Anda di halaman 1dari 8

AQIDAH Arzakhy Indhira Pramesti

15/379401/GE/08031
MAKNA AQIDAH
o Secara etimologi: apa yang diyakini oleh
seseorang, merupakan perbuatan hati,
kepercayaan, dan pembenarannya kepada
sesuatu
o Secara syara': iman kepada Allah SWT, para
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya,
dan kepada hari akhir serta kepada qada dan
qadar.
Terdapat dua syariat:
1. I'tiqadiyah 2. Amaliyah
= hal-hal yang tidak
berhubungan dengan tata cara = hal-hal yang berhubungan
amal. dengan tata cara amal.
Misal: percaya terhadap Allah
Misal: Shalat, zakat, dan
dan kewajiban berbadah
kepada-Nya dan rukun-rukun puasa.
iman yang lain. Disebut juga far'iyah (cabang
Disebut juga ashliyah (pokok agama).
agama).
Segala amal tidak diterima jika tidak
bersih dari syirik, sehingga yang perlu
diperhatikan paling utama adalah
pelurusan aqidah. Hal pertama yang
didakwahkan para rasul adalah dengan
menyembah hanya kepada Allah dan
bukan kepada yang selain Allah.
SUMBER YANG BENAR DALAM
MENGAMBIL AQIDAH
Aqidah adalah taufiqiyah, yang artinya tidak bisa
ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i, sehingga sumber-
sumbernya terbatas pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Tidak ada yang lebih mengetahui Allah selain Allah sendiri
dan tidak ada seorang pun sesudah Allah yang lebih
mengetahui tentang Allah selain Rasulullah.
Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh pada Al-
Quran dan As-Sunnah akan diberikan petunjuk oleh Allah dan
siapapun yang mengikuti petunjuk-Nya maka tidak akan
sesat atau celaka.
PENYIMPANGAN AQIDAH DAN
PENANGGULANGANNYA
Sebab-sebab penyimpangan aqidah:
o Kebodohan terhadap aqidah shahihah karena tidak mau mempelajari
dan mengajarkannya. Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai
yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq.
o Ta'ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi oleh bapak dan
nenek boyangnya, walaupun hal tersebut batil dan mencampakkan
apa yang menyalahinya walaupun hal itu benar.
o Taqlid buta, yaitu mengambil pendapat manusia dalam masalah
aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tidak menyelidiki
kebenarannya.
o Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang
yang shalih, mengangkat mereka di atas derajat yang lebih dari
semestinya, hingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak
dilakukan kecuali Allah, baik berupa mendatangkan manfaat,
maupun menolak kemudharatan, menjadikan para wali tersebut
sebagai penghubung antara Allah dengan makhluk-Nya, sehingga
sampai pada tingkat penyembahan, bertaqarrub pada kuburan
para wali tersebut dengan hewan qurban, do'a, dan meminta
pertolongan.
o Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang tertuang
di alam maupun yang tertuang dalam kitab-Nya, terbuai dengan
teknologi hingga mengagung-agungkan manusia dan
menganggap kemajuan teknologi tersebut sebagai jerih payah
manusia semata, padahal Allah lah yang menciptakan alam
lengkap dengan berbagai keistimewaan yang tertibun dan
menciptakan manusia dengan akal dan keahlian untuk
menemukan dan mengolah keistimewaan alam.
Cara penanggulangan:
o Kembali pada kitab dan sunnah Rasulullah untuk mengambil
aqidah yang shahih.
o Memberi perhatian pada pengajaran aqidah yang shahih di
berbagai jenjang pendidikan.
o Menyebar para da'i yang mampu meluruskan aqidah dengan
baik dan benar serta menolak seluruh aqidah batil.