Anda di halaman 1dari 19

BAB 3

Revolusi Menegakkan Panji


NKRI

Rifky Ilyasa T
XI-7
Kondisi Awal Indonesia Merdeka
Kondisi Ekonomi Indonesia Pada Awal Kemerdekaan
a. Keadaan Ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan
Keadaan ekonomi Indonesia pada akhir kekuasaan Jepang dan pada awal berdirinya
Republik Indonesia sangat kacau dan sulit. Latar belakang keadaan yang kacau tersebut
disebabkan karena :
Indonesia yang baru saja merdeka belum memiliki pemerintahan yang baik, dimana belum ada
pejabat khusus yang bertugas untuk menangani perekonomian
Indonesia. (Mochammad Ridwan: 2013)
Sebagai negara baru Indonesia belum mempunyai pola dan cara untuk mengatur ekonomi
keuangan yang mantap. (Mochammad Ridwan: 2013)
Sepeninggalan pemerintah pendudukan Jepang dimana ekonomi saat pendudukan Jepang
memang sudah buruk akibat pengeluaran pembiayaan perang Jepang.Membuat pemerintah baru
Indonesia agak sulit untuk bangkit dari keterpurukan. (Mochammad Ridwan: 2013)
Kondisi keamanan dalam negeri sendiri tidak stabil akibat sering terjadinya pergantian kabinet,
dimana hal tersebut mendukung ketidakstabilan ekonomi. (Mochammad Ridwan: 2013)
Politik keuangan yang berlaku di Indonesia dibuat di negara Belanda guna menekan
pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan untuk menghancurkan ekonomi nasional. (Mochammad
Ridwan: 2013)
Belanda masih tetap tidak mau mengakui kemerdeaan Indonesia dan masih terus melakukan
pergolakan politik yang menghambat langkah kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi.
(Mochammad Ridwan: 2013)

Faktor- faktor penyebab kacaunya perekonomian Indonesia 1945-1950 adalah


sebagai berikut.
1. Terjadi Inflasi yang sangat tinggi
Inflasi tersebut dapat terjadi disebabakan karena :
Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak terkendali (pada bulan
Agustus 1945 mencapai 1,6 Milyar yang beredar di Jawa sedangkan secara umum uang yang
beredar di masyarakat mencapai 4 milyar). (Yogi Syah Putra : 2011)
Beredarnya mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank yang
berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yang jumlahnya mencapai 2,3 milyar.
(Yogi Syah Putra : 2011)
Repubik Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri sehingga pemerintah tidak dapat
menyatakan bahwa mata uang pendudukan Jepang tidak
berlaku. (Yogi Syah Putra : 2011)
Inflasi terjadi karena di satu sisi tidak terkendalinya peredaran uang yang dikeluarkan pemerintah
Jepang di sisi lain ketersediaan barang menipis bahkan langka di beberapa daerah. Kelangkaan ini
terjadi akibat adanya blokade ekonomi oleh Belanda. Uang Jepang yang beredar sangat tinggi
sedangkan kemampuan ekonomi untuk menyerap uang tersebut masih sanat rendah. Karena inflasi
ini kelompok yang paling menderita adalah para petani sebab pada masa pendudukan Jepang petani
merupakan produsen yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang. Hasil pertanian mereka
tidak dapat dijual, sementara nilai tukar mata uang yang mereka miliki sangat rendah. Pemerintah
Indonesia yang baru saja berdiri tidak mampu mengendalikan dan menghentikan peredaran mata
uang Jepang tersebut sebab Indonesia belum memiliki mata uang baru sebagai penggantinya.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk sementara waktu menyatakan ada 3 mata uang yang
berlaku di wilayah Republik Indonesia (Mochammad Ridwan: 2013), yaitu:
- Mata uang De Javasche Bank
- Mata uang pemerintah Hindia Belanda
- Mata uang pendudukan Jepang
Keadaan tersebut diperparah dengan diberlakukannya uang NICA di daerah yang diduduki sekutu
pada tanggal 6 Maret 1946 oleh Panglima AFNEI yang baru yaitu Letnan Jenderal Sir Montagu
Stopford. Uang NICA ini dimaksudkan untuk menggantikan uang Jepang yang nilainya sudah sangat
turun saat itu. Upaya sekutu tersebut merupakan salah satu bentuk pelangaran kesepakatan yaitu
bahwa selama belum ada penyelesaian politik mengenai status Indonesia, maka tidak ada mata
uang baru.
Karena tindakan sekutu tersebut maka pemerintah Indonesia pun mengeluarkan uang kertas baru
yaitu Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai pengganti uang Jepang. ( Mochammad Ridwan: 2013 )
2. Adanya blokade ekonomi dari Belanda
Blokade oleh Belanda ini dilakukan dengan menutup (memblokir) pintu keluar
masuk perdagangan Indonesia terutama melalui jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan
penting. Blokade ini dilakukan mulai bulan November 1945. Adapun alasan dari
pemerintah Belanda melakukan blokade ini adalah :
- Mencegah masuknya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
- Mencegah keluarnya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing
lainnya.
- Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
bangsa lain.
Dengan adanya blokade tersebut menyebabkan:
- Barang-barang ekspor Indonesia terlambat terkirim.
- Barang-barang dagangan milik Indonesia tidak dapat di ekspor bahkan
banyak barang-barang ekspor Indonesia yang dibumi hanguskan.
- Indonesia kekurangan barang-barang import yang sangat dibutuhkan.
- Inflasi semakin tak terkendali sehingga rakyat menjadi gelisah.
Tujuan/harapan Belanda dengan blokade ini adalah :
- Agar ekonomi Indonesia mengalami kekacauan
- Agar terjadi kerusuhan sosial karena rakyat tidak percaya kepada
pemerintah Indonesia, sehingga pemerintah Belanda dapat dengan mudah
mengembalikan eksistensinya.
- Untuk menekan Indonesia dengan harapan bisa dikuasai kembali oleh Belanda.

3. Kekosongan kas Negara


Kas Negara mengalami kekosongan karena pajak dan bea masuk lainnya belum ada
sementara pengeluaran negara semakin bertambah. Penghasilan pemerintah hanya
bergantung kepada produksi pertanian. Karena dukungan dari bidang pertanian
inilah pemerintah Indonesia masih bertahan, sekalipun keadaan ekonomi sangat
buruk. (Yogi Syah Putra : 2011)
Merdeka Atau Mati
pada tanggal 15 september 1945 tak lama setelah
proklamasi indonesia belanda besertat sekutu
kembali ke indonesia awalnya mereka mengaku
kedatangan ini bertujuan menjaga keamanan dan
ketertiban indonesia setelah jepang kalah pada
perang dunia ke 2.
kedaatangan belanda awalnya di terima dengan
baik, namun seiring jalannya waktu kedok mereka
terbuka, untungnya soekarno sudah memperingati
untuk berhati hati.
pertempuran ini berlangsung hari namun pada 15
desember indonesia berhasil mengalahkan
belanda dan sekutu
Perjanjian Linggar Jati
Latar Belakang
Masuknya AFNEI yang diboncengi NICA ke Indonesia karena Jepang
menetapkan 'status quo' di Indonesia menyebabkan terjadinya konflik
antara Indonesia dengan Belanda, seperti contohnya peristiwa 10
November, selain itu pemerintah Inggris menjadi penanggung jawab
untuk menyelesaikan konflik politik dan militer di Asia. Oleh sebab itu,
Sir Archibald Clark Kerr, Diplomat Inggris, mengundang Indonesia dan
Belanda untuk berunding di Hooge Veluwe, namun perundingan
tersebut gagal karena Indonesia meminta Belanda mengakui
kedaulatannya atas Jawa, Sumatera dan Pulau Madura, namun Belanda
hanya mau mengakui Indonesia atas Jawa dan Madura saja
Hasil perundingan
Hasil perundingan tersebut menghasilkan 17 pasal yang antara lain berisi:
Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu
Jawa dan Madura.
Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1
Januari 1949.
Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara RIS.
Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam
Commonwealth/Persemakmuran Indonesia Belanda dengan mahkota
negeri Belanda sebagai kepala uni
Agresi Militer 1
Latar belakang
Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan ultimatum supaya RI menarik mundur
pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan
Belanda ini.
Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan
daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok
untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi
Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur
Jenderal Belanda, Dr. H.J. van Mook menyampaikan pidato radio di mana dia
menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan Linggarjati. Pada
saat itu jumlah tentara Belanda telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan
persenjataan yang modern, termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara
Inggris dan tentara Australia.

Dimulainya operasi militer


Konferensi pers pada malam 20 Juli di istana, di mana Gubernur Jenderal HJ Van Mook
mengumumkan pada wartawan tentang dimulainya Aksi Polisionil Belanda pertama
Baru ?. Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan
tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam, sehingga dalam bukunya, J. A. Moor
menulis agresi militer Belanda I dimulai tanggal 20 Juli 1947. Belanda berhasil
menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa
Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah
dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan
tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur,
sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-
pabrik gula.
Pada agresi militer pertama ini, Belanda juga mengerahkan kedua
pasukan khusus, yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di bawah
Westerling yang kini berpangkat Kapten, dan Pasukan Para I (1e
para compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar. Pasukan KST
(pengembangan dari DST) yang sejak kembali dari Pembantaian
Westerling|pembantaian di Sulawesi Selatan belum pernah beraksi
lagi, kini ditugaskan tidak hanya di Jawa, melainkan dikirim juga ke
Sumatera Barat.

Agresi tentara Belanda berhasil merebut daerah-daerah di wilayah


Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota
pelabuhan, perkebunan dan pertambangan.

Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang


Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari
Singapura, sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh
Belanda dan mengakibatkan tewasnya Komodor Muda Udara Mas
Agustinus Adisucipto|Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara
dr. Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarmo
Wiryokusumo.
Perjanjian Renville
Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan
Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari
1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat
sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di
pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai
pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh
Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices
for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat,
Australia, dan Belgia.
Isi perjanjian:
Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan
Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia
Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan
wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah
kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan
Jawa Timur.
Pasca perjanjian

Wilayah Indonesia di Pulau Jawa (warna merah) pasca perjanjan Renville.


Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang
dikuasai TNI, dan pada bulan Februari 1948, Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah. Divisi
ini mendapatkan julukan Pasukan Hijrah oleh masyarakat Kota Yogyakarta yang menyambut
kedatangan mereka.
Tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu
Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo,
mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata
terhadap tentara Belanda. Setelah Soekarno dan Hatta ditangkap di Yogyakarta, S.M.
Kartosuwiryo, yang menolak jabatan Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Amir
Syarifuddin, Menganggap Negara Indonesia telah Kalah dan Bubar, kemudian ia mendirikan
Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hingga pada 7 Agustus 1949, di wilayah yang
masih dikuasai Belanda waktu itu, Kartosuwiryo menyatakan berdirinya Negara Islam
Indonesia (NII). Akibat dari Perjanjian Renville itu pula, pasukan dari Resimen
40/Damarwulan, bersama batalyon di jajarannya, Batalyon Gerilya (BG) VIII Batalyon
Gerilya (BG) IX, Batalyon Gerilya (BG) X, Depo Batalyon, EX. ALRI Pangkalan X serta
Kesatuan Kelaskaran, dengan total penikut sebanyak tidak kurang dari 5000 orang, juga
Hijrah ke daerah Blitar dan sekitarnya. Resimen 40/Damarwulan ini kemudian berubah
menjadi Brigade III/Damarwulan, dan batalyonnyapun berubah menjadi Batalyon 25,
Batalyon 26, Batalyon 27. Setelah keluarnya Surat Perintah Siasat No I, dari PB Sudirman,
yang mengharuskan semua pasukan hijrah pulang dan melanjutkan gerilya di daerah masing-
masing, Pasukan Brigade III/Damarwulan, di bawah pimpinan Letkol Moch Sroedji ini,
melaksanakan Wingate Action, dengan menempuh jarak kurang lebih 500 kilometer selama 51
hari.
Agresi Militer 2
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi
pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu
kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan
beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya
Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin
Prawiranegara.
Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di
Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta.
Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa
pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara
(KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.
1 maret 1949
Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1
Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara besar-besaran yang direncanakan
dan dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan
mengikutsertakan beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat
berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng,[butuh
rujukan] untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti
juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian
dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang
berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan
moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa
Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk
mengadakan perlawanan. Soeharto pada waktu itu sebagai komandan brigade
X/Wehrkreis III turut serta sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.
Jalannya Serangan Umum 1 Maret

Tepatnya pada tanggal 1 Maret 1949 di pagi hari, dimulailah serangan besar-besaran dengan
fokus utama adalah ibu kota Indonesia saat itu yaitu Yogyakarta. Selain itu serangan juga
dilakukan dibeberapa kota lain seperti Solo, dan Magelang dengan tujuan untuk
menghambat bantuan tentara Belanda. Pusat komando saat itu ditempatkan di Desa
Muto. Tepat pada pukul 6 pagi, sirine dibunyikan dan serang dilakukan ke seluruh penjuru
kota. Serangan tersebut dibagi menjadi 5 sektor yaitu:

Kota dipimpin oleh Letnan Marsudi.


Barat dipimpin oleh Letkol Ventje Sumual
Utara dipimpin oleh Mayor Kusno
Selatan dipimpin oleh Mayor Sarjono
Timur dipimpin oleh Mayor Sarjon
Kerugian Di Kedua Belah Pihak Serangan Umum 1 Maret

Pihak Belanda 6 orang tewas dan 14 orang luka-luka, sementara di


pihak Indonesia tercatat 300 prajurit gugur, 53 polisi gugur, dan
jumlah rakyat yang ikut gugur tidak bisa dihitung secara pasti.
Sementara itu, menurut media Belanda, korban dari pihak mereka
selama bulan maret adalah 200 orang tewas dan luka-luka.
Arti Penting Serangan Umum 1 Maret 1949

Menunjukkan kepada dunia internasional keberadaan pemerintah dan


TNI masih kuat dan solid
Dukungan terhadap perundingan/diplomasi yang berlangsung di PBB
Meningkatkan moral bangsa Indonesia
Meruntuhkan mental pasukan Belanda
Mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia
Perjanjian Roem Royen,KMB

Dalam perundingan Roem Royen, pihak Republik Indonesia tetap


berpendirian bahwa pengembalian pemerintahan Republik Indonesia
ke Yogyakarta merupakan kunci pembuka untuk perundingan
selanjutnya. Sebaliknya, pihak Belanda menuntut penghentian
perang gerilya oleh Republik Indonesia. Akhirnya, pada tanggal 7
Mei 1949 berhasil dicapai persetujuan antara pihak Belanda dengan
pihak Indonesia. Kemudian disepakati kesanggupan kedua belah
pihak untuk melaksanakan Resolusi Dewan Keamanan PBB
tertanggal 28 Januari 1949 dan persetujuan pada tanggal 23 Maret
1949. Pernyataan pemerintah Republik Indonesia dibacakan oleh
Ketua Delegasi Indonesia Mr. Mohammad Roem yang berisi antara
lain sebagai berikut.
1.Pemerintah Republik Indonesia akan mengeluarkan perintah
penghentian perang gerilya.
2.Kedua belah pihak bekerja sama dalam hai mengembalikan
perdamaian dan menjaga keamanan serta ketertiban.
3.Belanda turut serta dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang
bertujuan mempercepat penyerahan kedaulatan lengkap dan tidak
bersyarat kepada negara Republik Indonesia Serikat.
Pernyataan Delegasi Belanda dibacakan oleh Dr. J.H. van Royen,
yang berisi antara lain sebagai berikut.
1.Pemerintah Belanda menyetujui bahwa pemerintah Republik
Indonesia harus bebas dan leluasa melakukan kewajiban dalam
satu daerah yang meliputi Karesidenan Yogyakarta.
2.Pemerintah Belanda membebaskan secara tidak bersyarat para
pemimpin Republik Indonesia dan tahanan politik yang
ditawan sejak tanggal 19 Desember 1948.
3.Pemerintah Belanda menyetujui bahwa Republik Indo-nesia
akan menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS).
4.Konferensi Meja Bundar (KMB) akan diadakan secepatnya di
Den Haag sesudah pemerintah Republik Indonesia kembali ke
Yogyakarta.
Pasca Perjanjian Roem Royen

Setelah tercapainya perundingan Roem Royen, pada


tanggal 1 Juli 1949 pemerintah Republik Indonesia
secara resmi kembali ke Yogyakarta. Selanjutnya,
disusul dengan kedatangan para pemimpin Republik
Indonesia dari medan gerilya. Panglima Besar Jenderal
Sudirman tiba kembali di Yogyakarta tanggal 10 Juli
1949. Setelah pemerintahan Republik Indonesia kembali
ke Yogyakarta, pada tanggal 13 Juli 1949
diselenggarakan siding cabinet. Dalam siding tersebut
Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandate
kepada wakil presiden Moh Hatta. Dalam siding tersebut
juga diputuskan Sri Sultan Hamengku Buwono IX
diangkat menjadi menteri pertahanan merangkap
koordinator keamanan.
Konferensi Meja Bundar adalah sebuah pertemuan yang dilaksanakan di Den Haag,
Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 antara perwakilan Republik
Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), yang mewakili
berbagai negara yang diciptakan Belanda di kepulauan Indonesia.[1] Sebelum
konferensi ini, berlangsung tiga pertemuan tingkat tinggi antara Belanda dan
Indonesia, yaitu Perjanjian Linggarjati (1947), Perjanjian Renville (1948), dan
Perjanjian Roem-Royen (1949). Konferensi ini berakhir dengan kesediaan Belanda
untuk menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat.

Konferensi Meja Bundar diikuti oleh perwakilan dari Indonesia, Belanda,


danperwakilan badan yang mengurusi sengketa antara Indonesia-Belanda. Berikut
ini paradelegasi yang hadir dalam KMB:
a. Indonesia terdiri dari Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh. Roem, Prof.Dr. Mr. Soepomo.
b. BFO dipimpin Sultan Hamid II dari Pontianak.
c. Belanda diwakili Mr. van Maarseveen.
d. UNCI diwakili oleh Chritchley.
Setelah melakukan perundingan cukup lama, maka diperoleh hasil dari konferensi
tersebut. Berikut merupakan hasil KMB:
a. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
b. Pengakuan kedaulatan dilakukan selambat-lambatnya tanggal 30 Desember 1949.
c. Masalah Irian Barat akan diadakan perundingan lagi dalam waktu 1 tahun setelah
pengakuan kedaulatan RIS.
d. Antara RIS dan Kerajaan Belanda akan diadakan hubungan Uni Indonesia Belanda yang
dikepalai Raja Belanda.
e. Kapal-kapal perang Belanda akan ditarik dari Indonesia dengan catatan beberapa korvet
akan diserahkan kepada RIS.
f. Tentara Kerajaan Belanda selekas mungkin ditarik mundur, sedang TentaraKerajaan Hindia
Belanda (KNIL) akan dibubarkan dengan catatan bahwa paraanggotanya yang diperlukan
akan dimasukkan dalam kesatuan TNI.

Konferensi Meja Bundar memberikan dampak yang cukup menggembirakan bagibangsa


Indonesia. Karena sebagian besar hasil dari KMB berpihak pada bangsa
Indonesia,sehingga dampak positif pun diperoleh Indonesia. Berikut merupakan dampak
dari Konferensi Meja Bundar bagi Indonesia:
a. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.
b. Konflik dengan Belanda dapat diakhiri dan pembangunan segera dapat dimulai.
c. Irian Barat belum bisa diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat.
d. Bentuk negara serikat tidak sesuai dengan cita-cita Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Selain dampak positif, Indonesia juga memperoleh dampak negatif, yaitu belum diakuinya
Irian Barat sebagai bagian dari Indonesia. Sehingga Indonesia masih berusaha untuk
memperoleh pengakuan bahwa Irian Barat merupakan bagian dari NKRI.
Terima Kasih :)