Anda di halaman 1dari 20

Disusun oleh:

Ahmad Eri S
Anis Laela M
Hari Kusuma
Sekar Arum
Apa itu sistem imun?
sistem pertahanan manusia sebagai
perlindungan terhadap infeksi dari
mikrorganisme (virus, bakteri,
protozoa ).
Jika sistem kekebalan melemah,
kemampuannya melindungi tubuh juga
berkurang, sehingga menyebabkan
patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu
Fungsinya..?
1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab
penyakit
2. Menghilangkan jaringan atau sel yg
mati atau rusak untuk perbaikan
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang
abnormal
LETAK- LETAK SISTEM
1. Sumsum
IMUN
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari
sel-sel induk dalam sumsum tulang. Sumsum
mengandung eritrosit, limfosit, & platelet.
Sel-Sel dalam sistem imun:
a. Fagosit monokulear terdiri atas monosit dalam
sirkulasi dan makrofag dalam jaringan:
1) Monosit Monosit adalah fagosit yang didistribusikan
secara luas sekali di organ limfoid dan organ lainnya
2) Makrofag Makrofag sel utama fagositosis. Terdiri dari 2
macam : makrofag bebas dan makrofag fiksasi (tinggal
di organ). makrofag dapat hidup untuk beberapa bulan
sampai tahun
b. Fagosit polimorfonuklear / granulosit
dibentuk dalam sumsum tulang dalam
kecepatan 8 juta/menit dan hidup selama 2-3
hari. Granulosit dibagi menurut pewarnaan :
1) Neutrofil
sebagian besar dari leukosit dalam sirkulasi.
Neutrofil mempunyai reseptor untuk IgGdan
komplemen
2) Eosinofil
Merupakan 2-5% dari sel darah putih orang
sehat. Fungsi utama eosinofil adalah melawan
infeksi parasit dan dapat juga memakan
antigen antibody.
2. Timus
sel limfoid mengalami proses pematangan
sebelum lepas ke dalam sirkulasi. Proses ini
memungkinkan sel T untuk mengembangkan
atribut penting yang dikenal sebagai toleransi
diri.
3. Getah bening
berbentuk kacang kecil terbaring di sepanjang perjalanan
limfatik
FISIOLOGI SISTEM IMUN
Organisme uniselular seperti bakteri
dimusnahkan oleh sistem enzim yang
melindungi terhadap infeksi virus. Jika sistem
kekebalan melemah, kemampuannya untuk
melindungi tubuh juga berkurang. Penyakit
defisiensi imun muncul ketika sistem imun
kurang aktif daripada biasanya.
Penyakit autoimun menyebabkan sistem imun
yang hiperaktif menyerang jaringan normal.
imun dibagi menjadi 2:
1. Non Spesifik (bawaan)
sel fagositik dipenuhi oleh protein membran
plasma dinamai toll-like receptors (TLR). Saat
TLR mengenali patogen maka TLR memicu
fagosit untuk menelan dan menghancurkan
mikroorganisme infeksius tersebut. Selain itu
pengaktifan TLR memicu sel fagositik
mengeluarkan bahan-bahan kimia yang sebagian
berperan dalam peradangan
Pertahan imunitas bawaan
(nonspesifik) mencakup:
1. Inflamasi 3. Natural killer cells
2. Interveron 4. Sistem komplemen

2. Mekanisme Pertahanan Spesifik


mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit,
dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun
lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Imunitas
humoral adalah imunitas yang diperankan oleh sel
limfosit B dengan atau tanpa bantuan sel imunokompeten
lainnya. Terdapat lima kelas imunoglobulin yang kita
kenal, yaitu IgM, IgG, IgA, IgD, dan IgE.
a. Komponen Sistem Imun
Spesifik
Limfosit berperan utama dalam respon imun
diperantarai sel. Limfosit terbagi atas 2 jenis
yaitu Limfosit B dan Limfosit T. Berikut adalah
perbedaan antara Limfosit T dan Limfosit B.
Terdapat 3 jenis Limfosit T yaitu:
a. Helper T cells mengantur sistem imun dan
mengontrol kualitas sistem imun
b. Killer T cells menyerang sel tubuh yang
terinfeksi oleh patogen
c. Surpressor T cells menurunkan dan
menghentikan respon imun jika infeksi berhasil
diatasi
Terdapat 3 jenis sel Limfosit B yaitu :
Limfosit B plasma, memproduksi antibodi
Limfosit B pembelah, menghasilkan Limfosit B
dalam jumlah banyak dan cepat
Limfosit B memori, menyimpan mengingat
antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh
b. Barier Sel Epitel
berfungsi sebagai antibodi natural. terdapat sel limfosit
T dan B, tetapi diversitasnya lebih rendah. Sel T limfosit
intra epitel akan menghasilkan sitokin, mengaktifkan
fagositosis dan selanjutnya melisiskan mikroorganisme.
Sedangkan sel B limfosit intraepitel akan menghasilkan
IG M
c. Neutrofil dan Makrofag
Ketika terdapat mikroba ke tubuh, neutrofil dan
makrofag dengan cara ingesti akan
tmenghancurkan mikroba itu. Hal ini di
karenakan makrofag dan neutrofil
mempunyai reseptor di permukaannya yang
bisa mengenali bahan intraselular (DNA),
endotoxin dan lipopolisakarida pada mikroba
d. Set T
Setelah sel B berikatan dengan sel T helper, sel
T helper tidak bisa langsung teraktivasi tanpa
adanya stimulasi dari Co-stimulatory sitokin
e. Sel B
berfungsi sebagai APC. Sel B akan
menerima antigen kemudian melalui
MHC kelas II, antigen ini disajikan ke
permukaan sel untuk mengaktivasi sel T
helper. Sel T helper akan mensekresikan
sitokin yang dapat menstimulasi sel B
berproliferasi menjadi sel memori, selain
itu juga mengaktifkan sel B untuk
menjadi sel plasma penghasil antibodi
f. Antibodi (Immunoglobulin)
yang membentuk sekitar 20% dari semua protein
dalam plasma darah, adalah produk utama sel
plasma. Fungsi :
1. Menyebabkan sitotoksisitas
2. Memungkinkan terjadinya imunisasi pasif
3. Meningkatkan opsonisasi
4. Mengaktifkan komplemen
5. Menyebabkan anafilaksis
Pembagian
Immunglobulin??
1. Antibodi A penting dalam imunitas
mukosis, mencegah penempelan
bakteri dan virus ke membran mukosa
2. Antibodi D dapat mengendalikan
aktivasi dan supresi sel B
3. Antibodi E peran yang besar pada
alergi terutama pada hipersensitivitas
tipe 1
4. Antibodi G, Antibodi M
CARA PEMBENTUKAN
ANTIBODI
Langkah awal pembentukan antibodi adalah
fagositosis makrofag. Sel ini tidak membentuk
antibodi, tapi mereka membawa antigen dalam
beberapa bentuk ke sel B. Hal ini merangsang sel
B berdiferensiasi membentuk plasma sel di mana
sintesis rantai immunoglobulin dimulai dalam
poliribosom. Dengan antigen khusus, induksi
respon antibodi memerlukan kerja sama antara
sel B dan sel T seperti makrofag. Pada keadaan
normal, mekanisme pertahanan tubuh tergantung
pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan
oleh antigen menimbulkan keadaan
imunopatologik (hipersensitivitas).
REAKSI HIPERSENSITIVITAS
Sel mast dan basofil sangat berperan pada
reaksi hipersensitivitas melalui mediator yang
dikandungnya, yaitu histamin dan zat
peradangan lainnya. Untuk terjadinya suatu
reaksi selular diperlukan interaksi antara IgE
spesifik yang berikatan dengan sel mast atau
basofil dengan alergen yang bersangkutan.
Menurut jarak waktu timbulnya, reaksi tipe I
dibagi menjadi 2:
1. Reaksi hipersensitivitas tipe I fase cepat
2. Reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat
Pembagian reaksi hipersensitivitas oleh Gell
dan Coombs
Mediator penyakit alergi
(hipersensitivitas tipe I)
Mediator ini dapat dibagi dalam dua
kelompok, yaitu mediator yang sudah ada
dalam granula sel mast (histamin, ECF-A,
NCF) dan mediator yang terbentuk kemudian
(Produk siklooksigenase, Produk
lipoksigenase, Slow reacting substance of
anaphylaxis, Faktor aktivasi trombosit,
Serotonin)