Anda di halaman 1dari 25

dr.

Auliadi Anshar
dr. Yopie Afriandi Habibie Sp.BTKV K-FIHA

Empiema
Pendahuluan
Infeksi pada rongga pleura
merupakan salah satu dari
penyakit tertua dan seringkali
sulit untuk diobati.
Drainase rongga pleura pertama
kali dilakukan oleh Hippocrates
sekitar 2000 tahun yang lalu
untuk mengobati empiema.
Pendahuluan
Empiema sendiri ialah suatu keadaan
terdapatnya pus (nanah) dalam rongga
pleura.
Kelainan ini dapat menyerang semua
kelompok usia, tanpa memandang dari
jenis kelamin maupun ras tertentu.
Insidensi empiema dilaporkan tiap
tahunnya terjadi 1-5 kasus per 100.000
penduduk.
Pendahuluan
Empiema thoraks masih merupakan
permasalahan penting, meskipun ada
perbaikan teknik pembedahan dan
penggunaan antibiotik baru yang lebih
efektif.
Definisi Empiema
Infeksi pada ruang pleura yang
berhubungan dengan pembentukan
cairan kental dan purulen baik
terlokalisasi atau bebas dalam ruang
pleura yang disebabkan karena
adanya dead space, media biakan
pada cairan pleura dan inokulasi
bakteri.
Etiologi dan Patofisiologi
Empiema
Mikroorganisme dari penyebab
empiema tidak selalu dapat
diidentifikasi.
Umumnya, mikroorganisme famili
Streptococcus mendominasi
temuan pada empiema toraks.
Terjadinya empiema yang berawal
dari infeksi parapneumonik atau
proses iatrogenik.
Etiologi dan Patofisiologi
Empiema
Etiologi dan Patofisiologi
Empiema
Klasifikasi Empiema
Empiema dibagi menjadi tiga fase
yaitu:
1.Stadium 1 disebut juga stadium
eksudatif atau stadium akut.
2.Stadium 2 disebut dengan stadium
fibropurulen atau stadium
transisional.
3.Stadium 3 disebut juga stadium
organisasi (kronik).
Klasifikasi Empiema
Berdasarkan perjalanan penyakitnya
empiema thoraks dapat dibagi dua:
1.Empiema akut.
2.Empiema kronis.
Klasifikasi Empiema
The American thoracis society
membagi kasus empiema thoraks
menjadi tiga:
1.Eksudat
2.Fibropurulen
3.Organisasi
Diagnosis Empiema
Kriteria diagnostik empiema toraks, terlepas
etiologi dan kuman, adalah jika ditemukan:
1. Pus nyata terlihat pada torakosintesis atau
terdeteksinya mikroorganisme (Gram atau
kultur), atau uji lain positif untuk pH < 7,20,
glukosai < 40 mg/dL, LDH > 1000 IU/ml,
protein > 3g/ml dan leukosit > 15000
sel/mm3.
2. Tanda klinis, radiologis dan laboratorium
sesuai dengan gambaran klinis empiema
Diagnosis Empiema
Pemeriksaan untuk menegakkan
diagnosis empiema terdiri dari:
1.Pemeriksaan klinis
2.Pemeriksaan radiologis
3.Pemeriksaan laboratorium
Penatalaksanaan Empiema
Penatalaksanaan Empiema
Prinsip penatalaksanaan empiema
adalah:
1.Evakuasi pus
2.Obliterasi rongga empiema dan
pengembangan paru
3.Eradikasi kuman
Penatalaksanaan Empiema
Tujuan tersebut dicapai dengan
kombinasi dari beragam metode
mulai terapi medikamentosa,
drainase tertutup, fibrinolitik, dan
pembedahan.
Drainase Tertutup
Evakuasi pus dilakukan dengan
torakosintesis atau bila perlu
menggunakan drain toraks yang
disambung ke sistem WSD (lihat
klasifikasi Light).
Pada kasus empiema yang sudah
mengalami multilokulasi, dapat
dipasang beberapa drain sekaligus,
yang difasilitasi USG.
Antibiotik
Segera setelah pus berhasil
dievakuasi, antibiotika spectrum luas
harus segera diberikan.
Rekomendasi British Thoracic
Society menganjurkan kombinasi
pengobatan dari cefuroxime dan
metronidazole atau co-amoxiclav
ditambah meropenem untuk kasus-
kasus yang hospital based.
Fibrinolitik
Adanya septa menghambat
evakuasi pus rongga pleura, dan
memperpanjang waktu perawatan
dan penggunaan drain, bahkan
meningkatkan angka pembedahan
Untuk mengatasi masalah ini, dapat
diberikan fibrinolitik yang bertujuan
untuk meningkatkan drainase
rongga pleura tersebut.
Pembedahan
Pembedahan seyogyanya tidaklah
dijadikan sebagai terapi utama,
sehingga hanya dikerjakan setelah
terapi lain mengalami kegagalan.
Pasien yang gagal mengalami
kemajuan setelah antibiotik dan
drainase tertutup, serta terus
mengalami gejala infeksi,
merupakan kandidat kuat.
Pembedahan
Jenis pembedahan yang dikerjakan
pada empiema seperti dekortikasi
(baik dengan bantuan torakotomi
maupun torakoskopi/VATS),
torakoplasti, maupun torakostomi
open window.
Dekortikasi
Dekortikasi dikerjakan bila parenkim paru
tidak mampu mengembang (trapped
lung) oleh karena adanya lapisan radang
tebal (pleural peel) pada pasien yang
dapat mentoleransi pembedahan mayor.
Apabila empiema sudah berlangsung
lebih dari 6 minggu, dengan demikian
sudah berada pada stadium III, operasi ini
hanya boleh dikerjakan pada pasien yang
dapat mentoleransi tindakan mayor.
Dekortikasi
Selain dari pendekatan bedah
terbuka, dekortikasi dapat pula
dikerjakan dengan bantuan
torakoskopi (VATS).
Sebagai alternatif dari tindakan
VATS, dapat dilakukan pembedahan
terbuka dengan torakotomi muscle
sparring (aksilaris).
Prognosis
Mortalitas bergantung pada umur ,
penyakit penyerta, penyakit
dasarnya dan pengobatan yang
adekuat.
TERIMA KASIH