Anda di halaman 1dari 31

Materialitas, Risiko dan Strategi Audit

Nama Kelompok

Rizki Alfi Sabila C1C014045


Kiki Amelia C1C014046
Sita Aulia C1C014048
Murti Aseh C1C014056
Rayi Okty Hapsari C1C014059
1 .MATERIALITAS
Definisi Materialitas

1. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)


Materialitas yaitu besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi
akuntansi, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, yang mungkin dapat
mengakibakan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang
yang meletakan kepercayaan atas informasi tersebut karena adanya
penghilangan atau salah saji tersebut.

2.FABS (Financial Accounting Standart Broad)


Materialitas adalah besarnya kealpaan dan salah saji informasi akuntansi,
yang didalam lingkungan tersebut membuat kepercayaan seseorang
berubah atau terpengaruh oleh adanya kealpaan dan salah saji tersebut.
Materialititas merupakan dasar penerapan standar auditing, terutama standar
pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Sehingga, materialitas mempunyai
pengaruh yang mencakup semua aspek audit atas laporan keuangan. SA Seksi
312 Risiko Audit Dan Materialitas Audit dalam Pelaksanaan Audit
mengharuskan auditor untuk mempertimbangkan materialitas dalam :

1. Perencanaan audit, dan

2. Penilaian terhadap kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai


dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
MATERIALITAS

besarnya salah saji yang dapat


mempengaruhi keputusan pemakai
informasi.
AUDITOR

Informasi
yang
Ukuran dan Kondisi yang diperlukan
karakteristik berkaitan pihak yang
satuan dengan mengandalkan
usaha perusahaan laporan
keuangan
Pertimbangan Pendahuluan Tentang Materialitas
Auditor, untuk kepentingan perencanaan, harus
menggunakan jumlah terkecil tingkat salah saji yang
dianggap material untuk setiap laporan keuangan
Materialitas Pada Tingkat Saldo Akun

Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang
mungkin terdapat dalam saldo akun yang dipandang sebagai salah saji
material.
Konsep materialitas pada timgkat saldo akun tidak boleh dicampuradukkan
dengan istilah saldo akun material. Saldo akun material adalah besarnya
saldo akun yang tercatat, sedangkan konsep materialitas berkaitan dengan
jumlah salah saji yang dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi
keuangan.
Pengalokasian Materialitas Laporan Keuangan
pada Akun
Tahapan Dalam Penerapan Materialitas

menentukan tingkat materialitas untuk


keseluruhan laporan keuangan materialitas
yang direncanakan)

menentukan salah satu saja yang dapat


ditolerir

mengevaluasi temuan audit


Sebagai contoh :

Auditor memutuskan kombinasi salah saji berjumlah 8% dari laba bersih sebelum pajak
dipandang material untuk laporan laba-rugi, dengan memperhatikan faktor kualitatif
dalam salah saji tersebut. Oleh karena itu, jika kombinasi salah saji kurang dari 3%,
auditor akan memandang sebagai salah saji yang tidak material, dengan memperhatikan
faktor kualitatif dalam salah saji tersebut.

Salah saji berada diantara 3% dan 8% memerlukan pertimbangan auditor untuk


memutuskan materialitasnya. Jika misalnya, laba bersih sebelum pajak yang dipakai
sebagai jumlah kunci berjumlah Rp 100 juta, maka batas materialitas (materiality border)
untuk laporan laba-rugi berada dalam kisaran : Rp 3.000.000 sampai Rp 8.000.000 Batas
bawah dihitung 3% x Rp100.000.000 dan batas atas dihitung 8% x Rp 100.000.000.

Contoh berikut ini menunjukan batas materialitas yang ditentukan oleh auditor :
Untuk total aktiva dalam neraca Rp 41 juta s.d Rp 100 juta
Untuk aktiva lancar Rp 25 juta s.d Rp 60 juta
Untuk total ekuitas pemegang saham dalam neraca Rp 15 juta s.d Rp 45 juta
2. Resiko Audit
Resiko Audit

Resiko audit merupakan resiko bahwa auditor mungkin tanpa


sengaja telah gagal untuk memodifikasi pendapat secara tepat
mengenai laporan keuangan yang mengandung salah saji
material.
Model Resiko Audit

Model
resiko audit
mengekspresikanhubunganantarakom
poen-komponenresiko audit . Ilustrasi :

AR = Resiko audit
IR = Resikobawaan
CR = Resikopengendalian
DR = Resikodeteksi
Matriks komponen resiko

Studi matriks menunjukan bahwa hal tersebut


konsisten dengan model resiko audit, yaitu bahwa
tingkat resiko deteksi yang dapat diterima
berhubungan terbalik dengan penilaian resiko
bawaan, resiko pengendalian, resiko prosedur
analitis.

Resiko bahwa prosedur analitis
tidak dapat mendeteksi
Penilaian Penialaian resiko Sangat
resiko pengendalian Tinggi Sedang Rendah rendah
bawaaan
Maksimum Maksimum Sangat Sangat Sangat Rendah
rendah rendah rendah
Tinggi Sangat Sangat Rendah Sedang
rendah rendah
Sedang Sangat Rendah Sedang *
rendah
Rendah Rendah Sedang Tinggi *

Tinggi Maksimum Sangat Sangat Rendah Sedang


rendah rendah
Tinggi Sangat Rendah Sedang *
rendah
Sedang Rendah Sedang Tinggi *

Rendah Sedang Tinggi * *

Sedang Maksimum Sangat Rendah Sedang Tinggi


rendah
Tinggi Rendah Sedang Tinggi *

Sedang Tinggi Tinggi * *

Rendah Rendah * * *

Rendah Maksimum Sedang Sedang Tinggi *

Tinggi Tingggi a Tinggi * *

Sedang * * * *
Rendah * * * *
Menilai Komponen Resiko Audit

1. Resiko bawaan
Resiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo rekening atau
golongan transaksi terhadap suatu salah saji yang material.
Penghitungan mengenai resiko bawaan membutuhkan
pertimbangan tentang berbagai hal yang bisa berpengaruh
terhadap asersi-asersi dari semua atau banyak rekening dan hal-
hal yang berhubungan hanya dengan asersi-asersi untuk
rekening tertentu.
Risiko bawaan bisa lebih besar untuk beberapa asersi
dibandingkan dengan untuk asersi lainnya. Sebagai contoh,
aserasi keberadaan atau keterjadian untuk kas lebih rentan
terhadap salah saji melalui penyalahgunaan atau penyelewengan,
dibandingkan dengan aserasi yang sama untuk aktiva tetap.
2. Risiko pengendaliaan
Merupakan resiko bahwa suatu salah saji material yang dapat
terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara
tepat waktu oleh struktur pengendaliaan intern satuan usaha.
Risiko pengendalian tidak akan pernah mencapai nol, karena
pengendalian intern tidak bisa menjamin sepenuhnya bahwa semua
salah saji material akan dapat dicegah atau dideteksi .
Sebagai contoh : Pengedalian bisa menjadi tidak efektif pada saat-
saat tertentu karena kesalahan manusia misalnya karena tidak
ketelitian atau karena kelelahan.
3. Risiko deteksi

Risiko deteksi adalah risiko dimana auditor tidak


dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat
dalam suatu asersi.
Risiko deteksi ini dapat dikurangi melalui
perencanaan yang memadai dan supervisi yang tepat
serta melalui penerapan standar pengendalian mutu.
Risiko Audit Pada Tingkat Laporan Keuangan dan
Tingkat Saldo Akun

Risiko audit dibagi menjadi dua bagian :

1. Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan


keuangan sebagai keseluruhan
2. Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap
saldo akun individual yangdicantumkan dalam laporan
keuangan
Hubungan antara Risiko Audit
dan Bukti Audit
Terdapatsuatu hubungan terbalik antara risiko audit dan jumlah
bukti yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas
laporan keuangan.

Hubungan terbalik ini juga berlaku pada komponen risiko


deteksi . untuk asasi tetentu,semakin besar kecukupan dalam
kompetensi pengujian substansial yang diperlukan untuk
membatasi risiko deteks keseluruhan pada tingkat tersebut.

menurut GAAS adalah tidak tepat bagi auditor untuk


menyimpulkan bahwa risiko bawaan dan risiko pengendalian
sangat rendah sehingga tidak perlu melaksanakan pengujan
substantive atas semua asersi yang berhubungan dengan akun.
Hubungan Timbal Balik Antara Materialitas,
Risiko Audit, dan Bukti Audit

Bukti Audit Tingkat Materialitas

Resiko Audit
Peringatan Akan Adanya Risiko Audit

Secara periodik staf AICPA dalam berkonsultasi dengan auditing


standard board,menerbitkan peringatan akan adanya risiko audit
(audit risk alrets) tujuanya memberikan mereka tinjauan mengenai
perkembangan ekonomi baru-baru ini kepada auditor,perkembngan
professional dan perkembangan peraturan yang mungkin akan
mempengaruhi audit untuk klien dalam banyak industry.

Selain peringatan akan adanya risiko audit umum ,baru-baru ini


diterbitkan peingatan berkenaan dengan perkembangan yang
berhubungan dengan industri tertentu.
3. Strategi Audit
Strategi Audit Awal

Mengingat adanya saling hubungan antara bukti,materialitas, dan


komponen-komponen risiko audit seperti, maka auditor bisa memilih
strategi audit awal dalam perencanan audit untuk masing-masing asersi
atau kelompok asersi.
Dalam mengembangkan strategi awal audit untuk asersi-asersi, auditor
merumuskan empat komponen sebagai berikut :
Komponen :
1. Penetapan tingkat risiko pengendalian direncanakan
2. Luasnya pemahaman atas struktur pengendalian intern yang harus dicapai
3. Pengujian pengendalian yang akan dilakukan dlm penetapan risiko
pengendalian
4. Tingkat pengujian substantif direncanakan yang akan diakukan untuk
mengurangi risiko audit pada tingkat rendah yang sesuai
Pendekatan Tingkat Risiko
Pengendalian Ditetapkan
Maksimum (Primarily Substantif
Approach)
Komponen-komponen strategi audit
1. Menggunakan perhitungan tingkat risiko pengendalian
direncanakan yang maksimum (atau sedikit dibawah
maksimum)
2. Merencanakan untuk mendapatkan pemahaman
minimum atas struktur pengendalian umum yang relevan
3. Merencanakan untuk hanya sedikit melakukan pengujian
pengendalian (atau bahkan sama sekali tidak melakukan
pengujian pengendalian)
4. Merencanakan untuk melakukan pengujian substantif
yang ekstensif berdasarkan tingkat risiko deteksi
direncanakan yang dapat diterima yang rendah
Pendekatan bisa digunakan apabila :
1. Auditor telah mengetahui dari awal, mungkin dari
pengalaman yang lalu dengan klien yang bersangkutan
atau dari tahap perencanaan sebelumnya, bahwa tidak
ada pengendalian yang berhubungan dengan asersi-
asersi atau pengendaliannya tidak efektif
2. Auditor menyimpulkan bahwa biaya untuk
melaksanakan tambahan prosedur untuk mendapatkan
pemahaman tentang struktur pengendaian intern dan
pengujian pengendalian untuk mendukung perhitungan
tingkat risiko pengendalian yag lebih rendah akan lebih
besar dibandingkan dengan biaya yang diperlukan utuk
melakukan pengujian substantif yang lebih ekstensif.
Pendekatan Tingkat Risiko
Pengendalian Ditetapkan Lebih
Rendah (Lower Assesed Level Of
Control Risk Approach)
Komponen-komponen strategi audit
1. Menggunakan perhitungan tingkat risiko pengendalian
direcanakan yang moderat atau rendah
2. Merencanakan untuk mendapat pemahaman yang mendalam
tentang struktur pengendaian intern yang relevan
3. Merencanakan untuk melakukan pengujian pengendalian
yang ekstensif
4. Merencanakan untuk membatasi pengujian substantif
berdasarkan tingkat risiko deteksi direncanakan yang dapat
diterima yang moderat atau tinggi
5. Merencanakan untuk membatasi pengujian substantif
berdasarkan tingkat risiko deteksi direncanakan yang dapat
diterima yang moderat atau tinggi