Anda di halaman 1dari 40

OLEH : DRG ARWITA MULYAWATI

Pasal 50 UUPK
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan
praktik kedokteran mempunyai hak :

a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang


melaksanakan tugas sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional;
b. Memberikan pelayanan medis menurut standar
profesi dan standar prosedur operasional;
c. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur
dari pasien atau keluarganya; dan
d. Menerima imbalan jasa.
Pasal 51 UUPK
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan
praktik kedokteran mempunyai kewajiban :
a. Memberikan pelayanan medis sesuai
dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan
medis pasien;
b. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi
lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak
mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan;
c. Merahasiakan segala sesuatu yang
diketahuinya tentang pasien,bahkan juga
setelah pasien itu meninggal dunia.
d. Melakukan pertolongan darurat
atas dasar perikemanusiaan ,
kecuali bila ia yakin ada orang lain
yang bertugas dan mampu
melakukannya; dan

e. Menambah ilmu pengetahuan dan


mengikuti perkembangan ilmu
kedokteran atau kedokteran gigi.
HAK-HAK PASIEN YANG TERDAPAT DI DLM
LETERATUR HUKUM KESEHATAN, YAITU :
Hak untuk memperoleh informasi
Hak untuk memberikan pesetujuan
Hak atas rahasia kedokteran
Hak untuk memilih dokter
Hak untuk memilih sarana kesehatan
Hak untuk menolak pengobatan/perawatan
Hak untuk menolak tindakan medis
tertentu
Hak atas second opinion
Hak inzage rekam medis
Hak beribadat menurut agama dan
kepercayaannya.
Hak pasien atas rahasia
kedokteran, bersumber dari hak atas
privacy, sedangkan hak-hak yang lain
berasal dari hak atas badan sendiri.

Hak untuk memperoleh


informasi dan Hak untuk
memberikan pesetujuan umumnya
disebut sebagai informend consent.
Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai hak :
a. mendapatkan penjelasan secara lengkap
tentang tindakan medis
b. meminta pendapat dokter atau dokter
gigi lain;
c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan
kebutuhan medis;
d. menolak tindakan medis; dan
e. mendapatkan isi rekam medis.
Pasal 53
Pasien, dalam menerima pelayanan pada
praktik kedokteran, mempunyai kewajiban :
a. memberikan informasi yang lengkap dan
jujur tentang masalah kesehatannya;
b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
atau dokter gigi;
c. mematuhi ketentuan yang berlaku di
sarana pelayanan kesehatan; dan
d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan
yang diterima.
Dokter adalah pihak yang
mempunyai keahlian di bidang
kedokteran, sedangkan pasien adalah
orang sakit yang membutuhkan
bantuan dokter untuk menyembuhkan
penyakit yang dideritanya.
Pada kedudukan ini, dokter adalah
orang yang dianggap pakar dalam
bidang kedokteran dan
pasien adalah orang sakit yang
awam akan penyakitnya dan
mempercayakan dirinya untuk
disembuhkan oleh dokter.
Dokter dan pasien adalah dua
subyek hukum yang terkait dalam
hukum kedokteran.
Keduanya membentuk baik
hubungan medik maupun hubungan
hukum.
Hubungan medik dan hubungan
hukum antara dokter dan pasien
adalah hubungan yang obyeknya
pemeliharaan kesehatan pada
umumnya dan pelayanan kesehatan
pada khususnya.
Dalam melaksanakan hubungan
antara dokter dengan pasien,
pelaksanaan hubungan antara
keduaanya selalu diatur dengan
peraturan-peraturan tertentu agar
terjadi keharmonisan dalam
pelaksanaannya.
Hubungan tanpa peraturan akan
menyebabkan ketidak harmonisan
dan kesimpangsiuran.
Hubungan antara dokter dan
pasien dalam ilmu kedokteran
umumnya berlangsung sebagai
hubungan biomedis aktif-pasif yang
disebut hubungan medik.

Dalam hubungan demikian


superioritas dokter terhadap pasien
dalam bidang ilmu biomedis jelas
terlihat, yaitu hanya ada kegiatan
pihak dokter sedangkan pasien tetap
pasif.
Hubungan ini tampak berat sebelah
dan tidak sempurna, karena
merupakan suatu pelaksanaan
wewenang oleh yang satu terhadap
yang lainnya.

Oleh karena hubungan dokter-pasien


merupakan hubungan antara manusia,
seyogyanya hubungan itu hubungan
yang mendekati persamaan hak antar-
manusia.
Pola dasar hubungan dokter - pasien
terutama berdasarkan keadaan sosial
budaya dan penyakit pasien dibedakan
dalam tiga pola hubungan , yaitu :

1.Activity-passivity
Pola hubungan ini seperti pola hubungan
antara orangtua-anak yang merupakan pola
hubungan klasik sejak profesi kedokteran mulai
mengenalkan kode etik pada abad ke 5 S.M.
disini dokter seolah-olah dapat sepenuhnya
melaksanakan ilmunya tanpa campur tangan
pasien, dengan suatu motivasi altruistis.
2. Guidance-Cooperation
Hubungan berupa membimbing-
kerjasama seperti orangtua - remaja. Pola
ini diketemukan apabila keadaan pasien
tidak terlalu berat misalnya penyakit
infeksi baru atau penyakit akut lainnya.
Meskipun sakit, pasien tetap sadar dan
memiliki perasaan serta kemauan sendiri.
Ia berusaha mencari pertolongan
pengobatan dan bersedia bekerjasama.
Walaupun dokter mengetahui lebih
banyak, ia tidak semata-mata
menjalankan kekeuasaan,
3. Mutual participation.
Filosofi pola ini berdasarkan pemikiran
bahwa setiap manusia memiliki martabat
dan hak yang sama. Pola ini terjadi pada
mereka yang ingin memelihara
kesehatanya seperti medical ckeck-up
atau pada pasien penyakit kronis. Pasien
secara sadar aktif dan berperan dalam
pengobatan terhadap dirinya. Hal ini tidak
dapat diterapkan pada pasien dengan latar
belakang pendidikanya dan sosial yang
rendah, juga pada anak atau pasien
dengan gangguan mental tertentu.
Hak dan Kewajiban Pasien
Hak pasien : merupakan hak yang asasi yang
bersumber dari hak dasar individual dalam
bidang kes, The right of Self Determination.
Dalam hubungan dokter-pasien, relative
pasien berada dalam posisi yang lebih lemah.
Kekurang mampuan pasien membela
kepentingannya krn ketidaktahuan masalah
pengobatan, menyebabkan timbulnya
kebutuhan utk mempermasalahkan hak-hak
pasien dalam menghadapi para professional
kesehatan.
Dahulu hubungan antara dokter -pasien
bersifat paternalistik .
Sekarang dokter adalah partner pasien
dan kedudukan keduanya sama secara
hukum.
Pasien mempunyai hak dan kewajiban
tertentu, demikian pula dokternya.
Secara umum pasien berhak atas
pelayanan yang manusiawi dan
perawatan yang bermutu.
Dengan adanya
perkembangan yang menuntut
hubungan dokter-pasien bukan
lagi merupakan hubungan
yang bersifat paternalistik,
tetapi menjadi hubungan yang
didasari pada kedudukan yang
seimbang/partner, maka
hubungan tersebut menjadi
kontraktual.
Hub kontraktual terjadi krn para pihak yaitu
para dokter dan pasien masing-masing diyakini
mempunyai kebebasan yang setara. Kedua
belah pihak lalu mengadakan suatu perikatan
atau perjanjian dimana masing-masing pihak
harus melaksanakan peranan atau fungsinya
satu terhadap yang lain. Peranan tersebut bisa
berupa hak dan kewajiban. Hubungan karena
kontrak tersebut biasa disebut dengan
Transaksi Terapeutik
Leenen
membagi kewajiban dokter dlm 3 kelompok yaitu :
Kewajiban yg timbul dari sifat perawatan medik dimana
dokter hrs bertindak sesuai dg standar profesi medik atau
menjalankan praktek kedokterannya scr LEGE ARTIS.
Kewajiban untuk menghormati hak pasien yg bersumber
dari HAM bidang kesehatan.
Kewajiban yg berhubungan dg FUNGSI SOSIAL.
Misalnya dokter harus mempertimbangkan penulisan resep
obat yg harganya terjangkau dengan khasiat yang kira-kira
sama dan tidak menulis resep obat yang tidak benar-benar
diperlukan. Keputusan untuk merawat pasien di Rumah
Sakit dilakukan dengan melihat keadaan sos-ek pasien dan
kebutuhan pasien lain yang lebih memerlukan perawatan.
PERJANJIAN MEDIK
MEMBERIKAN HAK-HAK BAGI
DOKTER, YAITU :
Hak untuk bekerja sesuai dg standar
profesi medik,
Hak untuk menolak melakukan tindakan
medik yg tdk dapat dipertanggung
jawabkannya scr professional,
Hak menolak melakukan tindakan medik
yg bertentangan dengan hati nuraninya,
Hak untuk memilih pasien,
Hak mengakhiri hubungan dengan pasien
apabila kerjasama sudah tidak
dimungkinkan lagi,
PERJANJIAN MEDIK
MEMBERIKAN HAK-HAK BAGI
DOKTER, YAITU :
Hak atas privacy,
Hak atas itikad baik dari pasien
dalam memberikan informasi yang
berkaitan dg penyakitnya,
Hak atas suatu fair play,
Hak untuk membela diri,
Hak untuk menerima honorarium,
Hak untuk menolak memberikan
kesaksian mengenai pasiennya di
pengadilan.
Setiap orang yang mengabdikan
diri dalam bidang kesehatan
serta memiliki pengetahuan dan
atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan.
Yang termasuk tenaga
kesehatan adalah tenaga medis
(dokter dan dokter gigi), tenaga
keperawatan, tenaga kefarmasian,
tenaga kesehatan masyarakat,
tenaga gizi, tenaga keterapian
fisik, tenaga keteknisian medis.
PERLU DIFAHAMI
Dokter, perawat dan bidan pasti mendapat
perlindungi hukum, sepanjang:
a. memiliki kompetensi yang dibutuhkan;
b. patuh pada etika & tunduk pada hukum:
c. disiplin dalam menjalankan peran profesi;
d. bekerja dalam batas kewenangan, kecuali
pasien dalam keadaan emergensi;
e. menghormati hak asasi pasien sbg manu-
sia;
f. menghormati hak pesakit sebagai pasien.
PERAN Dr, PERAWAT & BIDAN

Sangat simultan, yaitu sebagai:


1. Expert (ahli di bidang kesehatan);
2. Health advocate
(penasehat kesehatan); 3.
Professional (mengobati pesakit);
4. Manager (menata problem
kes. pasien); 5.
Collaborator (bekerjasama dg nakes lain);
KEWENANGAN PERAWAT
1. Melakukan anamnesis untuk memperoleh riwayat
kesehatan pasien yang akurat.
2. Memeriksa dengan menggunakan semua indera serta
alat bantu guna memastikan status kesehatan pasien.
3. Mengevaluasi guna membuat kesimpulan yang valid
kaitannya dengan aset dan potensi kesehatan individu.
4. Merujuk kepada dokter atau dokter gigi.
5. Merujuk ke profesional pembantu lainnya.
6. Merawat pasien selama dalam periode ketergantungan.
7. Berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya.
8. Bekerjasama dengan konsumen, provider dan pembuat
kebijakan.
INTI KEWENANGAN PERAWAT

Meliputi:
1. Decision:

a. menentukan diagnosis keperawatan;


b. menetapkan kebijakan keperawatan.
2. Execution:
a. menjalankan kebijakan keperawatan;
b. memonitor dan mengevaluasi hasil.
KEWENANGAN BIDAN
1. Melakukan anamnesis untuk memperoleh riwayat
kesehatan pasien yang akurat.
2. Memeriksa dengan menggunakan semua indera serta
alat bantu guna memastikan status kesehatan pasien.
3. Mengevaluasi guna membuat kesimpulan yang valid
kaitannya dengan aset dan potensi kesehatan individu.
4. Merujuk kepada dokter atau dokter spesialis.
5. Merujuk kepada profesional pembantu lainnya.
6. Merawat pasien selama dalam periode ketergantungan.
7. Berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya.
8. Bekerjasama dengan konsumen, provider dan pembuat
kebijakan.
KESIMPULAN (1)
Berdasarkan kajian normatif maka perawat:
1. Tidak dibenarkan melakukan tindakan medis,
kecuali:
a. tindakan medis tersebut dilakukan atas
perintah tertulis dari dokter; atau
b. tindakan medis tersebut dilakukan dalam
rangka menyelamatkan jiwa karena pasien
dalam keadaan emergensi.
2. Tidak berada di lintasan jalur distribusi obat.
KESIMPULAN (2)
Berdasarkan kajian normatif maka bidan:
1. Tidak dibenarkan melakukan tindakan medis,
kecuali tindakan medis yang tercantum dalam
Kepmenkes.
2. Dibenarkan melakukan tindakan medis diluar
kewenangannya apabila pasien dalam keadaan
emergensi.
3. Berada di lintasan jalur distribusi obat melalui
Formulir VI.
tindakan medis asuhan
(medical care) keperawatan
(nursing care)

kewenangan dokter kewenangan perawat


tindakan medis asuhan kebidanan
(medical care) (midwifery care)

kewenangan dokter kewenangan


bidan
Bagian dari medical care yang boleh
dilakukan bidan tanpa perintah dokter !!!