Anda di halaman 1dari 17

PERENCANAAN TAPAK

MAKRO DAN MIKRO


MODUL 7 PWKL 4303
A. Tematik
Kegiatan perencanaan yang mengangkat tema tertentu dalam
aspek desainnya. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah
dari kawasan yang direncanakan sehingga lebih diminati dan mudah
dijual.
B. Struktur Ruang Tapak
Susunan pusat kegiatan yang ada dalam suatu tapak, dihubungkan
dengan sistem jaringan prasarana dan sarana sebagai pendukung
kegiatan masyarakat.
1. Jaringan jalan
Hirarki Jalan : Jaringan Jalan Primer dan Jaringan Jalan Sekunder.
Pola jalan : pola lurus, putaran, buntu, lengkung
Persyaratan teknis jalan
2. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung
3. Intensitas Pemanfaatan Lahan dan Distribusi Kepadatan

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Jaringan Jalan Primer Jaringan Jalan Sekunder

1.Arteri primer : menghubungkan 1.Arteri Sekunder :


antar kegiatan nasional atau
menghubungkan kawasan
antara nasional dan wilayah
primer dengan kawasan
2.Kolektor primer : menghubungkan
antara pusat kegiatan nasional sekunder 1, antar kawasan
dengan lokal, antar pusat kegiatan sekunder 1 atau kawasan
wilayah, atau antara kegaitan sekunder 1 sekunder 2
wilayah dengan lokal. 2.Kolektor sekunder :
3.Lokal primer : menghubungkan menghubungkan antar kawasan
pusat kegiatan nasional dengan sekunder 2, antara kawasan
lingkungan, antar pusat kegiatan sekunder 2 sekunder 3
lokal, atau pusat kegiatan lokal 3.Lokal sekunder :
dengan lingkungan, serta antar menghubungkan kawasan
kegiatan lingkungan sekunder 1-2-3 dengan
4.Lingungan primer :
perumahan
menghubungkan antar pusat
kegiatan dalam kawasan pedesaan
4.Lingungan primer :
dan jalan dalam pedesaan menghubungkan antar persil
dalam kawasan perkotaan

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Pola Jalan

Grid Loop Culdesac Curved


Lebih efisien Sirkulasi Privasi Tidak efisien
mudah
Kapling lebih Mudah Efisien Kapling tidak
banyak berputar beraturan
Teratur Tidak monoton Harga lebih Untuk lahan
tinggi berkontur
Monoton Mengurangi Jalan buntu
macet
Macet Lebih fleksibel Lebih eksklusif
Banyak Keamanan Bertema
kecelakaan
Banyak Punya nilai Satu akses
persimpangan tambah
Bentuk putaran Tidak bising

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Persyaratan Teknis Jalan

No Hirarki Jalan Kecepat Lebar Kapasitas


an badan
(km/jam) jalan (m)
1 Arteri primer 60 11 Kapasitas lebih besar
dari volume lalu lintas
rata-rata
2 Kolektor Primer 40 9 Kapasitas lebih besar
dari volume lalu lintas
rata-rata
3 Lokal Primer 20 7,5 Untuk lahan berkontur
4 Lingkungan 15 6,5
Primer
5 Arteri Sekunder 30 11 Kapasitas lebih besar
dari volume lalu lintas
rata-rata
6 Kolektor sekunder 20 9 Kapasitas lebih besar
dari volume lalu lintas
rata-rata
7 Lokal sekunder 10 7,5

8
KBLingkungan
1. Konsep Makro
10
Perencanaan
6,5
Tapak
Persyaratan Teknis Jalan
Manfaat sistem sirkulasi dan jalur penghubung :
a. Mengoptimalkan efisiensi pemanfaatan prasarana jalan
b. Mendapatkan distribusi yang selaras jenis aktivitas
c. Kinerja fungsi serta keseimbangan, kaitan, keterpaduan antara
kawasan perencanaan dan lahan.

Komponen penataan sistem sirkulasi dan jalur penghubung :


d. Sistem jaringan jalan dan pergerakan
e. Sistem sirkulasi kendaraan umum
f. Sistem sirkulasi kendaraan pribadi
g. Sistem sirkulasi kendaraan umum informal setempat
h. Sistem pergerakan transit
i. Sistem parkir
j. Sistem perencanaan jalur servis
k. Sistem sirkulasi pejalan kaki dan sepeda
l. Sistem jaringan penghubung terpadu

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Manfaat Perencanaan Intensitas Pemanfaatan
a. Mencapai efisiensi dan efektivitas pemanfaatan lahan secara
adil
b. Mendapatkan distribusi kepadatan kawasan yang selaras pada
batas daerah yang direncanakan berdasarkan ketentuan dalam
RTRW terkait
c. Mendapatkan distribusi elemen intensitas pemanfaatan lahan
(KDB, KLB, KDH, KTB) yang dapat mendukung karakter khas
dari berbagai sub area yang direncanakan.
d. Merangsang pertumbuhan kota dan berdampak langsung pada
perekonomian kawasan
e. Mencapai keseimbangan, kaitan dan keterpaduan dari berbagai
elemen intensitas pemanfaatan lahan dalam hal pencapaian
kinerja fungsi, estetis dan sosial, antara kawasan perenacnaan
dan lahan di luarnya.

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Komponen Perencanaan Intensitas Pemanfaatan
Lahan
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : angka presentase perbandingan
antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung yang dapat
dibangun dengan luas lahan yang dikuasai
b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : angka presentase perbandingan
antara jumlah seluruh luas lantai bangunan yang dapat dibangun dan
luas lahan yang dikuasai
c. Koefisien Daerah Hijau (KDH) : angka presentase perbandingan antara
luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung, diperuntukkan
bagi taman/penghijauan dan luas tanah yang dikuasai
d. Koefisien Tapak Besmen (KTB) : angka presentase perbandingan luas
tapak besmen dan luas tanah yang dikuasai
e. Sistem Insentif-Disinsentif Pengembangan :
1. Insentif Luas Bangunan : insentif yang terkait dengan KLB dan diberikan
apabila bangunan terbangun memenuhi persyaratan peruntukkan lantai
dasar.
2. Insentif Langsung : insentif yang memungkinkan penambahan luas lantai
maksimum bagi bangunan gedung yang menyediakan fasilitas umum bagi
lingkungan pemukiman terpadu

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Manfaat Perencanaan Intensitas Pemanfaatan
f. Sistem Pengalihan Nilai Koefisien Lantai Bangunan (TDR =
Transfer of Development Right) : hak pemilik bangunan yang
dapat dialihkan kepada pihak/lahan lain yang dihitung
berdasarkan pengalihan nilai KLB, yaitu selisih antara KLB
aturan dan KLB terbangun. Maksimal KLB yang dapat dialihkan
umumnya 10% dari nilai KLB yang ditetapkan.

Pengalihan terdiri atas :


Hak Pembangunan Bawah tanah : memungkinkan
pembangunan fungsi-fungsi di bawah tanah yang tidak
diperhitungkan dalam KLB
Hak Pembangunan Layang : mekanismenya mirip dengan
Hak Pembangunan Bawah Tanah, namun berlaku untuk
pembangunan di atas prasarana umum (melayang),
contohnya skywalk.

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


Prinsip Penataan Intensitas Pemanfaatan Lahan
1) Secara Fungsional:
Kejelasan distribusi intensitas pemanfaatan lahan
Skala ruang yang manusiawi dan berorientasi pejalan kaki
Kejelasan skala pengembangan
Pengaturan kepadatan pengembangan kawasan
2) Secara Fisik
Penataan estetika, karakter dan citra kawasan melalui :
Penetapan kepadatan kelompok bangunan dalam kawasan
perencanaan Lahan (KDB, KLB, KTB, KDH)
Pembentukan citra lingkungan yang tepat melalui pembatasan
nilai-nilai elemen Intensitas Pemanfaatan Lahan (pembatasan KDB
dan KLB secara khusus)
3) Secara Lingkungan
keseimbangan kawasan perencanaan dengan wilayah sekitar
Keseimbangan dengan daya dukung lingkungan
Pelestarian ekologis kawasan
Pemberdayaan kawasan

KB 1. Konsep Makro Perencanaan Tapak


A. Tata Bangunan
Elemen dari Tata Bangunan : (1) Blok; (2) Kapling; (3) Bangunan; (4)
Ketinggian dan elevasi lantai bangunan
1. Pengaturan blok Lingkungan : perencanaan pembagian lahan dalam
kawasan menjadi blok dan jalan, dimana blok terdiri atas kapling dengan
konfigurasi tertentu
a) bentuk dan ukuran blok;
b) pengelompokkan dan konfigurasi blok;
c) ruang terbuka dan tata hijau
2. Pengaturan Kapling : perencanaan pembagian lahan dalam blok menjadi
sejumlah kapling dengan ukuran, bentuk, pengelompokkan dan konfigurasi
tertentu
a) bentuk dan ukuran kapling;
b) pengelompokkan dan konfigurasi kapling;
c) Ruang terbuka dan tata hijau
3. Pengaturan Bangunan : perencanaan pengaturan massa bangunan dalam
kapling.
a) Pengelompokkan bangunan
b) Letak dan orientasi bangunan
c) Sosok massa bangunan
d) Ekspresi Arsitektur Bangunan

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


A. Tata Bangunan
4. Pengaturan ketinggian dan elevasi lantai bangunan : perencanaan
pengaturan ketinggian dan elevasi bangunan
a) Ketinggian bangunan
b) Komposisi garis langit bangunan
c) Ketinggian lantai bangunan

ManfaatPengaturan Tata Bangunan :


a. Mewujudkan kawasan yang selaras dengan morfologi perkembangan area
tersebut
b. Meningkatkan kualitas ruang kota yang aman, nyaman, sehat, serta
akomodatif terhadap keragaman kegiatan
c. Mengoptimalkan keserasian antara ruang luar bangunan dan lingkungan
publik
d. Menciptakan berbagai citra dan karakter khas dari berbagai subarea rencana
e. Mencapai keseimbangan kaitan dan keterpaduan dari berbagai elemen tata
bangunan dalam hal pencapaian kinerja, fungsi, estetis dan sosial
f. Mencapai lingkungan yang tanggap terhadap tuntutan kondisi ekonomi serta
terciptanya integrasi sosial secara keruangan

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


B. Lansekap
Merupakan unsur alami tapak yang berpengaruh terhadap pengelolaan
ruang sebuah tapak. Elemen dasar pembentuk lansekap yaitu : vegetasi,
topografi, tanah dan iklim.
1. Vegetasi
Keberadaan tanaman memiliki peran untuk :
(1) menghilangkan ketegangan (stress),
(2) terciptanya lingkungan yang nyaman, segar, menyenangkan
(3) Sebagai sun shading
(4) Perlindungan privasi dari publik
(5) Penahan angin, penutup tanah, pertahanan tanah

Penggolongan tanaman dapat dikelompokkan menjadi : pohon, perdu, semak,


penutup tanah, rerumputan.
Dalam perencanaan tapak, tanaman dapat dikategorikan berdasarkan :
a. Jenis (besar kecil pohon, perdu/semak, rumput)
b. Fungsi (fungsi ekologis, fisik, estetis)
c. Bentuk dan Struktur (tinggi dan lebar pohon)
d. Ketahanan (keadaan tanah, iklim, topografi, penyakit)
e. Warna (batang, bunga, daun, buah)

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


B. Lansekap
2. Topografi
Faktor yang mempengaruhhi pemilihan tapak berdasarkan topografi :
(1) Orientasi kelandaian/kelerengan
(2) Hubungan terhadap permukaan-permukaan di sekitarnya
(3) Tingkat erosi

Kelas Lereng Kisaran Lereng Keterangan


1 0-8 Datar
2 8-15 Landai
3 15-25 Agak curam
4 25-45 Curam
5 >45 Sangat curam

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


B. Lansekap
2. Topografi
Perencanaan tapak sebaiknya memperhatikan beberapa ketentuan :
a. Kelerengan di bawah 4% memiliki daya pengaliran air yang baik, cocok
untuk segala macam kegunaan
b. Kelerengan 4-10% dapat untuk jalur jalan dan jalan kecil dengan sedikit
perubahan yang dilakukan
c. Kelerengan 6% dapat sebagai kelerengan maksimum untuk rumah
kepadatan tinggi
d. Kelerengan >10% kurang cocok untuk jalan tanpa adanya perataan,
lebih cocok untuk lapangan bebas atau penanaman tumbuhan
e. Kelerengan 15% dianggap maksimum untuk jalur kendaraan dan 25%
maksimum untuk halaman berumput yang dapat dipotong
menggunakan mesin
f. Kelerengan 25% merupakan dataran tercuram yang dapat diubah untuk
alasan pengendaian erosi

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


B. Lansekap
3. Tanah
Kelas Jenis tanah :

Kelas Kelompok Jenis Tanah Kepekaan Terhadap


tanah Erosi
1 Aluvial, tanah, glei, planossoi. Tidak peka
Hidromorf kelabu, literie air
tanah
2 Latosol Agak peka
3 Brown forest soil, non calcic Kurang peka
4 Androsol, laterictic gromusol, Peka
podsolik
5 Regosol, litosol organosol, Sangat peka
renzine

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak


B. Lansekap
3. Iklim
Merupakan kecenderungan cuaca dalam periode waktu yang lama. Dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu iklim makro dan iklim mikro.
Iklim makro : kondisi iklim pada suatu daerah tertentu yang meliputi area
yanglebih besar dan mempengaruhi iklim mikro
Iklim mikro : faktor-faktor kondisi iklim setempat yang memberikan
pengaruh langsung terhadap kenikmatan dan kenyaman

Variabel iklim :
Sinar matahari
Curah hujan
Suhu udara

KB 2. Konsep Mikro Perencanaan Tapak