Anda di halaman 1dari 57

GLAUKOMA

IDENTITAS PASIEN
Nama Ny. M
Usia 50 tahun
Jenis Kelamin Perempuan
Alamat Kalikajar
Suku Jawa
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga
Tanggal Masuk Poli
12 Mei 2017
KELUHAN UTAMA

Pengl
ihata
n
mata
kana
n
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien datang ke Poli Mata RSUD KRT Setjonegoro diantar oleh
cucunya dengan keluhan mata kanan tidak dapat melihat sejak
10 hari yang lalu. Sebelumnya pasien hanya merasakan mata
kanan yang tampak kabur dan menjadi tidak dapat melihat sama
sekali. 1 tahun yang lalu pasien merasakan keluhan yang sama
pada mata kirinya. Selain itu, pasien merasakan nyeri pada kedua
mata , terasa di dalam, di seluruh bola mata. Nyeri tidak dirasakan
berdenyut, dirasakan terus-menerus dan tidak menjalar. Nyeri
dirasa lebih berat pada malam hari atau suasana gelap. Nyeri
dirasa makin berat hingga pasien mengeluhkan sulit tidur dan
seringkali mengeluhkan rasa pusing dan mual. 10 hari
sebelumnya, penglihatan mata kanan pasien hilang sepenuhnya.
Pasien mengaku tidak dapat melihat sama sekali, bahkan untuk
melihat lambaian tangan. Nyeri pada mata kanan masih menetap.
pasien juga mengeluhkan mata kanan memerah namun tidak
terasa gatal dan juga tidak belekan. 1 minggu yang lalu pasien
sudah kontrol ke poli mata dan oleh dokter pasien diberikan obat
KSR 1x1, C Timol 2 dd gtt I.
PEMERIKSAAN FISIK
STATUS OFTAMOLOGI
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
0 Visus 0
- Koreksi -
(-) Persepsi Warna (-)
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal,
enoftalmus (-), eksoftalmus (-), Bulbus okuli enoftalmus (-), eksoftalmus
strabismus (-) (-), strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), nyeri Edema (-), hiperemis(-),
tekan (-), blefarospasme (-), nyeri tekan (-),
lagoftalmus (-), Palpebra blefarospasme (-),
ektropion (-), lagoftalmus (-)
entropion (-) ektropion (-),
entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (+), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (+), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (+) hiperemis (-)

Merah Sklera Putih


STATUS OFTAMOLOGI
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
Bulat, keruh, Bulat, jernih,
edema (+), edema (-),
keratik presipitat (-), Kornea keratik presipitat (-),
infiltrat (-), sikatriks (-) infiltrat (-), sikatriks (-)
Dangkal, Camera Oculi Anterior Dangkal,
hipopion (-), hifema (-) (COA) hipopion (-), hifema (-),

atrofi (-) coklat, edema(-), Iris atrofi (-) coklat, edema(-),


synekia (-) synekia (-)
Bulat, Bulat,
Diameter 4mm Pupil Diameter 3mm
refleks pupil L/TL: -/- refleks pupil L/TL: -/-
Tidak dapat dinilai Lensa Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai Vitreus Tidak dapat dinilai
Tidak dapat dinilai Retina Tidak dapat dinilai
Tidak terdeteksi TIO (palpasi) 24/39/22
KESIMPULAN PEMERIKSAAN
OFTAMOLOGI

OD OS
Tampak injeksi konjungtiva , Tidak Tampak injeksi
kornea keruh, edema kornea (+), konjungtiva , kornea tidak
COA dangkal, sinekia anterior keruh, edema kornea (-), COA
(+), pupil midriasis 4 mm, dangkal, sinekia anterior (+),
reflex direk (-), reflex indirek pupil midriasis 5 mm, reflex
(-),TIO tidak terdeteksi direk (-), reflex indirek (-),TIO 23
mmHg
DIAGNOSIS

OD OS

OD glaukoma primer OS glaukoma primer


sudut tertutup sudut tertutup
OD glaukoma OS glaukoma sekunder
sekunder sudut sudut tertutup
tertutup
PROGNOSIS
GL A UKOMA
DEFINISI
3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIO
FISIOLOGI HUMOR AQUES
ALIRAN AQUEOUS HUMOR
Aqueous humor mengalir dari COP ke COA melalui pupil,
keluar ke aliran sistemik melalui 2 rute berbeda :
TRABEKULAR
OUTFLOW
COA anyaman
trabekular
kanalis schlemm
vena episklera
vena siliaris
anterior vena
ophtalmica superior
sinus kavernosus

UVEOSCLERAL
OUTFLOW
COA otot siliar
rongga suprasiliar
dan suprakoroidal
FAKTOR RESIKO
KLASIFIKASI
KLASIFIKASI
BERDASARKAN ETIOLOGI
BERDASARKAN ETIOLOGI

Glaukoma Sekunder
G L AU KO M A
P I G M E N TA S I
Temuan klinis glaukoma pigmentasi dapat berupa:
Disebabkan oleh degenerasi
epitel pigmen iris dan
korpus siliaris.
Pigmen mengendap di
permukaan kornea posterior
(Krukenberg Spindle) dan
tersangkut di jaringan
trabekular, mengganggu
aliran keluar aqueous
humor.
G LAU KOM A
PSEUDOEKSFOLIA
SI

Pada sindrom eksfoliasi


terlihat endapan-endapan
bahan berserat warna putih
di permukaan anterior lensa (
berbeda dengan eksfoliasi
kapsul lensa sejati akibat
terpajan radiasi inframerah,
yakni,katarak glassblower),
di processus ciliares, zonula,
permukaan posterior iris,
melayang bebas di bilik mata
depan, dan di anyaman
trabekular (bersama dengan
peningkatan pigmentasi).
G L A U K O M A A K I B AT
KELAINAN LENSA
G L A U K O M A A K I B AT K E L A I N A N T R A K T U S U V E A L I S
SINDROMA
I R I D O KO R N E A
ENDOTEL (ICE)

Sindrom irikornea endotel


terdapat beberapa tanda
yaitu atropi iris, sindrom
chandler, sindrom nevus
iris. Kelainan idiopatik pada
dewasa muda yang jarang
ini biasanya unilateral dan
bermanisfestasi sebagai
kompensasi kornea,
glaukoma, dan kelainan iris
(corectopia dan polycoria).
G L AU KO M A
N E O VA S K U L A R

Neovaskularisasi iris (rubeosis iridis)


dan sudut bilik mata depan paling
sering disebabkan oleh iskemia retina
yang luas seperti yang terjadi pada
retinopati diabetik stadium lanjut dan
oklusi vena sentralis retina. Glaukoma
mula-mula timbul akibat sumbatan
sudut olah membran fibrovaskular,
tetapi kontraksi membran selanjutnya
menyebabkan penutupan sudut.

Glaukoma vaskular yang telah


terbentuk sulit diatasi dan terapi
sering tidak memuaskan baik
rangsangan neovaskularisai maupun
peningkatan TIO perlu ditangani. Pada
banyak kasus, terjadi kehilangan
penglihatan dan diperlukan prosedur
siklodestruktif untuk mengontrol TIO.
GLAUKOMA KONGENITAL
GLAUKOMA KONGENITAL
PATOFISIOLOGI
SUDUT TERBUKA
SUDUT
T E RT U T U P
PENILAIAN

Diagnosis diawali dengan anamnesa dengan keluhan mata merah, nyeri,


dan visus menurun. Kemudian, dari gambaran klinis dietmukan hiperemi
siliar dan konjungtiva, edema kornea, bilik mata depan dangkal, pupil iris
midriasis, iris bombans akibat blok pupil, lensa katarak imatur matur, TIO
sangat tinggi, dan sudut bilik mata depan tertutup (Nurwasis, 2006).
PENILAIAN

Tonometri Gonioskopi Penilaian Pemeriksaan


Discus Lapang
Opticus pandang
TONOMETRI
Tonometri aplanasi goldmann dipasang
pada slitlamp
Lebih teliti daripada tonometri Schiotz
Setelah anestesi topikal dan pemberian
fluoresensi, pasien duduk di depan
slitlamp dan tonometer disiapkan.
Digunakan filter biru coklat dengan
penyinaran paling terang. Pemeriksa
melihat melalui slitlamp okular.
Tonometri aplanasi yang lain :
Tonometri parkins
Tonopentometer
Pneumotonometer
TONOMETRI SCHIOTZ
Kelebihan :
Sederhana
Relatif tidak mahal

Cara :
Pasien tidur terlentang
Diberi anestesi topikal pada kedua mata
Pasien menatap lurus ke depan
Kelopak mata ditahan pada tepian tulang orbita
Tonometer diturunkan sampai ujung cekung laras menyentuh
kornea
Gunakan kartu konversi untuk mengetahui nilai pada skala ke
dalam mmHg
OFTALMOSKOPI
Cup Disk Ratio

NORMAL GLAUKOMA
PENCEKUNGAN (CUPPING) N. OPTIKUS YANG ASIMETRIS.
TERLIHAT ADA PELEBARAN GENERAL DARI CUP DIMATA KANAN
(A) DIBANDINGKAN MATA KIRI
(B) CDR ASIMETRIS > 0,2
PEMERIKSAAN LAPANG PANDANG
Kelainan Lapang Pandang Pada Glaukoma
GONIOSKOPI
Untuk memeriksa sudut bilik mata depan
PENATALAKSANAAN
MEDIKAMENTOSA
Supresi Pembentukan Humor
Aqueus
Fasilitasi Aliran Keluar Humor
Aqueus

PEMBEDAHAN
MEDIKAMENTOSA
Supresi
Pembentuka
n Humor Fasilitasi Aliran
Aqueus Keluar Humor
Aqueus

Golongan
- Parasimpat
adrenergik omimetik
Bloker
Golongan
2- Analog
adrenergik prostaglan
Agonis din

Penghamb
at Penurunan
Karbonat Volume
Anhidrase Vitreus
G O LON G A N - A D R E N E R G I K B LOK E R

Contoh obat golongan - adrenergic bloker misalnya timolol


maleat 0,25% dan 0.5%, betaxolol 0,25% dan 0,5%, levobunolol
dan

Reseptor - adrenergik terletak pada epitel siliaris, jika reseptornya


terangsang aktifitas sekresinya akan meningkatkan inflow humor aquos
melalui proses komplek enzim adenyl cyclase-reseptor sehingga
menurunkan produksi humor aquos

Farmakodinamik golongan -adrenergic bloker dengan cara


menekan pembentukan humor aquos sehingga tekanan
intraokuler dapat turun.

farmakokinetiknya sebagian besar diserap dengan baik oleh usus secara


peroral sehingga bioavaibilitas rendah , dan memiliki kadar puncak
dalam plasma mencapai 1 sampa 3 jam.
GOLONGAN ALPHA 2-ADRENERGIK AGONIS

Golongan 2-adrenergic agonis yang selektif misalnya


apraklonidin memiliki efek menurunkan produksi humor
aquos, meningkatkan aliran keluar humor aquos melalui
trabekula meshwork dengan menurunkan tekanan vena
episklera dan dapat juga meningkatkan aliran keluar
uveosklera.

Farmakokinetik
pemberian apraklonidin 1% dalam waktu 1 jam dapat menghasilkan
penurunan tekanan intraokuler yang cepat paling sedikit 20% dari
tekanan intraokuler awal.
Efek maksimal dari apraklonidin dalam menurunkan tekanan
intraokuler dapat terjadi sekitar 3-5 jam setelah pemberian terapi.
PENGHAMBAT KARBONAT
ANHIDRASE
Asetasolamid oral merupakan obat yang sering di gunakan karena dapat
menekan pembentukan humor aquos sebanyak 40-60%.

Bekerja efektif dalam menurunkan tekanan intraokuler apabila


konsentrasi obat bebas dalam plasma 2,5 M.

konsentrasi puncak pada plasma dapat diperoleh dalam 2 jam setelah


pemberian dapat bertahan selama 4-6 jam dan menurun dengan cepat
karena ekskresi pada urin.

Indikasi asetasolamid terutama untuk menurunkan tekanan intraokuler,


mencegah prolaps korpus vitreum, dan menurunkan tekanan introkuler
pada pseudo tumor serebri.

Kontraindikasi relatif untuk sirosis hati, penyakit paru obstruktif


menahun, gagal ginjal, diabetes ketoasidosis dan urolithiasis.
FASILITASI ALIRAN KELUAR HUMOR AQUEUS

Parasimpatomimetik

Golongan obat parasimpatomimetik dapat menimbulkan efek miosis pada mata dan bersifat
sekresi pada mata, sehingga menimbulkan kontraksi muskulus ciliaris supaya iris membuka
dan aliran humor aquos dapat keluar.
Analog prostaglandin

Analog prostaglandin merupakan obat lini pertama yang efektif digunakan pada terapi
glaukoma misalnya, latanopros. Latanopros merupakan obat baru yang paling efektif katena
dapat ditoleransi dengan baik dan tidak menimbulkan efek samping sistemik.
Farmakokinetik. Penurunan tekanan intraokuler dapat dilihat setelah 3-4 jam setelah
pemberian dan efek maksimal yang terjadi antara 8-12 jam.
Cara kerja obat ini dengan meningkatkan aliran keluarnya humor aqueus melalui uveosklera.
Obat ini diindikasikan pada glaukoma sudut terbuka, hipertensi okuler yang tidak toleran
dengan antiglaukoma lain.
kontrandikasi pada pasien yang sensitif dengan latanopros.2
Penurunan Volume Vitreus

Obat yang digunakan dalam menurunkan volume vitreus dapat menggunakan obat
hiperosmotik dengan cara mengubah darah menjadi hipertonik sehingga air tertarik keluar
dari vitreus dan menyebabkan pengecilan vitreus sehingga terjadi penurunan produksi humor
aquos. Penurunan volume vitreus bermanfaat dalam pengobatan glaukoma sudut tertutup
akut dan maligna yang menyebabkan pergeseran lensa kristalina ke anterior yang
menyebabkan penutupan sudut ( glaukoma sudut tertutup sekunder ).
PEMBEDAHAN
Trabekulektomi
Membuat lubang yang menghubungkan bilik depan mata & subkonjungtiva

Trabekuloplasti laser
Membuat sikatriks/jaringan parut di trabekulum sehingga celah melebar

Gonioplasti / iridoplasti
Membuat sikatriks di iris perifer sehingga sudut menjadi terbuka

Non penetrating surgery


viscocanalostomy deep sclerectomy menghubungkan bilik depan mata tidak
langsung
Tube shunt
Implant Baerveldt, Ahmed, Molteno menghubungkan bilik depan mata dengan
subkonjungtiva
Siklodestruksi
Dengan krio atau laser merusak badan silier produksi HA turun
PEMBAHASAN
Pada pasien ini di diagnosis dengan Glakumoa absolut ODS. Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan beberapa hal yang pertama ialah faktor resiko kejadian glaukoma yang
dimilki oleh pasien yakni memiliki usia lebih dari 50 tahun dan riwayat hipertensi tidak terkontrol sejak 10 tahun yang lalu. Kedua hal ini didukung sebagai faktor resiko terjadinya
glaukoma seperti yang dijelaskan pada beberapa penelitian yang mengemukakan bahwa angka kejadian glaukoma meningkat sebesar 0,4% 0,7 % pada usia lebih dari 40 tahun.
Selain itu, dari faktor resiko lain yakni hipertensi arterial beresiko menjadi glaukoma sebanyak 3 kali lebih besar.
Berikut nya adalah gejala gejala yang dirasakan oleh pasien dari keluhan utama yaitu mengeluhkan mata kanan tampak gelap, dimana 10 hari yang lalu pasien merasakan
masih bisa melihat namun mulai kabur dan merasakan nyeri di dalam dan seluruh bola mata yang dirasakan terus menerus dan tidak menjalar. Nyeri dirasa lebih berat terutama
pada malam hari dan pada suasana gelap yang menyebabkan pasien sulit tidur dan merasakan pusing dan mual. Berdasarkan keluhan tersebut, maka kelainan pada mata pasien
dapat dikelompokkan dalam kelompok penglihatan turun perlahan dengan mata merah, dengan kemungkinan-kemungkinan antara lain: kelainan refraksi, katarak, glaukoma
ataupun kelainan pada makula dan retina
Riwayat penglihatan seperti melihat kabut disangkal pasien ini dapat menyingkirkan adanya katarak. Pasien tidak pernah menggunakan obat2an TBC, menyingkirkan retinopathy
akibat intoksikasi etambutol. Pasien tidak pernah tinggal didaerah epidemik malaria dan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan malaria(kina) dalam jangka waktu lama,
menyingkirkan diagnosa retinopathy akibat intoksikasi kina.
Status Oftalmologi didapatkan tajam penglihatan OD: 0 OS: 0 , tidak dilakukan Pin Hole tidak maju, tidak dikoreksi karena adanya gangguan pada media pembiasan cahaya.
Media pembiasan cahaya itu kornea, akuos humor, lensa, badan kaca, dan retina. Pada kasus ini kemungkinan gangguan di akuos humor dimana terjadi gangguan regulasi.
Seluruh bagian lensa OD jernih dengan hasil shadow test (-) menunjukan tidak adanya kalsifikasi lensa pada katarak. Pemeriksaan segmen anterior : kedalaman bilik mata depan
OD dangkal , hal ini disebabkan adanya glaukoma sudut tertutup yang sudah berjalan kronik. Pada pemeriksaan tonometri schiotz terjadi peningkatan TIO OD : tidak dapat
terdeteksi kemungkinan olehkarena penyakit glaukoma sudut tertutup sehingga menyebabkan peningkatan pada tekanan intraokuler yang tinggi . Pada kasus ini dianjurkan
untuk dilakukan tes lain seperti Perimetri , untuk menilai progresivitas penyakit glaukoma. Dan Gonioskopi untuk melihat sudut bilik mata yang dapat menimbulkan glaukoma.
Tatalaksana pada kasus ini :Tetes mata beta bloker (Timolol maleat 0.50%) yang berkerja menghambat rangsangan simpatis dan mengakibatkan penurunan tekanan bola
mata. Glaucon tablet atau Carbon anhydrase inhibitor (Asetazolamid 250 mg) yang dapat menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60% sehinga dapat menurunkan tekanna
bola mata. Hati-hati pada pemberian pertama kali karena dapat menyebabkan hipokalemia sementara. Pada pasien ini belum direncanakan untuk dilakukan operasi hal ini
disebabkan pasien masih kooperatif dan baru melakukan pengobatan dengan kontrol 2 kali sehingga diputuskan untuk diberikan terapi medikamentosa.
KESIMPUL A N
Seorang wanita usia 50 tahun dengan riwayat hipertensi arterial tidak terkontrol sejak
10 tahun yang lalu datang dengan keluhan mata kanan terlihat gelap sejak 10 hari yang
lalu disertai mata merah pusing dan mual dengan riwayat keluhan yang sama pada
mata kiri sejak 1 tahun yang lalu dengan pengobatan tidak teratur. Dari hasil
pemeriksaan fisik visus ODS masing masing didapatkan visus 0 dan hasil pemeriksaan
tonometri mata kanan tidak terdeteksi serta mata kiri TIO 23 mmHg. Oleh hasil
anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien di tegakkan diagnosis sebagai Glaukoma
absolut kemudian diberikan terapi beta blocker, dan diuretik untuk mengurangi tekanan
intraokuler dan pasien belum direncanakan operasi oleh karena belum terindikasi.
Kemudian untuk mengetahui progresifitas dan jenis glaukoma pada pasien ini disarankan
untuk dilakukan pemerikasaan perimetri dan gonoskopi.