Anda di halaman 1dari 22

SISTEM BILANGAN

RASIONAL

Kelompok VI

Nama Anggota :
Anisa Fajar Kumala W (17208153064)
Rima Himmaniyatul F (17208153065)
Triawati (17208153066)
Rika Santica Devi (17208153067)
Moh Nizar Soim (17208153068)

BILANGAN PECAHAN

Bilangan pecahan sudah di kenal sejak zaman


mesir kuno sekitar tahun 1500 SM. Pecahan dapat
di artikan sebagai suatu bagian dari keseluruhan.
Secara umum, simbol bilangan pecahan adalah
terdiri dari dua bilangan bulat dan disertai
syarat tidak nol. Bilangan di sebut pembilang
(numerator) sedangkan bilangan disebut
penyebut (denumerator). Sebagai contoh, pada
bilangan pecahan , pembilangnya adalah 1 dan
penyebutnya adalah 3.
PECAHAN SENILAI ATAU PECAHAN
SAMA
Secara umum, pecahan senilai dapat dirumuskan sebagai
berikut :
= , jika dan hanya jika
Dalam rumusan yang lain, pecahan senilai dapat di rumuskan
dengan melihat pola berikut:
= dan ternyata =
Jadi, secara umum di peroleh : = , dan m 0

Dengan kata lain, bilangan pecahan dengan adalah


senilai , dengan syarat tidak nol. Selain itu, jika membagi
dan juga membagi ,maka bilangan pecahan dan
adalah senilai, atau = dengan 0

Sebagai contoh : = = senilai dengan


MENYATAKAN HUBUNGAN LEBIH DARI ATAU
KURANG DARI ANTARA DUA BILANGAN PECAHAN

Jika hasil perkalian ( ) lebih dari ( ). Secara simbolik dinyatakan


> >

Apabila kurang dari , ditulis < dan jika hasil perkalian


kurang dari ( ). Secara simbolik :

< <
Untuk membandingan dua bilangan pecahan dengan penyebut sama,
maka dapat di tentukan sebagai berikut:
> (a x c ) > (b x c ), untuk c > 0
Membandingkan dua bilangan pecahan dengan penyebut yang tidak
sama ,dapat juga dilakukan dengan cara penyamakan penyebut
meggunakan pecahan senilai.
Contoh : dan , terlebih dahulu menyamakan penyebutnya, di peroleh:
= dan =
Karena 4 > 3, maka > dengan demikian dapat di simpulkan >
MENENTUKAN PECAHAN YANG NILAINYA
DIANTARA DUA PECAHAN
Untuk menentukan bilangan pecahan yang nilainya
terletak diantara dua bilangan pecahan yang
penyebutnya sama atau tidak sama dapat dilakukan
dengan cara memperbesar penyebutnya.
Contoh penyebut sama:
= dan =
Jadi pecahan diantara dan adalah
Contoh penyebut tidak sama:
= = dan = =

Jadi pecahan antara dan adalah


OPERASI BILANGAN PECAHAN

1. Operasi penjumlahan dua bilangan pecahan


Hasil penjumlahan dua bilangan pecahan dengan
penyebut sama adalah jumlah pembilang dua bilangan
pecahan yang dioperasikan, dan penyebutnya adalah
sama dengan penyebut dua bilangan pecahan yang
dioperasikan. Secara simbolik dapat dinyatakan +
=

Hasil penjumlahan dua bilangan pecahan dengan


penyebut tidak sama dapat ditentukan dengan rumus
sebagai berikut : + =
Hasil penjumlahan dua bilangan pecahan
yang salah satu penyebutnya merupakan
kelipatan penyebut yang lain dapat dilakukan
dengan rumus:
+ = + =

2. Operasi pengurangan dua bilangan pecahan


Operasi pengurangan dua bilangan pecahan
mempunyai aturan yang sama dengan operasi
penjumlahan, yaitu:

- = dan - =
3. Operasi perkalian dua bilangan pecahan
Operasi perkalian dua bilangan pecahan dilakukan
dengan langsung mengalikan pembilang dengan
pembilang dan penyebut dengan penyebut. Secara
umum, x =
4. Operasi pembagian dua bilangan pecahan
Secara umum dapat dinyatakan bahwa jika 0, maka
: = = x
Dalam tulisan lain, karena : = , maka di peroleh
= x

Jika = 1 dan 0, maka

=1x =
KONSEP BILANGAN RASIONAL
Bilangan rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan
dalam bentuk dengan a dan b masing-masing merupakan
anggota himpunan bilangan bulat dan b tidak boleh nol.
Bilangan rasional bisa dinyatakan dalam pecahan atau
bilangan desimal.

Bilangan Rasional dalam Al-Quran


Bilangan-bilangan rasional yang terdapat didalam Al-
Quran adalah bilangan bulat positif dan bilangan pecahan
positif. Jumlah dari bilangan-bilangan yang ada dalam Al-
Quran tersebut ada 38 bilangan. Dari 38 bilangan tersebut,
30 bilangan merupakan bilangan bulat positif dan 8 bilangan
merupakan bilangan pecahan positif. Bilangan-bilangan
tersebut diklasifikasikan berdasarkan urutan terkecil sampai
urutan terbesar. Contoh 3 bilangan rasional yang terdapat
dalam ayat-ayat al-Quran, yaitu bilangan dua pertiga,
bilangan satu, dan bilangan setengah.
BILANGAN(DUA PERTIGA)
Penggunaan bilangan dua pertiga dalam ayat-ayat
al-Quran dapat dikelompokkan menjadi dua hal, yaitu
tentang pembagian harta warisan dan waktu malam.
Bilangan dua pertiga dalam ayat-ayat al-Quran yang
digunakan dalam hal pembagian harta waris yang
menunjukkan:(a) dua pertiga harta yang ditinggalkan
oleh orang yang meninggal diberikan kepada anak
perempuannya, (b) dua pertiga harta yang ditinggalkan
oleh orang yang meninggal diberikan kepada dua
saudara perempuan orang yang meninggal.
Sedangkan bilangan dua pertiga yang menunjukkan
waktu malam digunakan pada surat al-Muzzammil
ayat 20. Pada ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa
Dia mengetahui waktu Nabi Muhammad SAW
melakukan shalat malam.
BILANGAN 1 (SATU)
Bilangan satu yang dibahas dalam al-quran ini
adalah tentang sifat keesaan Allah (tauhid), yang
terdapat dalam surat al-Ikhlas pada ayat pertama
dan seringkali dibaca umat muslim yaitu:

Artinya:
Katakanlah: Dia-lah Allah, yang Maha Esa
BILANGAN(SEPERDUA / SETENGAH)

Bilangan setengah yang dibahas dalam al-quran


tentangSetengah Waktu Malam, yang terdapat dalam
surat al-Muzzammil pada ayat 1-4, yang Artinya:
Hai orang yang berselimut (Muhammad),
bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari kecuali
sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau
kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari
seperdua itu.Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-
lahan.
Ayat ini menjelaskan tentang perintah Allah SWT
kepada umat manusia agar bangun malam untuk
beribadah kepada-Nya pada setengah malam atau
kurang dari setengah malam.
OPERASI ALJABAR DAN SIFAT-SIFAT
ALJABAR PADA BILANGAN RASIONAL
Sifat-sifat aljabar pada himpunan bilangan
rasional dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Terhadap Operasi Penjumlahan
Sifat ketertutupan

Untuk semua, maka .


Sifat komutatif

Untuk semua maka


Sifat assosiatif

Untuk semua maka


Terdapat unsure identittas penjumlahan

Untuk semua ada sehingga


0 disebut unsur satuan (identitas) penjumlahan.
Terdapat invers penjumlahan
Untuk masing-masing ada
Sehingga
disebut invers penjumlahan dari dan

2. Terhadap operasi perkalian


Sifat ketertutupan

Untuk semua maka


Sifat komutatif

Untuk semua maka


Sifat assosiatif

Untuk semua maka


Terdapat unsure identitas perkalian

Untuk semua ada 1 sehingga


1 disebut unsur satuan (identitas) perkalian.
Terdapat invers perkalian
Untuk masing-masing dengan ada
sehingga
disebut invers perkalian dari dan kadang
ditulis

3. Terhadap operasi perkalian dan penjumlahan


/Pengurangan
Sifat distributif perkalian atas penjumlahan

Untuk semua berlaku


dan
Sifat distributif perkalian atas pengurangan

Untuk semua berlaku


dan
BILANGAN DESIMAL
Dalam sistem desimal, angka-angka dalam suatu
bilangan mempunyai nilai tempat sendiri-sendiri.
Sebagai contoh:
9876,543 = 9000 + 800 + 70 + 6 + + +
Angka 9 menempati nilai ribuan

Angka 8 menempati nilai ratusan

Angka 7 menempati nilai puluhan

Angka 6 menempati nilai satuan

Angka 5 menempati nilai persepuluhan

Angka 4 menempati nilai perseratusan

Angka 3 menempati nilai perseribuan

Bilangan satuan dan persepuluhan dipisahkan


dengan tanda koma (,).
Banyaknya tempat desimal ditentukan oleh banyaknya
digit angka yang dibelakang koma. Bilangan 1234,567
disebut bilangan dengan tiga tempat decimal karena
terdapat 3 digit angka dibelakang koma.

Jika banyaknya digit angka dibelakang koma sebanyak


berhingga (finite), maka bentuk decimal itu disebut
decimal berhingga atau decimal eksak. Jika banyaknya
digit angka dibelakang koma sebanyak tak hingga
(infinite), maka bentuk desimal itu disebut desimal tak
hingga atau desimal tak eksak. Desimal tak hingga
masih terbagi menjadi dua, yaitu decimal berulang dan
decimal tak berulang. Desimal berulang adalah desimal
yang digit-digit angka di belakang koma ada yang
berulang sampai tak hingga. Sedangkan desimal tak
berulang adalah bilangan irrasional. Sebagai contoh:
=0,125 desimal eksak
= 0,333333 decimal berulang (mulai digit pertama,
berulang 1 digit)
= 1,414213562 decimal tak berulang

Konversi Bentuk Desimal ke Bentuk Pecahan.

Cara melakukan konversi decimal eksak ke


bentuk pecahan
a. Merubah bilangan decimal kebentuk pecahan dengan
penyebut ke 10n dimana n menunjukkan banyaknya angka
yang berada di belakang koma pada bilangan decimal lalu
untuk pembilangnya menggunakan angka yang berada di
belakang komanya.
b. Lalu setelah terbentuk bilangan pecahannya dengan
penyebut 10n, maka sederhanakan pecahan tersebut dengan
membagi pembilang dan penyebutnya dengan bilangan prima
seperti 2, 3, 5, 7, 9, sampai pembilang dan penyebutnya
tidak bisa lagi dibagi dengan bilangan prima.
Sebagai contoh, perhatikan soal berikut!
0,75 = ?
Banyaknya angka dibelakang koma ada 2 angka,
maka 10n = 102 = 100 yang akan menjadi angka
penyebut pada bilangan pecahan dan untuk
pembilangnya adalah angka 75. Bilangan pecahan
dari 0,75 adalah , kemudian kita sederhanakan
bilangan pecahan tersebut dengan di bagi bilangan
prima, seperti gambar dibawah ini.
Cara

melakukan konversi decimal berulang menjadi


bentuk pecahan

Cara merubah bilangan decimal berulang ke bentuk


pecahanya dengan melihat polanya yaitu
Bentuk decimal tak hingga dengan pola 0,aaamisalnya

0,333 atau 0,444 maka bentuk pecahannya adalah


Contoh :
0,3333 bentuk pecahannya adalah =
Bentuk decimal tak hingga dengan pola 0,abab misalnya

0,3434 atau 0,4747 maka bentuk pecahannya adalah


Contoh :
0,3232 bentuk pecahannya adalah
Bentuk desimal tak hingga dengan pola 0,abcabc misalnya
0,345345 atau 0,472472 maka bentuk pecahannya adalah

Contoh :
0,324324 bentuk pecahannya adalah =
APLIKASI BILANGAN RASIONAL DALAM
MASALAH FARAIDH.
Masalah faraidh adalah masalah yang berkenaan dengan
pengaturan dan pembagian harta warisan bagi ahli waris menurut
bagian yang di tentukan dalam al-quran. Berkenaan dengan bagian
yang berhak diterima oleh ahli waris, al-quran menjelaskan dalam
surat Al-Nisa ayat 11, 12, dan 176. Ketentuan bagian yang berhak
diterima oleh ahli waris disebut dengan furudhul muqaddarah (Abyan,
1996:25). Terdapat enam macam furudhul maqaddarah,yaitu:
Dua pertiga ()
Setengah ()
Sepertiga ()
Seperempat ()
Seperenam ()
Seperdelapan ()
Dalam masalah faraidh, ketika hasil jumlah
furudhul maqaddarah ahli waris menghasilkan
bilangan pecahan dengan pembilangnya lebih dari
penyebut maka muncullah istilah aul. Aul adalah
memperbesar penyebut sehingga sama dengan
pembilang. Sebaliknya, ketika hasil furudhul
maqaddarah ahli waris menghasilkan bilangan
pecahan yang pembilangnya kurang dari penyebut
maka muncullah istilah radd. Radd adalah
memperkecil penyebut sehingga sama dengan
pembilang (Abyan, 1996:29).