Anda di halaman 1dari 21

ABSES SEPTUM

Oleh:
ELDA SARI SIREGAR

Pembimbing :

dr. Elfahmi, Sp.THT-KL


DEFINISI

Abses septum nasi adalah kumpulan


pus yang terdapat antara tulang rawan
atau tulang pada septum nasi dengan
mukoperikondrium atau mukoperiosteum.
Abses septum adalah suatu kondisi yang
jarang terjadi. Abses paling sering
terbentuk setelah didahului oleh adanya
hematoma septum. Biasanya terdapat
riwayat trauma pada hidung yang
kebanyakan tidak disadari pasien dan juga
ANATOMI SEPTUM NASI
VASKULARISASI HIDUNG
INNERVASI HIDUNG
ETIOLOGI
- Trauma (75%)
- Penyebaran dari sinusitis ethmoid dan
sinusitis sfenoid
- Penyebaran dari infeksi gigi.

Staphylococcus aureus adalah organisme


yang paling sering didapat dari hasil kultur pada
abses septum. Kadang-kadang ditemukan
Streptococcus pneumoniae, Streptococcus
hemolyticus, Haemophilus influenzae dan
organisme anaerob.
EPIDEMIOLOGI

Angka kejadian abses septum nasi tidak


diketahui tetapi beberapa penelitian telah
melaporkan. Abses septum jarang ditemui dan
biasanya terjadi pada laki-laki. Rumah Sakit
Royal Children, Melbourne Australia
melaporkan sebanyak 20 pasien abses sebtum
selama 18 tahun dan RS Ciptomangunkusumo
didapatkan 9 kasus selama 5 tahun (1989-
1994). Di bagian THT FKUSU/RSUP H.Adam
Malik Medan selama tahun 1999-2004
mendapatkan 5 kasus.
PATOGENESIS
Patogenesis abses septum biasanya tergantung
dari penyebabnya. Penyebab yang paling sering
adalah terjadi setelah trauma, sehingga timbul
hematoma septum. Trauma pada septum nasi dapat
menyebabkan pembuluh darah sekitar tulang rawan
pecah. Darah berkumpul di ruang antara tulang
rawan dan mukoperikondrium yang melapisinya,
menyebabkan tulang rawan mengalami penekanan,
menjadi iskemik dan nekrosis, sehingga tulang
rawan jadi destruksi. Darah yang terkumpul
merupakan media untuk pertumbuhan bakteri dan
selanjutnya terbentuk abses.
GEJALA KLINIS
Hidung tersumbat progresif disertai dengan
rasa nyeri hebat, terutama terasa di puncak
hidung.
Keluhan demam dan sakit kepala.
Obstruksi umumnya satu sisi setelah
beberapa hari karena nekrosis kartigalo pus
mengalir ke sisi lain menyebabkan obstruksi
nasi bilateral dan total.
Biasanya pasien mengeluh hidungnya
bertambah besar.
DIAGNOSIS

ANAMNESIS
Keluhan hidung tersumbat dengan
rasa nyeri berat terutama di puncak
hidung
Keluhan hidung bertambah besar
Demam dan sakit kepala
Riwayat trauma hidung,riwayat
operasi,dan infeksi intranasal
PEMERIKSAAN FISIK
a.Inspeksi
Tampak hidung bagian luar ( apex nasi)
yang hiperemis, oedem, dan kulit
mengkilat.
b.Palpasi
Didapatkan nyeri pada sentuhan.

c.Rhinoskopi anterior
Tampak pembengkakan septum yang
berbentuk bulat pada satu atau ke dua
rongga hidung terutama mengenai
bagian paling depan tulang rawan
septum, berwarna merah dan licin.
d.Pungsi dan aspirasi
Tindakan ini berguna untuk membantu
menegakkan diagnosis, pemeriksaan
kultur, selain itu juga dapat
mengurangi tekanan dalam abses dan
mencegah terjadinya infeksi
intrakranial. Didapatkan hasil aspirasi
yaitu nanah(pus).
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan CT scan pada kavum nasi yang memperlihatkan


pengumpulan cairan yang berdinding tipis dan seperti kista yang
melibatkan septum nasi kartilago (tanda panah besar). Perhatikan
pembengkakan pada jaringan nasi di sekitarnya (panah kecil)
DIAGNOSIS BANDING

Hematoma septum

Deviasi septum
PENATALAKSANAAN
a.Incisi
Incisi dapat dilakukan dengan anestasi
lokal atau anestasi umum. Incisi di buat
vertikal pada daerah yang paling
berfluktuasi. Incisi abses dapat unilateral
atau bilateral, kemudian dilakukan evakuasi
pus, bekuan darah, jaringan nekrotik dan
jaringan granulasi sampai bersih, kemudian
dilanjutkan dengan pemasangan drain. Drain
dipertahankan sampai 2-3 hari, jika drain
masih diperlukan dapat dipertahankan.
b.Dipasang Tampon
Pada kedua rongga hidung dipasang
tampon anterior setelah dilakukan incisi untuk
menekan permukaan periosteum dan
perikondrium dan pemasangan drain untuk
jalan keluar pus serta serpihan kartilago yang
nekrosis, tampon anterior tiap hari diganti,
dan dipertahankan selama 2 sampai 3 hari.
c.Pemberian Antibiotik
Antibiotik spektrum luas untuk gram positif
dan gram negatif, serta kuman anaerob dapat
diberikan secara parenteral. Sebelum
diperoleh hasil kultur dan tes resistensi
dianjurkan untuk pemberian preparat penicillin
IV dan kloramfenikol IV, serta terapi terhadap
kuman anaerob. Pada kasus tanpa komplikasi,
terapi antibiotik parenteral diberikan selama 3
sampai 5 hari dan dilanjutkan dengan
pemberian oral selama 7-10 hari kemudian.
KOMPLIKASI

o Nekrosis Kartilago

o Perforasi Septum Nasi

o Infeksi Intrakranial
KESIMPULAN
Abses septum nasal merupakan perkembangan dari hematom
nasi. Biasanya dipicu oleh trauma yang menyebabkan terjadinya
ruptur pembuluh darah kecil yang menyuplai septum nasi
sehingga terbentuklah hematom yang memisahkan
mukoperikondrium dari tulang rawan septum. Destruksi tulang
rawan merupakan akibat dari iskemik dan nekrosis karena
tekanan. Darah yang statis merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri sehingga terbentuklah abses. Proses
peradangan diperberat oleh kematian sel serta pelepasan enzim
proteolitik dan kolagenase.
Gejala yang paling sering muncul adalah obstruksi nasal
bilateral. Gejala yang lain adalah nyeri nasal, malaise, demam,
dan nyeri kepala.Abses septum harus segera diobati sebagai
kasus darurat karena komplikasinya yang cukup berat, yaitu
dalam waktu singkat dapat menyebabkan nekrosis tulang rawan
septum. Terapinya, dilakukan insisi dan drainase nanah serta
diberikan antibiotic dosis tinggi. Untuk nyeri dan demamnya