Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KASUS

GAGAL INTUBASI PADA ABSES


SUBMANDIBULA DAN IMPAKSI

PEMBIMBING :
DR. RIZA M. FARID, SP.AN
DR. ASEP HENDRADIANA, SP.AN, KIC, M.KES
DR. SONNY TRESNADI, SP.AN
DR. MUHAMMAD NAUFAL, SP.AN
DR. NINI MEMEN, SP.AN

DISUSUN OLEH :
FATHAN IFTIFAZHUDDIN (1102010096)
MAINURTIKA (1102011151)
MUTHIARA SURYA (1102011183)
R.M AFFANDI AKBAR (1102011216)
SRI ATIKA MAYASARI PUTRI (1102011263)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BAGIAN ANESTESI


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 13 JUNI 2016 15 JULI 2016
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Piala Simanullang
No. RM : 821926
Jenis kelamin : Laki - Laki
Usia : 34 tahun
Alamat : Perum Cibinong Alam Lestari
Agama : Kristen
Suku : Batak
Berat Badan : 67 kg
Tinggi Badan : 177 cm
Tanggal masuk RS : 27 Juni 2016
Tanggal Operasi : 28 Juni 2016
Dr. Anestesi : Dr. Sony Tresnadi, Sp.An
Dr. Bedah : Drg. Henry Setiawan, Sp.BM
Diagnosa Pra Bedah : Abses Submandibula dan
Impaksi
Jenis Pembedahan : Odontectomy dan Ekplorasi Pus
Diagnosa Pasca Bedah : Sesuai

Jenis Anestesi : General anestesi


Lama Operasi : 2 jam 40 menit
Lama Anestesi : 3 jam
KEADAAN PRA BEDAH
Anamnesis : Anamnesis dilakukan secara
Autoanamnesis ( 28 Juni 2016 )

Keluhan Utama : Nyeri pada gusi sejak 1 minggu


SMRS

Keluhan tambahan : Bengkak


Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada gusi bawah bagian
dalam sejak 1 minggu sebelum datang ke rumah sakit. Nyeri
tersebut dirasakan sekitar 3 bulan yang lalu namun pasien
tidak memperdulikan hal tersebut. Pasien merasakan nyeri
bertambah hebat dan memutuskan pergi ke dokter gigi.
Nyeri dirasakan terus menerus dan bertambah pada saat
membuka, menutup mulut dan mengunyah. Nyeri dirasakan
tidak menjalar. Selama ini pasien hanya mengkonsumsi obat
(paracetamol) untuk meredakan nyeri namun hanya bisa
meredakan nyeri sesaat. Selain nyeri yang dirasakan, pasien
juga merasakan gusi bengkak. Tidak ada demam, riwayat
alergi makanan dan obat disangkal, hipertensi, diabetes
mellitus, asma disangkal oleh pasien. Sesak, dada berdebar-
debar, perubahan suara disangkal pasien.
PEMERIKSAAN FISIK
PEMERIKSAAN DILAKUKAN PADA
TANGGAL 22 APRIL 2016
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS 15 = E4V5M6

Tanda tanda vital:


Tekanan darah : 150/80 mmHg
Pernafasan : 28 x/menit
Nadi : 86 x/menit
Suhu : 36,8C
STATUS GENERALIS
Status generalis
Kepala Normocephal, tidak terdapat bekas luka, distribusi
rambut merata
Mata Mata simetris, pupil isokor, sklera ikterik -/-,
conjungtiva anemis -/-
Hidung Bentuk hidung normal, tidak ada deviasi septum,
secret -/-
Mulut Bentuk bibir dan mukosa kering, mallampati 3
Telinga Bentuk simetris, aurikula normal, serumen +/+,
hiperemis -/-
Leher Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar getah
bening, nyeri tekan pada submentalis kiri dan kanan,
Pulmo Suara nafas vesikular, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor Bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen Supel, datar, nyeri tekan (-), hepar dan spleen tidak
teraba, BU+
Ekstremitas Akral hangat, tidak terdapat edema, CRT < 2 detik
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 16.6 gr/dl 13-16 gr/dl
Leukosit 10.400/ul 5000-10000/ul
Hematokrit 48% 40-48%
Trombosit 299.000/ul 150.000-
400.000/ul
Masa pendarahan 1 menit 1-6 menit
Masa pembekuan 11 menit 10- 15 menit
Tes Fungsi Liver
SGOT 33.4 < 37 U/L
SGPT 53.4* < 40 U/L
Ureum 18 mg 10-50 md/dL
Creatinin 0.9 mg/dl 0.5-1.5 mg/dL
Glukosa darah sewaktu 96 <200
Natrium 141 135- 145 mmol/L

Kalium 4.0 3,5 -5,0 mmol/L


Chlorida 103 98-108 mmol/L
RADIOLOGI DAN PENGKAJIAN PASIEN GIGI
Radiologi

Interpretasi :
Terdapat gigi supernumerrarry impacted di regio 3 (antara 34
dan 35) dan di regio 4 (antara 44 dan 45)
Gigi 48 impacted arah horizontal
Terdapat gambaran radiolusen berbatas diffuse pada regio 18

Kesan : Impaksi
Kajian Pasien Gigi
Status Fisik : ASA II

Medikasi Pra Bedah :


- IVFD : RL ( total cairan masuk 100 ml ) di dorsum manus
sinistra
- Puasa : 8 jam (dari pukul 10 p.m. 6 a.m)
- Ceftriaxone :1 x 2gr (di ruangan, sebelum operasi )
Intraoperatif

Anestesi dengan :
Premedikasi : Fentanyl 50 mcg
Induksi : Propofol 200 mg
Maintenance : O2 3 lpm
Relaksasidengan : Noveron 50 mg
Teknik Anestesi : GA
Alat yang digunakan

ETT NO. 7.0

GLIDESCOPE
& BLADE GLIDESCOPE
BRONKOSKOPI
BED SIDE MONITOR

VENTILATOR
Respirasi Spontan

Posisi Supine

Infus Ringer Laktat

Komplikasi selama pembedahan -

Keadaan akhir pembedahan -

Alergi -
Penggunaan obat-obat selama Operasi
Premedikasi Medikasi
Fentanyl 50 mcg Propofol 200 mg
Pemberian : IV Noveron 50 mg
Tramadol 100 mg
Metoclopramide 10 mg

Dexametason 10 mg
Transamin 500 mg
Prostigmin 1 mg
Sulfas atropin 0,25 mg
Pemantauan selama operasi

Gambar : Tabel Monitoring tanda vital


Anjuran Post Operasi
Pasien puasa, boleh makan jika bising usus
terdengar
Jika sudah terdengar, boleh makan lunak
Awasi tanda tanda vital
Kompres dingin pipi kanan dan pipi kri
Obat :
1. Inj Ceftriaxone 2 x 2 gr
2. Inj Ketorolac 2 x 30 mg
3. Inj Ranitidin 2 x 50 mg
4. Inj Dexametason 2 x 5 mg
Follow up , 29 Juni 2016
S Nyeri di sekitar tempat operasi, sedikit mual, muntah (-),
demam (-), nyeri tenggorokan (+)
O TD : 120/80, Nadi : 84 x/menit, RR : 20 x/menit , S: 36C, terdapat
rembesan darah pada sisi penjahitan luka operasi
A Post op Odontectomy + Eksplor pus H+1
P Inj. Ceftriaxone 1 x 2 gr
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Inj Ketorolac 2 x 30 mg
Inj Dexametason 2 x 5 mg
ANATOMI SALURAN NAFAS

Gambar 1. Anatomi Saluran Nafas


ANATOMI SALURAN NAFAS ATAS

Gambar 2. Anatomi Saluran Nafas Atas


Gambar 3. Larynx
INTUBASI JALAN NAFAS NORMAL
Definisi

Intubasi

Memasukan pipa ke dalam rongga


tubuh melalui mulut atau hidung

Intubasi
Nasotrakeal
Tindakan memasukan pipa nasal melalui nasal
dan nasopharing ke dalam oropharing sebelum
laryngoscopy
TUJUAN INTUBASI
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
INTUBASI
Indikasi
mengontrol jalan napas
menyediakan saluran udara yang bebas hambatan
untuk ventilasi dalam jangka panjang,
meminimalkan risiko aspirasi,
menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan
keadaan gawat atau pasien dengan refleks akibat
sumbatan yang terjadi,
ventilasi yang tidak adekuat,
ventilasi dengan thoracoabdominal pada saat
pembedahan,
menjamin fleksibilitas posisi,
memberikan jarak anestesi dari kepala,
memungkinkan berbagai posisi
(misalnya,tengkurap, duduk, lateral, kepala ke
bawah),
menjaga darah dan sekresi keluar dari trakea selama
operasi saluran napas,
perawatan kritis :
mempertahankan saluran napas yang

adekuat,
melindungi terhadap aspirasi paru,

kebutuhan untuk mengontrol dan

mengeluarkan sekret pulmonal.


Kontraindikasi
trauma servikal yang memerlukan
keadaan imobilisasi tulang vertebra
servical, sehingga sangat sulit untuk
dilakukan intubasi.
PRINSIP INTUBASI
Jalur intravena yang adekuat
Obatobatan yang tepat untuk induksi dan relaksasi otot
Pastikan alat suction tersedia dan berfungsi
Peralatan yang tepat untuk laringoskopi termasuk laryngoskop
dengan blade yang tepat, ETT dengan ukuran yang diinginkan, jelly,
dan stylet
Pastikan lampu laringoskop hidup dan berfungsi serta cuff ETT
berfungsi
Sumber oksigen, sungkup dengan ukuran yang tepat, ambu bag dan
sirkuit anestesi yang berfungsi
Monitor pasien termasuk elektrokardiografi, pulse oksimeter dan
tekanan darah noninvasive
Tempatkan pasien pada posisi Sniffing Position selama tidak
ada kontraindikasi
Alatalat untuk ventilasi
Alat monitoring karbon dioksida untuk memastikan ETT dalam
posisi yang tepat.
ALAT-ALAT TINDAKAN INTUBASI
ENDOTRAKHEAL

Gambar 4. Laryngoscope Gambar 5. Laryngoscope Magill


Macinttosh Blade Blade

Gambar 6. Endotracheal Tube Gambar 7. Orofaring tube


Gambar 8. Stilet Intubasi

Gambar 9. Monitor dan Mesin


Gas Anesthesi

Gambar 10. Plester


Gambar 11. IV Line
Gambar 12. Bantal Intubasi dan Pengaplikasiannya

Gambar 13. Alat pengisap atau suction


KLASIFIKASI MALLAMPATI

Gambar 14. Mallampati Grade


TINDAKAN INTUBASI
Persiapan
Posisitidur terlentang
Oksiput diganjal dengan menggunakan alas kepala
kepala ekstensi serta trakhea dan laringoskop
berada dalam satu garis lurus.
Oksigenasi
Pemberian oksigen 100% minimal
dilakukan selama 2 menit.
Sungkup muka dipegang dengan tangan
kiri dan balon dengan tangan kanan.
Laringoskop

Gambar 15. Laringoskop


Pemasangan pipa endotrakheal

Gambar 16. Pemasangan pipa endotrakheal


Mengontrol Letak Pipa

Gambar 17. Letak Pipa di saluran nafas

Ventilasi
Pemberian ventilasi dilakukan sesuai dengan kebutuhan
pasien bersangkutan
PENANGANAN INTUBASI JALAN NAFAS
SULIT
KONDISI-KONDISI YANG DAPAT
MENIMBULKAN INTUBASI SULIT
Sindrome congenital
Penyakit Tulang

Kelainan Jaringan Lunak,

Trauma pada wajah dan leher

Bentuk gigi:

Pergerakan sendi temporomandibular

Derajat Orofaringeal

Lebar palatum

Jarak thyromental

Luas ruang mandibula

Lemak tubuh
PREPARASI
Alat alat yang disiapkan

Gambar 18. Specialized forcep

Gambar 19. Airway Exchange Catheter


Gambar 21. Fiberoptic Laryngoscope

Gambar 22. Laryngeal Mask Gambar 23. Cook Retrograde


Airway Intubation Kit
TEKNIK-TEKNIK INTUBASI JALAN NAPAS
SULIT
Pemasangan Fiber Optic Intubation

Gambar 24. Pemasangan Fiber


Optic Intubation
Pemasangan Laryngeal Mask Airway Menurut Brain

Gambar 25. Pemasangan


Laryngeal Mask Airway Menurut
Brain
Intubasi Retrograde

Gambar 26. Intubasi Retrograde


Trakeostomi

Gambar 28. Trakeostomi


KESIMPULAN
Gagal Intubasi merupakan masalah penting dalam
anestesi berkaitan dengan jalan nafas akibat efek dari
obat-obatan yang dipergunakan dalam suatu tindakan
anestesi.
Beberapa peneliti melaporkan bahwa 1 18 % pasien
memiliki anatomi jalan nafas yang sulit . Hal ini
menunjukkan, maka dokter akan menemui 1 10
pasien yang memiliki anatomi jalan nafas yang sulit
diintubasi. Efek dari kesulitan respirasi dapat berbagai
macam bentuknya, dari kerusakan otak sampai
kematian.
Pengelolaan Intubasi jalan napas yang sulit
memerlukan persiapan yang adekuat serta pengetahuan
dan perlengkapan yang tepat.