Anda di halaman 1dari 13

Bab 3

Revolusi Menegakkan Panji


NKRI

Sarah Shamira B
XI - 7
Revolusi Menegakkan
Panji-Panji NKRI

......Sejarah Perundingan yang sudah-sudah menunjukkan


bahwa pokok kesulitan terletak pada permasalahan kedaulatan,
yaitu kedaulatan Belanda berdasarkan sejarah.
Tetapi pada tanggal 17 Agustus 1945, hari Proklamasi,
sudah tercetus revolusi di Indonesia.
Setelah itu, perjuangan bangsa Indonesia mengalir dalam satu
saluran tertentu,
karena waktu itu bangsa Indonesia sudah menyatakan diri
sebagai bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Setelah hari ini jugalah bangsa Indonesia bertindak ke luar atas
nama negaranya
yang diwujudkan dalam RI
Kutipan Pidato Hatta dalam Konferensi Meja Bundar
Kondisi Awal Indonesia Merdeka

Secara politis keadaan indonesia pada awal


kemerdekaan belum begitu mapan.
Ketegangan, kekacauan , dan berbagai
insiden masih terus terjadi. Sebagai contoh
rakyat indonesia masih harus bentrok dengan
sisa-sisa kekuatan jepang. Disamping
menghadapi kekuatan jepang, bangsa
indonesia harus berhadapan dengan tentara
inggris atas nama sekutu, dan juga
NICA(Belanda) yang berhasil datang kembali
ke indonesia dengan membonceng sekutu.
Pidato Bung Tomo yang
menggetarkan jiwa arek-arek
Suroboyo
10 November adalah Hari Pahlawan yang
diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Hari
ini diperingati untuk mengenang pertempuran
dramatis antara arek-arek Suroboyo melawan
Tentara Inggris yang ingin menguasai Surabaya
pada 10 November 1945.
Waktu itu Tentara Inggris mengultimatum
warga Surabaya untuk menyerah kepada
Inggris, dan memberikan bendera warna putih
sebagai tanda telah menyerahkan diri. Namun
ultimatum itu tidak diindahkan oleh arek-arek
Suroboyo.
Tak dapat dipungkiri, pidato Bung Tomo
pada 10 November 1945 menjadi penyemangat
arek-arek Suroboyo untuk bangkit melawan, dan
tidak gentar oleh serangan pasukan Inggris yang
dilengkapi dengan senjata canggih. Dengan
keyakinan yang tinggi, serta semboyan merdeka
atau mati, arek-arek Suroboyo pantang
menyerah dan dengan gagah berani melawan
pasukan Inggris di Surabaya.
Perjanjian Linggajati
Perundingan Linggajati atau
kadang juga disebut Perundingan
Lingga'r'jati adalah suatu
perundingan antara Indonesia dan
Belanda di Linggarjati, Jawa Barat
yang menghasilkan persetujuan
mengenai status kemerdekaan
Indonesia. Hasil perundingan ini
ditandatangani di Istana Merdeka
Jakarta pada 15 November 1946
dan ditandatangani secara sah oleh
kedua negara pada 25 Maret 1947.
Perjanjian Linggarjatiyang
ditandatangani tanggal 15
November 1946 mendapat
tentangan dari partai-partai politik
yang ada di Indonesia.
Agresi Militer 1
"Operatie Product" (bahasa
Indonesia: Operasi Produk) atau
yang dikenal di Indonesia dengan
nama Agresi Militer Belanda I
adalah operasi militer Belanda di
Jawa dan Sumatera terhadap
Republik Indonesia yang
dilaksanakan dari 21 Juli 1947
sampai 5 Agustus 1947. Operasi
militer ini merupakan bagian dari
Aksi Polisionil yang diberlakukan
Belanda dalam rangka
mempertahankan penafsiran
Belanda atas Perundingan
Linggarjati. Dari sudut pandang
Republik Indonesia, operasi ini
dianggap merupakan pelanggaran
dari hasil Perundingan Linggarjati.
Agresi Militer 2
Agresi Militer II terjadi pada
19 Desember 1948 yang
diawali dengan serangan
terhadap Yogyakarta, ibu kota
Indonesia saat itu, serta
penangkapan Soekarno,
Mohammad Hatta, Sjahrir dan
beberapa tokoh lainnya.
Jatuhnya ibu kota negara ini
menyebabkan dibentuknya
Pemerintah Darurat Republik
Indonesia di Sumatra yang
dipimpin oleh Sjafruddin
Prawiranegara.
Perjanjian Reville
Perjanjian Renville adalah
perjanjian antara Indonesia dan
Belanda yang ditandatangani
pada tanggal 17 Januari 1948 di
atas geladak kapal perang
Amerika Serikat sebagai tempat
netral, USS Renville, yang
berlabuh di pelabuhan Tanjung
Priok, Jakarta. Perundingan
dimulai pada tanggal 8 Desember
1947 dan ditengahi oleh Komisi
Tiga Negara (KTN), Committee of
Good Offices for Indonesia, yang
terdiri dari Amerika Serikat,
Australia, dan Belgia.
Perjanjian Reville
Pasca Perjanjian
Isi Perjanjian Revile : Reville :

1. Belanda hanya mengakui Sebagai hasil Persetujuan


Jawa tengah, Yogyakarta, dan Renville, pihak Republik harus
Sumatera sebagai bagian mengosongkan wilayah-
wilayah Republik Indonesia wilayah yang dikuasai TNI,
2. Disetujuinya sebuah garis dan pada bulan Februari
demarkasi yang memisahkan 1948, Divisi Siliwangi hijrah
wilayah Indonesia dan daerah ke Jawa Tengah. Divisi ini
pendudukan Belanda mendapatkan julukan
3. TNI harus ditarik mundur dari Pasukan Hijrah oleh
daerah-daerah kantongnya di masyarakat Kota Yogyakarta
wilayah pendudukan di Jawa yang menyambut kedatangan
Barat dan Jawa Timur.
mereka.
Serangan Umum
Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang
dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta
secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan oleh jajaran
tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan
beberapa pucuk pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan
instruksi dari Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng, untuk
membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga
Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan
demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang
sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama
untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada
dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih
mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan. Soeharto pada
waktu itu sebagai komandan brigade X/Wehrkreis III turut serta
sebagai pelaksana lapangan di wilayah Yogyakarta.
Perjanjian Roem Royen
Isi dan Hasil Perundingan Roem-
Roijen atau Roem-Royen merupakan sebuah
perjanjian antara Indonesia dengan Belanda
yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan
akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei
1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Perundingan
antara Indonesia dan Belanda diawasi oleh
komisi PBB untuk Indonesia atau United
Nations Commision for Indonesia (UNCI).
Namanya diambil dari kedua pemimpin
delegasi, Mohammad Roem dan Herman van
Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk
menyelesaikan beberapa masalah mengenai
kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi
Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang
sama. Serangan tentara Belanda ke
Yogyakarta dan penahanan kembali para
pemimpin Republik Indonesia yang
mendapatkan kecamanan dari dunia
Internasional. sehingga bersedia berunding
Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar adalah
sebuah pertemuan yang
dilksanakan di Den haag,
Belanda, dari 23 Agustus hingga
2 November 1949 antara
perwakilan Republik Indonesia,
Belanda, dan BFO (Bijeenkomst
Voor Federal Overlag), yang
mewakili berbagai negara yang
diciptakan Belanda di Kepulauan
Indonesia. Konferensi ini berakhir
dengan kesediaan Belanda untuk
menyerahkan kedaulatan kepada
Republik Indonesia Serikat.