Anda di halaman 1dari 45

By : dr Gardenia Akhyar,

Reaksi alergi pada kulit / mukokutan


akibat pemberian obat sistemik

Patogenesis
Alergi terhadap obat
Hipersensitivitas (+) terhadap obat
Reaksi imunologik : Coombs & Gell
(Rx I IV)
Penisilin dan derivat
Sulfonamid
Analgetik-antipiretik
Metampiron
Piramidon
Parasetamol
Asam salisilat
I. ANAMNESIS
Obat-obat yang diminum
Kelainan terjadi akut s/d bbrp hari
Rasa gatal
Demam subfebril

II. KELAINAN KULIT


Distribusi
Universal
generalisata
Bentuk kelainan
1. URTIKARIA
Urtika : edema & eritema
Ukuran : lentikuler plakat
Gatal
2. ERITEMA
Kemerahan pada kulit

Vasodilatasi pemb darah

Eritema (-) penekanan


Eritema morbiliformis : milier

Eritema skrlatiformis : lentikuler

Gatal
3. DERMATITIS MEDIKA MENTOSA
Dermatitis akut
Distribusi generalisata
Efloresensi polimorf

4. PURPURA
Kemerahan pada kulit
Ekstravasasi sdm ke kulit & mukosa
Penekanan (+)
5. EKSANTEMA FIKSTUM (FIXED DRUG
ERUPTION)
Predileksi sekitar mulut, bibir & penis
Kelainan :
Eritema & vesikel
Bentuk bulat lonjong
Ukuran numuler
Bercak hiperpigmentasi
Berulang-kali pada tempat yang sama
6. ERITEMA NODOSUM
Predileksi : tungkai bawah (ekstensor)
Kelainan : nodus eritem, nyeri
Demam, malese

7. ERITRODERMA
Eritema generalisata
Skuama (+) pada stadium penyembuhan
Mendadak / akut
8. Pustulosis Eksantema Generalisata Akut (PEGA)
Jarang terjadi
Pustul2 milier diatas kulit eritematosa
Purpura + / -
~ lesi target
Demam tinggi (38 c)
Pustul (-) sebelum 7 hr deskuamasi
D/ Banding : psoriasis pustulosa
PA : pustul intra epidermal / subkorneal
dermis udem,vaskulitis, PMN perivaskuler
nekrosis fokal keratinosit
UMUM
Stop obat tersangka

KHUSUS
SITEMIK
1. Kortikosteroid
Prednison 3 x 10 mg s/d 4 x 10 mg
2. Antihistamin : CTM, Loratadin
TOPIKAL
1. Bergantung kelainan kulit
2. Eritema dan urtikaria
Bedak salisil 2%
Menthol 0,5 1%
3. Dermatitis medikamentosa
Kompres asam salisilat 1%
4. Eritroderma
Deskuamasi : lanolin 10%
Etiologi.

1. Alergi obat secara sistemik, di antaranya


penisilin dan derivatnya, streptomisin,
sulfonamid, tetrasiklin, analgetik
/antipiretik [mis: derivat
salisil/pirazolon,metamizol, metampiron
dan parasetamol], klorpromazin,
karbamazepin dan jamu.
2. Infeksi [bakteri, virus, jamur, parasit ],
3. Neoplasma,
4. Pasca vaksinasi dan
5. Radiasi.
Patogenesis.

Patogenesisnya belum jelas,


Diduga reaksi tipe III dan IV.

Gejala klinis.

Sindrom ini jarang dijumpai


pada usia 3 tahun ke bawah.
Keadaan umumnya bervariasi
dari ringan sampai berat.
Penyakit akut dapat disertai
gejala prodormal berupa
demam tinggi, malaise, nyeri
Pada sindrom ini terlihat adanya trias
kelainan berupa :
a.Kelainan kulit.
b.Kelainan mata.
c.Kelainan selaput lendir di orifsium

a. Kelainan kulit.

Kelainan kulit terdiri atas eritem,


vesikel dan bula. Vesikel dan bula
kmd pecah sehingga terjadi erosi yg
luas. Di samping itu dpt juga terjadi
purpura, yg menyebabkan
memburuknya prognosis
Pada bentuk yg berat kelainannya
generalisata
b. Kelainan mata.

Kelainan mata merupakan 80% semua


kasus,tersering konjungtivitis kataralis. Juga
dpt berupa konj purulen, perdarahan, ulkus
kornea dan iritis.

c. Kelainan selaput lendir orifsium

Tersering pd mukosa mulut [100%], kmd


orifsium genital 50% , orif hidung dan anus
jarang [8% dan 4%].
Kelainannya berupa vesikel dan bula yg
cepat memecah hingga menjadi erosi dan
ekskoriasi serta krusta kehitaman.
Komplikasi.
Tersering bronkopneumonia,kehilangan
cairan/darah, gangguan keseimbangan
elektrolit, dan syok.
Pada mata : kebutaan krn gangguan
lakrimasi.

Pemeriksaan laboratorium.
Tidak khas, leukositosis kemungkinan
penyebab infeksi. Kalau eosinoflia
kemungkinan karena alergi. Kalau diduga
infeksi dpt dilakukan kultur darah.
Histopatologi.

1. Infltrat sel mononuklear disekitar pemb


darah darah dermis superfsial.
2. Edem dan ekstravasasi sel darah merah
di papila dermis
3. Degenerasi hidropik lapisan basalis
sampai terbentuk vesikel subepidermal.
4. Nekrosis sel epidermis dan kadang2 di
adneksa.
5. Spongiosis dan edem intrasel di
epidermis.
Imunologi

Pada beberapa kasus terdapat deposit


IgM dan C3 pd pemb darah dermal
superfsial dan pd pemb darah yg
mengalami kerusakan. Pd sebag besar
kasus terdapat kompleks imun yg
mengandung Ig G, IgM, IgA secara
tersendiri atau dalam kombinasi.

Diagnosa banding

Nekrolisis epidermal toksik [NET]


sangat mirip dg sind Steven Johnson.
Pada NET terdapat epidermolisis yg
Pengobatan.

Sindrom Steven Johnson yg tidak berat


bisa diberikan 30-40 mg prednison sehari.
Pada yg KU jelek dg lesi menyeluruh
pengobatan harus cepat dan tepat.
Pemberian kortikosterod merupakan
tindakan life-saving. Biasanya diberikan
deksametason 4-6 x 5 mg sehari. Pada
umumnya masa krisis dapat diatasi dlm
bbrp hari.
Penderita berat harus segera dirawat
dan diberikan deksametason 6 x 5 mg
intravena. Setelah masa krisis dilewati
[2-3 hari] ku membaik dan tdk timbul
lesi baru,sedang lesi lama mengalami
involusi. Dosisnya diturunkan secara
cepat, diturunkan 5mg perhari, setelah
dosis mencapai 5mg sehari diganti dg
steroid oral yg diberikan keesokan
harinya 20 mg sehari, besoknya
diturunkan jadi 10mg kemudian
dihentikan. Jadi lama pengobatan kira-
kira 10 hari.
Gentamisin diberikan untuk mencegah
infeksi dg dosis 2x80mg sehari.
Diet kurang garam dan tinggi protein.
Anabolik dan KCL 3x500mg jika terjadi
penurunan kalium.
Terapi cairan utk mengatur keseimbangan
cairan dan elektrolit diperlukan juga,
demikian juga nutrisi. Untuk itu dapat
diberikan infus glukosa 5% dan larutan
Darrow.
Jika dg terapi diatas belum tampak
perbaikan dalam 2-3hari, maka diberikan
transfusi darah 300 cc 2hari berturut-
turut.
Terapi topikal tergantung pada lesi.

Prognosis.
Dengan tindakan tepat dan cepat
prognosis cukup baik.
Pada KU sangat buruk dan terdapat
bronkopneumonia penyakit ini dapat
menimbulkan kematian.
Angka kematian sekitar 5-15%.
Penyakit berat
Klinis berupa epidermolosis generalisata
Dapat mengenai selaput lendir di
orifsium dan mata

Sinonim
Sindrom Lyell
Sama dengan SSJ
- alergi obat
- infeksi
- vaksinasi
- penyakit graft versus host
- neoplasma
- radiasi
Sama dengan SSJ reaksi
hipersensitifitas tipe II (sitolitik)
sel targetnya epidermis epidermolisis
Penyakit berat dan akut
Gejala prodromal
Eritem generalisata vesikel +bula,
purpura
Epidermolisis Nikolsky sign (+)
Dapat mengenai selaput lendir erosi,
ekskoriasi, krusta kehitaman
Dapat disertai kelainan pd mata
Ketidaksimbangan cairan & elektrolit
Kelainan ginjal nekrosis tubular akut +
glomerulonefritis
Histopatologi
Vakuolisasi dan nekrosis sel basal
sepanjang perbatasan dermal-epidermal.
Sel radang di dermis hanya sedikit terdiri
atas limfohistiosit. Pada lesi lanjut
terdapat nekrosis eosinoflik sel epidermis
dg pembentukan bula subepidermal.
SSJ, perbedaan SSJ epidermolisis (-),
KU tidak seburuk NET
Staphylococcal Scalded SkinSyndrome
[SSSS] klinis mirip NET, terdpt
epidermolisis tetapi selaput lendir tidak
dikenai. Penyebab SSSS ialah
Staphylococcus aureus, biasanya pd anak
di bawah 5 th. Gambaran histopatologik
juga berbeda.
Mirip SSJ :
Obat tersangka stop
IVFD D5%:NaCl 0,9%:Rl 1:1:1 / 8 jam
Kortikosteroid dosis tinggi (deksametason
40mg IV/hr ada perbaikan tapp of)
Antibiotik
Bila K darah KCl 3 x 500mg
Perbaikan (-) transfusi darah 300cc
selama 2 hr
Purpura luas vit C 500-1000 mg/hr
Diet rendah garam tinggi protein
Krim sulfadiazin perak
Mulut betadine gargle
Bibir kenalog in ora base
Prognosis
Disebabkan infeksi prognosis lebih baik
dari pada alergi obat. Kelainan kulit luas
50-70% prognosisnya buruk.
Menurut kepustakaan angka kematian
16%