Anda di halaman 1dari 24

Penyebab, Gejala dan

Penatalaksanaan Skabies

Joceline Valencia

102013072
Skenario

Anak berusia 9 tahun dibawa oleh ibunya ke poliklinik karena mengeluh


sangat gatal terutama pada sela jari tangan sejak 1 minggu yang lalu. Gejala
terutama terjadi pada malam hari.

Tinggal di asrama

Pada PF, ditemukan vesikel kecil dan merah.


Anamnesis
Dasar penentuan diagnosis.

Identitas pasien: nama, alamat, umur, pekerjaan.

Keluhan utama: sejak kapan? dimana lokasi awal keluhan?


menjalar/menetap? hilang timbul? berapa lama? apakah kering atau
basah? apakah gatal atau sakit?

Riwayat penyakit dahulu dan riwayat penyakit keluarga: apa


penyakit yang pernah diderita? obat yang pernah digunakan? riwayat alergi
sebelumnya? pengaruh makanan terhadap keparahan? apakah pekerjaan
mempengaruhi keparahan? apakah hobi mempengaruhi keparahan?

Riwayat sosial dan kebiasaan: bagaimana keadaan tempat tinggal?


kebiasaan mandi dan ganti pakaian dalam?
Pemeriksaan Fisik
INSPEKSI

Lokasisasi dan penyebaran (generalisata/ universalis/ regional/


simetrik/ bilateral/ unilateral)

Warna

Susunan kelainan/ bentuk (liniar/ anular)

Bentuk lesi (teratur/ tdk)

Ukuran (miliar/ lentikular/ numular)

Batas (sirkumskrip/ difus)

Efloresensi/ ruam kulit (primer/ sekunder)

PALPASI

Tanda-tanda radang akut


Pem. Penunjang
2/4 Cardinal sign Diagnosis

Kerokan kulit

Papul/ kanalikuli utuh ditetesi minyak mineral/ KOH 10% kerok dengan
scalpel steril (untuk mengangkat atap papula/ kanalikuli) letakan di gelas
objek dan ditutup periksa di mikroskop.

Mengambil tungau dengan jarum

Tusuk jarum runcing ke dalam terowongan utuh gerakkan secara tangensial


ke ujung lainnya keluarkan.

Uji tertrasiklin

Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yg akan masuk ke dalam kanalikuli


bersihkan dengan sinar UV dari lampu Wood tetrasiklin akan memberi
fluoresensi kuning keemasan pada kanalikuli.
Pem. Penunjang
Tes tinta pada terowongan (Burrow Ink Test)

Mewarnai daerah lesi dengan tinta cina hitam biarkan 20-30 menit
bersihkan dengan kapas alkohol terowongan lebih gelap dibandingkan
sekitar. (+) gambar kanalikuli = garis menyerupai zigzag.

Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)

Jepit lesi iris tipis dan superfisial dgn pisau letakan di gelas objek dan
ditutup periksa di mikroskop.
Differential Diagnosis
Dermatitis kontak iritan (DKI)

Bahan/ substansi yg menempel kulit

Peradangan kulit non-imunologik

Lesi awal: makula, eritema, vesikel, bula dan erosi

Onset pada saat kontak pertama

Tinea Manus

Infeksi jamur dermatofita pada kulit (dermatofitosis)

Dermatofitosis= penyakit pada jaringan yg mengandung zat tanduk

Lesi terutama pada jari IV dan V berbentuk fisura, nyeri, warna keputihan tampak basah
meluas ke punggung/ telapak tangan.

(+) pem. KOH 10% ditemukan hifa/ spora = infeksi jamur aktif
Differential Diagnosis
Prurigo

Radang kronis di kulit (badan & bag. extensor extremitas)

Lesi berkelompok: papul + vesikel kecil + jar parut terlihat.

Gatal, anak-anak

Creeping eruption

Erupsi di kulit, rx hipersensitivitas kulit thdp invasi larva nematodes/ cacing tambang

Kulit di kaki, tangan, bokong/ abdomen

Radang berbentuk linier/ berkelok-kelok, menimbul dan progresif


Diagnosis
Scabies

Penyakit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei vairan hominis

Kudis, the itch, gudig, budukan, gatal agogo

Sela-sela jari tangan, telapak tangan, pergelangan tangan, siku, ketiak,


daerah payudara, sekitar pusar dan perut bag. bawah, sekitar kelamin dan
pantat

Bayi dan anak-anak wajah, sela-sela jari kaki dan telapak kaki
Diagnosis
Scabies
Etiologi

Infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes


scabiei varian hominis.

Bentuk lonjong, bagian depan kecil dan bagian


belakang torakoabdominal dengan penonjolan.

4 kaki, diameter 0.3mm (tdk dapat dilihat lgsg)

Rentan di suhu kamar dan kelembaban udara


80%

Hanya hidup 30 hari di lap. epidermis


Etiologi
1. Telur di terowongan

2. Larva muncul dari telur


setelah 3-4 hari

3. Keluar dari terowongan

4. Menggali terowongan
pendek

5. Berkembang menjadi
nimfa

6. Berkembang jadi tungau


jantan dan betina
dewasa
Epidemiologi
Semua negara daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika
Tengah Selatan Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India dan Asia
Tenggara

Prevalensi tinggi pada anak-anak serta remaja

Tidak dipengaruhi jenis kelamin, ras dan umur

Faktor primer: kemiskinan dan kondisi hidup di daerah yang padat


Patogenesis
Faktor penularan: sosial ekonomi rendah, kurang higenis, perilaku tidak
mendukung kesehatan, kepadatan penduduk

Ditularkan melalui kontak langsung/ tidak langsung.

Kontak langsung: kontak seksual, bersentuhan kulit, berjabat tangan,


memakai tempat duduk penderita.

Kontak tidak langsung: pakaian, handuk, tempat tidur


Gejala Klinis
Pruritus nocturna

Gejala awal (pruritus) timbul 6-8 minggu. Infeksi berulang gatal dan ruam.
Gatal terutama pada malam hari.

Sekelompok orang

Menyerang manusia secara berkelompok (seluruh anggota keluarga, pemukiman


padat penduduk).

Individu hiposensitisasi terinfeksi parasit tidak ada keluhan klinis


pembawa/ carrier.

Menemukan Sarcoptes scabiei

Apabila ditemukan terowongan utuh dapat ditemukan tungau dewasa, larva,


nimfa. Penderita dtg dengan lesi variatif dan tdk spesifik susah ditemukan.
Gejala Klinis
Adanya terowongan

Parasit menyukai bagian kulit yg memiliki stratum korneum yang relatif lebih
longgar dan tipis.

Lesi berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul yg sering ditemukan di
daerah sela-sela jari, aspek volar pada pergelangan tangan dan lateral telapak
tangan, siku, aksilar, skrotum, penis, labia dan areola wanita.
Skabies

Skabies norwegia penderita dgn gg.


imunologik
Skabies pada orang bersih hilang stlh mandi

Skabies caninum
berkontak dengan
Skabies nodular daerah tertutup genitalia,
hewan peliharaan
inguinal dan aksila
Penatalaksanaan
Tergantung:

Umur

Biaya
pengobatan

Berat derajat
erupsi

Faktor
kegagalan
terapi yg
pernah
diberikan
sebelumnya
Tatalaksana
Edukasi pada pasien skabies :

Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.

Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan


pada malam hari sebelum tidur.

Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.

Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur
dan bila perlu direndam dengan air panas.

Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu


walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.

Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan


yang sama dan ikut menjaga kebersihan.
Pencegahan

Orang yang berkontak langsung/ dekat terapi dengan topikal


skabisid mencegah penyebaran scabies

Mencegah reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk, pakaian yg


digunakan 5 hari terakhir tungau scabies hidup hingga 3 hari diluar
kulit cuci bersih dan keringkan pada udara panas
Komplikasi

Infeksi sekunder: infeksi bakteri atau garukan

Erosi (paling sering), muncul pustul, supurasi, ulkus, eritema, skuama


dan semua tanda inflamasi lain respon imun tubuh yang kuat
terhadap iritasi.

Disebabkan oleh Staphylococcus aureus respon bagus terhadap


antibiotik oral/ topikal.
Prognosis

Tidak dirawat kondisi menetap untuk beberapa tahun

Pada individu immunocompetent, jumlah tungau akan berkurang


seiring waktu

Infestasi scabies dapat disembuhkan

Diobati dengan benar prognosis baik, keluhan gatal dan eczema


akan sembuh
Kesimpulan
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei yang
menyebabkan iritasi kulit. Parasit ini menggali parit-parit didalam epidermis
sehingga menimbulkan gatal-gatal dan merusak kulit penderita. Cara
penularan (transmisi) penyakit ini ada dua macam, yaitu secara langsung dan
tidak langsung. Pada penyakit skabies ditemukan 4 tanda cardinal yaitu
pruritus nocturna, menyerang manusia secara berkelompok, adanya
terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih
atau keabu-abuan dan menemukan adanya tungau. Bentuk kelainan kulit
pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul, vesikel, erosi, ekskoriasi,
krusta dan lain-lain, serta bermanifestasi klinis dalam berbagai variasi. Bila
infeksi sekunder telah terjadi dapat disebabkan bakteri yang ditandai dengan
munculnya pustul maupun timbulnya gejala infeksi sistemik. Penanganan
yang menjadi pilihan utama adalah primethrin 5% topikal yang dioleskan di
kulit 8-12 jam serta edukasi yang sesuai pada pasien terkait.