arah arkus kosta kiri (S-1).
Palpasi limpa dilakukan dengan melakukan penekanan
dinding perut dengan menggunakan sisi lateral telunjuk jari
tangan sebelah kanan.
Pasien diminta untuk menarik nafas panjang ketika jari-jari
tangan kanan pemeriksa ditekan ke arah dalam dan ke arah
atas, sementara pada saat yang bersamaan jari-jari tangan
kiri menekan ke arah atas (dorsokranial).
Palpasi Limpa Menurut Garis
Schuffner
Lakukan gerakan ini berulang-ulang, dan posisinya
digeser 1-2 jari secara diagonal ke arah kiri atas
sesuai garis Schuffner, untuk meraba tepi bawah
limpa.
Bila pada palpasi teraba tepi bawah limpa,
lakukanlah penilaian antara lain :
Berapa jauh tepi bawah limpa yang teraba dari arkus
kosta kiri pada garis Schuffner (S-I sampai S-VIII).
Bagaimana konsistensi limpa.
Apakah kenyal, atau keras.
Apakah teraba lekukan (insisura) limpa.
Palpasi Limpa Menurut Garis
Schuffner

Palpasi Bimanual Limpa


Palpasi Limpa Menurut Garis
Hackett
Dokter terlebih dahulu memberitahukan pada pasien,
prosedur, maksud dan tujuan pemeriksaan, secara lisan,
dengan bahasa yang dimengerti oleh pasien, kemudian
mintalah persetujuan pasien (informed consent).
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring
supinasi dengan kepala rata dengan dada.
Agar dinding perut lemas, mintalah pasien untuk menekuk
kedua tungkainya pada pangkal paha dan lutut.
Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien.
Sebelum memulai pemeriksaan, gosokkanlah kedua tangan
pemeriksa, agar suhunya menjadi kurang lebih sama
dengan suhu dinding perut abdomen, untuk mencegah
pasien terkejut saat palpasi mulai dilakukan.
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu titik arkus kosta
kiri yang dilalui oleh garis midklavikula kiri.
Palpasi Limpa Menurut Garis
Hackett
Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dalam posisi supinasi pada
bagian posterior tulang iga yang terbawah sebelah kiri (iga ke-12).
Letakkan telapak tangan kanan pemeriksa dalam posisi pronasi pada
regio iliaka kiri pasien.
Lakukan palpasi ke arah atas, dari regio iliaka kiri (SIAS kiri) menuju
ke titik arkus kosta kiri yang dilalui garis midklavikula kiri.
Palpasi limpa dilakukan dengan melakukan penekanan dinding perut
dengan menggunakan sisi lateral telunjuk jari tangan kanan.
Pasien diminta untuk menarik nafas panjang ketika jari-jari tangan
kanan pemeriksa ditekan ke arah dalam dan ke arah atas,
sementara pada saat yang bersamaan jari-jari tangan kiri menekan
ke arah atas (dorsokranial).
Lakukan gerakan ini berulang-ulang, dan posisinya digeser 1-2 jari
ke arah atas sesuai garis Hacket (H I-V) untuk meraba tepi bawah
limpa.
Palpasi Limpa Menurut Garis
Hackett
Bila pada palpasi teraba tepi bawah limpa,
lakukanlah penilaian antara lain :
Berapa jauh tepi bawah limpa yang teraba
dari arkus kosta kiri pada garis Hacket (H-I
- H-V).
Bagaimana konsistensi limpa, apakah
kenyal atau keras.
Apakah teraba lekukan (insisura) limpa.
Perkusi Abdomen
Tujuan Pemeriksaan Perkusi Abdomen :
Mengetahui batas organ padat secara kasar. Misalnya batas hati, atau
limpa.
Menentukan penyebab distensi abdomen :
Penuh dengan gas.
Adanya massa tumor yang besar.
Adanya proses peradangan.
Cairan yang berlebihan.
Dalam keadaan normal, suara perkusi sebagian besar abdomen adalah
timpani, kecuali daerah pada daerah hati yang perkusinya pekak.
Hilangnya daerah pekak hati, atau bertambahnya bunyi timpani di seluruh
abdomen menunjukkan kemungkinan adanya udara bebas dalam rongga
perut
Adanya bunyi perkusi timpani dan redup yang berpindah-pindah dinamakan
fenomena papan catur (chess board phenomen), yang menandakan adanya
peritonitis tuberkulosis.
Perkusi Batas Hati (liver span)

Pelatihan Meliputi Pemeriksaan :


Perkusi Batas Paru-Hati.
Perkusi Peranjakan Hati.
Perkusi Batas Bawah Hati.
Perkusi Batas Hati (liver span)
Sebelum melakukan pemeriksaan, jelaskanlah
terlebih dahulu prosedur pemeriksaan yang
akan dilakukan secara lisan, dengan bahasa
yang dimengerti oleh pasien, kemudian mintalah
persetujuan pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar
berbaring supinasi dengan kepala membentuk
sudut 300 dengan tempat tidur periksa, atau
duduk bagi pasien yang tidak bisa berbaring.
Posisi pemeriksa dalam pemeriksaan ini adalah
berdiri di sebelah kanan pasien.
Perkusi Batas Paru-Hati
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu garis
midklavikula kanan.
Letakkan telapak tangan kiri pada dinding toraks,
kemudian tekan sedikit jari telunjuk atau jari tengah
tangan kiri (jari fleksimeter) pada sela iga daerah toraks.
Bagian tengah falangs medial dari jari fleksimeter
kemudian diketuk dengan ujung jari tengah kanan (jari
fleksor), dengan sendi pergelangan tangan sebagai
poros.
Perkusi dilakukan pada sela-sela iga sepanjang garis
midklavikula kanan dengan arah dari kranial ke kaudal.
Lakukan penilaian terhadap perubahan bunyi perkusi
pada sela-sela iga.
Perkusi Batas Paru-Hati
Kira-kira pada sela iga ke-5, akan terjadi
perubahan bunyi suara perkusi, dari suara sonor
menjadi sonor memendek, yang dinyatakan
sebagai batas paru hati relatif.
Lanjutkan perkusi pada sela iga berikutnya,
namun dengan perkusi yang lebih lemah.
Pada sela iga ke-6, akan terjadi perubahan
bunyi suara perkusi, dari suara sonor
memendek menjadi pekak, yang dinyatakan
sebagai batas paru hati absolut.
Perkusi Batas Bawah Hati
Tentukan titik pedoman pemeriksaan, yaitu garis
midklavikula kanan.
Letakkan telapak tangan kiri pada dinding
abdomen, kemudian tekan sedikit jari telunjuk
atau jari tengah tangan kiri (jari fleksimeter) pada
kuadran kanan bawah abdomen yang dilalui oleh
garis midklavikula kanan.
Bagian tengah falangs medial dari jari fleksimeter
kemudian diketuk dengan ujung jari tengah kanan
(jari fleksor), dengan sendi pergelangan tangan
sebagai poros.
Perkusi Batas Bawah Hati
Perkusi dilakukan pada permukaan abdomen
sepanjang garis midklavikula kanan dengan arah
dari bawah ke atas, menuju daerah pekak hati.
Lakukan penilaian terhadap perubahan bunyi
perkusi.
Kira-kira pada sela iga ke-6, akan terjadi
perubahan bunyi suara perkusi, dari suara
timpani menjadi pekak, yang dinyatakan sebagai
batas bawah hati.
Peranjakan Hati
Tentukanlah terlebih dahulu, batas paru hati absolut yang
berada pada sela iga keenam (ICS 6).
Mintalah pasien melakukan inspirasi dalam (maksimal).
Pada saat pasien melakukan inspirasi dalam, lakukan
perkusi pada sela iga ke-6.
Lakukanlah penilaian apakah terjadi perubahan bunyi
suara perkusi dari pekak menjadi sonor memendek.
Berubahnya batas paru hati pada inspirasi dalam,
dinamakan peranjakan hati.
Peranjakan hati biasanya sekitar 1-2 cm di bawah
daerah batas paru hati absolut dalam keadaan normal.
Pemeriksaan Ascites
Teknik Pemeriksaan Ascites :
Pemeriksaan Gelombang Cairan (tes undulasi).
Pemeriksaan Shifting Dullness.
Pemeriksaan Puddle Sign.
Pemeriksaan Knee Chest Position.
Pada pelatihan yang akan dilatihkan adalah :
Pemeriksaan Gelombang Cairan (tes undulasi).
Pemeriksaan Shifting Dullness.
Pemeriksaan Gelombang Cairan (tes undulasi)

Sebelum melakukan pemeriksaan, pemeriksa menjelaskan


terlebih dahulu prosedur pemeriksaan gelombang cairan yang
akan dilakukan secara lisan, dengan bahasa yang dimengerti oleh
pasien, kemudian mintalah persetujuan pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring supinasi
dengan kepala rata dengan dada, dengan posisi pemeriksa
berada di sisi kaudal pasien.
Pemeriksa meletakkan salah satu telapak tangannya dalam posisi
pronasi pada sisi samping perut pasien, sementara telapak tangan
lainnya mengetuk-ngetuk sisi samping perut pasien lainnya.
Untuk mencegah gerakan yang diteruskan melalui dinding
abdomen sendiri, mintalah pemeriksa lain atau pasien sendiri,
untuk meletakkan telapak tangannya di tengah-tengah perut
dengan sedikit tekanan.
Pemeriksaan Gelombang Cairan (tes undulasi)

Pemeriksaan Gelombang Cairan Pemeriksaan Gelombang Cairan


Pemeriksaan Shifting Dullness
Sebelum melakukan pemeriksaan, pemeriksa menjelaskan
terlebih dahulu prosedur pemeriksaan shifting dullnesss yang
akan dilakukan secara lisan, dengan bahasa yang dimengerti
oleh pasien, kemudian mintalah persetujuan pasien.
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring
supinasi dengan kepala rata dengan dada.
Mulailah perkusi dari daerah umbilikus yang biasanya akan
menimbulkan suara timpani.
Lanjutkan perkusi secara bertahap ke arah sisi samping
abdomen, dengan interval jarak perkusi dari satu titik ke titik
lain kira-kira 1 cm, sampai terdengar suara redup.
Hubungkanlah titik-titik yang menimbulkan suara redup pada
perkusi abdomen, yang merupakan permukaan daripada
cairan.
Pemeriksaan Shifting Dullness
Mintalah pasien untuk berbaring miring ke arah
kirinya, dan tunggulah beberapa saat sekitar 1-2
menit.
Setelah 1 menit, lakukanlah perkusi pada titik
yang telah ditandai tadi, dan lakukan penilaian
ada tidaknya perubahan bunyi perkusi yang
tadinya redup menjadi timpani.
Pemeriksaan shifting dullness dikatakan positif,
bila terjadi perubahan bunyi perkusi pada titik
yang telah ditandai tadi, dari bunyi redup
menjadi timpani, karena perubahan posisi
cairan pada rongga abdomen.
Pemeriksaan Shifting Dullness

Pemeriksaan Shifting Dullness Pemeriksaan Shifting Dullness


Auskultasi Abdomen
Materi Pelatihan :
Teknik Auskultasi Abdomen.
Auskultasi Bising Peristaltik Usus (bowel
sound).
Auskultasi Bising Vaskuler :
Bising Vena (venous hum).
Bising Bruit.
Teknik Auskultasi Abdomen
Sebelum melakukan pemeriksaan, jelaskanlah terlebih dahulu
prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan secara lisan, dengan
bahasa yang dimengerti oleh pasien, kemudian mintalah
persetujuan pasien (informed consent).
Bila pasien setuju, aturlah posisi pasien agar berbaring supinasi
dengan kepala rata dengan dada, atau duduk.
Posisi pemeriksa dalam pemeriksaan ini adalah berdiri di sebelah
kanan pasien.
Letakkan permukaan diafragma stetoskop dengan kontak penuh
pada kulit permukaan kuadran kanan bawah abdomen, disebelah
bawah umbilikus.
Dengarkanlah dengan seksama bunyi yang terdengar, terutama
bising peristaltik usus, bising vaskuler, dan bising gesek.
Teknik Auskultasi Abdomen

Teknik Auskultasi Abdomen


Bising Peristaltik Usus (bowel sound)

Lakukan penilaian terhadap kualitas, dan frekwensi


bising peristaltik usus.
Pada orang yang normal, bising usus dapat terdengar
sebagai suara berdeguk, atau bergelembung halus,
yang terjadi secara intermitten, yaitu sekitar 3 kali setiap
menitnya.
Tentukan apakah bising peristaltik usus :
Normal
Melemah bahkan menghilang (misalnya pada peritonitis,
pasca operasi abdomen, dan pada ileus paralitik).
Meningkat (misalnya borborigmi pada diare, atau
metallic sound pada ileus obstruksi).
Bising Vaskuler (auskultasi bising v ena)

Letakkan permukaan diafragma stetoskop di


antara daerah epigastrium dan umbilikus untuk
mendengarkan bising vena.
Dalam keadaan normal, bising vena tidak
terdengar pada pemeriksaan auskultasi .
Bising Vaskuler (auskultasi bruit)

Letakkan permukaan diafragma stetoskop pada regio epigastrium


untuk mendengarkan bruit aorta abdominal.
Letakkan permukaan diafragma stetoskop pada regio
hipokondrium kanan dan kiri, serta pada sudut costovertebral
kanan dan kiri untuk mendengarkan bruit arteri renalis.
Letakkan permukaan diafragma stetoskop pada pertengahan
kuadran kanan dan kiri bawah abdomen untuk mendengarkan
bruit arteri iliaka.
Letakkan permukaan diafragma stetoskop pada pada sebelah
bawah titik tengah ligamentum inguinal kanan dan kiri pasien,
untuk mendengarkan bruit arteri femoralis.
Dalam keadaan normal, bruit tidak terdengar pada pemeriksaan
auskultasi.
Bising Vaskuler (auskultasi bruit)

Lokasi Auskultasi Bruit


Bising Gesek (friction rub)
Letakkan permukaan diafragma stetoskop pada di sekitar
regio hipokondrium kanan, atau kiri, untuk mendengarkan
bising gesek.
Mintalah pasien menarik nafas dalam, dan lakukan
penilaian ada tidaknya bising gesek.
Bising gesek dinyatakan positif bila terdengar suara
kresek-kresek saat pasien menarik nafas dalam.
Friction Rub disebabkan adanya penebalan peritoneum,
atau visceral, karena proses inflamasi.
Pada abdomen, bising gesek dapat terdengar terutama
pada di sekitar regio hipokondrium kanan, atau kiri, dan
dapat menunjukkan adanya kelainan pada hati atau limpa.